Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Panggil Aku Daddy


__ADS_3

Val sudah membangunkan anak anaknya. Meskipun masih dalam suasana berduka karena baru saja mereka mengelar acara tujuh hari kematian Frans. Namun aktivitas harus berjalan seperti biasanya agar tidak larut dalam kesedihan. Mami dan Papi Val menginap beberapa hari disini. Keduanya baru pulang kemarin.


"By." Mari memeluk istrinya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.


"Ayo duduk. Sarapan."


"Pakaikan dasiku."


"Iya." Val menaruh piringnya dan mengikatkan dasi sang suami.


"By."


"Sudah. Duduk dulu. Tunggu anak anak."


"Iya."


"Pagi Mom. Dad."


"Pagi sayang. Val langsung mencium keempatnya."


"Ayo duduk. Sarapan."


"Iya Mom."


"Ladit. Kamu sudah tidak papa masuk kuliah?"


"Nggak papa Om."


"Kamu bawa mobil sendiri Sayang?"


"Iya Mom."


"Hati hati ya. Kalau belum siap minta diantar supir saja."


"Nggak papa Mom. Ladit nyetir sendiri aja."


"Mom. Kita nanti pulang agak sore. Ada latihan taekwondo."


"Kalo gitu Mom nanti kirim makan siang buat kalian."


"Mom. Van juga pulang telat. Nanti ada kerja kelompok. Sekalian makan siang buat Van juga ya."


"Iya."


"Kamu juga Dit?"


"Enggak Mom. Ladit nanti jam 10 sudah pulang."


"Nanti anterin makan siang aku ya By. Harus kamu sendiri yang antar."


"Iya."


Ved dan Veer menghabiskan sarapannya dengan cepat.


"Mom. Dad. Kita berangkat dulu ya."


"Iya. Hati hati." Val mencium kedua anak kembarnya.


"Van. Kamu berangkat sama kakak mau?"


"Kak Ladit nanti nggak telat harus antar Van dulu?"


"Enggak."


"Yasudah. Ayo."


"Mom. Dad. Kita berangkat."


"Iya. Hati hati." Val mencium keduanya.


"Iya Mom. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Keduanya berangkat setelah berpamitan.


Ladit mengehentikan mobilnya di depan sekolah Van.


"Kak. Van turun dulu ya."


"Iya." Ladit membuka sabuk pengaman yang di pakai Van membuat jarak keduanya begitu dekat.


"Assalamualaikum Kak." Van mencium tangan Ladit.


"Waalaikumsalam. Hati hati."


"Iya." Kata Van sambil menutup pintu mobil. Ladit memegangi dadanya yang terasa aneh. Telah lama Ia merasakan ini ketika sedang berdekatan dengan Van namun Ia memilih untuk mengabaikannya.


"Ini gila." Gumamnya tau tentang perasaan yang sedang dialami.


Val selesai menyuruh supirnya untuk mengantarkan makan siang untuk anak anak. Ia juga sudah bersiap untuk pergi ke kantor suaminya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Mom." Ladit langsung masuk dan memeluk Val.


"Waalaikumsalam. Kamu makan dulu ya. Mom siapin. Mom mau antar makan siang ke kantor."


"Iya Mom. Aku taro tas di kamar dulu."


"Iya."


Val bergegas menyiapkan makan siang untuk Ladit.


"Mom berangkat dulu ya."


"Nggak mau Ladit antar saja?"


"Nggak usah. Kamu makan aja. Mom sudah diantar supir."


"Mom hati hati ya."


"Iya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Val sampai di kantor suaminya langsung masuk ke dalam.


"Nyonya." Sapa Mereka setelah sekian lama Val tidak mengunjungi kantor suaminya.


"Pak Rico"


"Nyonya apa kabar?"


"Alhamdulillah Baik. Pak Rico sendiri?"


"Baik juga Alhamdulillah."


"Suami saya ada?"


"Ada. Tuan sedang menunggu Nyonya di ruangannya. Mari saya Antar."


"Tidak perlu Pak. Terimakasih. Saya kesana sendiri."


"Baik Nyonya."


Val menjawab sapaan dari para karyawan dengan ramah.


"Assalamualaikum."


"Ngapain kamu ngobrol lama sama Rico."


"Apaan sih. Jangan mulai deh. Ini makan siang kamu."


"Suapi."


"Iya."


Val menyiapkan makan untuk suaminya. Wanita itu mulai menyuapi Mario dengan telaten.


Mario menggenggam tangan istrinya.


"By. Ladit sudah bisa hidup sendiri. Dia sudah dewasa."


"Kenapa sih Dad? Kamu keberatan tentang biaya hidup dia? Biar aku yang tanggung."


"Bukan masalah itu. Kita sudah punya tiga anak. Nggak mungkin kan nambah lagi."


"Itu wasiatnya sahabat kamu. Masa kamu nggak ngejalanin."


"Iya. Tapi By?"


"Dad. Benar dia sudah dewasa dan sangat mungkin untuk hidup mandiri. Tapi Dad. Tolong dong kamu ngerti. Dia nggak punya siapa siapa. Aku takut hidupnya juga akan rusak tanpa kasih sayang dan pengawasan langsung dari kita. Aku takut dia seperti Papanya. Kamu mau anak satu satunya sahabat kamu berakhir seperti itu?" Tanya Val dan Mario hanya menggeleng.


"Yasudah. Kamu coba ikhlas ya. Nggak ada salahnya kita jadi orang tua Ladit."


"Iya." Mario memeluk istrinya. Bagaimanapun Frans sudah berjuang bersamanya sejak dulu. Ia akan menjalankan apa yang diamanatkan sahabatnya itu.


"Tapi nanti anak anak bagaimana?"


"Aku akan bicara sama mereka pelan pelan."


"Baiklah. Terimakasih dan Maaf karena selalu merepotkan kamu."


"Bicara apa sih. Aku nggak repot sama sekali." Jawab Val meyakinkan.


Mario dan Istrinya tengah duduk bersama dengan Ladit.


"Dit." Panggil Mario.


"Ya Om."


"Kamu duduk sini." Katanya sambil menepuk sofa di dekatnya.

__ADS_1


"Ada apa Om?" Tanyanya ketika sudah duduk di samping Mario.


"Mulai sekarang. Kami akan jadi orang tua kamu. Jangan panggil aku Om lagi. Panggil aku Daddy seperti adik adik kamu."


Ladit menatap Val dan wanita itu hanya mengangguk.


"Terimakasih." Katanya sambil memeluk Mario.


"Aku Daddy kamu Dit. Aku orang tua kamu sekarang. Jika ada sesuatu jangan sungkan untuk menyampaikan."


"Iya Dad. Terimakasih."


"Terimakasih juga Mom." Katanya beralih memeluk Val.


"Iya Sayang."


"Mom." Van langsung masuk dan memeluk Mommynya.


"Hey. Ada apa Sayang?"


"Nanti Van mau datang ke ulang tahun teman Van. Boleh kan?"


"Boleh. Kamu bersih bersih dulu sana."


"Iya. Nanti Mom bantu pilih baju ya."


"Iya."


"Yaudah. Van ke kamar dulu." Katanya pergi setelah mengecup pipi Val.


"Mom." Ved dan Veer baru datang setelah adiknya pergi.


"Astaga. Kalian kenapa wajahnya luka luka begitu?"


"Latihan Mom."


"Biasa itu By. Dulu malah kalo aku latihan sampai kaki patah juga pernah."


"Beneran?"


"Iya."


"kalian saling lawan?"


"Enggak dong kak. Kita lawan teman kita."


"Menang atau kalah?"


"Menang dong."


"Bagus. Jangan sampai kalah. Jangan bikin malu Daddy."


"Bersih bersih sana. Nanti Mom obati."


"Ok." kata keduanya dengan patuh.


Semuanya tengah berkumpul di ruang tengah setelah makan malam.


"Mom. Tadi teman Van di ulangtahunnya di kasih hadiah dong sama pacarnya."


"Teman kamu sudah punya pacar?"


"Sudah. Orang tuanya juga tau."


"Wah. Masih kecil udah pacaran aja."


"Kita boleh nggak Mom? Kita udah mau 17." Kata Veer membuat Val tersedak.


"Pelan pelan Mom."


"Nggak. Kalian. Oh Bukan. Semua anak Mom nggak boleh pacaran. Kalo kiranya kalian sudah kenal cewek yang baik dan merasa cocok datangi orang tuanya. Langsung lamar. Kamu juga Van. Van juga nggak boleh pacaran. Kalo Van kenal sama cowok suruh dia serius dan langsung lamar ke Daddy."


"Ih. Mom apaan sih. Van nggak mau nikah dulu. Van mau jadi dokter." Jawabnya membuat Ladit tersenyum memperhatikan gadis cantik itu.


"Kita juga cuma bercanda tadi Mom." Kata Veer.


"Kalau Mom serius. Anak orang jangan di buat mainan."


"Iya Mom."


"Ladit."


"Iya Dad."


"Kamu sudah punya atau pernah pacaran?"


"Enggak pernah dan nggak akan pernah punya. Ladit juga mau langsung nikah kalo udah ketemu sama yang baik."


"Bagus itu."

__ADS_1


__ADS_2