
Mario masih setia menunggu Val di bangku taman. Ia mendapat laporan bahwa Val masih dalam perjalanan menuju kesini.
"Om." Sapa Gadis itu lalu duduk di samping Mario.
"Kamu sudah datang Sayang."
"Ini Val udah disini. Om mau ngomong apa?"
"Minum dulu kamu pasti haus." Mario memberi Val sebotol air.
"Makasih." Val langsung meneguknya hingga tersisa setengah karena Ia benar benar haus.
"Om sebenarnya mau ngomong apa?"
"Nggak ada. Om cuma mau ketemu kamu. Beberapa hari Om nggak ketemu kamu. Om kangen."
"Aduh Om. Val kira mau ngomong penting. Udah dulu ya. Val mau ke cafe."
Val beranjak dari duduknya. Gadis itu berjalan meninggalkan Mario. Dengan cepat pria itu memeluk Val dari belakang.
"Om." Pekik Val.
"Pengen peluk." Katanya sambil mengeratkan pelukan.
Beberapa detik kemudian badan Val memberat. Gadis itu tak sadarkan diri dalam pelukan Mario.
Val terbangun dalam ruangan yang familiar baginya. Ini adalah kamar Mario. Dengan cepat Ia mendudukkan diri. Namun kepalanya terasa sangat pusing. Dari balik pintu Mario muncul dengan senyumnya yang lebar.
"Kenapa aku disini Om?"
Mario mendekat dan duduk di sisi ranjang.
"Tenang Sayang. Mulai sekarang kamu akan tinggal disini dengan Om."
"Aku nggak mau. Aku mau pulang." Val berlari menuju pintu mengabaikan kepalanya yang masih sakit. Ia berkali kali mencoba membuka pintu namun selalu gagal.
"Om Aku mau pulang."
"Nggak. Tempat kamu disini. Sekeras apapun kamu berusaha. Kamu nggak akan bisa keluar dari sini." Kata Mario sambil merebahkan dirinya di ranjang. Val jatuh terduduk bersandar di balik pintu. Ia tak menyangka nasibnya akan begini.
Papi, Mami dan Jeje tangah berkumpul di ruang keluarga. Ketiganya begitu cemas karena belum mendapat kabar tentang keberadaan Val.
"Bagaimana?" Tanyanya pada pengawal yang baru saja datang.
"Nona berada di rumah Tuan Mario."
"Kita kesana sekarang. Mami jangan ikut."
"Mami pengen ikut Pi. Mami pengen tau keadaan Val."
"Mami disini saja. Je kamu temani Mami."
"Iya Pi." Kata Jeje patuh.
Papi Val diikuti beberapa orang tampak turun dari rombongan mobil. Papi tau mansion Mario dijaga ketat. Maka dari itu Ia sengaja membawa orang orangnya untuk mengantisipasi terjadi sesuatu.
"Saya Ingin bertemu Mario." Tegas Papi pada para penjaga.
"Silahkan masuk Tuan."
Papi mengikuti penjaga itu kemudian duduk di sofa.
__ADS_1
"Halo kak." Sapa Mario menuruni tangga.
"Kita bicara baik baik." Kata Papi.
Mario duduk di depan hingga keduanya saling berhadapan.
"Kembalikan putriku."
"Kemarin kemarin aku melamarnya padamu kau tidak menerima kak. Jadi maaf aku terpaksa melakukan ini."
"Aku tidak menolak. Sudah aku katakan jika aku serahkan semuanya pada Val. Dia berhak menentukan pilihannya sendiri dan kami sebagai orang tua hanya mendukung. Jadi jika kau ditolak aku tidak ada kuasa untuk mencegahnya."
"Baiklah kau benar. Tapi aku tidak akan mengembalikan Val. Dia akan tinggal disini."
"Kau keterlaluan. Aku Papinya. Anakku harus pulang bersamaku."
"Ah...Begini saja. Kakak punya dua pilihan. Yang pertama kakak bawa pulang Val dalam keadaan tidak bernyawa atau dua kakak tetap biarkan Val tinggal disini."
"Kau..."
"Terserah saja. Aku sudah mengatur strategi. Jika Val keluar dari kamar maka nyawanya melayang saat itu juga. Karena pistol di depan kamar akan otomatis menembak target yaitu putrimu."
"Keterlaluan."
"Itulah perjuangan cinta."
"Kalau begitu izinkan aku bertemu dengannya."
"Baiklah. Ayo."
Papi Val memasuki kamar melihat gadis itu tengah duduk dengan mata sembabnya.
"Sayang."
"Papi mau jemput Val kan?" Tanyanya penuh harap.
"Maaf Sayang. Sementara kamu tinggal disini dulu ya. Ini untuk keselamatan kamu."
"Dia jahat Pi." Lirih Val menatap Mario dengan penuh kebencian.
"Sabar Sayang. Papi akan cari cara agar kamu bisa keluar dari sini. Dia tidak mau apapun bahkan seluruh harta Papi. Dia cuma mau kamu."
"Beritahu Mami Val baik baik saja. Jangan biarkan Mami khawatir."
"Iya Sayang. Papi pamit dulu." Pria itu mengeratkan pelukannya pada Val lalu pergi.
"Bagaimana Pi?"
"Val baik baik saja Mi. Dia tidak mungkin melukai putri kita."
"Pi Vale tidak pulang?"
"Tidak bisa Je. Jika Val melewati pintu makan nyawanya terancam. Itu Mario gunakan untuk membuat Val tetap disana."
"Pria kejam."
"Dia begitu untuk orang yang dicintainya. Karena ditolak, Dia akhirnya melakukan segala cara."
"Mami kangen Val."
"Sabar Mi." Papi memeluk istrinya memberi ketenangan.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Val saat Mario tiba tiba menggandeng tangannya.
"Akan aku tunjukkan sesuatu Sayang."
Keduanya tiba di walk in closet.
"Semua kebutuhan kamu ada disini. Mulai dari pakaian, kosmetik, baju tidur dan juga pembalut lengkap semuanya ada." Kata Mario.
"Aku ingin pulang."
"Sudah aku katakan ini tempatmu. Mulai sekarang biasakan diri menjadi Nyonya Mario dari sekarang."
"Keluarlah. Aku mau mandi."
"Baik Sayang." Kata Mario senang karena Val sudah mau mengucapkan kata selain pulang.
Selesai sholat, Val sudah mengganti bajunya dengan pakaian tidur. Semua yang diberikan Mario sangat pas untuknya. Entah darimana pria itu tau semua ukurannya termasuk bra dan pakaian dalam.
"Makan dulu Sayang. Kamu belum makan dari siang tadi." Pria itu baru pertama kalinya membawa nampan jadi agak kerepotan.
"Tidak lapar."
Mario memandangi Val yang begitu cantik dengan baju tidur berwarna hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih. Pria itu kemudian segera tersadar.
"Jangan begitu. Kamu nanti sakit."
"Aku kangen Mami."
"Om telponin Mami kamu. Tapi setelah ini harus makan." Kata Mario.
"Iya "
Setelah beberapa saat berbicara untuk melepas rindu dengan Maminya Val mulai makan. Mario merasa senang karena Val akhirnya makan juga karena semenjak siang gadis itu tidak makan maupun minum meskipun Mario sudah membujuk.
Val bingung ingin tidur dimana. Ia mengambil selimut dan memutuskan untuk tidur di sofa.
Mario baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri gadisnya.
"Kenapa tidur disini? Tidur di ranjang."
"Aku maunya tidur disini."
"Ini bukan tawaran Sayang. Ini perintah. Jika tidak menurut. Aku tidak akan lagi memberikan kebebasan untuk menelfon orangtuamu."
"Ya." Jawab Val langsung menurut.
Mario langsung menyusul gadisnya yang sudah berbaring di ranjang.
"Om ngapain?"
"Mau tidur Sayang. Mau apalagi. Ini kan juga tempatku."
"Pindah."
"Enggak. Ini juga ranjangku. Kita berbagi."
"Baiklah." Val mengambil guling dan meletaknnya sebagai pembatas.
"Jangan melewati ini. Jangan macam macam." Kata Val langsung memunggungi Mario.
"Baiklah Sayang." Mario menghadap Val dan mengelus punggung gadis itu.
__ADS_1
"Jangan sentuh."
"Iya. Selamat Malam." Ucap Mario namun tidak mendapat jawaban.