
Val terbangun. Ia merasakan hawa yang begitu segar dan suasana yang berbeda. Semalam Ia sudah sampai di Bali dan langsung menuju ke rumah Papinya. Salah satu aset keluarga yang berada di pulau indah itu. Val mengawali paginya dengan sarapan yang simpel. Roti dengan selai coklat dan ekspresso untuk membuatnya lebih segar. Tidak ada asisten disini. Val meminta untuk tinggal sendiri agar lebih tenang. Untuk segala keperluannya Ia akan menyiapkan sendiri.
Val sudah siap dengan setelan casualnya. Ia akan memulai harinya dengan bersenang senang. Pertama Val akan mengunjungi pantai Kuta untuk surfing disana. Ada supir yang menjemputnya karena Ia tak mungkin mengemudi sendiri karena belum memiliki SIM.
Sosok gadis cantik hanya mengenakan celana pendek dan kaos tengah berlari menuju pantai sambil membawa papan selancarnya. Val memperhatikan ombak yang datang. Ketika dirasa pas, Ia mulai masuk ke air. Val sangat hebat bisa berdiri di tengah tengah gulungan ombak yang tinggi. Ia seketika menjadi pusat perhatian semua yang ada disana.
Val duduk berselonjor di kursi setelah puas dengan kegiatannya. Memang lelah, tapi sangat menyenangkan. Beberapa menit beristirahat Ia beranjak. Kali ini Val akan membersihkan diri dulu sebelum makan siang.
Val sudah duduk berdua dengan supirnya untuk makan siang bersama.
"Nona...tidak perlu ajak saya makan."
"Aku nggak mau sendiri pak. Kita makan sama sama. Jadi jangan menolak."
"Baik Nona."
Makanan sudah tersaji di meja diantarkan beberapa pelayan.
"Mari makan Pak. Jangan canggung."
"Baik Nona." Katanya patuh.
Mario tidak bisa tidur semalam. Terlihat jelas dari kantung matanya yang sedikit menghitam.
Ia sangat merindukan istrinya. Namun masalah ini belum menemukan titik terang agar sang istri percaya bahwa Ia tak berbuat macam macam. Mario tengah duduk berhadapan dengan Frans yang dicurigai sebagai tersangka.
"Sudah aku katakan aku benar benar nggak tau apa apa."
"Aku nggak percaya. Kamu ada niat buruk kan?"
"Sumpah demi Tuhan. Kalo kamu nggak percaya bisa cek CCTV rumah. Kita sama sama nggak sadar. Kita sudah sahabatan lama. Nggak mungkin aku tega jebak kamu."
"Lalu dimana wanita sialan itu?"
"Nggak tau. Sumpah deh. Aku nggak tau semua ini."
"Bantu aku cari dia. Baru aku percaya." Kata Mario meninggalkan sahabatnya sendiri dengan memar memar yang ada di wajah pria itu.
__ADS_1
Mario membanting semua barang barang yang ada di mejanya. Ia punya kekuasaan namun menemukan ****** saja Ia tak mampu. Pria itu berada di titik rendahnya karena ditinggal sang istri. Mario sangat kecewa pada dirinya sendiri.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Masuk." Katanya terkesan dingin.
"Tuan. Saya ingin menyampaikan beberapa hal."
"katakan. Jangan buang buang waktu."
"Yang pertama Nona Laura sepertinya sudah tidak ada di negara ini lagi. Yang kedua tadi Saya mendapat pesan bahwa Papi mertua tuan ingin mengajak Tuan makan siang di Thompson hotel."
"Jam berapa?"
"Sekitar 30 menit lagi."
"Antar aku kesana."
"Baik Tuan."
Mario merapikan penampilannya. Tidak mungkin dia akan bertemu sang mertua dengan keadaan seperti ini.
"Pi."
"Duduk. Kita makan dulu."
"Baik Pi." Kata Mario menurut.
"Kau tidak tidur?" Tanya Papi melihat menantunya yang sedikit pucat.
"Sulit tidur." Jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup."
"Iya Pi."
Selesai makan keduanya masih sama sama diam.
__ADS_1
"Sejujurnya aku juga tidak tega untuk menyampaikan ini." Kata Papi Val membuat nafas Mario sedikit tercekat.
"Apa maksud Papi?"
Pria itu menyodorkan kertas di meja untuk dibaca menantunya.
Mario meraih kertas itu dengan ragu. Dunianya seakan berhenti berputar untuk saat ini. Bibirnya keluh dan kepalanya kosong tak bisa berfikir lagi.
"Kabar buruk dan Aku hanya menyampaikan."
"Dimana Istriku Pi? Aku hanya ingin bertemu dan menjelaskan semuanya."
"Dia tidak disini. Berhentilah mencarinya sebelum kau benar benar mendapat bukti. Akan sia sia dan membuatnya tambah marah jika kau datang hanya untuk memohon."
"Aku tidak mau bercerai Pi. Aku mencintainya."
"Aku tidak akan ikut campur urusan kalian. Kalian selesaikan sendiri. Jagalah kesehatanmu. Aku akan dukung keputusan kalian."
Mario hanya bisa terdiam setelah mertuanya pergi. Ia tak menyangka jika Val akan membuat keputusan secepat ini.
"Sudah Mi. Val sudah makan malam."
"Dengan apa?"
"Mie instan."
"Apa? Kamu benar benar ya. Pulang kamu sekarang. Dasar anak nakal."
"Maaf Mi. Tapi sayangnya Mami ga bisa jewer Val sekarang. Val mau tinggal disini sebulan dulu. Bali sangat menyenangkan Mi."
"Kamu tega tinggalin Mami' sendiri."
"Oh. Ayolah Mi. Hanya sebulan. Val akan pulang nantinya."
"Yasudah jika itu mau kamu. Tapi jaga kesehatan Ya."
"Iya Mi. Val mau tidur dulu. Bye Mi, Love you."
__ADS_1
"Bye. Love you too sayang."
Val merebahkan diri di ranjang setelah mengakhiri panggilannya dengan sang Mami. Ia kemudian beranjak dan berjalan menuju balkon kamar. Ia akan datang sebulan nanti setelah tenang. Berbicara baik baik dengan suaminya dan mengambil keputusan yang paling tepat. Val sangat tidak mentolerir yang namanya kebohongan dan ingkar janji. Oleh karena itu Ia tak bisa mengontrol emosinya ketika sang suami melanggar janji dan pulang dengan wanita lain. Sakit hati tentunya. Istri mana yang tidak sakit suaminya pulang dengan keadaan berantakan sambil diantar seorang wanita dengan pakaian kurang bahan. Apalagi saat membersihkan tubuh Mario. Val ingat betul ada kecupan bekas lipstik di bagian dada dan perut suaminya. Val jijik. Benar benar jijik harus berbagi dengan orang lain.