Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Janda Kompleks


__ADS_3

"Dad aku mau keluar sebentar ya." Izin Val pada suaminya.


"Kemana? aku antar."


"Mau ke rumah Bu RT. Disuruh kumpul disana."


"Nggak usah ikut."


"Kenapa?"


"Jangan keluar keluar. Aku nggak suka."


"Sebentar aja. Ada yang mau dibahas katanya.


Nggak enak dong setiap kali pertemuan aku nggak datang terus gara gara kamu larang."


"Bilang aja lagi sakit atau ngapain gitu."


"Bohong dosa Dad. Boleh ya..."


"Hm. Jangan lama-lama."


"Iya makasih Dad." Kata Val sambil mencium tangan suaminya untuk berpamitan.


"Oh begitu cara kamu berterimakasih. Aku nggak suka."


"Terus gimana?"


"Cium di pipi, kening, hidung, dua mata aku sama yang terakhir di bibir."


"Lah Dad. Nanti aku telat."


"Yaudah nggak usah pergi."


"Kamu ada ada aja." Gerutu Val langsung melaksanakan keinginan suaminya.


"Dah. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati hati."


"Ya."


Val telah sampai di rumah Bu RT. Ia langsung masuk karena pintu rumah terbuka lebar.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Bu Val. Sini duduk."


"Iya Bu." Val duduk bergabung bersama Ibu Ibu lainnya.


"Sudah daritadi ya Bu. Maaf saya telat."


"Nggak papa. Yang lain juga baru datang kok."


"Ngomong ngomong ada apa ya Bu?"


"Ini saya mau menyampaikan pengumuman dari pak lurah kalau akan diadakan kerja bakti di kompleks."


"Biasanya yang sampaikan pak lurah langsung sama suami suami kita Bu."


"Iya. Pak lurah bilang katanya nggak bisa sampaikan langsung makannya minta tolong sama saya."


"Kapan kerja baktinya Bu?"


"Hari Minggu nanti. Pas libur kerja juga."


"Oh."


"Em. Ini Bu Nana nggak datang ya?"


"Enggak Bu. Saya tadi ke rumahnya juga nggak ada."


"Mungkin ke rumah Ibunya."


"Iya Mungkin."


"Bu Val."


"Iya."


"Bu Nana sering ke rumah Bu Val ya?"


"Lumayan. Tapi nggak sesering dulu."


"Hati hati lo Bu Val. Dia udah jadi janda gatel. Suami saya aja pernah di godain. Ini saya kasih tau ya. Awalnya dia juga sering main ke rumah saya. Eh nggak taunya dia ngincer suami saya. Jaga pak Mario. Ya meskipun saya tau pak Mario sangat mencintai Bu Val. Tapi wanita itu nekat. Dia diam diam begitu menghanyutkan."


"Iya Bu. Warga kompleks sini juga pada hafal. Makannya kita semua nggak suka sama dia. Suaminya begitu eh istrinya juga sama."


Val hanya tersenyum menanggapi mereka.


"Kamu tadi disana ngapain By?" Tanya Mario sambil menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Ah iya. Dikasih pengumuman katanya ada kerja bakti hari Minggu nanti."


"Biasanya juga lurah yang kasih info."


"Lurahnya nggak bisa sampaikan langsung makannya minta tolong RT."


"Mom."


"Ya sayang."


"Bantu Van bungkus kado ya Mom."


"Bungkus sendiri. Gitu aja masa nggak bisa."

__ADS_1


"Nggak bisa Dad. Nggak rapi."


"Udah biar nggak rapi juga."


"Iya. Ayo Mom bungkuskan." Kata Val beranjak dari duduknya.


"Bungkusnya dimana sih?" Tanya Mario kesal ditinggal sang istri.


"Di kamar Van. Kadonya kan ada disana."


"Hah. Ganggu aja." Kata Pria itu langsung menyusul Val.


Val mulai membungkus kotak itu dengan rapi.


"Kado buat siapa sih sayang?"


"Kamu punya cowok ya Van?"


"Daddy apaan sih. Ini buat teman Van yang lagi ulang tahun."


"Cowok?"


"Ya." Jawabnya pada Mario.


"Pacar kamu Van?"


"Bukan Dad. Teman Van. Udah dibilang teman juga."


"Masa?"


"Iya."


"Ngantuk." Mario merebahkan dirinya di ranjang Van sembari menunggu sang istri.


"Kakak kamu pada dimana?"


"Di kamar kak Veer Dad."


"Lagi ngapain? Tumben nggak ribut."


"Lagi main game."


"Oh. Pantesan."


"Mom."


"Ya."


"Teman Van sering di bully Mom. Kasihan. Mereka larang Van buat temenan sama dia."


"Yang kamu kasih kado ini?"


"Iya Mom."


"Kenapa dia dibully?"


"Iyakah. Oma nggak pernah cerita."


"Iya Mom."


"Kasihan. Siapa namanya?"


"Randi."


"Dia baik ya?"


"Iya Mom. Dia selalu bantuin Van kalo Van lagi butuh."


"Berteman yang baik ya."


"Iya Mom."


"Halah. Kalian udah selesai belum sih?" Keluh Mario karena bosan menunggu.


"Sebentar Dad." Wanita itu berbelok menuju kamar Veer saat akan ke kamar bersama suaminya.


"Astaga. Kamar kamu kok berantakan begini."


"Iya nih Mom. Kamarnya Veer udah kaya kapal pecah."


"Bukannya tiap hari dirapikan Bibi."


"Tadi Veer cari sesuatu Mom."


"Beresin. Mom tunggu." Kata Val duduk di sofa.


"Ayo tidur By. Biar dia beresin sendiri."


"Nggak. Aku harus awasi langsung. Nanti dia minta tolong Bibi lagi."


"Ayo beresin. Jangan lama lama." Kata Mario pada anaknya.


"Iya Dad. Kak Ved bantuin aku dong."


"Hm. Ok."


"Kamar kamu juga begitu Ved?"


"Nggak dong Dad. Kamar aku selalu rapi."


"Bagus."


"Memangnya kamu cari apa bisa sampai berantakan seperti ini?"


"Cari charger Mom."

__ADS_1


"Udah ketemu?"


"Udah. Semuanya di obrak abrik ternyata ketemu di kolong tempat tidur."


"Lain kali kalo taro barang itu pada tempatnya."


"Iya Mom." Jawab mereka.


Sore hari Val berkumpul dengan anak anaknya di ruang tengah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mom." Ladit langsung memeluk wanita itu.


"Mario mana Val?"


"Disini." Kata pria itu datang dan langsung ikut duduk bergabung.


"Frans. Ikut aku yok."


"Kemana?"


"Main golf di belakang."


"Ayo deh. Udah lama nggak main golf."


"Aku ke belakang dulu ya By."


"Iya."


Mario pergi dengan Frans setelah mengecup kening istrinya.


"Mom bikin es buah yuk."


"Van pengen es buah?"


"Iya Mom."


"Ayo kalo gitu." Kata Val mengajak anak anaknya ke dapur.


"Katanya mau main kok malah duduk." Kata Frans sambil memberikan minuman kaleng pada sahabatnya itu.


"Duduk dulu."


"Ya." Pria itu mendudukkan diri di kursi samping Mario.


"Ada yang kamu pikirkan?" Tanyanya karena Mario tak kunjung bicara.


"Iya."


"Ada apa?"


"Begini. Kamu tau kan janda yang baru cerai kemarin kemarin Karna di selingkuhi suaminya itu?"


"Ya. Kamu tertarik?"


"Nggak. Amit amit." Katanya dengan jijik.


"Terus kenapa?"


"Dia sering main kesini. Aku risih."


"Kenapa? dia main kesini kan datang buat temui istri kamu."


"Iya. Tapi suka curi pandang dan main mata sama aku."


"Kamu udah kasih tau Val?"


"Udah. Makannya dia menghindar terus kalau wanita itu mau kesini."


"Bagus dong."


"Hm."


"Gatel juga tuh perempuan."


"Kamu mau?"


"Nggak lah. Emang aku laki laki apaan."


"Alah. Dulu aja ****** juga kamu tinggalin benih. Pake acara pilih pilih segala."


"Ah jangan diingat."


"Gimana rasanya?"


"Pengen banget tau?"


"Biasa aja."


"Em rasanya seinget aku gimana ya...Itu baru pertama kalinya buat aku. Eh bukan bukan. Itu udah kesekian kalinya. Waktu itu aku mabuk. Aku masuk kamar dan wanita itu sudah ada disana dengan pakaian minimnya. Aku tindih tapi dia nggak nolak. Dia malah buka baju sama celana aku dan mainin punya aku."


Mario menatap sahabatnya dengan jijik.


"Lalu dia melepas bajunya sendiri dan tanpa sadar aku perkosa dia. Sekali masuk langsung gol. Itu adalah lubang paling longgar yang pernah aku masukin. Semalaman aku melakukan itu sama dia dan hadirlah Ladit."


"Menjijikkan. Pasti udah sering di pake."


"Iya. Ah.. sial. Aturan dulu aku pake pengaman."


"Kamu kan lagi mabuk."


"Ah iya juga."

__ADS_1


"Bodoh." Kata Mario pergi meninggalkan Frans.


__ADS_2