Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Kamu Ngeledek Aku By?


__ADS_3

Pagi hari setelah sarapan Val dan Mario mengejar anak anaknya ke perkebunan teh. Mereka ingin belajar memetik teh disana.


"Ini milih Daddy?" Tanya Veer saat sudah berada di tengah hamparan teh yang luas.


"Iya."


"Ayo petik tehnya Mom."


"Iya."


"Gimana caranya Mom?"


"Petik pucuknya seperti ini." Kata Val sambil memperagakan.


"Oh. Iya iya."


"Kok nggak ada yang petik teh Dad?"


"Pada libur By."


"Oh."


"Kamu nggak kedinginan?" Mario memeluk istrinya.


"Enggak."


"Mom. Kita ke air terjun yuk."


"Emang udah selesai petik tehnya."


"Udah. Ayo kesana."


"Iya. Tapi hati hati ya."


"Iya Mom."


"Kalian di depan Mom sama Dad di belakang."


"Mommy sama kita di depan Dad di belakang."


"Ya nggak bisa gitu dong. Kalau kalian bertiga di depan Dad lebih mudah awasi."


"Yasudah." Mereka mulai berjalan. Mario menggandeng tangan Val mengikuti ketiga anaknya.


Mario dan Val duduk di bangku mengawasi si kembar yang sedang melihat lihat. Van duduk di pangkuan Ibunya. Ia tak mau bergabung dengan kedua kakaknya.


"Disini dingin ya Mom."

__ADS_1


"Van kedinginan?"


"Iya."


"Sini Mom peluk." Val memeluk anak perempuan nya.


"By."


"Iya."


"Nanti aku mau ngomong sama kamu."


"Ngomong apa?"


"Ada pokoknya nanti di rumah aja."


"Iya."


"By."


"Iya."


"Aku juga dingin." Mario memeluk istrinya.


Sampai di rumah Val langsung sholat dan menyiapkan makan siang. Untuk menu kali ini Val membuat sup daging karena cuaca dingin. Berhari hari disini hujannya sangat lebat di malam hari. Ini membuat udara tambah dingin dari sebelumnya.


"Ayo makan dulu. Mom sudah siapkan."


"Iya Mom."


"By." Mario mengecup kening istrinya dan ikut duduk untuk makan siang bersama.


Anak anak sudah tidur siang. Mario juga mengajak istrinya untuk tidur.


"Tadi kamu mau ngomong apa Dad?"


"Iya. Aku mau tanya sama kamu."


"Tanya apa?"


"Kamu nggak keberatan kan punya suami seperti aku."


"Kenapa tanya begitu?"


"Kamu sudah hijrah menjadi lebih baik sementara aku masih sama. Aku nggak bisa lepas dari sisi lain dari hidupku."


"Kamu sudah banyak berubah. Sekarang sudah ibadah dengan baik dan lebih sabar. Apa kamu nggak sadar itu Dad?"

__ADS_1


"Iya tapi kamu...."


"Jangan membandingkan kamu dengan orang lain. Semua orang punya porsinya masing masing. Jadi mulai sekarang berhenti melihat diri sendiri dan diri orang kemudian membandingkannya. Jika kamu seperti itu kamu akan terus berfikir bahwa banyak celah dalam hidup kamu. Jadikan orang di atas kamu sebagai motivasi untuk lebih baik. Jadikan orang di bawah kamu sebagai pengingat untuk selalu bersyukur. Fokus memperbaiki diri sendiri."


"Maaf ya aku belum bisa jadi kepala keluarga yang baik. Aku belum bisa bimbing kamu dan anak anak. Aku masih banyak bertanya sama kamu. Terimakasih juga sudah mendidik anak anak dengan ilmu agama yang cukup. Mereka tumbuh menjadi anak yang sopan dan baik. Itu semua berkat kamu."


"Sudah kewajiban aku Dad. Tapi tolong, Jangan ajarkan atau perlihatkan kekerasan pada anak anak. Aku nggak mau mereka nanti tumbuh jadi anak yang..."


Mario mengecup bibir istrinya agar berhenti berbicara.


"Tidak akan. Walaupun aku kejam, aku tidak ingin anak anakku nanti jadi orang yang sama. Mereka harus lebih baik dan menjadi orang yang baik."


"Terimakasih."


"Aku yang berterimakasih padamu. Istriku. Sekarang tidur ya."


"Iya." Mario memeluk istrinya. Val tertidur pulas dalam pelukan suaminya.


Malam hari hujan turun lebih lebat dari yang kemarin. Suara petir tak berhenti bersautan sedaritadi. Val tengah memeluk anak anaknya yang sedang ketakutan. Mereka berkumpul dan ikut tidur bersama Mommy dan Daddynya. Setelah sekitar satu jam hujan akhirnya berhenti.


"Hujannya berhenti. Kalian kembali ke kamar ya."


"Kita mau tidur sama Mom."


"Iya Dad. Kita mau tidur sama Mom."


"Kalian sudah besar. Tidur sendiri."


"Enggak." Ketiganya berbaring sambil memeluk Mommynya.


Val tersenyum melihat ekspresi kesal suaminya.


"Kamu ngeledek aku By?" tanya Mario sambil cemberut.


"Enggak. Tidur gih ini sudah malam."


"Iya. Kalian agak geser Dad mau peluk Mom."


"Ih Daddy." Mario berbaring di belakang istrinya. Ia memeluk Val dengan hangat. Val membenarkan selimut anak anaknya. Beberapa saat kemudian anak anak sudah tertidur pulas.


"By." Rengek Mario di ceruk leher istrinya.


"By Sayang." Panggilnya lagi namun tidak juga mendapat jawaban. Ia ingin mengajak Val untuk pindah ke kamar sebelah.


Mario menghela nafasnya. Sang istri ternyata sudah tertidur dengan pulas.


"Yah. By." rengeknya. Mario mau tidak mau harus ikut tidur bersama mereka. Ia bisa saja memindahkan sang istri seperti biasanya. Namun kali ini tidak. Anak anak memeluk Momnya dengan erat. Jika Mario mengangkat Val tentu mereka akan terbangun. Apalagi Ved. Ia paling peka meskipun sedang tidur. Mario menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Val dan memeluk dengan erat. Ia memejamkan mata ikut tidur bersama.

__ADS_1


__ADS_2