Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Mulai Membatasi


__ADS_3

Mario sudah muak dengan istrinya. Ia begitu sabar menunggu, namun Val semakin kelewatan. Val hanya di rumah ketika malam akan tidur saja. Selebihnya Ia bekerja dan bekerja. Sudah beberapa hari juga Mario tidak mendapat jatah dan harus menyelesaikannya sendiri.


Hari ini Val pulang sore sekitar jam 3. Ia baru saja keluar dari kamar mandi. Mario yang sudah memendam emosinya kalut. Ia menarik Val dengan paksa dan mendorongnya sampai terlentang di ranjang.


"Apa yang..." Mario ******* bibir istrinya hingga berhenti bicara. Pria itu begitu kasar menjamah tubuh sang istri. Ia mengecup dan menghisap dada istrinya hingga meninggalkan jejak kemerahan.


"Kamu terlalu sibuk di luar sana hingga lupa sudah punya suami. Kamu di rumah hanya untuk tidur saja. Kamu sibuk dengan dunia kamu sendiri." Mario melepas bajunya dan baju Val hingga keduanya sama sama telanjang.


Mario menjilat dan bermain di bawah sana hingga milik Val benar benar basah.


"Aku lelah..." Kata Val menggeliat di bawah suaminya.


"Aku lebih lelah menunggu kamu." Mario mulai menancapkan miliknya pada inti tubuh Val membuat wanita itu meremas seprei.


"Ah...ah...Ah...By.." Kata Mario sambil memajumundurkan pinggulnya seiring dengan irama. Peluh sudah membasahi keduanya namun Mario tak mau beranjak meskipun sudah beberapa kali mencapai *******.


"Sakit..." Pekik Val karena permainan suaminya semakin kasar.


"Panggil Aku Daddy, Baby."


"Ah...Dad...Sakit..."


"Ini hukuman untukmu. Ah.... nikmat.." Mario tak memperdulikan keluhan istrinya.


"Dad....Sakit..."


"Aku akan lebih halus." Mario mengubah temponya menjadi lebih lambat.


"Bagaimana nikmat bukan? Ah...."


Val hanya diam membiarkan Pria itu berbuat sesuka hatinya.


Sudah berjam jam. Namun Mario belum juga mencabut miliknya. Pria itu begitu bersemangat padahal istrinya sudah lemas. Peluh dan benih yang membasahi badan Val menjadi saksi percintaan panas mereka. Mario mengecupi wajah istrinya yang tertidur pulas. Pria itu ikut tertidur sambil memeluk istrinya.


Val terbangun dengan keadaan telanjang. Badannya remuk dan sakit dimana mana. Belum lagi kedua tangan dan kakinya yang diikat.


Mario baru saja masuk ke dalam sambil membawa nampan.


"Lepaskan aku. Aku mau mandi."


"Nggak usah mandi. Nanti kita juga akan kotor lagi."


"Aku capek."


"Makan dulu."


"Ambilkan baju."


"Enggak. Kamu nggak usah pakai baju."


"Dad..."Keluh Val.


"Mulai sekarang kamu nggak boleh kemana mana. Kamu di rumah. Nggak boleh keluar."


"Kerjaan aku."


"Aku sudah urus. Ada orang yang akan gantikan kamu."


"Tapi..."


"Aku sudah lelah menunggu kamu. Aku itu suami kamu. Butuh Diperhatikan. Kamu sibuk dengan dunia kamu sendiri. Kamu keterlaluan. Mau tidak mau kamu harus turuti semua yang aku bilang."

__ADS_1


"Perjanjian kita waktu itu." Mario bergegas mengambil surat perjanjiannya dengan sang istri dan merobeknya di depan wajah Val.


"Dad."


"Jangan mengeluh."


"Aku mau pakai baju."


"Nanti. Makan dulu. Kalo kamu nggak makan. Kamu nggak akan pakai baju."


"Iya." Kata Val menurut dan Mario mulai menyuapi istrinya.


Mario selesai memandikan dan mengganti pakaian Val lalu membereskan ranjang bekas percintaan keduanya. Melihat itu Mario ingin lagi tapi kasihan melihat Val yang begitu kelelahan. Ia bergegas mengganti sprei dan sarung bantal dengan yang baru.


Mario menghampiri istrinya yang sedang menonton film sambil menikmati minum.


Ia memeluk Istrinya dengan manja.


"Mau?" Val menawari.


"Enggak. Kamu aja."


"Yaudah." Kata Val fokus dengan filmnya lagi.


"Dah dibilangin jangan minum Es."


"Ini susu."


"Itu pake es batu. Sama aja By."


Val hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.


"Mau ke dapur. Aku pengen es krim."


"Tadi sudah makan eskrim, minum es dan sekarang kamu mau eskrim lagi?"


"Iya." Val membuka freezer es krim yang dibelikan suaminya dan mengambil satu cup besar.


"Kamu makan sebanyak itu?"


"Iya."


"Habis?"


"Habis. Nggak percaya?"


"Percaya kok." Kata Mario. Tak mungkin Val tidak menghabiskan es krim sebanyak apapun.


Mario selalu bergelayut manja pada istrinya. Ia tak mau jauh jauh dari Val meskipun sebentar saja.


"Dad. Jangan gini kamu berat tau."


"Pen peluk."


"Awas ah. Aku nggak nyaman." Rengek Val namun Mario tidak peduli sampai membuat Val akhirnya diam.


"Dad."


"Ya By."


"Pintu yang ada di ujung tangga ruang bawah tanah itu ada ruangan apa?"

__ADS_1


"Itu gudang. Kamu jangan kesana. Banyak tikusnya."


"Gudang?"


"Iya. Makan lagi." Kata Mario mengalihkan pembicaraan.


"By."


"Hm."


"Ketika ada sebuah rahasia kamu akan memaafkan aku atau tidak?"


"Maksudnya?"


"Kalau aku punya rahasia dan kamu nggak suka. Kamu maafin aku atau enggak?"


"Tergantung seberapa parahnya. Memang kenapa tanya begitu?"


"Nggak. Cuman iseng aja."


"Oh. Ayo keluar."


"Mau kemana?"


"Beli cemilan. Aku pengen."


"Suruh Bibi aja."


"Aku pengen pilih sendiri."


"Yasudah. Jangan lama lama."


"Iya."


Mario hanya menuruti istrinya. Ia tak mau lagi Val merengek atau protes untuk tetap bekerja. Pria itu dengan setia mengikuti sang istri yang tengah memilih makanan.


"Itu nggak boleh. Taro lagi." Kata Mario melihat istrinya mengambil mie intan pedas.


"Yang ini." Val mengambil yang satunya.


"Pokoknya mie instan nggak boleh."


"Satu aja."


"Enggak. Kalo kamu nggak nurut. Kita pulang." Ancam Mario membuat Val tak berkutik. Kini Ia akan lebih tegas pada istrinya.


Val sedaritadi bersin bersin dengan hidung yang sudah memerah. Mario ingin memanggil dokter namun istrinya bersikeras menolak.


"Kamu sakit. Aku panggil dokter."


"Gamau."


"Kamu gimana sih By. Kamu lagi sakit. Aku khawatir."


"Pokoknya aku nggak mau."


"Yaudah obatnya diminum terus kamu tidur. kalo nggak mau, aku panggilin dokter."


"Iya." Val hanya bisa menurut daripada nanti Mario memanggil dokter.


Beberapa menit Val sudah tertidur pulas. Mario mendekap istrinya agar hangat. Pria itu juga menepuk punggung Val pelan agar tidurnya nyaman. "Maaf. Mulai sekarang aku akan lebih tegas sama kamu. Kamu hanya milik aku."Lirih Mario. Ia mendapat laporan bahwa istrinya selalu di perhatikan para pria dan mereka juga tak sungkan mengobrol dengan Val secara langsung. Oleh karena itu Mario akan lebih tegas lagi untuk membatasi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2