Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Istri Saya Hebat


__ADS_3

Mami Val menghampiri anaknya yang sedang bercengkrama dengan yang lain di ruang keluarga.


"Makan dulu."


"Nanti aja Mi. Aku belum lapar."


"Gimana nggak lapar, dari pagi kamu belum makan."


"Tadi kan sudah minum susu. Dua kali malahan."


"Makan dulu. Mami udah bawain."


"Nggak ah Mi."


"Makan." Kata Mami sambil menatap tajam anaknya.


"Ih Mami makin tua makin galak aja."


"Kamu kalo nggak di galakin ngawur."


"Jangan pake itu. Aku nggak mau ah." Kata Val menolak suapan dari Maminya.


"La terus mau pake apa? ini bukan sayur lo."


"Lah itu ada daun bawangnya. Aku pake ayamnya aja."


"Val. Masa daun bawang aja kamu nggak doyan."


"Kalo di martabak doyan Om."


"Bilang aja Mom mau minta martabak."


"Nah. Itu dia."


"Jangan macam macam. Kamu baru keluar dari rumah sakit."


"Ayo dong Dad. Dulu kamu bilang mau turuti apapun yang aku mau."


"Yah diungkit lagi." Kata Mario mengingat janjinya dulu saat sang istri koma.


"Kamu bikin janji juga aneh aneh aja."


"Maaf Pi."


"Ayo dong Dad. Kalo kamu ingkar janji dosa lo."


"Tunggu kamu sembuh dulu."


"Ini aku kan udah sembuh."


"Tunggu benar benar sembuh total."


"Lama dong..."


"Udah. Nggak usah ngomel aja kamu. Makan yang bener." Kesal Mami karena anaknya terus mengoceh.


"Mami sama Papi pulang dulu. Inget jangan macam macam. Jangan makan yang aneh aneh Jangan sampai kecapean. Mario dan Cucu sekalian, tolong jagain ya. Kalo ada apa apa segera lapor."


"Iya Mi."


"Baik Oma."


"Aku bukan anak kecil ya.."


"Kamu akan selalu jadi Putri kecil Papi sama Mami sayang. Jangan sakit lagi." Keduanya memeluk Val.


"Iya. Makasih udah jagain Val."


"Sama sama." Kata Mami sambil menyeka air matanya.


"Jangan cengeng dong Mi." Ledek Val.


"Kamu. Emang cengengesan. Nggak bisa diajak serius."


"Dah. Kita pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mario mengantar kedua mertuanya sampai ke depan.


"Mario."


"Ya Pi."


"Jagain anak aku."


"Pasti Pi." Jawabnya dengan sungguh sungguh.


"Kalo gitu kita pulang dulu ya."


"Iya Pi. Mi. Hati hati."

__ADS_1


"Iya."


Pria itu menunggu sampai mobil yang ditumpangi kedua mertuanya menghilang di balik gerbang.


Mario menghampiri Val dan duduk di samping Istrinya.


"ih dingin." Kata Val karena merasakan sesuatu menempel pada pipinya.


"Es krim." Girang wanita itu.


"Frans. Istri aku baru sembuh udah kamu ajarin makan es krim aja."


"Nggak papa. Es krim bisa meningkatkan mood. Kalo mood Val bagus kan dia cepat sembuh."


"Dasar."


"Boleh ya Dad."


"Iya. Nanti nggak boleh lagi ya."


"Hm." Val langsung membuka cup eskrim ya dan makan dengan semangat.


"Om Frans."


"Ya."


"Om Frans nggak pengen nikah lagi?" Tanya Val membuat Frans tersedak eskrimnya.


"Ati ati goblok. Ditanya gitu aja keselek."


"Nggak. Nggak pengen nikah aku."


"Kenapa?"


"Sama Ladit aja udah cukup. Aku udah bahagia. Sama kalian juga aku bisa rasain punya keluarga."


"Om Frans udah nggak main cewek lagi kan?"


"Astaga Val. Udah lama enggak setelah nikah sama Mamanya Ladit dulu. Aku udah tobat kali."


"Kalo minum masih?"


"Nah. Kalo itu aku belum bisa lepas. Tapi tenang aja. Aku minumnya di rumah nggak pernah keluar. Ya nggak?" Kata Frans sambil mengangkat kedua alisnya menatap Mario.


"Daddy masih minum?"


"Enggak By."


"Beneran?"


"Iya Val. Mario udah nggak minum kok. Sekarang aku pelan pelan juga mulai menjauhi alkohol."


"Bagus itu." Kata Val sambil terus memakan eskrimnya.


Val menatap semuanya heran. Ia menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepala. Bagaimana tidak satu meja kaca besar sudah terisi dengan berbagai macam buah yang sudah dikupas.


"Surprise Mom."


"Lah. Sebanyak ini. Bisa buat makan satu kompleks."


"Sengaja. Biar Mom bisa pilih sesuka Mom."


"Makasih. Tapi banyak banget."


"Mari makan Mom." Van memberikan Mommynya garpu.


"Iya."


"Kalian dapat salak darimana?"


"Bibi tadi beli di pasar."


"oh."


"Mangganya manis. Iya kan Mom?"


"Iya."


"Ini kalo ada sambel rujak pasti enak."


"Minta tolong Bibi bikinin Dit."


"Iya."


"Mom jangan ikut ikutan makan sambel."


"Yah kok gitu."


"Mom baru sembuh. Harus dijaga makannya."


"Ah kalian sama aja." Kesal Val pada mereka.

__ADS_1


Ladit kembali bergabung dengan semuanya sambil membawa semangkuk sambal rujak.


"Nggak boleh." Tegas Mario merebut garpu istrinya saat Val ingin mencelupkan buahnya ke sambal.


"Aku suapi."


"Emmm..Kok gitu. Aku makan sendiri aja Dad."


"Nggak boleh." Mario mulai menyuapi istrinya.


"Coba di cocol ke sambelnya dikit aja."


"Nggak."


"Ayo dong Dad."


"Nggak." Jawabnya tak mau luluh lagi.


Val sedang istirahat di kamar setelah meminum obatnya sambil di temani Sang suami.


"Kamu kenapa nggak tiduran?"


"Pengen duduk dulu. Kita nonton film yuk."


"Kamu harus istirahat By."


"Nonton sama tiduran kan bisa Dad."


"Hm. Yasudah."


Mario menyalakan TV dan memutar film sesuai dengan keinginan istrinya. Pria itu kemudian ikut berbaring di ranjang sambil mendekap tubuh Val.


"Kamu sudah nyaman begini? Ada yang sakit?"


"Enggak kok. Aku sudah nyaman."


"Kalau kamu kambuh begini pulihnya pasti lama."


"Ini nggak separah dulu Dad. Kata Dokter dua Minggu atau tiga Minggu sudah pulih."


"Itu lama Sayang."


"Lumayan."


Mario mengecupi bibir istrinya dengan rakus.


"Kenapa sih Dad?"


"Nggak papa. Kangen sama bibir kamu aja."


"Ada ada aja."


Beberapa saat menonton Val sudah tertidur pulas. Mario mematikan TV nya. Pria itu tersenyum melihat Val yang begitu nyaman dalam pelukannya.


Malam hari para tetangga datang untuk menjenguk Val. Mereka saling mengobrol sambil menikmati berbagai macam kue yang sudah disiapkan.


"Kita malah ngrepotin ya Bu. Kesini mau jenguk malah makan."


"Nggak kok Bu. Saya senang semuanya main kesini. Silahkan dinikmati. Jangan sungkan."


"Iya."


"By. Obat kamu." Mario menghampiri istrinya dan membantu meminum obat. Keduanya begitu romantis. Pria itu tak sungkan mengecup kening istrinya sebelum pergi ikut duduk bergabung bersama bapak bapak disana.


"Bu Val sama suami bikin baper aja."


"Iya. Pak Mario sangat perhatian sama Bu Val."


"Hm...Iya. Suami saya memang begitu."Kata Val malu malu.


"Anak anak kemana Bu? tumben sepi."


"Sedang di atas. Main game. Ladit menginap disini."


"Oh."


"Permisi." Nana datang ikut bergabung bersama mereka semua.


"Bu Nana."


"Bagaimana kondisi Bu Val?"


"Alhamdulillah baik. Terimakasih sudah datang."


"Sama sama Bu. Wah Bu Val sangat dimanja pak Mario ya. Barang disini mewah semua." Katanya menatap takjub.


"Bu Val dengan kondisi seperti ini apa masih bisa memuaskan Pak Mario? Jika tidak bolehlah saya jadi istri kedua. Saya akan jadi istri yang baik kok."


Mereka semua menatap tajam wanita tak tau malu itu. Mario masih duduk. Ia ingin melihat bagaimana reaksi istrinya.


"Jaga bicara Ibu ya. Semakin saya diam semakin Ibu keterlaluan. Saya sudah menahan diri. Ibu kemari sebenarnya bukan untuk curhat tapi untuk mendekati suami saya kan? saya tau itu. Dan suami Ibu berselingkuh itu karna kelakuan Ibu seperti ini kan. Ibu seharusnya malu. Dimana harga diri Ibu sebagai seorang wanita. Saya ternyata telah bersimpati pada orang yang salah."

__ADS_1


"By Val kok tersinggung? sepertinya tipe pak Mario bukan yang tertutup seperti Ibu."Katanya terus mengoceh. Mario puas sangat puas dengan pembelaan istrinya. Pria itu berdiri kemudian duduk di samping Val dan mencium kening istrinya dengan mesra.


"Saya suka yang tertutup. Sudah berapa kali saya katakan jika Anda tidak semenarik itu. Anda kalah jauh dari istri saya. Dia hebat. Sangat hebat. Di ranjang di dapur dan apapun dia kuasai semuanya. Setiap hari saya dilayani dengan baik bahkan sampai pagi. Jadi buang harapan anda itu jauh jauh. Istri saya hanya satu untuk selamanya." Kata Mario penuh penekanan. Semua yang ada disana puas dengan pembalasan pasangan suami istri romantis itu. Beberapa penjaga rumah kemudian datang dan membawa wanita itu keluar dengan paksa.


__ADS_2