
Hari ini Val berkunjung ke restorannya.
"Bu Val." Kata semua melihat kedatangan wanita itu.
"Iya. Nggak usah kaget begitu ah."
"Hehe..Iya."
"Ibu darimana?"
"Dari rumah. Sengaja mau kesini."
"Oh. Mau minum apa? kami siapkan."
"Nggak Mbak. Aku ke ruang kerja dulu ya."
"Iya Bu."
Baru saja duduk di kursi. Mario sudah menelponnya padahal mereka baru saja berpisah tadi saat Val berangkat kesini.
"Assalamualaikum Dad."
"Waalaikumsalam."
"Ada apa Dad?"
"Nggak papa. Cuman pengen denger suara kamu aja."
"Ih ga jelas. Udah dulu ya aku sibuk."
"Eh. Nyonya Mario sibuk ngapain?" Tanyanya sambil terkekeh.
"Aku sibuk bikin resep buat menu baru."
"Oh."
"Udah dulu ya Dad. Assalamualaikum."
"By.. Waalaikumsalam."
"Haish....Kebiasaan suami mau ngomong malah dimatiin." Gerutu Mario.
Valerie melanjutkan kegiatannya. Ia membuat coretan coretan resep di kertasnya. Selesai dengan itu Val langsung beranjak menuju ke dapur.
"Bu Val."
"Saya mau coba resep baru."
"Ah iya. Tapi Suami Ibu nanti..." Kata mereka khawatir Mario akan marah karena istrinya kelelahan.
"Nggak papa." Jawab Val sambil tersenyum. Wanita itu mulai menyiapkan bahan kemudian mengolahnya dengan cekatan.
"Gimana enak nggak?" Tanya Val menyuruh semua karyawannya mencicipi beberapa menu baru.
"Luar biasa. Enak Bu."
"Jujur ya. Kalo nggak enak bilang aja."
"Kita Jujur Bu. Ini enak semua. Dijamin bakalan banyak yang pesan menu baru ini. Lagipula restoran kita semakin hari semakin rame Bu. Banyak pesanan juga. Kalo menu menu ini diluncurkan. Bom....bakalan meledak."
"Iya Bu. Tambahkan ke daftar menu saja. Ini luar biasa enak. Ibu emang The Best deh."
"Iya. Kalo gitu aku foto dulu. Nanti sekalian aku tambah ke daftar menu."
"Biar kita aja Bu. Ibu istirahat aja."
"Ga papa. Oh Iya. Nanti anterin makan siang ke kantor suami saya ya. Sampaikan juga aku sibuk nggak bisa antar sendiri. Sudah aku siapin di meja depan."
"Siap Bu."
Frans memasuki ruangan namun Mario tak mengangkat pandangannya sedikitpun.
"Ini makan siang dari Bini." Katanya sambil meletakkan paper bag yang cukup besar di meja.
"Istri aku mana?"
"Di restoran. Katanya lagi sibuk. Makannya nggak bisa antar makan siang kamu."
__ADS_1
"Selalu begitu. Harusnya suami jadi prioritas." Gerutu Mario ikut duduk bergabung bersama Frans di sofa.
"Aku buka ya kalo kamu nggak mau?"
"Masih mau hidup nggak?"
" Masih." Jawabnya cepat mendengar ancaman dari sang sahabat.
Mario meletakkan kota kotak makan di meja.
'Assalamualaikum Daddy. Aku bikin menu baru buat restoran. Ini khusus aku bikin buat Dad. Semoga Daddy suka. Maaf ya nggak bisa antar sendiri. Aku lagi sibuk. Jangan ngambek. Selamat makan.'
Mario tersenyum membaca surat dari istrinya.
"Wah gila ni orang. Tadi cemberut sekarang senyam senyum."
"Diam."
"Bagi dong. Aku belum makan siang juga. Kayanya enak semua."
"Nggak. Ini istri aku buat khusus untuk aku."
"Yah pelit amat. Aku pagi tadi juga belum sarapan. Mana tadi malam lembur selesaikan kerjaan."
"Iya iya. Nggak usah curhat."
"Makasih." Katanya senang bisa makan masakan Val.
Pukul 12 lebih. Selesai sholat Val langsung pulang.
"Mas. Mbak. Aku pulang dulu ya."
"Iya. Hati hati Bu."
"Iya."
Val hendak membuka pintu tiba tiba seseorang menerobos dan langsung memeluknya dengan erat di depan semua karyawan dan para pengunjung.
"By." Semua hanya diam sambil tersenyum tipis melihat betapa bucinnya Mario pada sang istri.
"Biarin."
"Ayo pulang." Val menggandeng tangan suaminya untuk segera keluar.
"Kamu tadi kenapa nggak antar sendiri makan siang aku? di telpon juga nggak di angkat." Celoteh Mario dalam perjalanan pulang. Supirnya sudah terbiasa dengan tingkah sang majikan. Setiap hari Mario akan seperti itu pada istrinya.
"Kan dah dibilang aku sibuk Dad. Aku lagi bikin menu baru buat restoran."
"Oh jadi kamu lebih mementingkan restoran kamu daripada suami sendiri." Katanya sambil membuang pandangan dari Val.
"Bukan begitu."
"Terus."
"Ya kan ini juga penting Dad."
"Lebih penting urusan kamu daripada aku?"
"Nggak. Dad juga penting kok." kata Val sambil menggenggam tangan suaminya.
"Lain kali kamu harus antar sendiri. Temani aku makan."
"Iya."
"Makasih. Pokoknya aku itu Prioritas kamu." Pria itu membalik posisinya dan memeluk Sang istri dengan erat.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Mom kok baru pulang?"
"Iya. Kalian sudah makan?"
"Belum. Kita nunggu Mom."
"Makan aja nunggu Mom segala. Makan sendiri sana."
"Dad juga begitu."
__ADS_1
"Yaudah. Ayo."
"By. Temenin aku."
"Bajunya udah aku siapin. Kamu mandi sana." Kata Val langsung menggandeng tangan anak anaknya menuju ruang makan.
"Dah mandi?" Tanya Val melihat Mario datang dan langsung duduk di dekatnya.
"Sudah."
"Cepet banget."
"Lagi males lama lama."
"Kalian nggak nawarin Daddy makan?" Tanya Mario melihat anak anaknya makan dengan lahap.
"Dad kan sudah makan siang di kantor."
"Tau darimana?"
"Dari Mom."
"Oh. By tolong pijitin pundak aku dong."
"Iya." Jawab Val langsung melaksanakan perintah suaminya. Mario begitu bersyukur memiliki istri yang begitu patuh dan sabar.
Di sisi lain suasana ruang keluarga di rumah Frans begitu tegang. Pria itu berdiri menatap anaknya yang sedang duduk di sofa dengan garang.
"Mau jelasin apa lagi sama Papa?" Bentaknya membuat Ladit semakin menunduk.
"Maaf Pa."
"Maaf kamu bilang. Papa capek capek kerja buat kamu. Kelakuan kamu malah begini. Berapa kali Papa bilang sama kamu berhenti bergaul sama teman teman kamu yang berandalan itu. Apalagi sekarang kamu ikut ikutan merokok. Papa nggak habis pikir."
"Pa. Ladit minta maaf. Ladit nggak akan ulangi lagi."
"Papa nggak mau tau. Kamu harus masuk pesantren. Papa capek harus ke sekolah kamu mulu. Udah dikasih kesempatan buat berubah malah makin parah. Papa malu punya anak kaya kamu. Ah.. Kamu sama aja kaya Mama kamu. Nggak tau diri." Kata Frans langsung meninggalkan Ladit sendiri.
Remaja itu menghela nafasnya. Kata kata terakhir sang Papa begitu membekas di hati. "Maaf pa. Aku memang nggak tau diri." Gumamnya sambil meneteskan Air mata.
Makan malam telah siap. Frans menunggu anaknya yang tak kunjung datang juga.
"Bi. Panggilkan Ladit suruh makan."
"Baik Tuan." Wanita paruh baya itu langsung bergegas menuju kamar Ladit.
Bibi mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Den. Bibi masuk ya." Katanya kemudian membuka pintu kamar Ladit dan masuk. Wanita itu mencari ke seluruh ruangan namun tidak menemukan. Ia dengan cemas segera mencari Ladit ke tempat tempat lain.
"Tuan." Bibi tergopoh gopoh kembali menghampiri Frans.
"Kenapa Bi? Kok lama banget. Ladit mana?"
"Aden nggak ada di kamar. Bibi sudah cari kemana mana juga nggak ada."
"Kemana anak itu." Frans langsung berdiri untuk mencari keberadaan Ladit.
Mario sedang bersantai dengan istrinya mupung anak anak sibuk belajar. Suara notifikasi pesan berkali kali masuk membuat Mario kesal. Beberapa saat kemudian Panggilan masuk.
"Ada yang telpon diangkat dulu Dad."
"Paling nggak penting." Jawabnya tak peduli.
"Jangan begitu ah. Diangkat dulu."
"Iya." Mario langsung mengangkatnya karena permintaan sang istri.
"Ya." Jawabnya dengan malas.
"Ladit di rumah kamu?"
"Enggak."
"Dia nggak di rumah. Sudah aku cari juga nggak ketemu. Bantuin aku cari."
"Hm." Mario langsung menutup telponnya.
__ADS_1