Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Kapan Kita Bulan Madu By?


__ADS_3

Mario belum bangun juga padahal Val sudah membangunkannya sedaritadi. Ia sangat mengantuk karena semalam begadang untuk belajar sholat dan mengaji bersama Val.


"Ayo dong bangun. Aku udah mau berangkat ini." Kata Val sambil memakai kemejanya yang tidak dikancingkan.


"Kamu mau kemana?" tanya Mario langsung bangun karena mendapati sang istri akan pergi.


"Ada foto prewedding di daerah puncak."


"Kok kamu nggak kasih tau aku dulu sih."


"Lupa. Dah mandi sana. Aku udah siapin baju sama sarapan."


"Mandiin."


"Iya. Ayo." Mario turun dari ranjang dengan semangat.


Mario memakan sarapannya disuapi Val. Pria itu menunjukkan wajah sedihnya karena akan berpisah dengan Val.


"Kamu pulang jam berapa?"


"Malem mungkin."


"Naik mobil sendiri?"


"Iya."


"Biar diantar supir saja. Nanti kamu capek By."


"Nggak usah. Aku bisa sendiri. Lagian kru nya juga banyak. Nanti bisa gantian kalo capek."


"Aku khawatir."


"Nggak usah khawatir. Makan siang sama makan malam kamu juga udah aku siapin. Nanti minta Bibi angetin aja di microwave."


"Iya. Kamu pulang malem jam berapa?"


"Nggak tentu."


"Kabari aku terus ya."


"Iya."


"Dah habis sarapannya. Aku berangkat dulu."


Mario berdiri dan memeluk istrinya lama. Pria itu menghirup aroma tubuh Val dalam dalam. Ia beralih mencium pipi, kening, hidung dan bibir sang istri sebagai penutup.


"Hati hati."


"Iya." Val mencium tangan suaminya kemudian langsung bergegas pergi.


"Awasi istriku." Kata Mario lewat pesan suara pada orang orang kepercayaannya.


Val sedang dalam perjalanan menuju puncak.


"Kenapa pilih mobil kaya gini Val? biasanya cewek suka mobil yang muat dua orang itu."


"Yang ini nyaman. Muat banyak. Kokoh lagi. Kalo dibawa perjalanan jauh enak."


"Bener juga."


"Masih jauh ya?"


"Seperempat jam lagi sampai kalau di depan nggak mancet."

__ADS_1


"Kamu lelah nggak? Biar aku gantiin."


"Enggak. Aku masih belum lelah."


"Baiklah."


"Kostum sama semuanya udah dibawa kan? aku lupa mau tanyain pas berangkat tadi."


"Udah kok. Semuanya lengkap."


"Ok."


"Val."


"Hm."


"Boleh tanya? tapi ini sedikit pribadi."


"Boleh."


"Suami kamu kalo sama kamu kejam nggak? soalnya kalo sama orang nggak pernah senyum, datar, dingin dan maaf kejam banget. Aku pernah liat dia maki maki orang."


"Enggak kok. Dia baik banget sama aku."


"Iyalah kamu kan istri tercinta." Kata yang lain menyahuti membuat tiga orang yang ada di mobil itu tertawa.


Pukul 12 malam Mario masih menunggu Val. Menurut laporan, istrinya masih dalam perjalanan pulang. Hari ini Pria itu berkali kali menelpon istrinya namun hanya dua kali diangkat. Ia begitu khawatir meskipun Sang istri dalam pantauannya karena hujan sangat deras di luar.


Mario langsung bangkit dari duduknya ketika pintu utama terbuka. Pria itu langsung memeluk istrinya.


"Jangan peluk ah. Basah."


"Nggak papa."


"Kamu belum tidur?"


"Belum makan?"


Mario menggeleng atas pertanyaan sang istri.


"Yaudah. Aku mandi dulu habis itu makan."


"Iya."


Val bersedekap dada sambil memperhatikan suaminya yang sangat pandai berbohong seperti anak kecil.


"Katanya belum makan. Masakan aku habis semua."


"Aku lapar lagi. Aku pengen nasi goreng kamu."


"Yaudah tunggu. Aku masakin sebentar." Val sebenarnya sangat lelah. Tapi mau tidak mau Ia harus menuruti kemauan suaminya.


Dua piring nasi goreng sudah tersaji di meja.


"Mau ngapain?" Tanya Val ketika sang suami mengambil milikinya.


"Jadikan satu. Kita makan sepiring berdua."


"Jangan. Punya aku pedes. Punya kamu nggak. Kamu kan ada sakit lambung. Jangan makan pedes."


"Yaudah. Suapi kalo gitu."


"Iya." Val mulai menyuapi suaminya. Setelah selesai Ia baru makan miliknya sendiri. Mario memaksa untuk menyuapi Val. Namun Ia menolak dan ingin makan sendiri. Val mencuci piring dengan cepat setelah selesai makan. Ia kasihan melihat Mario yang sudah mengantuk sedaritadi.

__ADS_1


Val masih terjaga padahal sudah pukul 1 malam. Sementara sang suami sudah tertidur pulas sambil memeluknya. Ia mengamati wajah damai suaminya. Ia mengelus lembut Surai hitam Mario kemudian memejamkan mata agar bisa tertidur secepatnya.


Pagi hari Val membiarkan suaminya bangun siang karena hari ini libur dan Val juga kasihan karena Mario tidur larut malam. Selesai joging dan menyiapkan sarapan Ia bergegas mandi.


"Sudah bangun?" Val menghampiri suaminya yang duduk di ranjang.


Mario menarik tangan Val membuat sang istri jatuh ke pelukannya. Mario menghirup aroma khas tubuh istrinya yang begitu memabukkan.


"Mandi sana habis itu sarapan."


"Mandiin."


"Iya." Val menggandeng tangan suaminya menuju kamar mandi.


"Kamu hari ini nggak kemana mana kan By?"


"Enggak. Aku dirumah aja."


"Bagus. Aku seneng kamu di rumah."


"Kenapa?"


"Nggak papa. Aku kangen aja sama kamu."


"Tiap hari ketemu juga."


"Iya. Tapi kalo kamu sibuk terus akunya jarang kamu perhatiin."


"Ini juga aku perhatiin. Aku masakin kamu, suapi kamu dan mandiin kamu."


"Iya. Tapi kurang."


"Dah. Habiskan sarapannya." Kata Val melanjutkan menyuapi suaminya.


Selesai makan Mario mengajak istrinya untuk jalan jalan di taman belakang. Pria itu tak berhenti merangkul pinggang istrinya yang ramping. Ia mengajak Val duduk di gazebo sambil menikmati angin semilir yang begitu menyegarkan.


"Kapan kita bulan madunya By?"


"Tunggu sama sama luang."


"Aku luang terus."


"Aku masih ada kerjaan. Bulan ini padet banget."


"Yah..." Keluh Mario menampilkan wajah sedihnya.


"Jangan sedih begitu. Nanti juga bulan madu. Nggak bulan madu juga kamu minta jatah."


"Iya. Tapi kalo bulan madu kan kita berdua aja."


"Emang kalo di rumah siapa yang ganggu?"


"Nggak ada. Hanya saja lebih fokus dan leluasa."


"Bisa bisanya."


Pria itu memeluk tubuh istrinya.


"Kamu kurusan."


"Capek mungkin. Banyak kerja. Harus kesana kemari."


"Makannya jangan kerja. Uang aku cukup buat beli apapun yang kamu mau."

__ADS_1


"Aku mau mandiri."


"Baiklah." Kata Mario mencoba memahami istrinya.


__ADS_2