
Mario celingukan mencari keberadaan istrinya. Wanita itu baru saja ditinggal sebentar untuk cuci tangan tapi sudah pergi entah kemana.
"Mom mana?" Tanya Mario.
"Lagi di depan Dad. Aku juga habis dari sana."
"Hm. Ok." Kata Mario langsung menuju kesana.
"By." Panggil Mario melihat Val yang sedang mengobrol dengan salah satu pelayan.
"Dad. Aku mau keluar sebentar ya."
"Kemana?"
"Mau beli keripik tempe."
"Keripik tempe buat apa?"
"Dimakan dong. Apa lagi."
"Kamu makanannya aneh aneh aja."
"Ya Dad." Tanya Val sambil mengguncangkan lengan suaminya.
"Suruh Bibi aja."
"Nggak ah. Aku pengennya beli sendiri."
"Kamu...Yaudah ayo berangkat sekalian kita kan mau pergi ke rumah Mami."
"Iya. Makasih Dad." Kata Val sambil mengecup pipi suaminya.
"Sama sama." Kata Mario membalas ciuman Sang Istri.
Val dan Mario berangkat untuk ke rumah Mami.
"Kita belinya dimana sih By?" Tanya Mario saat di perjalanan.
"Kita ke pasar."
"Gamau ah. Bau. Aku nggak suka."
"Ayolah Dad."
"Ngapain nggak beli di supermarket aja sih?"
"Memangnya ada?"
"Cari disana dulu. Aku nggak mau kalo di pasar."
"Yaudah ke supermarket dulu. Kalo nggak ada kita ke pasar. Kamu di mobil aja. Nanti biar aku yang turun."
"Nggak." Tegas Mario menolak kemauan istrinya.
"Mom mau beli apa?"
"Keripik tempe."
"Di supermarket ada kayanya."
"Tuh dengerin."
"Yaudah itu di depan ada supermarket. Kita belinya disana aja."
"Ok."
Val dan anak anak sibuk memilih makanan sedangkan Mario mendorong troli belanja mengikuti mereka.
"By. Aku terima telpon sebentar ya."
"Ah. Iya Dad." Kata Val.
Wanita itu memasukkan dua bungkus ramen dalam trolinya mupung anak anak dan suaminya lengah.
"Mom bayar dulu ya."
"Iya Mom." Kata mereka menunggu di tempat yang tak jauh dari kasir.
"Sudah semua By?" Tanya Mario menghampiri mereka.
"Sudah. Ayo."
"Biar kita yang bawa Mom."
"Iya."
Anak anak membawa belanjaan kemudian memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Wah kalian sampai juga. Kok lama?"
"Mom tadi minta mampir di supermarket buat beli keripik tempe Oma."
"Oh pantesan. Ayo masuk. Oma udah siapin makan siang."
"Ok Oma."
"Kenapa tiba tiba pengen keripik tempe?"
"Mau makan pake itu Mi. Sama nasi anget. Kayanya enak."
"Kamu. Makan sayur gitu lo. Dari kecil sampai sekarang kok nggak doyan sayur."
"Dia memang begitu Pi." Kata Mario pada mertuanya.
Val makan dengan lahap menggunakan nasi putih dan keripik tempe.
"Makan sayur By. Kamu masa makannya pake itu aja."
"Enggak ah. Ini udah enak."
"Mom kebiasaan. Liat badannya kurus begitu."
"Iya sayang. Ayam, daging, sama sayur kan ada. Kamu kenapa sih makan cuma peke itu aja."
"Enak Mom."
"Permisi. Ini sambal tomatnya Non."
"Makasih ya Bi."
"Sama sama Non."
"Nggak usah macam macam kamu By." Tegur Mario melihat istrinya mulai makan dengan sambal yang banyak.
"Jangan dimakan."
"Kenapa?"
"Biji cabenya aja banyak begitu. Pasti pedes."
"Nggak kok."
"Iya Mom. Nggak usah di lanjutin makannya. Makan yang lain aja."
"Nggak papa kok." Kata Val tak mau mendengarkan semuanya.
"Val Thompson." Tegur Papi.
"Santai aja Pi." Jawab Val tidak menyerah.
Mario tengah mengobrol di ruang tengah bersama Mertuanya.
"Perusahaan gimana?"
"Lancar Pi. Nggak ada kendala apapun."
"Bagus."
"Frans gimana? tetep nggak mau cari istri lagi dia?"
"Enggak Pi. Hidup sama Ladit aja udah cukup katanya. Dia nggak pengen nikah lagi."
"Mantan istrinya juga nggak pernah tanya kabar Ladit?"
"Enggak sama sekali. Ladit juga nggak mau sama Mamanya. Dia kecewa dari kecil nggak pernah diurus."
Suara dari dapur menyita perhatian kedua orang yang tengah mengobrol itu.
"Ada apa ya?"
"Nggak tau Pi. Mario kesana dulu ya."
"Iya. Ayo." Kata Papi Val berjalan diikuti menantunya.
"Sayang kamu ngapain sih makan ramen segala. Mami kan sudah larang. Ini nggak sehat. Susah banget di bilangin." Omel Mami pada Val.
"Val pengen Mi. Udah lama banget Val nggak makan ramen."
"Ada apa sih Mi?" Tanya Papi baru saja datang.
"Ini anak kamu. Udah dibilang jangan makan ramen malah ngeyel."
"By. Kamu makan ramen? dapat darimana?"
__ADS_1
"Tadi aku beli pas di supermarket."
"Kamu ditinggal angkat telpon sebentar aja udah beli yang macem macem."
"Udah nggak usah makan lagi. Buang." Kata Mami mengambil mangkuk Val dan memberikan pada suaminya.
"Mi. Mubazir. Itu Val baru makan setengah."
"Nggak lagi. Udah cukup. Nggak makan sayur kok makannya makanan nggak sehat."
"Ih Mami. Kan aku udah lama benget nggak makan ramen."
"Udah. Nggak usah protes. Semuanya demi kebaikan kamu." Mario memeluk istrinya agar wanita itu berhenti mengeluh.
Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga untuk mengobrol. Val tiba tiba merasakan nyeri di dadanya. Perlahan nafasnya juga mulai sesak dan keluar keringat dingin.
"By." Panik Mario menyadari keadaan istrinya.
"Sayang." Semuanya ikut mengerubungi Val yang sudah tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.
"Sakit." Katanya sambil memegangi dada. Tanpa berpikir panjang Mario langsung menggendong Val untuk dibawa ke rumah sakit. Setelah bertahun tahun hal seperti ini terjadi lagi. Paru paru Val kembali bermasalah. Mario merasa bersalah tiap istrinya merasakan kesakitan seperti ini.
Mereka mondar mandir cemas menunggu Val yang masih di ruang UGD. Sudah tengah malam namun dokter belum juga keluar.
"Bagaimana dok?" Tanya mereka melihat dokter keluar.
"Alhamdulillah. Kami sudah menanganinya. Kondisi Nyonya tidak seburuk dulu. Pneumotoraks akibat kecelakaan yang diderita Nyonya Val kali ini ringan. Kami sudah melakukan drainase udara untuk menanganinya."
"Boleh kami jenguk dok?"
"Kami akan pindahkan ke ruang rawat dulu."
"Baik dok. Terimakasih banyak."
"Sama sama." Kata dokter tersenyum ramah.
Pagi hari semuanya berkumpul di ruangan Val. Wanita itu masih menggunakan selang oksigen agar pernafasannya lancar.
"Sarapan dulu ya."
"Nggak mau bubur Dad."
"Maunya apa?" Tanya Mario lembut pada sang Istri.
"Susu aja."
"Yasudah." Mario dengan cepat membantu istrinya untuk minum susu hangat.
"Ingat kata dokter Mom. Jangan kecapean lagi."
"Iya. Prasaan Mom juga nggak kecapean. Emang lagi waktunya kambuh aja."
"Kemarin kemarin kan kamu ikut kerja bakti."
"Nah. Mungkin karna itu." Kata Ladit setuju dengan Papanya.
"Mau apel?" Tanya Papi.
"Mau."
"Ini. Mami sudah kupaskan."
"Makasih Mi." Pria itu langsung menyuapkannya pada sang istri.
Mario tengah menemani Val beristirahat setelah semuanya berpamitan untuk keluar. Pria itu selalu menggenggam tangan Istrinya dan tidak mau melepaskan.
"Kamu nggak tidur semalaman ya Dad?" Tanya Val melihat Suaminya tampak pucat.
"Tidur kok." Bohong Mario tak ingin istirnya khawatir.
"Bohong. Wajah kamu lelah begitu. Tidur sini." Kata Val sambil menggeser tubuhnya agar Mario bisa tidur di sampingnya.
"Kamu nanti terganggu istirahatnya."
"Enggak kok."
"Baiklah." Jawab Mario dengan senang hati kemudian berbaring di samping istrinya. Sepasang suami istri itu saling memeluk satu sama lain.
"Jangan sakit lagi." Kata Mario sambil menepuk lembut punggung Val.
"Aku khawatir. Aku juga sangat merasa bersalah setiap kali kamu seperti ini. Mengingatkan aku tentang kejadian itu. Aku melukai kamu. Istri aku sendiri. Aku orang jahat. Aku nggak bisa maafkan diri aku sendiri." Kata pria itu sambil meneteskan air matanya.
"Tidak udah diingat. Semuanya sudah berlalu. Aku baik baik saja." Kata Val meyakinkan.
"Sekarang tidur Dad. Aku juga mau tidur."
"Iya." Mario mendekap tubuh istrinya dengan hati hati dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1