Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
End


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuat Mario yang sedang bermanja dengan istrinya terganggu.


"Bukain dulu."


"Nggak ah. Nggak penting."


"Bukain Dad."


"Iya." Katanya dengan malas membangunkan diri dari posisi nyaman. Pria itu mengecup bibir Val sekilas kemudian pergi menuju ke arah pintu.


"Ada apa?" Tanya Mario kepada ketiga anaknya.


"Kita mau bicara." Jawab Ved serius langsung menerobos masuk menghampiri Val yang sedang duduk di sofa.


Belum ada yang bicara sama sekali semenjak mereka mendudukkan diri.


"Ngapain diam? Katanya mau bicara. Kalo nggak penting. Keluar sana. Ganggu aja." Kesal Mario.


"Iya. Ini kita mau bicara Dad."


"Mom."


"Hm."


"Mau sampai kapan kak Ladit tinggal sama kita?" Tanya Veer to the point.


"Kamu nggak nyaman?"


"Em...Bisa dibilang begitu." Jawabnya jujur.


Val menghela napasnya pelan. Ia akan bicara terus terang kepada ketiga anaknya.


"Begini. Kak Ladit itu sudah tidak punya siapa siapa lagi. Sebelum Papa Kak Ladit meninggal dia menuliskan wasiat untuk menitipkan Kak Ladit sama Mom dan Dad. Jadi kak Ladit akan tinggal disini sama kita sampai kedepannya. Kak Ladit akan jadi kakak kalian. Anak Mom sama Dad."


"Mom." Keluh Veer. Dia paling tidak terima diantara saudara saudara yang lainnya.


"Kalian tolong paham ya. Kasihan dia. Mom nggak mau kalau dia sendiri nanti akan sama seperti Papanya dulu. Mulai sekarang belajar terima kak Ladit sebagai saudara kalian ya."


"Iya Mom." Jawab Ved dan adik perempuannya.


"Veer?"


"Entahlah Mom. Aku masih berat. Apa Mom bisa janji akan bersikap adil?"


"Ya Sayang. Kalian anak anak Mom. Tentu saja Mom akan bersikap adil seperti biasanya."


"Yasudah. Veer akan coba terima. Ini demi Mom. Bukan dia."


"Iya. Terimakasih." Val memeluk ketiganya.


Mario sedang berada di ruang kerjanya. Pikirannya begitu kacau sekarang. Baris terakhir dalam surat wasiat sepeninggalan sang sahabat begitu mengganggu pikirannya. Bukan tentang pengakuan Frans mengenai perasaannya pada Val. Namun ada lagi tulisan di bawahnya yang tak kalah mengejutkan. Ia sengaja tak membacakannya dan akan menyampaikan di saat yang tepat.


"Frans, aku tak yakin." Gumamnya sambil melipat kertas itu dan mengembalikan di tempat semula.


Suara keributan dari luar membuat Val penasaran.


"Ada apa ya?"


"Biar aku yang lihat. Kamu disini saja."


"Nggak ah. Aku mau lihat juga."


"Yasudah ayo." Pria itu menggandeng tangan Val untuk melihat.


"Aku nggak mau sama Mama."


"Ladit. Aku Mama kamu. Aku jauh jauh datang kesini untuk memenuhi rasa tanggung jawab aku karna papa kamu sudah Meninggal. Mau hidup sebagai benalu di keluarga orang kamu?" Tanya wanita itu dengan nada tingginya.


"Ladit bukan benalu. Dia anakku." Val datang langsung memeluk Ladit.


"Mom."


"Oh. Tuan Mario. Apa kabar? Ini anak Tuan? sangat cantik dan tertutup ya." Katanya sambil memandangi Val dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Dia istriku." Jawab Mario sambil memeluk istrinya.


"Astaga. Istri? Aku pikir Tuan dulu tidak suka lawan jenis karna tidak tertarik pada wanita. Eh sekarang sudah punya istri ternyata."


"Mau ngapain kamu kesini?"


"Mau jemput Ladit. Mau apa lagi. Frans sudah mati. Dia penyakitan. Aku nggak nyangka bisa bertahan sampai sejauh ini." Mario menahan emosinya yang sudah berada di ujung kepala.


"Ladit. Kamu mau sama Mama kamu?"


"Nggak Dad. Ladit mau sama Mom."


"Kamu dengar sendiri kan."


"Ladit. Kurang ajar kamu. Aku sudah capek capek kesini kamu malah begini."


"Aku nggak nyuruh Mama untuk kesini. Mama sudah telantarin aku sejak kecil. Mama tukang selingkuh suka bawa laki laki ke rumah kalo papa lagi kerja. Mama nggak bertanggung jawab sebagai seorang istri maupun Ibu."


"Oh Ok. Ini terakhir kalinya aku ketemu kamu. Buang buang waktu aja. Dasar nggak tau diri."


"Kamu yang nggak tau diri." Kata Mario langsung memanggil penjaga di rumahnya untuk mengusir wanita itu.


Val mengusap punggung Ladit untuk menenangkan.


"Sudah. Jangan sedih lagi."


"Ini minumnya kak."


"Makasih Van."


"Iya. Kak Ladit nggak papa?"


"Enggak." Jawabnya sambil tersenyum.


"Yang tadi itu Mamanya kak Ladit Mom?"


"Iya."


Keempat orang menghampiri Ved dan Veer yang tengah sibuk mengobrak abrik isi kolam di belakang rumah.


"Kita lagi kuras kolam Mom. Mom mau ikut."


"Nggak."


"Kalian kuras kolam kok gitu. Mati nanti ikan Daddy. Naik. Biar Daddy suruh orang aja."


"Nggak ah Dad. Udah terlanjur basah juga."


"Bukan gitu caranya. Itu kalo kalian kuras airnya bisa mati. Taro ikannya di bak dulu."


"Ambilin Bak nya."


"Brani kamu suruh suruh orang tua."


"Biar Van aja kak."


"Makasih. Van lebih pinter dari Daddy."


"Oh gitu. Nggak usah minta duit lagi." katanya langsung duduk di bangku.


"Ini kak."


"Isiin air pakai selang itu."


"Biar aku aja Van."


"Iya kak."


Ladit langsung mengisi baknya dengan air.


Val begitu penasaran dengan anak anaknya yang tengah asyik menangkap ikan dengan serokan.


"Mom mau coba?" Tawar Ved.

__ADS_1


"Boleh."


"Mau ngapain By?" Tanya Mario melihat Istrinya memegang serokan.


"Mau coba."


"Jangan nanti kamu...." Belum selesai bicara Val sudah berjongkok di tepi sambil mencoba menangkap ikan yang berenang kesana kemari.


"Emaknya ikut ikutan." Kesal Mario karena duduk tak ditemani istrinya.


"Aaaaaa....." Teriak Val ketika seekor ikan melompat ke arahnya. Wanita itu langsung berlari menjauh.


"Mom." Mereka langsung menghampiri Val.


"Kan udah dibilang." Mario memeluk istrinya dan mengajak duduk.


"Kalian lanjutkan."


"Mom nggak papa?"


Val hanya menggeleng pelan sambil mengatur detak jantungnya.


"Dasar bandel." Mario menjewer telinga istrinya.


Ladit menghampiri Val. Ia akan menanyakan sesuatu mupung Val sedang sendiri.


"Mom."


"Iya."


"Ladit boleh tanya sesuatu?"


"Tentu saja."


"Em....Gimana ya."


"Kamu mau tanya apa sih?" Val mengusap kepala Ladit dengan lembut.


"Mom pernah suka sama seseorang?"


"Pernah. Kenapa?"


"Gimana rasanya Mom?"


Val tersnyum. Ia tahu jika sekarang Ladit sepertinya sedang tertarik dengan seorang gadis.


"Ya macam macam. Kalo biasanya sih paling umum terjadi ketika suka seseorang itu yang pasti selalu memikirkannya."


"Oh gitu ya Mom."


"Iya. Memangnya Ladit suka sama siapa?"


"Nggak ada. Cuman tanya saja."


"Beneran?"


"Iya."


"Kalo Ladit mau curhat sama Mom. Boleh Lo..."


"Enggak Mom. Ladit cuman penasaran aja."


"Ah. Begitu."


"Iya." Jawabnya sambil tersenyum.


Mario memeluk istrinya dari belakang. Dengan gerakan cepat Ia membalikkan tubuh Val menghadapnya dan mencium bibir mungil itu dengan rakus. "Terimakasih Sayang. Aku mencintaimu." Katanya menatap manik mata sang istri dengan penuh cinta.


Hy guys. Tepat di episode ini tamat ya...


Terimakasih sudah setia baca, like, dan komen. Kalian sangat berharga untuk Author.


kira kira kalau aku bikin novel baru tapi fokusnya ke Van gimana ya...

__ADS_1


Minta komentar nya dong.


__ADS_2