Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Nyusahin Aja


__ADS_3

Frans sekarang tengah berada di rumah Mario. Pria itu sudah mencari anaknya namun belum ketemu juga.


"Om. Emangnya Om ada masalah sama Ladit?" Tanya Val setelah menaruh cangkir di depan pria itu.


"Iya. Aku marahin tadi siang karena dia masih temenan sama teman temannya yang berandalan itu. Malah sekarang dia sudah berani berani ikut ikutan merokok. Aku capek tiap hari harus ke sekolah karena ulahnya."


"Om marahinnya separah apa?"


"Aku mau masukin dia ke pesantren."


"Udah itu aja?"


"Iya."


"Yakin? Dulu Ladit Om kata katain sampai kabur kaya gini juga."


"Em..sebenarnya aku ngomong juga kalo aku malu punya anak kaya dia terus aku bilang kalo Ladit sama sama nggak tau diri kaya Mamanya."


"Haish..Om keterlaluan sih. Bukannya diomongin baik baik. Anak ya jelas kecewa lah orang tuanya sendiri bilang begitu. Kata kata Om itu pasti di ingat terus sama Ladit."


"Aku nggak bermaksud. Aku kelepasan. Ayo dong bantu cari."


"Nyusahin aja."


"Dad." Tegur Val.


"Om sudah cari ke rumah teman temannya?"


"Belum. Maksud aku nggak. Aku nggak tau rumah temannya."


"Aku tau. Kita kesana sekarang."


"Iya."


"Mario kamu yang nyetir ya."


"Enak aja kamu. Udah nyusahin orang minta di supirin pula. Bener bener nggak tau diri."


"Dad."


"Dia begitu. Kamu yang nyetir."


"Iya."


Mereka langsung masuk ke mobil setelah terjadi perdebatan kecil.


"Rumahnya dimana Val?"


"Di sekitaran sungai."


"Anak kamu pergaulannya sama anak pinggir sungai?"


"Dad. Ngomong apaan sih." Kata Val dengan kesal.


"Emang iya. Makannya aku nggak suka dia main sama anak anak berandalan itu."


"Lagian kamu sih masukin anak ke sekolah sembarangan. Pergaulannya jadi nggak terkontrol kan. Lagi, masa teman teman anak kamu istri aku yang tau kamu malah enggak."


"Aku nggak begitu paham sama teman temannya Ladit. Aku juga nggak pernah tanya rumah teman dia dimana."


"Berhenti di depan sana Om. Kita masuknya jalan kaki. Kalo pake mobil nggak bisa."


"Iya."


"Hati hati dong By. Kamu jalannya pelan." Kata Mario memperingati istrinya.


"Ih tempatnya kotor. Biar Frans aja yang cari sendiri." Keluh Mario tidak terbiasa dengan tempat seperti ini.


"Dad berhenti mengeluh deh. Aku tinggal juga lama lama."


"Jangan dong." Mario memeluk lengan istrinya.


"Kamu kok tau rumah temannya Ladit Val?"


"Aku pernah antar Ladit jenguk temannya disini dulu. Aku yakin dia pasti disini."


"Kamu kok nggak pernah bilang By."


"Dah bilang. Kamu lupa mungkin."


Mereka telah sampai di rumah sederhana dengan beberapa anak muda yang sedang berkumpul di teras.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Mom." Kata Ladit terkejut dengan kedatangan Val.


"Tante. Om." Mereka langsung mencium tangan Val.


"Kalian lagi ngapain?"


"Lagi ngobrol Tante."


"Ladit. Pulang kamu."


"Nggak mau Pa."


"Ladit." Bentak Frans kesal dengan anaknya.


"Tante boleh gabung ya."


"By."


"Boleh Tante. Silahkan duduk."


"Makasih. Dad sama Om tunggu di mobil aja. Biar aku yang ngomong."


"By."


"Tunggu di mobil." Tegas Val membuat keduanya menurut.


"Ladit. Kamu kenapa kabur dari rumah?"


"Katanya kesal dengan papanya Tante. Tadi Ladit dikata katain." Jawab teman temannya.


"Papa jahat Mom. Papa bilang Ladit anak nggak tau diri. Papa malu punya anak kaya Ladit." Katanya sambil memeluk Val.


"Ladit. Papa tadi cuma emosi saja. Papa bilang begitu nggak serius. Papa terbawa emosi karena Papa Ladit selalu di panggil ke sekolah. Ladit merokok ya?"


"Iya Mom."


"Kalian juga??"


"Iya Tante."


"Kalian masih sekolah. Mulai sekarang jangan merokok lagi ya. Ga baik buat kesehatan. Sehat itu mahal. Paru paru kalian bisa rusak karena merokok belum juga dampak negatif lainnya. Tante yang nggak merokok aja selama ini harus tahan rasa sakit di paru paru. Kalian yang keadaanya baik harus di jaga."


"Paru paru Tante luka karena kecelakaan."


"Pasti sakit ya Tante?"


"Sakit. Dan ini seumur hidup. Makannya kalian yang masih sehat jangan aneh aneh."


"Iya Tante. Kami nggak akan merokok lagi."


"Bagus. Besok ulang tahun Ladit kan?"


"Iya Mom. Makasih Mom selalu ingat."


"Besok datang ke rumah Tante ya. Kita makan makan disana."


"Beneran Tan?"


"Iya."


"Ok Tan. Kita datang."


"Yaudah. Kita pulang dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati hati Tan."


"Iya." Val berjalan sambil merangkul Ladit.


"By." Mario begitu khawatir langsung memeluk istrinya.


"Ladit. Kamu bikin repot orang aja."


"Om." Tegur Val pada Frans.


Ladit tak memperdulikan Papanya langsung masuk ke Mobil.


Semuanya sedang berkumpul di ruang keluarga setelah bersih bersih. Padahal sudah pukul setengah sembilan malam namun Frans dan Ladit belum pulang.


"Coba kalian selesaikan masalah kalian sendiri. Aku mau tidur sama istri nih." Kata Mario.

__ADS_1


"Daddy." Val mencubit lengan suaminya itu. Mulut Mario memang tidak ada remnya. Pria itu langsung mengucapkan apa yang ada di dalam pikirannya dengan spontan.


"Om ada yang mau disampaikan sama Ladit?"


"Iya. Papa minta maaf sudah ngomong kasar ke kamu. Papa kecewa lihat kelakuan kamu begitu. Meskipun Papa ngomong begitu Papa juga sayang sama kamu. Papa nggak mau kamu jadi anak nakal. Papa mau anak Papa jadi orang baik dan sukses nantinya." Kata Frans setelah sekian lama diam.


"Ladit juga minta maaf karena bikin Papa susah karena semua kenakalan Ladit. Ladit janji Ladit akan berubah. Ladit nggak akan merokok lagi. Ladit nggak akan nakal lagi."


"Papa pegang janji kamu." Pria itu memeluk anaknya.


"Ladit mulai sekarang sudah janji akan jadi anak baik. Jangan aneh aneh lagi ya."


"Iya Mom." Remaja itu langsung bangkit dari duduk menghampiri Val.


"Mau ngapain?" Mario memeluk istrinya.


"Mau peluk Mom dong Om."


"Nggak."


"Yah Om kok gitu."


"Nggak. Duduk sana."


"Udah udah sini." Val berdiri dan memeluk Ladit membuat Mario cemberut.


Ladit dan Frans pulang ke rumah. Mereka tidak menginap karena Ladit tidak membawa baju seragamnya. Val menghampiri anak anak yang sedang menonton di ruang keluarga.


"Kalian belum tidur sayang?"


"Belum Mom."


"Kak Ladit kenapa Mom?"


"Ada masalah sama Papanya. Tapi sudah selesai kok."


"Oh."


"Memangnya Mama kak Ladit kemana Mom?"


"Mamanya pergi sama laki laki lain. Ladit sama suaminya nggak diurus. Benar benar wanita kurang ajar."


"Daddy."


"Emang bener kan By."


"Iya. Tapi nggak usah umbar aib orang juga."


"Untung kita punya Mommy nggak kaya Mamanya kak Ladit."


"Udah jam 10. Ayo tidur. Besok kalian sekolah."


"Tidur sama Mom ya."


"Nggak. Mom tidur sama Dad."


"Yah..."


"Kalian udah besar juga."


"Hm. Yaudah. Selamat malam Mom, Dad." ketiganya mencium Val dan Mario bergantian.


"Malam Sayang."


Val dan Mario itu masih terjaga setelah kegiatan panas yang mereka lakukan. Keduanya baru saja mandi langsung membaringkan diri di ranjang. Mario menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Aroma Val begitu menenangkan membuat Mario nyaman.


"By."


"Hm."


"Punya anak itu susah ya."


"Kenapa?"


"Iya kaya Ladit tadi. Pergaulannya begitu."


"Makannya keharmonisan di keluarga itu penting. Biar anak nyaman dan tidak mencari kesenangan di luar."


"Untung kita harmonis."


"Alhamdulillah."

__ADS_1


"Tapi by. Setelah dipikir pikir aku dulu juga begitu. Aku nggak ada perhatian sama orang tua..."


"Ya kan By?" Tanya Mario di akhir ceritanya namun tidak mendapat jawaban. Val tenyata sudah tertidur pulas. Pria itu tersenyum mengecup bibir istrinya dan memeluk wanita itu dengan hangat.


__ADS_2