Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Perasaan Val


__ADS_3

Val sudah selesai dengan rutinitas paginya menyiapkan segala kebutuhan sang suami. Ia akan joging sebentar agar badannya segar. Val hanya mengelilingi lapangan belakang beberapa kali. Setelah dirasa cukup Ia kembali ke dalam untuk membangunkan suaminya.


"Dad. Bangun. Udah jam tujuh ini. Kamu katanya ada meeting hari ini."


"Masih ngantuk. Kita tidur lagi aja."


"Nggak ah. Aku mau mandi. Siap siap ke cafe."


Mario bergegas bangun dan menyusul istrinya ke kamar mandi.


Mario begitu manja dengan istrinya. Hanya sekedar untuk berpakaian pria itu minta dilayani juga. Val dengan sabar menuruti semua yang dikatakan suaminya. Begitu ribet tapi mau tidak mau Val hanya patuh. Tidak sepertinya yang hanya menggunakan kaos, celana jeans, sneakers dan juga kemeja. Suaminya sangat perfeksionis. Pria itu menggunakan setelan pakaian kantor, sepatu, dasi dan jam tangan yang serba mewah. Belum lagi parfum yang setiap harinya harus berbeda. Wangi maskulin khas pria pria elegan. Pria pria dengan kedudukan tinggi dan high class.


Val kini tengah memakaikan dasi suaminya.


"Dah selesai." Katanya setelah dasi itu terpasang rapi.


Mario memeluk pinggang istrinya yang tengah berdiri di hadapannya. Ia menghirup aroma wangi dari tubuh Val dalam dalam. Aroma yang begitu membuatnya merindu.


Keduanya tengah sarapan bersama.


"Dad duduk dulu. Makan sendiri ya. Aku mau ke dapur sebentar. Itu aku bikin nasi gorengnya sehat kok. Nggak pake minyak goreng. Aku pakainya minyak zaitun."


"Iya." Kata Mario menurut pria itu mulai memakan sarapannya sendiri tanpa disuapi sang istri. Mario makan sambil cemberut. Ia ingin disuapi Val. Namun Valnya masih sibuk. Entah apa yang dilakukannya di dapur.


Val datang dan duduk di dekat suaminya. Ia menyajikan secangkir ekspresso dan roti bakar dengan selai coklat di atasnya. Aroma ekspresso begitu menggoda masuk di Indra penciuman Mario. Pria itu mengambil cangkir istrinya dan menyesap perlahan. 'Sangat nikmat' batinnya.


"Dad itu punyaku."


"Minta sedikit. Jangan pelit pelit. Lagian kamu nggak bikinin aku sekalian."


"Katanya punya asam lambung. Aku nggak berani dong buatin kamu."


"Iya."


"Yaudah jangan minum lagi." Val memindahkan cangkirnya agar tidak dapat di jangkau oleh sang suami.


Tak terasa sudah waktunya jam makan siang. Val segera mengantarkan makan siang untuk suaminya. Setelah sampai di kantor Mario Val menitipkannya ke resepsionis untuk diberikan kepada sang suami.


Suara ketukan pintu membuat Mario bangkit dari duduknya. Ia membuka pintu melihat seorang resepsionis pria berdiri sambil membawa paper bag.


"Tuan. Ini makan siang dari Nyonya."


"Istri saya mana?"


"Katanya sedang ada urusan Tuan. Oleh karena itu Nyonya menitipkan makan siang untuk Tuan."


"Baiklah." Kata Mario menerima paper bag itu dan masuk ke ruangannya lagi.

__ADS_1


Mami langsung memeluk anak satu satunya begitu Val datang.


"Sayang kamu kesini nggak kasih kabar."


"Surprise Mi. Mami masak apa?"


"Mami bikin bakso. Makan yuk."


"Ok."


Mami langsung mengajak Val untuk ke ruang makan.


Ia mengamati anaknya yang makan dengan lahap. Ia tahu Val begitu tertekan. Anak yang seharusnya masih bermain den menghabiskan masa remajanya harus terikat dengan pernikahan yang tak diinginkan.


Mami menggenggam tangan anaknya membuat Val mendongak menatap wajah sedih wanita yang telah melahirkannya itu.


Val menghentikan makannya. Ia tak kuasa menahan air mata yang selama ini ia bendung. Val menangis juga setelah sejak umur 6 tahun Ia berjanji tidak akan menangis. Hari ini Ia melanggar janjinya sendiri. Air matanya jatuh begitu saja secara alami tanpa ia cegah atau paksakan.


"Keluarkan semuanya sayang. Jangan kamu tahan." Kata Mami memeluk anaknya erat membuat tangisan Val semakin kencang.


"Kenapa harus terjadi pada Val Mi? Kenapa Val tidak bisa menentukan pilihan Val sendiri? kenapa Val harus menikah dengan cara yang seperti ini? kenapa Val nggak bisa menikmati masa muda Val seperti yang lain?"


"Kamu kuat sayang. Kamu hebat. Kamu orang terpilih. Makannya tuhan pilih kamu untuk menghadapi semua ini karena kamu bisa."


Setelah beberapa saat kemudian Val baru tenang. Ia bergegas mencuci mukanya agar lebih segar. Ia tak mau Mario bertanya macam macam jika mengetahui Ia menangis.


"Aku dari rumah Mami Dad. Mami lagi masak bakso. Aku makan disana."


"Lain kali kalo mau kemana mana bilang dong."


"Iya Maaf."


Val mendudukkan diri di sofa diikuti Mario yang duduk di sampingnya.


Val membuka sepatunya kemudian membaringkan tubuhnya di sofa. Mario membawa kepala sang istri ke pangkuannya.


"Kamu capek?" Tanya Mario mengelus kepala istinya dan mengecup kening Val beberapa kali.


"Kekenyangan."


"Emang kamu makan seberapa banyak?"


"Dua mangkuk ditambah dimsum. Enak banget."


"Makan kamu banyak."


"Dari dulu emang banyak. Untung Mami nggak sampai miskin kasih makan aku."

__ADS_1


"Kamu. Orang tua kamu kaya raya. Nggak mungkin gara gara kasih makan kamu jadi miskin."


"Definisi kaya itu kaya gimana sih Dad?"


"Kaya itu hartanya banyak."


"Cuman harta?"


"Iya lah. Orang dilihat kaya atau enggak kan dari hartanya."


"Oh...Eh bentar Papi telpon."


"Ya Pi."


"Kamera Papi kamu taro mana sayang?"


"Ya di tempatnya dong Pi."


"Nggak ada. Udah Papi obrak abrik semuanya tetap nggak ada."


"Dimana ya?" Kata Val sambil mengingat.


"Coba di kamar Val Pi. Barangkali Val lupa."


"Sebentar Papi cari. Jangan ditutup dulu."


"Iya."


"Astaga sayang. Kamu taro kamera sembarangan di balkon kamar. Untung aja nggak hujan." Mario tersenyum mendengar mertuanya mengomeli sang istri.


"Masa sih."


"Iya."


"Maaf Pi Val lupa."


"Ga papa."


"Yaudah Val tutup ya."


"Iya. Love you sayang."


"Love you too Pi." Kata Val menyudahi panggilannya.


"Kamu haus By? Aku ambilin minum ya?"


"Iya."

__ADS_1


Mario menghampiri istrinya. Ternyata Val sudah tertidur. Ia menggendong Val dan membawanya ke kamar. Merebahkan di ranjang dengan hati hati. Ia mengecup bibir istrinya dan ikut tidur sambil memeluk sang istri erat.


__ADS_2