
Hati Mario masih bergetar sampai sekarang. Meskipun pertemuannya dengan Val sudah beberapa hari yang lalu.
"Tuan." Seseorang menghampirinya ketika Mario sedang duduk di ruang kerjanya.
"Katakan."
"Saya hanya ingin menyampaikan undangan dari keluarga Thompson." Katanya sambil menyerahkan undangan berwarna silver nan elegan.
"Undangan apa itu?"
"Peresmian beberapa cabang perusahaannya Tuan. Juga Tuan Thompson akan mengumumkan sesuatu namun entah itu apa."
"Tuan akan datang?"
"Iya." Mario hanya ingin melihat Val disana.
"Baik Tuan. Saya permisi." Katanya sambil berlalu pergi.
Mario pergi ke kamarnya. Pria itu langsung menuju Walk in closet dan menyiapkan pakaian terbaik yang akan Ia gunakan untuk pergi ke acara sang mertua. Ia memilih dasi dan sesaat kemudian terdiam. Ia mengingat istrinya. Wanita itu yang selalu memilihkan pakaian dan perlengkapan untuknya kini tak ada. Mario optimis. Nanti Ia akan bertemu dengan Valerie disana.
Val masih sibuk bermain game sementara sedaritadi Maminya bingung memilih baju untuk acara besar nanti malam. Tidak seperti gadis lainnya yang akan heboh menyiapkan baju Val justru lebih santai dan tak mau pusing pusing.
"Yang ini bagaimana?"
"Hm. Pake celana pendek sama kaos Val juga akan datang Mi."
"Val." Teriak Mami sambil menjewer telinga putrinya.
"Duh. Sakit Mi."
"Mami capek capek pilihkan kamu baju, kamu malah santai begini."
"Kan Val sudah bilang. Pakai yang nyaman saja."
"Ini acara besar. Mami nggak mau tau. Sampai kamu bikin ulah kabur kaya tahun kemarin. Mami akan bikin perhitungan sama kamu."
"Hm."
"Apa?"
"Iya. Val janji nggak akan kabur lagi." Jawabnya dengan malas.
__ADS_1
"Bagus."
Val sudah tampil sempurna dengan gaunnya. Rambutnya ditata rapi menampilkan leher jenjangnya yang mulus. Val akan membawa mobil sendiri karena kedua orangtuanya sudah berangkat terlebih dahulu. Val tak mau terlalu lama menunggu acara inti. Oleh karena itu Ia berangkat belakangan.
Mario duduk tak berani menyapa mertuanya yang ada di depan. Bisik bisik bahwa Ia selingkuh dari istrinya pun terdengar samar samar namun Ia mengabaikan. Mario sedaritadi celingukan. Ia tak mendapati Val di acara ini. Mungkin Ia malas dan lebih mementingkan untuk bermain game di rumah. Mario tersenyum mengingat tingkah istrinya yang lucu dan sedikit konyol.
Papi Val naik ke atas panggung. Ia memberikan sambutan sambutan dan rasa terimakasihnya pada para undangan yang sudah datang.
"Dalam kesempatan kali ini saya juga ingin mengumumkan memperkenalkan kepada publik putri dan pewaris kami Valerie Xavia Thompson. Dia akan menggantikan posisi saya dan semua aset akan saya serahkan padanya. Untuk putri saya tercinta silahkan."
Sosok wanita berjalan dengan anggun membelah kerumunan dan menjadi pusat perhatian. Ia begitu cantik sempurna dan elegan. Sang pewaris naik ke panggung. Ia mendapat pelukan dari Papinya dan menyampaikan beberapa patah kata.
"Selamat Malam semuanya. Semoga bahagia selalu. Terimakasih telah hadir di acara malam ini. Saya juga berterimakasih kepada kedua orang tua saya yang sangat luar biasa. Saya akan menjaga amanat kedua orang tua saya dan mulai belajar mengurus perusahaan dari sekarang. Jadi untuk para senior mohon bantuannya. Terimakasih. Selamat menikmati acara malam ini." Val turun dari panggung. Ia menghampiri Maminya yang tengah duduk menunggu.
"Anak nakal tidak kabur lagi." Kata Mami mengusap kepala anaknya.
"Ya enggak dong Mi. Kalo Val kabur nanti Mami ngamuk." Kata Val diiringi tawa dari kedua orangtuanya.
Mario bangkit dari duduknya ingin menghampiri Val.
"Jangan cari masalah. Jangan merusak acara orang. Aku yakin kau tidak bisa menahannya jika sudah sampai disana." Frans mencekal tangan sahabatnya itu. Ia lemas. Sangat lemas melihat Val yang begitu dekat namun Ia tak bisa menjangkaunya. Mario merasa lemah sekarang. Untuk sekedar berbicara dengan sang Istri saja Ia tidak berani. Ia malu mendekati Val apalagi bersama dengan dua mertuanya itu.
Mario menyelinap memasuki kamar Val setelah mendapat laporan jika sistem keamanan di mansion sedang dalam perbaikan.
"Aku merindukanmu." Kata Mario langsung ******* bibir wanita itu.
"Lepaskan." Val memukul dada bidang suaminya.
"Tidak akan. Aku akan buktikan jika aku tidak bersalah."
Mario terus menciumi tubuh Val dengan ganas. Val hanya bisa terdiam atas perlakuan pria itu.
"Aku mencintaimu."
"Pergi." Tegas Val namun suaminya tak mau.
"Tidak akan."
"Aku jijik denganmu. Kamu sudah di sentuh wanita lain. Aku jijik. Sekarang pergi."
"Tidak akan."
__ADS_1
Mario mengunci tubuh istrinya di atas ranjang. Ia memeluk Val begitu erat. Tak membiarkan wanita itu bergerak.
Pria itu mulai menjamah tubuh istrinya yang begitu Ia rindukan.
"Jangan sentuh aku."
"Aku merindukanmu."
Dengan cepat Pria itu membuat keduanya tak mengenakan apapun.
"Sayang...." Katanya sensual sambil menjilat telinga Val.
"Aku bilang pergi."
"Tidak." Mario mengecupi tubuh istrinya hingga meninggalkan jejak kemerahan. Pria itu memulai aksinya meskipun Val terus memberontak.
Mario tertidur dengan tenang dan Nyaman setelah selesai menuntaskan hasrat dan kerinduan.
Pagi hari Mario mengerjapkan matanya melihat sang istri sudah tidak berada di tempat.
"Sayang." Panggilnya namun tak mendapat jawaban.
Bel kamar Valerie berbunyi. Wanita itu keluar dari kamar mandi tergesa gesa sambil menggunakan handuk kimononya.
"Iya Mi ada apa?" Tanya Val membuka sedikit pintunya.
"Sarapan Yuk. Mami sama Papi mau keluar habis sarapan."
"Mami duluan aja. Val mau mandi."
"Yaudah. Kamu jangan lupa sarapan ya."
"Iya Mi." Jawabnya sambil cepat cepat menutup pintu.
"Astaga." Kata Val kaget melihat suaminya tiba tiba sudah berada di depan wajahnya ketika berbalik.
"Kenapa?"
"Nggak."
Mario langsung memeluk istrinya.
__ADS_1
"Mandi sana. Jangan buat aku kesusahan."
"Iya." Patuh Mario langsung melaksanakan perintah Val setelah mengecup singkat bibir wanita itu.