
Val berkeliling Mall sendiri. Meskipun kebutuhan di rumah sudah di sediakan lengkap, namun Ia hanya ingin jalan jalan untuk melepas rasa lelahnya. Mupung suaminya sedang lembur. Val akan menikmati waktunya sendiri tanpa ada yang mengganggu.
Ia duduk menikmati minumannya sambil memperhatikan orang orang yang sedang berlalu lalang.
Setelah merasa bosan Ia memutuskan untuk pulang.
Val memasuki Mansion terkejut karena suaminya sudah berada disana.
"Lah. Katanya lembur?"
"Nggak jadi By. Kamu darimana daritadi di telfon nggak diangkat." Mario memeluk istrinya.
"Dari mall. Aku bosen. Jadi jalan jalan sebentar. Hp aku kayanya mati deh baterainya habis. Aku charge dulu."
Val berlari menuju ke ruang pribadinya diikuti Mario yang mengekor dibelakangnya.
"Dady kesini juga?" Tanya Val sambil membereskan barang barangnya yang berantakan.
"Iya. Aku kangen sama kamu By." Mario memeluk istrinya lagi.
"Yaampun prasaan pagi tadi juga masih sama sama."
"Kangen." Pria itu memeluk istrinya semakin erat.
"Awas dulu. Aku mau beberes. Kamu duduk dulu."
"Gamau."
"Biar cepet selesai."
"Yasudah." Kata Mario menurut.
Pria itu biasanya akan marah jika melihat keadaan yang amburadul seperti ini. Namun entah kenapa jika dengan Val Ia tidak demikian. Ia memaklumi semua yang dilakukan istrinya. Meskipun Istrinya terkesan ceroboh dan berantakan Mario tidak pernah marah atau mengeluh sama sekali.
Mario hanya bisa menghela nafas dan pasrah melihat Hoodie tidak digantung pada tempatnya, kaos yang berserakan di lantai dan belum lagi makanan ringan yang terdapat di setiap meja.
"Aku bantu ya." tawar Mario meskipun tau jawabannya.
"Nggak."
"Baiklah." Kata Mario hanya bisa duduk diam memperhatikan. Istrinya tengah sibuk memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang, membersihkan sampah dan menata barang yang tidak beraturan. Val sangat bertanggung jawab. Ia akan menyelesaikan sendiri apa yang sudah di perbuatanya tanpa ada yang boleh membantu.
"Dah beres." Katanya puas.
"Aku mau nyuci dulu."
"Suruh orang aja."
__ADS_1
"Enggak. Aku pengen nyuci sendiri."
"Emang kamu tau?"
"Ngeremehin. Aku bisa lah." Val membawa keranjang keluar.
Mario menunggu istrinya yang sedang mencuci baju. Diluar ekspektasi, ternyata sang istri sangat cekatan melakukan pekerjaan itu.
"Belajar darimana?"
"Dari Bibi di rumah. Kalo baju yang nggak boleh di cuci pakai mesin Bibi harus pakai tangan. Jadi aku juga belajar."
"Kamu nggak takut tangan kamu kasar?"
"Enggak." Mario hanya tersenyum dengan jawaban istrinya. Sangat beda dengan wanita pada umumnya yang manja. Sang istri sangat mandiri dengan keadaan yang serba ada. Ia tak seperti wanita lainnya yang takut tangan kasar dan kuku yang rusak. Mario mengelus lembut kepala istrinya.
"Udah. Mau bilas dulu."
Val selesai dengan kegiatannya Mencuci dan menyiapkan makan malam. Ia langsung mandi dan berganti baju hanya menggunakan kaos dan celana pendek.
"Dad. Ayo makan."
"Iya By. Ayo." Mario menggandeng tangan istrinya menuju ke ruang makan.
"Kamu nggak makan?" Tanya Mario melihat istrinya menyuapinya sedaritadi.
"Kamu makan juga?. Nanti kelaparan."
"Enggak nanti aja. Dad habiskan dulu makannya. Aku udah bikin ramen di dapur."
"Uhk...uhk..." Mario tersedak mendengar apa yang barusan dikatakan istrinya. Dengan cepat Val memberikan suaminya minum dan mengelus punggung pria itu dengan lembut.
"Pelan pelan Dad."
"Kamu. Kamu bikin ramen? Kan aku sudah bilang jangan makan makanan nggak sehat."
"Oh Ayolah. Aku cuman mau ramen nggak mau yang lain. Daripada aku nggak makan. Hayo..."
"Tapi aku khawatir sama kesehatan kamu."
"Ga papa. Aku sehat dan baik baik aja. Kasih izin ya."
"Baiklah." Kata Mario pasrah daripada istrinya tidak mau makan.
Mario menempel terus pada istrinya yang tengah fokus makan sambil menonton.
"Daddy beneran nggak mau?" Tanyanya tanpa menoleh.
__ADS_1
"Enggak."
Mario mengernyitkan keningnya melihat sang istri menuangkan kerupuk ke mangkuknya. Val dengan semangat makan dengan lahap.
"Mau kemana?" Tanya Mario melihat istrinya berdiri.
"Mau bikin es lagi. Dah habis."
"Kamu tunggu disini. Aku bikinin."
"Ok." Val melanjutkan makannya.
"Tuan." Kata mereka terkejut melihat Mario pergi ke dapur tanpa istrinya. Pria itu tidak pernah ke dapur sebelumnya. Namun semenjak ada Val Mario sering menemani istrinya untuk memasak di dapur.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan?"
"Saya ingin buatkan minum untuk istri saya."
"Oh. Nyonya biasanya minum susu dingin."
"Kalian boleh pergi. Saya akan buat sendiri."
"Baik Tuan."
Mario mengambil susu milik istrinya yang tersimpan rapi di lemari kaca. Pria itu membaca petunjuk membuat dan melakukannya dengan hati hati. Setelah siap Mario menambahkan es batu. Minuman yang dibuatnya setulus hati telah siap. Ia berharap Val akan menyukainya.
Val berlari menghampiri suaminya ketika melihat Mario baru saja masuk ke dalam kamar.
Pria itu terlalu berekspektasi terlalu tinggi. Ia kira Val akan memeluknya karena takut menonton film horor. Ternyata Zonk...harapannya tidak sejalan dengan kenyataan. Val ternyata merebut minuman yang dibawa Mario dan meneguknya penuh semangat.
'Yah. hanya angan angan.' Batin Mario.
"Makasih Dad."
"Sama sama." Mario mengusap kepala istrinya dan mengecup kening Val.
Mario merasa diabaikan karena Val fokus dengan kegiatannya sendiri.
"By."
"Ya Dad."
"Aku minta pijit."
"Ya." Val memijit kepala suaminya yang tengah berada di pangkuannya.
"anak?"
__ADS_1
"Enak." Mario memejamkan mata menikmati rasa nyaman itu. Ia memiringkan tubuh dan memeluk perut istrinya.