Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Mabuk


__ADS_3

"Assalamualaikum Mom."


"Waalaikumsalam. Ladit kamu sama siapa?"


"Sendiri Mom." Remaja itu langsung ikut duduk sambil memeluk Val.


"Kok sudah pulang?"


"Sudah Mom. Hari ini pulangnya pagi karena di sekolah lagi ada acara Mom."


"Oh." Jawab Val sambil mengelus lembut kepala Ladit.


"Mom."


"Ya sayang."


"Ibu Ladit pelacur. Ladit ikut dosa ya Mom?"


"Hush.. Jangan bilang seperti itu. Nggak baik."


"Tapi benar kan Mom kalo Mama Ladit itu Pelacur. Kata teman teman dan Papa juga begitu. Ladit malu Mom."


"Ladit. Bagaimanapun juga dia Mama kamu. Orang yang telah melahirkan kamu dengan susah payah dan bertaruh nyawa. Ladit harus terima Mama Ladit dengan ikhlas bagaimanapun keadaanya. Surga ada di bawah telapak kaki Ibu. Ladit pernah dengar itu kan? Mom juga sering bilang ke Ladit."


"Pernah Mom. Tapi bagaimana dengan Mama Ladit yang tidak bertanggung jawab dalam membesarkan Ladit? dia dosa juga kan Mom."


"Seorang Ibu memang mempunyai kewajiban untuk membesarkan dan mendidik anak anaknya sayang. Jika Mama Ladit tidak demikian mungkin saat ini Mama Ladit sedang khilaf. Ladit doakan saja semoga Mama Ladit cepat sadar. Kalau urusan dosa atau tidak itu biar Allah yang atur. Begitu juga dengan pertanyaan Ladit tadi. Tugas kita hanya memperbaiki diri dan berdoa selalu. Sama jangan lupa minta ampun sama Allah."


"Kenapa Mom sabar sekali? Ladit tidak bisa seperti itu."


"Mom tau sakit hati kamu meskipun Mom tidak pernah merasakannya. Mom paham betul sulit bagi kamu untuk menerima Mama kamu. Tapi Ladit tidak boleh begitu. Jangan kotori hati Ladit dengan dendam sama Mama. Tidak baik nak. Bersikap baiklah pada orang tua ya."


"Iya Mom."


"Teman Ladit sekarang masih gangguin Ladit?"


"Sudah tidak semenjak bicara dengan Mom kemarin. Makasih ya Mom."


"Sama sama Sayang. Kalo kamu ada masalah bilang sama Mom."


"Iya."


"Ini jam berapa?"


"Jam 10 lebih Mom."


"Mom masak dulu ya. Nanti keburu Om Mario sama anak anak pulang."


"Iya. Ladit bantu boleh?"


"Boleh. Tapi kamu ganti baju dulu. Seragam kamu nanti kotor."


"Iya Mom." Ladit bergegas pergi setelah mencium pipi Val.


"Mom gimana cara potong wortelnya?" Tanyanya kebingungan.


"Begini." Val memegang tangan Ladit utuk mengarahkan cara memotong wortel.


"Potongnya agak serong." Kata Val menjelaskan. Ladit merasakan kasih sayang dan kehangatan seorang Ibu dari Val. Ia sedari kecil tak pernah diperhatikan Ibunya. Ladit begitu bahagia atas semua perlakuan Val padanya.


"Teruskan ya."


"Ok Mom."


"Mom. Om Mario sukanya makan apa?"


"Dia sukanya sayuran sama daging tanpa lemak. Om makannya sehat terus."


"Oh. Kalo Si kembar sama Van?"


"Sama mereka juga. Tapi kalo Van sesekali masih mau makan dimsum atau mie pangsit sama Mom. Kalo Ved sama Veer jarang banget. Mereka ikutin Daddy-nya."

__ADS_1


"Setau aku mereka nggak akur kalo sama Om Mario."


"Iya. Tapi entah kenapa selera makannya sama. Kalo Ladit suka makan apa?"


"Semua yang Mom masak Ladit suka."


"Sudah siap semua. Tinggal bikin dessert."


"Selalu ada dessert ya Mom?"


"Iya. Kalo nggak nanti Van tanya."


"Mau bikin apa Mom?"


"kita buat Trifle Chocolate Greentea Cake. Kayanya masih ada waktu."


"Ok Mom. Aku nggak begitu ngerti bantu aduk aja."


"Iya." Val mulai membuat hidangan penutup mulut itu dengan buru buru.


Semuanya sudah berkumpul di ruang makan. Frans juga ikut bergabung sekalian menjemput Ladit.


"Enak. Kamu masak segini banyak sendiri Val?"


"Aku bantu Pa."


"Nggak yakin."


"Iya. Tadi Ladit bantu kok."


"Bantu apa kamu?"


"Potong sayuran."


"Pantes jelek." Kata Ved tertawa.


"By. Nanti malam temani aku ya."


"Dad mau ajak Mom kemana?"


"Mau kemana sih Dad?"


"Mau lihat pembukaan Mall baru aku."


"Bukannya kemarin sudah?"


"Hari ini aku mau cek lagi semua yang aku mau sudah dilaksanakan belum."


"Ikut."


"Nggak. Udah dibilang di rumah aja."


"Tapi Dad."


"Nggak." Tegas Mario membuat anak anaknya diam.


"Kenapa nggak boleh ikut sekalian sih?"


"Ini bisnis By. Kalo mereka ikut jadinya aku momong anak."


"Yah Daddy ma begitu." Keluh ketiganya.


"Frans."


"Hm."


"Proposal tadi sudah kamu bawa kan?"


"Sudah Bos. Prasaan tadi udah tanya sembilan kali." Jawabnya malas.


Val menemani suaminya berkeliling Mall. Pria itu sangat tegas memerintah untuk mencatat kekurangan dan segala hal yang tidak sesuai dengan keinginannya untuk segera di perbaiki.

__ADS_1


"Saya nggak mau tau. Minggu depan harus sudah siap semua." Kata Mario tegas. Pria itu sedaritadi tak mau melepaskan genggaman tangannya dari sang istri.


"Baik Tuan."


"Senin nanti saya akan kesini lagi."


"Baik Tuan. Nyonya. Selamat malam." Kata lima orang itu sambil menunduk.


"Malam." Jawab Val dan Mario hanya diam.


Di tengah perjalanan pulang mobil Mario tiba tiba mati.


"Kenapa Dad?"


"Nggak tau. Nggak biasanya kaya gini."


"Aku telpon orang aja."


Mario langsung mengambil ponselnya untuk menelpon bengkel Supercar langganannya.


"Bagaimana?" Tanya Mario setelah mobilnya di cek.


"Ada masalah di mesinnya. Perbaikannya lama Tuan."


"Ok. Bawa aja." Mobil Mario langsung diangkut ke Truk Trailer.


"By aku telpon supir aja suruh jemput ya." Kata Mario menghampiri sang istri yang duduk di trotoar.


"Iya."


"Kamu capek?" Mario mengusap kepala istrinya.


"Nggak Kok."


"Yah By Hp aku mati. Kamu gimana?"


"Tadi Dad suruh gausah bawa karena takut diganggu anak anaknya. Ya aku nggak bawa dong."


"Astaga."


"Kita naik taxi aja. Itu ada lewat." Val mencegat taxi itu.


"Gamau ah. Aku nggak pernah."


"Kamu mau disini terus?"


"Yasudah." Mario menurut langsung mengikuti istrinya yang sudah masuk lebih dulu.


Begitu sampai di depan mansion Mario langsung turun meninggalkan sang istri.


"Kembaliannya ambil aja pak." Kata Val cepat cepat menyusul suaminya.


"Makasih Mbak."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mom."


"Ini buat kalian. Tanyanya nanti saja." Val berlari menyusul Mario ke kamar.


"Astaga Dad." Val terkejut melihat suaminya muntah muntah di kamar mandi. Wanita itu memijit tengkuk Mario pelan.


Val membantu suaminya berjalan dan langsung membaringkannya di ranjang. Ia dengan telaten mengganti baju Mario dan membersihkan tangan pria itu.


Selesai meladeni segala pertanyaan anak anaknya Val langsung bersih bersih. Wanita itu kemudian berbaring di samping Mario yang masih terlihat pucat.


"By."


"Kamu bangun Dad?"

__ADS_1


"Pusing."


"Ini minum dulu." Val membantu Mario untuk minum obat dan menidurkan pria itu kembali. Mario menenggelamkan kepalanya di dada sang istri sambil memeluk pinggang ramping wanita itu. Val tersenyum kemudian mengecup kening suaminya beberapa kali. Dengan lembut Ia mengelus kepala Mario agar segera tidur kembali. Mario tersenyum atas perlakuan sang Istri. Hatinya menghangat atas kepanikan Val saat melihat kondisinya tadi. Sebenarnya Ia hanya muntah muntah biasa karena mabuk di taxi. Kondisinya tidak separah itu. Ia hanya ingin diperhatikan dan melihat reaksi sang Istri. Di luar dugaan Val ternyata sangat peduli pada Mario di balik sikap cueknya sehari hari. Pria itu mengeratkan pelukannya dan mulai tertidur dengan nyaman.


__ADS_2