Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Pergi


__ADS_3

Val menghampiri anak anaknya yang sedang duduk bersama di ruang keluarga.


"Mom. Sudah bangun?"


"Sudah sayang."


"Mom mau kemana?" Tanya mereka melihat Val membawa tasnya.


"Mom akan berobat ke luar negeri. Kalian baik baik di rumah ya." Bohongnya. Val terpaksa melakukan semua ini. Jujur Ia tak mau berbohong. Namun keadaan yang memaksa.


"Mom. Kok mendadak sekali?"


"By." Lirih Mario yang mendengar penuturan istrinya.


"Iya. Dokter juga baru saja menghubungi Mom tadi. Mom berangkat dulu ya."


"Mom nggak pergi sama Daddy?"


"Tidak Sayang. Mom kesana sendiri."


"Kenapa?"


"Karena sudah ada dokter yang menemani Mom. Sudah ya. Mom berangkat dulu. Nanti kita saling kasih kabar."


"Mom."


"Sudah jangan menangis. Nanti Mom cepat kembali." Val memeluk ketiga anaknya dengan hangat.


Val tidak menggunakan mobil. Ia menggunakan taksi untuk pergi. Mario dengan cepat mengambil mobilnya untuk mengikuti sang istri. Ia tidak mungkin mejelaskan segalanya di rumah. Sang istri pasti akan lebih marah ketika anak anak mendengar masalah kedua orang tuanya. Untung saja lalu lintas sedang padat. Jadi Mario menemukan lagi jejak istrinya yang sempat hilang.


Taxi yang ditumpangi Val berhenti di sebuah gedung apartemen. Wanita itu menyeret kopernya masuk ke dalam. Mario dengan cepat mengikuti sang istri setelah memarkirkan mobilnya. Mario memasuki lift yang sama dengan Val. Namun pria itu tak bisa berbuat apa apa. Ada beberapa orang di dalamnya.


Pintu Lift terbuka. Val langsung keluar. Namun tangan kekar mencekalnya. Membuat wanita itu mau tidak mau harus berhenti.


"By. Dengarkan aku dulu."


"Aku sudah dengar. Ini kemauanmu kan. Aku hanya menuruti."


"By aku salah bicara. Aku minta maaf."


"Tidak mungkin kamu salah bicara. Tuan Mario yang aku kenal selalu memikirkan segala hal matang matang. Tidak mungkin ucapan yang kamu katakan itu tidak kamu pikirkan terlebih dahulu. Jangan beri aku alasan konyol semacam ini."


"By. Bukan begitu. Aku nggak mau pisah sama kamu."


"Tadi mau pisah sama aku sekarang tidak. Jangan jadi orang plin-plan. Sudah dulu. Lebih baik kamu pergi." Val menyeret kopernya dan memasuki apartemen. Mario dengan cepat menghalangi pintu itu sebelum tertutup sempurna.


Mario masuk dengan paksa ke dalam.


"Aku bilang pergi." Teriak Val namun tidak dihiraukan oleh Suaminya. Pria itu berlutut sambil memeluk perut istrinya dengan erat sambil mengucapkan kata maaf berulang ulang.

__ADS_1


"Maaf."


"Aku butuh dukungan dengan kondisiku yang seperti ini. Tapi kamu malah bilang ingin pisah sama aku. Hati wanita mana yang tidak sakit diperlakukan seperti itu."


"Aku minta maaf By. Maksud aku bukan seperti itu." Mario mulai menangis sesenggukan. Pria itu menyesal dengan apa yang telah dikatakannya pada sang istri.


"Pulanglah."


"Tidak. Aku akan disini sampai kamu memaafkan aku."


"Terserah kamu jika ingin membuatku tambah marah."


"Sayang, Kumohon jangan seperti ini."


"Pergilah."


"Baik. Nanti aku akan kembali."


"Jangan kembali. Jangan temui aku lagi. Atau aku akan benar benar membencimu."


"Tidak Bisa. Aku akan kembali. Lebih baik kau membenciku namun aku bisa melihatmu daripada kau membenciku namun aku tidak bisa melihatmu sama sekali." Kata Mario melepaskan pelukannya. Pria itu akan mengalah. Ia tak mau membuat Val tambah marah.


Mario mengendarai mobilnya tidak fokus. Pria itu sampai beberapa kali ingin menabrak. Pikirannya kacau ditinggal sang istri. Ia akan menuju ke rumah Frans. Mungkin sekertaris sekaligus sahabatnya itu bisa dimintai petimbangan.


Sampai di rumah Frans pria itu langsung masuk tanpa permisi.


"Ada apa?" Tanyanya melihat wajah kusut si Bos.


"Minum."


"Baiklah." Frans langsung bergegas mengambilkan minum untuk Sahabatnya itu.


"Ada apa?" Tanyanya sambil menaruh secangkir teh di meja.


"Istriku marah dan pergi dari rumah."


"Hah? memangnya Val kau apakan sampai marah dan pergi dari rumah? bukannya tadi kamu sama dia baik baik saja?"


"Tadi aku bilang kalo aku ikhlas lepasin dia." Kata Mario membuat Frans ternganga. Pria di depannya begitu bodoh atau apa bilang seperti itu pada istrinya. Ingin sekali rasanya menjitak kepala bosnya itu. Val yang kecelakaan tapi kenapa suaminya yang gangguan.


"Kamu ini bodoh atau apa. Kenapa bilang begitu?"


"Aku cuman pengen dia aman. Selama hidup denganku dia terancam bahaya."


"Benar benar sengklek kamu. Bisa bisanya bicara begitu. Jelas saja Val marah. Pasti dia sangat kecewa karna kamu secara tidak langsung bilang kalau minta pisah sama dia. Astaga. Aku nggak percaya punya bos bodoh kaya kamu."


"Aku harus gimana?"


"Nggak tau. Sekarang posisi Val ada dimana?"

__ADS_1


"Dia tinggal di apartemen."


"Terus kamu mau bilang apa sama anak anak kalo mereka tanya Mommynya dimana?"


"Dia sudah pamitan sama anak anak. Dia bilang mau berobat ke luar negeri."


"Istri kamu lebih pintar dari kamu. Kenapa aku nggak kerja sama dia aja."


"Jangan banyak bicara. Bantu aku."


"Aku harus bantu apa?"


"Pikirkan cara agar dia bisa maafin aku."


"Sulit. Aku nggak jamin bisa bantu kamu."


"Kamu biasanya punya banyak ide. Kenapa tiba tiba otak kamu buntu begini."


"Heh Bos. Kamu yang bikin perkara kok malah jadi aku yang cari solusinya."


"Cepat pikirkan aku bantu."Kata Mario membuat Frans menatap pria itu heran. Bukan seharusnya yang bilang begitu adalah Frans. Disini posisinya lah yang sedang membantu Mario.


"Sebentar Mertua aku telpon." Katanya sambil menata hati untuk mengangkat panggilan dari Papi Val.


"Assalamualaikum Pi."


"Waalaikumsalam."


"Val berobat ke luar nggak bilang bilang. Aku malah dapat kabar dari anak anak. Dia perginya sendiri?"


"Ah Iya Pi. Baru dapat kabar dari dokter tadi. Makannya nggak sempat kasih kabar ke Papi. Berangkatnya sama beberapa dokter kok Pi. Mario sudah pastikan aman."


"Kenapa kamu nggak temani?"


"Kata Istri nggak mau ditemani dulu. Nanti dia akan menghubungi Mario kalo Mario sudah boleh menyusul. Katanya biar lebih fokus."


"Kamu nggak lagi bohongi kan?"


"Enggak Pi " Jawabnya gugup.


"Yasudah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mario menghela napasnya setelah menutup panggilan dari sang mertua.


Tepat tengah malam Mario memasuki apartemen istrinya. Mendapatkan password apartemen Val bukanlah hal yang sulit. Mario mengendap endap masuk ke dalam. Val tengah duduk disana sambil menangis kesakitan. Hatinya seperti ditusuk melihat kondisi Val. Mario begitu ingin memeluk. Namun Ia juga tak ingin membuat keadaan bertambah buruk. Val meraih obatnya dan minum dengan tergesa gesa. wanita itu bangkit dari duduk kemudian menuju kamar.


Beberapa saat Mario menunggu di depan pintu. Pria itu memberanikan diri untuk masuk. Disana Val sudah tertidur pulas. Mario mendekat dan mengamati wajah cantik istrinya. Pria itu mengusap lembut bekas air mata di pipi Val. Ia mengecup bibir mungil itu beberapa kali dengan pelan agar Val tidak terbangun. Mario membaringkan diri sambil memeluk sang istri.

__ADS_1


__ADS_2