Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Perjanjian


__ADS_3

Val hari ini diperbolehkan pulang oleh dokter meskipun kondisinya masih sangat lemah. Ini semua karena permintaan Val yang sudah bosan berada di rumah sakit.


"Kita pulang ke rumah Papi. Mulai sekarang kamu sama anak anak tinggal di rumah Papi."


"Pi..."


"Kamu pilih Papi atau suami kamu?" Kata Papi dengan nada tingginya.


"Papi cuman khawatir sama kamu." Pria itu memeluk anaknya pelan.


"Baiklah." Kata Val menurut.


"Mario boleh temani kan Pi?" Tanya Pria itu yang sedaritadi diam menggenggam tangan istrinya.


"Boleh." Jawabnya tanpa menoleh.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Mommy."


"Eh jangan peluk dulu. Mommy masih sakit." Mario mencegah anak anaknya.


"Duduk dulu." Mario duduk dengan istrinya.


"Mom masih sangat sakit ya?"


"Sudah mendingan." Jawab Val sambil tersenyum.


"Kamu nggak istirahat sayang?"


"Val mau duduk disini dulu Pi."


"Baiklah. Papi masuk dulu ya."


"Iya Pi."


"Kamu mau sesuatu sayang?"


"Apel Mi."


"Biar Mami ambilkan."


"Aku saja Oma."


"Baiklah."


Ved kembali lagi membawa keranjang buah.


"Ved kupaskan ya Mom?"


"Biar Daddy aja."


"Mami kedalam dulu ya."


"Iya Mi."


Mario mengupaskan apel untuk istrinya. Meskipun begitu kerepotan Ia tak menyerah.


"Sini, Biar aku aja Dad."


"Aku bisa kok. Tunggu sebentar ya." Kata Mario.


setelah terkupas bersih pria itu memotongnya dan menaruh di piring.


"ini. Biar tangan Mom nggak kotor." Kata Van memberi garpu.


"Makasih sayang."


"Sama sama Mom."


Val memakan apelnya.


"Manis By?"


"Manis."


"Ayo pada makan dulu." Mami datang setelah beberapa saat meninggalkan mereka.


"Nanti Oma."


"Makan gih. Opa sudah nunggu lo."


"Iya. Kalian makan ya."


"Baik Mom." Jawab ketiganya patuh.


"Kamu juga makan sayang."

__ADS_1


"Masih kenyang Mom."


"Mom sudah buatkan bubur ini. Mom suapi ya."


"Biar Mario saja Mom."


"Kamu makan aja Dad. Aku bisa sendiri."


"Enggak. Aku makan nanti saja."


"Kamu makan juga Mario. Dari pagi kamu belum makan."


"Iya Mi."


Mario menemani istrinya makan di ruang keluarga. Mereka makan sendiri sendiri karena Val menolak untuk disuapi.


"Mulai sekarang kamu akan tinggal disini By?"


"Papi yang minta."


"Aku minta maaf."


"Sudah aku katakan Dad. Aku memaafkanmu. Lalu apa jika sudah begini kau juga tidak mau meninggalkan dunia gelapmu itu?"


"Aku mundur. Sesuai permintaanmu."


"Baiklah. Aku tidak menghawatirkan diriku sendiri. Aku hanya khawatir keselamatan anak anakku nanti. kemarin aku yang terluka. Bisa jadi kedepannya anak anak atau dirimu sendiri. Aku tak mau itu terjadi. Aku ingin keluarga kita baik baik saja."


"Iya By. Semuanya karena aku. Aku minta maaf. Aku salah. Aku melukai kamu dengan tangan aku sendiri. Hukum aku By." Kata Mario menggenggam tangan istrinya dan mulai menangis.


"Aku bukan Tuhan yang pantas menghukum siapapun. Aku sudah memaafkanmu. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Semuanya musibah. Semuanya sudah takdir."


"Terimakasih."


"Jangan peluk." Kata Val karena suaminya merentangkan tangan hendak memeluknya.


"Iya."


"Oh Iya Dad. Aku sempat dengar kamu katanya kalau aku sadar aku boleh minta apapun yang aku mau."


"Kamu dengar?"


"Dengar. Tapi aku tidak bisa membuka mata."


"Oh."


"Iya. Tapi jangan yang aneh aneh. Maksudku makanan yang aneh aneh."


"Berarti kamu ingkar janji Dad. Aku mau minta semua makanan sampai puas. Kalo kamu ga bolehin, kamu dosa lo karena ingkar janji."


"Iya boleh. Tunggu kamu benar benar sembuh dulu."


"Iya."


Papi Val menghampiri Anak dan menantunya yang sedang mengawasi anak anak bermain di taman.


"Pi."


"Sudah nyaman?"


"Sudah Pi. Udaranya disini segar. Val tidak bosan lagi."


"Pi. Mario ingin mengatakan sesuatu."


"Katakan."


"Mario tidak mau bercerai dengan istri Mario Pi. Mario mohon beri kesempatan Mario untuk berubah dan memperbaiki semuanya."


Papi Val menghela nafas. Ia tau pria itu begitu mencintai anaknya. Mario juga sangat over protective pada Val yang membuktikan dirinya sangat menjaga sang istri.


"Baiklah. Tapi kamu harus meninggalkan pekerjaan gelapmu itu. Aku takut anak dan cucu cucuku jadi korban lagi."


"Terimakasih Pi." Mario menciumi tangan mertuanya.


"Tapi kamu harus tandatangani perjanjian ini dulu." Papi Val menyerah secarik kertas pada menantunya.


Mario membacanya dengan teliti kemudian tersenyum.


"Kenapa Dad?"


"Jika macam macam semua harta kamu akan beralih ke Val."


"Pi. Semua harta aku atas nama istri. Papi tidak perlu membuat perjanjian seperti ini.


"Yang kedua kamu baca dulu."


"Jika macam macam kamu bersedia meninggalkan putriku."

__ADS_1


"Pi."


"Tandatangani saja. Itu sebagai acuan untuk kamu biar nggak kurang ajar lagi."


"Baiklah." Mario menandatanganinya dengan senang hati.


"Berarti istri aku sudah boleh dibawa pulang Pi?"


"Kau ini kenapa? kau membawanya bertahun tahun dan hanya tinggal disini belum genap sehari kau ingin membawanya pulang? menantu macam apa kau tidak pengertian sekali. Kau tidak kasihan dua orang tua ini kesepian?"


"Iya. Kami kesepian tinggal di rumah hanya berdua. Tinggallah disini." Kata Mami duduk disamping anaknya.


"Kasihan Mamiku kesepian." Val menggenggam tangan Maminya.


"Val mau tinggal sama Mami ya?"


"Iya Mi." Jawab Val membuat suaminya gusar.


"Kenapa kamu Mario. Nggak mau tinggal disini? Kamu nggak mau nyenengin hati mertua? mau jadi menantu durhaka kamu?"


"Enggak Pi. Mario mau tinggal disini kok."


"Bagus. Mulai sekarang kamu nggak akan bisa minta suapi istri kamu lagi. Kecuali kalo kamu nggak punya malu."


"Pi.." Tegur Val.


"Biarin. Suami kamu itu memang keterlaluan."


Mario memasuki kamar dengan wajah lelahnya. Ia membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri yang sibuk membaca buku. Mertuanya sangat keterlaluan menyuruhnya memindahkan pot pot bunga yang begitu berat.


"Capek Dad?" Val menyeka keringat suaminya dengan tissue.


"Lumayan By."


"Minta cium."


"Hah?"


"Aku minta cium."


"Iya." Val mencium kening suaminya.


"Bukan begitu. Tapi begini." Mario mencium bibir istrinya lama.


"Manis. Aku suka." Katanya sambil tersenyum.


"Mandi dulu Dad. Gamis aku basah gara gara keringet kamu."


"Masa?"


"Iya."


"Biarin basah. Nanti aku gantiin."


"Mandi dulu sana. Biar seger."


"Ntar By. Lagi males."


"By."


"Iya."


"Kenapa kamu baca buku mulu sih? Masa suaminya pengen dimanja malah dianggurin."


"Lah. Aku harus ngapain?"


"Karna aku kangen dan kamu belum bisa diapa apain. Elus kepala aku aja."


"Iya." Val mengelus kepala suaminya sambil membaca buku.


"By."


"Apa sih Dad?"


"Kamu jangan baca buku. Kamu liatin aku aja."Ario merebut buku istrinya.


"Balikin dong Dad. Aku belum selesai bacanya."


"Nanti aja dilanjut. Sekarang fokus ke suami kamu."


"Iya." Val menuruti kemauan suaminya.


Hy para pembaca tercinta....


Mendekati tamat ya. Terimakasih sudah ikuti terus. Mungkin hanya beberapa episode lagi ceritanya akan berakhir.


Sekali lagi Terimakasih...

__ADS_1


Love You..


__ADS_2