Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Terluka


__ADS_3

Sudah pukul 1 malam, namun Mario belum pulang juga. Val menunggunya sedaritadi karena cemas terjadi sesuatu dengan suaminya. Suara gaduh dari luar terdengar. Val cepat cepat bersembunyi untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Ia terkejut teman masa kecilnya Nicolas tengah di dorong beberapa orang untuk mengikuti suaminya masuk ke ruang bawah.


Val mendekat setelah anak buah suaminya meninggalkan ruangan dan melewati dua lapis pintu.


"Bajingan kau. Kau menganiaya aku dan membuang ku. Aku kembali untuk rasa sakit itu." Umpat Nicolas yang Val dengar dari balik pintu. Wanita itu menutup mulutnya mengekspresikan rasa terkejut dengan apa yang barusan didengar.


"Kau macam macam. Aku tidak segan untuk membunuhmu." Mario menarik pelatuk pistolnya dan menembakkan ke sembarang arah.


Nicolas berhasil berdiri setelah melepaskan ikatannya. Dengan gerakan tak terbaca Ia berhasil meraih salah satu pistol yang berada disana.


"Kita laki laki. Kita selesaikan berdua." Kata Nicolas menodongkan pistolnya pada Mario.


Keduanya saling mengancam dengan mengarahkan senjata api itu ke lawannya.


"Aku sudah berhasil kembali Mario. Aku tidak akan menyerah."


"Aku tidak akan melepaskan mu Nic."


"Setelah beberapa bulan berjuang. Aku bisa berdiri dan menjadi lebih kuat."


"Demi siapa?"


"Demi Valerie."


"Dia istriku."


"Dia milikku." Kata Nicholas membuat Mario emosi.


"Ayo kita selesaikan permainan konyol ini." keduanya melepaskan tembakan. Namun sama sama tidak ada yang terluka. Val tiba tiba sudah ada di depan mereka dan bersimbah darah.


"By."


"Valerie." Teriak keduanya melihat Val terluka.


Dua tembakan sukses membuatnya tak sadarkan diri seketika. Mario dengan cepat menggendong istrinya keluar.


Mario tak berhenti modar mandir menunggu kabar dari dokter. Ruang UGD belum terbuka juga. Padahal sudah satu jam Mario menunggu.


"Papi." Kata Mario melihat mertuanya datang.


Pria itu langsung menampar menantunya dan Mario hanya bisa diam saja.


"Sudah Pi jangan ribut disini."

__ADS_1


"Mami masih bisa tenang. Anakku sekarat di dalam gara gara dia." Tunjuknya pada Mario penuh emosi.


"Maaf Pi." Kata Mario memeluk kaki mertuanya.


"Aku tida memaafkanmu. Tinggalkan anakku setelah dia sadar. Sudah ku beri kesempatan untuk meninggalkan dunia gelapmu itu. Namun kau tidak mau. Kau kembali lagi. Kau terlalu berbahaya untuk nya."


"Pi, jangan seperti ini. Aku minta maaf Pi."


"Menjauh dariku sebelum aku hilang kendali."


"Mario. Bicara nanti saja." Kata Mami memberi kode menantunya untuk menjauh dari sang suami.


"Minum dulu." Mami Val memberikan minum untuk menantunya.


"Terimakasih Mi."


"Mario."


"Iya Mi."


"Papi Val sangat trauma dengan kejadian seperti ini. Dia begitu menyayangi putrinya. Hanya Val yang kami punya. Jika terjadi sesuatu padanya dia tidak bisa hidup lagi. Val adalah satu satunya harta kami yang paling berharga. Dia sudah berkali kali mengalami penculikan. Papinya berjuang mati matian untuk menyelamatkannya. Dia hampir gila saat Val hilang dulu. Kamu mempercayakannya padamu karna kami tau kau akan melindunginya. Namun jika sudah seperti ini dia akan sulit percaya padamu lagi."


"Aku minta maaf Mi."


"Tapi Mi...."


"Ikuti saja kataku Mario. Aku tak ingin melihat kau dan Papi Val bertengkar lagi."


"Baik Mi." Jawabnya pasrah.


Mario pulang saat subuh. Ia belum mendapat kabar sama sekali dari rumah sakit. Sekarang Ia kacau. Entah apa yang bisa dikatakan nanti jika anak anak mereka bertanya. Pria itu langsung menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju.


"Dad. Mommy mana?" Tanya Anak anak yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Mami lagi di rumah sakit. Tapi nggak boleh di jenguk."


"Kenapa? Mom sakit parah?"


"Enggak. Mom butuh istirahat total. Jadi tidak boleh berisik. Daddy aja nggak boleh jenguk."


"Dad nggak bohong kan?"


"Enggak. Kalo nggak percaya tanya Opa aja."

__ADS_1


"Percaya kok." Jawab Veer sedikit ragu.


"Sekarang sarapan ya. Nanti Daddy yang akan antar ke sekolah."


"Van mau sama Mom Dad."


"Van. Mom masih sakit. Van sama kakak aja ya. Biar Mom cepat sembuh."


"Iya."


Mario menghela nafasnya. Ia begitu pusing dengan keadaan seperti ini.


Operasi Val berjalan lancar. Peluru mengenai paru paru dan ususnya. Jadi dokter harus menangani secara ekstra.


"Tuan dan Nyonya jangan jenguk dulu ya. Pasien masih dalam keadaan kritis."


"Baik dok. Terimakasih banyak."


"Sama sama. Saya permisi."


"Iya dok."


Kedua orang tua Val hanya bisa mengamati anaknya dari balik kaca. Mami Val tak berhenti menangis sedaritadi. Ia sangat menghawatirkan putri satu satunya itu.


Mario baru saja mendapat kabar dari anak buahnya jika operasi sang istri berhasil. Setelah mengantar anak anak Ia bergegas menuju ke rumah sakit.


"Kamu kenapa kesini lagi?"


"Mario mau menemani istri Mario Pi."


"Pergi."


"Pi. Biarkan."


"Dia yang sudah membuat putriku begini Mi."


"Dia masih suaminya. Biarkan dia disini."


"Makasih Mi."


"Setelah anakku sadar. Aku pastikan kau bukan suaminya lagi." Ancam Papi Val bergegas pergi.


Mario mengamati istrinya. Ia ingin mati saja melihat kondisi Val seperti itu. Apalagi luka itu akibat tangganya sendiri.

__ADS_1


"Aku minta maaf By. Aku tidak bermaksud melukaimu. Bangunlah sayang. Kau boleh minta apapun yang kau mau setelah kamu bangun nanti. Kau bisa berbuat sesuka hati. Semuanya akan aku lakukan asalkan kau bangun." Kata Mario sambil menangis.


__ADS_2