
Val sedang menyiapkan sarapan untuk anak anak dan suaminya.
"Pagi Mom." Ketiganya mencium Mommynya bergantian.
"Pagi sayang. Ayo duduk. Mom sudah siapkan sarapan."
"Iya Mom."
"By." Pria itu langsung mengecup pipi istrinya.
"Iya. Duduk dulu."
"Pakaikan dasiku."
"Ya."
Val mengikat dadi suaminya dengan telaten.
"Dad. Hari ini aku mau ke rumah Mami ya."
"Mau ngapain? kemarin kan udah."
"Mau main."
"Iya. Aku antar sekalian ke kantor. Kamu nanti antar makan siang buat aku ya."
"Iya. Dah duduk. Sarapan dulu." Kata Val setelah selesai mengikat dasi untuk suaminya.
"By."
"Hm."
"Suapi."
"Astaga Dad. Udah tua juga."
"Kenapa? kalian iri?"
"Tau ah." Kata Veer kembali melanjutkan makan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh kalian datang."
"Iya Mom. Papi mana?"
"Lagi ke kantor."
"Oh."
"Mi. Aku juga mau ke kantor dulu ya."
"Iya hati hati."
"Iya Mi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mario langsung bergegas pergi setelah mencium kening istrinya.
"Gimana?" Tanya Mami setelah duduk bersama Val.
"Gimana apanya Mi?"
"Jadi Ibu enak?"
"Ya ada enaknya ada enggaknya Mi."
"Mami lihat kamu aja capek. Kesana kemari urus anak sama suami. Mereka manja banget kalo sama kamu."
"Ya gitu lah Mi. Sedikit repot tapi gapapa."
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah tadi. Sebelum kesini aku sarapan."
"Mario makin tua makin manja ya."
"Iya. Berasa punya anak empat. Dia juga nggak mau ngalah sama anak anak."
"Kemari kemarin katanya Ved sama Veer kena tegur BK ya."
"Iya. Mereka bolos terus nilainya turun semua."
"Kok bisa?"
__ADS_1
"Jadi mereka itu dianter sampai depan sekolah itu bukannya masuk. Mereka itu ikut itu loh mi sekolah yang di pinggir rel kereta itu lo. Kalo nilainya turun sih mungkin karna mereka males belajar aja. Maklum aku beri kebebasan mereka buat atur waktu sendiri biar mereka nggak tertekan. Eh taunya malah lalai begini."
"Udah kamu marahi?"
"Aku tegur aja. Kalo marah marah sih Daddy-nya. Katanya bikin malu."
"Mario kalo udah marah serem. Mami yang mertuanya aja takut."
"Aku ma udah biasa Mi. Akhir akhir ini tiap hari dia marah marah."
"Sama kamu?"
"Bukan. Sama yang kerja di rumah. Ato nggak sama anak anak. Padahal udah sering aku nasehati untuk jangan marah marah tapi ya gitu. Tetep aja."
"Seiring waktu nanti juga berubah. Mungkin banyak pikiran di kantor makannya emosinya gak terkontrol."
"Iya mungkin." Kata Val setuju dengan Maminya.
Siang hari Val mengantarkan makan siang untuk suaminya. Wanita berhijab itu turun dari mobil langsung menjadi pusat perhatian seperti biasanya.
"Nyonya." Sapa mereka saat Val sudah sampai di lobby.
"Suami saya ada?"
"Ada Nyonya. Tuan sedang di ruangannya. Mari saya antar."
"Gausah Mbak. Saya kesana sendiri aja."
"Baiklah Nyonya." Kata Mereka tersenyum ramah.
"Bu Bos." Kata Frans terkejut melihat Val yang tiba tiba sudah ada di sampingnya.
"Suami ada?"
"Ada di dalam. Mari Bu." Katanya sambil membuka pintu. Val tersenyum melihat candaan Pria itu. Setiap kali datang ke kantor Frans selalu bersikap formal seperti ini dan kelanjutannya akan berbeda nanti.
"Kalian datangnya kok barengan?" Tanya Mario menelisik.
"Tadi ketemu di depan Dad."
"Oh."
"Bos. Ini laporannya." Katanya Formal pada Mario.
"Ya. Kamu boleh pergi."
"Tunggu." Cegah Val saat Duda satu anak itu mulai melangkah.
"Ini buat kamu."
"By."
"Aku bawa banyak. Ini makan siang buat kamu." Kata Val sambil menyerahkan kotak makan pada Frans.
"Makasih Bu."
"Sama sama."
"Nggak capek akting mulu." Mario duduk sambil merangkul istrinya.
"Yah capek panggil kalian Bos mulu." Kata Frans membuat ketiganya tertawa. Mereka memang sering bercanda seperti ini ketika bertemu.
"Mari makan." Frans membuka kota bekalnya dengan semangat.
"Makan di luar sana. Aku mau sama istri."
"Kamu. Aku capek tau. Kasih izin buat makan disini kenapa."
"Nggak. Cuman kasian aja nanti pak duda iri liat aku disuapi istri."
"Nggak. Aku nggak peduli." Katanya mulai makan.
"Kamu sudah makan By?"
"Sudah." Val mulai menyuapi suaminya.
"Om."
"Ya Val."
"Ladit apa kabar? Lama nggak ketemu."
"Baik. Prasaan Minggu lalu kalian ketemu."
"Ya. Kan Minggu lalu."
"Kalian sering Video Call juga."
__ADS_1
"Ya. Kalo nggak ketemu langsung kan nggak tau kabarnya."
"Dia baik kok. Saking baiknya bikin pusing."
"Pusing gimana?"
"Aku seminggu ini udah dipanggil tiga kali sama sekolahan." Kata Mario.
"Kenapa?"
"Kenapa lagi. Anak aku terlibat baku hantam sama temannya. Lama lama aku masukin ke pondok pesantren juga tu bocah."
"Jangan di paksa masuk pondok. Nanti anak malah tertekan."
"Harus gimana lagi."
"Ngomong aja baik baik."
"Alah. Dia kalo aku yang ngomong nggak di dengerin. Coba kamu yang ngomong Val. Dia dekatnya kan sama kamu. Lagian aku juga sibuk kerja."
"Iya deh. Nanti aku yang ngomong."
"Berani bayar berapa kamu suruh suruh istri aku?"
"Gitu aja peritungan." Kata Frans sambil cemberut.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Ketiganya langsung berhambur memeluk Val.
"Kalian sudah sholat sama makan?"
"Sudah Mom."
"Temenin aku dulu By."
"Giliran Mom sama kita Dad. Daddy kan sudah daritadi sama Mom."
"Nggak." Mario langsung menarik tangan istrinya.
Pria itu langsung memeluk Val begitu sampai di kamar.
"Mandi sana. Katanya mau mandi."
"Mandiin."
"Nggak. Aku dah mandi sebelum antar makan siang tadi."
"Sekarang mandi lagi."
"Gamau."
"Ayo dong By." Mario mulai merengek manja.
Val membalas pelukan suaminya.
"Mandi sendiri ya. Aku tunggu disini."
"Yasudah." Pasrah Mario langsung menuju kamar mandi.
Val sedang berkumpul dengan anak anak dan suaminya.
"Ved dan Veer."
"Iya Mom."
"Mom itu kasih kalian kebebasan buat atur jam belajar kalian supaya kalian nyaman dan tidak merasa tertekan ketika belajar. Eh taunya kalian malah begini."
"Maaf Mom."
"Mulai sekarang Mom atur jam belajar kalian."
"Baik Mom." Kata keduanya patuh.
"Kalian belajar sampai jam 9 malam. Setelah itu tidur. Nggak ada main game lagi. Main game cuma hari Sabtu sama Minggu dan hari libur lainnya. Mom pengen lihat kemajuan kalian. Mom nggak mau kalian dapat nilai merah lagi."
"Iya Mom."
"Iya paham nggak?"
"Paham Dad." Jawab keduanya tertunduk karena takut dengan Daddynya.
"Dah sini sini." Val memeluk ketiga anaknya.
"Jadi anak baik ya."
"Iya Mom. Maaf buat Mom kecewa."
__ADS_1
"Nggak papa. Jangan diulangi lagi."
"Iya Mom." Kata keduanya bersungguh sungguh. Mereka akan belajar dengan giat dan tak mengulangi kesalahan lagi. Kedua remaja itu tak mau membuat Mommynya kecewa.