Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Nasihat


__ADS_3

Mario baru saja kembali dari ruang kerjanya. Ia menghampiri sang istri di ruang keluarga. Ternyata Val sudah tertidur pulas di sofa. Pria itu mendudukkan dirinya perlahan di samping sang istri.


"Um..." Lenguh Val menyadari ada pergerakan.


"Tidur di kamar yuk By."


"Nggak mau. Jangan ganggu aku. Awas aja sampai kamu pindahin aku ke kamar." Jawabnya tidak jelas dengan mata yang tetap terpejam.


"Di kamar lebih enak. Ayo ya..."


Tidak menjawab lagi. Val langsung menutup wajahnya dengan lengan.


"By. Ayo dong." Rengek Mario namun tetap tak mendapat jawaban.


"Kamu gitu banget sama suami."


Cukup lama Mario akhirnya diam. Pria itu tatap pada posisinya. Menunggu Val yang tak kunjung memberi respon juga.


"Dad." Ved dan Veer datang menghampiri Daddynya.


"Hm."


"Mom lagi tidur?"


"Ya."


"Yaudah nanti aja."


"Ada apa?" Tanya Val dengan suara seraknya.


"Nggak papa Mom. Nanti aja. Mom tidur dulu aja."


"Ngomong aja."


"Mom ada undangan pengajian nanti malam di masjid kompleks dari Pak RT."


"Hm. Taro meja aja."


"Iya." Jawab keduanya.


"Mom."


"Hm."


"Nanti kita pergi bareng ya."


"Hm."


"Ok Mom."


"Udah. Kalian pergi sana. Mom mau tidur kalian ganggu mulu."


"Iya Dad." Ved dan Veer langsung pergi dari sana sebelum kena omel Daddynya. Tanpa menerima penolakan Pria itu langsung menggendong istrinya untuk dipindahkan ke kamar.


Mario dan istrinya tengah duduk berdua di teras belakang.


"Kamu belum berani ke kebun lagi?"


"Nggak ah. Nanti ada ulatnya. Hi...geli aku."


"Nanti malam kamu jadi datang ke pengajian?"


"Ya jadi dong. Kamu ikut nggak?"


"Pasti. Kalo nggak ada aku siapa yang jagain kamu."


"Anak anak kan ada."


"Tetep aja aku nggak tenang kalo bukan aku sendiri yang jagain kamu."


"Hm. Terserah."


"Anak anak mana Dad?"


"Lagi di kebun."


"Oh."


"Mom." Ketiganya berlari menghampiri Val dan langsung duduk di sebelah wanita itu.


"Kalian kenapa sih. Ganggu aja. Pindah duduk sana." Kesal Mario.


"Nggak mau."


"Pindah."


"Nggak."


"Udah. Jangan pada ribut. Anak sama bapak kok ya sama aja."

__ADS_1


"Mom. Kita petik buah buat Mom."


"Ada apa aja?"


"Banyak Mom. Ada macem macem." Val mengambil satu jambu air dan memakannya.


"Manis nggak Mom?"


"Manis."


"Kalian nggak ada tugas sekolah?"


"Punya Van sudah Van selesaikan waktu jam istirahat sekolah sama Randi Mom."


"Kalo kalian berdua?"


"Nggak ada Mom."


"Van, kamu masih temenan sama anak tukang kebun di rumah Oma itu?"


"Heh. Kenapa kalau tukang kebun?"


"Kan nggak setara sama kita Mom."


"Veer, Mom nggak suka ya kalo anak Mom merendahkan orang lain. Semuanya sama saja. Mau hartanya banyak atau enggak, cantik atau jelek, berwawasan atau enggak selama orangnya baik nggak masalah. Jadi jangan membeda bedakan orang. Semua yang kita miliki juga titipan. Bisa diambil sama tuhan sewaktu waktu. Hari ini kita di atas. Siapa tau kita besok di bawah. Jangan sombong. Ingat itu baik baik."


"Iya Mom. Maaf." Mario merangkul istrinya. Ia begitu kagum dengan cara Val mendidik anak anak. Sikap Veer cenderung menurun darinya. Sombong, arogan dan seenaknya. Perlahan Val dapat mengatasinya dengan nasihat nasihat lembut setiap hari.


"Lama lama Mom masukin ke pondok pesantren juga biar dapat hidayah."


"Bagus. Aku dukung kamu By."


"Jangan Mom. Veer nggak mau pisah sama Mom." Veer merebahkan kepalanya di pangkuan Val.


"Iya. Asal kamu jadi anak baik aja. Mom nggak akan masukin kamu ke pesantren."


"Iya. Veer akan jadi anak yang baik."


Malam hari semuanya masih menunggu Van. "Lama banget. Kamu ngapain aja sih?"


"Ganti gamis Dad. Biar samaan kaya punya Mom."


"Banyak tingkah." Mario menghela napasnya.


"Ayo berangkat."


"Iya Mom."


"Iya. Seperti biasa." Jawab Val sambil terus berjalan.


"Aku kesana dulu ya." Mario mengecup kening istrinya.


"Iya."


"Kamu masuk duluan."


"Iya."


"Pulangnya tunggu aku ya."


"Iya Dad."


"Ayo Sayang." Ajak Val menggandeng tangan Van untuk bergabung bersama yang lainnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Sama Van aja Bu?"


"Enggak. Sama suami dan Si kembar juga."


"Oh."


"Bu Ida sudah lama?"


"Lumayan. Sekitar seperempat jam yang lalu."


"Di undangannya selesai isya. Saya tadi cepat cepat takut telat. Ternyata belum mulai."


"Belum Bu. Lagi molor kayanya."


"Oh. Bu RT mana?"


"Di depan Bu. Dia sudah datang daritadi. Makannya kebagian duduk paling depan." Val hanya mengangguk mendengar jawaban tetangganya itu.


"Mom."


"Ya Sayang."

__ADS_1


"Nanti selesainya jam berapa ya?"


"Nggak tau juga. Mungkin agak malam. Sudah jam segini belum dimulai. Memangnya kenapa?"


"Nggak papa."


Beberapa saat kemudian pengajian baru dimulai. Ustadz menyampaikan ceramahnya setelah acara pembukaan.


Mario dan kedua anak kembarnya tengah menunggu Val dan Van yang belum keluar juga.


"Mom sama Van mana sih? kok lama banget."


"Iya. Atau mereka jangan jangan sudah pulang."


"Belum. Kalian kalo mau pulang ya pulang aja. Jangan berisik."


"Nggak Dad. Kita juga mau tungguin Mom."


"Nah. Itu dia." Kata Veer melihat keduanya berjalan menuju arah mereka.


"Kamu kok lama By."


"Maaf. Diajak ngobrol ibu ibu dulu."


"Yaudah. Kita pulang." Mario menggandeng tangan istrinya.


"Kalian jalan dulu di depan."


"Nggak. Kita mau sama Mom juga."


"Di depan sana. Buruan."


"Iya. Ayo Mom." Ketiganya langsung menggandeng tangan kiri Val. Memaksa wanita itu untuk berjalan mengikuti mereka membuat Daddynya kesal.


"Ayo tidur." Kata Mario setelah sampai di rumah.


"Eits....Nanti dulu Dad. Kita udah janji sama Mom mau makan nugget sama dimsum. Udah disiapin sama Bibi."


"By." Keluh Mario.


"Maaf ya. Udah janji." Katanya sambil menggenggam tangan suaminya.


"Tungguin kita ya Mom. Kita ganti baju dulu."


"Iya."


"Ngapain sih malem malem makan dimsum segala."


"Mungkin mereka lagi kepengen."


"Ada ada aja."


"Kamu kalo udah ngantuk tidur duluan aja. Nanti aku susul."


"Aku tunggu ya. Jangan lama lama."


"Iya." Mario pergi setelah mengecup kening dan bibir istrinya.


Val dan anak anaknya tengah makan bersama di ruang tengah.


"Daddy nggak mau Mom?"


"Enggak. Dia udah tidur duluan. Capek kayanya."


"Oh."


"Kalian nanti jangan lupa sikat gigi sebelum tidur."


"Iya Mom." Jawabnya patuh.


Val membuka kamarnya perlahan. Ia langsung bersih bersih dan mengganti bajunya dengan piyama.


"By." Mario beranjak dari ranjang langsung memeluk istrinya.


"Kirain udah tidur."


"Belum. Aku minta di kelonin sama kamu."


"Kelonin apaan? bahasa kamu makin tambah umur makin aneh aja."


"Kelonin itu tidur sambil di peluk." Mario mengecup gemas bibir, pipi dan hidung istrinya.


"Iya. Sini aku peluk." Val membalas pelukan suaminya dengan hangat.


"Hari ini beneran aku nggak dapat jatah By?"


"Nggak. Kemarin sudah. Tidur aja. Aku capek."


"Iya." Jawabnya kemudian ikut memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2