Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Jangan Punya Baby Lagi ya Mom..


__ADS_3

Pulang dari sekolah Van langsung memeluk Mommynya.


"Assalamualaikum Mommy."


"Waalaikumsalam sayang. Badan kamu panas."


Val langsung menggendong gadis kecilnya.


"Ganti baju dulu ya. Habis itu makan terus minum obat."


"Iya Mom."


Begitu sampai kamar Val langsung mengganti baju anaknya. Ia juga memakaikan Van plester kompres.


"Kamu istirahat dulu ya sayang. Mommy ambilkan makan."


"Iya Mom."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kalian ganti baju terus makan ya. Mommy mau ke Adek dulu."


"Adek kenapa Mom?"


"Demam."


"Iya Mom."


Val bergegas menuju kamar Van.


"Makan dulu ya sayang, habis itu minum obatnya."


"Suapi."


"Iya." Val menyuapi anaknya dengan telaten. Setelah menghabiskan makannya Val langsung meminumkan obat penurun panas.


"Kamu tidur ya."


"Temani."


"Iya Mommy disini Kok." Val memeluk anaknya.


"Van sakit By?" Bisik Mario ikut berbaring bersama istrinya.


"Demam. Kamu makan sendiri ya. Aku mau temani Van."


"Iya. Nanti aku makan."


"Sudah sholat."


"Sudah."


"Mom." Panggil Ved dan Veer memasuki kamar adiknya.


"Jangan keras keras nanti Adek kebangun."


"Maaf Mom."


"Ada apa?"


"Kita cuma mau lihat Van."


"sudah makan?"


"Sudah."


"Shalat?"


"Sudah."


"Kalian tidur siang gih."


"Disini ya."


"Iya. tapi jangan berisik."


"Siap Mom."


Si kembar naik ke ranjang pelan pelan dan berbaring di samping adiknya.


Mario memeluk istrinya dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Val.


"By."


"Hm."

__ADS_1


"Pindah yuk."


"Nggak."


"Ayolah."


"Nggak. Awas aja kamu kalo sampai pindahin aku kaya kemarin kemarin."


"Aku tetep pindahin kamu gimana?"


"Jangan tidur sama aku."


"Yah." Keluh Mario terpaksa ikut tidur bersama mereka.


Sore hari Val menggendong Van yang tengah rewel. Gadis itu bosan di kamar dan ingin jalan jalan di taman belakang.


"Mom. Kita ke kebun Buah."


"Iya."


Val membawa Van ke kebun buah sesuai dengan permintaannya.


"Van sama Daddy aja. Kasihan Mommy." Kata Mario iba melihat istrinya sudah menggendong Van sedaritadi.


"Gamau." Van mengeratkan pelukannya.


Val duduk sambil memangku Van diikuti Mario yang duduk sambil merangkulnya.


"Mereka ranjin rawat kebunnya." Kata Val memperhatikan dua anak tampannya tengah menyirami tanaman.


"Iya, setiap sore mereka yang sirami."


"Mom." Keduanya berlari ke arah Val.


"Lihat Mom. Udah mateng. Buahnya lebat semua. kita petik ya Mom."


"Iya. Hati hati. Nanti kalo ada ulat."


"Iya Mom."


Keduanya kembali ke kebun sambil membawa keranjang untuk memetik buah.


"Banyak kan Mom." Kata Veer membawa keranjang buah dibantu kembarannya.


"Iya. Van mau?" Tanya Val hanya dijawab gelengan olehnya.


"Pandai merayu. Siapa yang ajarin?"


"Daddy Mom."


"Kok jadi Daddy yang dibawa bawa."


"Daddy kan sering merayu Mommy. Kita perhatikan Lo.."


"Kalian..."


"Van mau anggur."


"A...Buka mulutnya...Kakak suapi."


"Enak kan?"


"Iya."


"Mommy mau?"


"Boleh."


"Mau yang hijau, ungu atau merah."


"Yang merah saja."


"Ok. Ved suapi."


"Manis kan Mom?"


"Manis. Kalian petik pakai apa? rambatnya kan tinggi."


"Kan ada tangga Mom."


"Bahaya tau."


"Nggak papa Mom. Kita hati hati kok."


"Kalian mau Adek cewek nggak?" celetuk Val tiba tiba.


"Nggak." Jawab mereka bersamaan.

__ADS_1


"Kenapa? nanti kan bisa cewek dua cowok dua."


"Enggak. Udah cukup. Kita nggak pengen punya adik lagi."


"Iya. Aku juga udah cukup punya anak tiga aja."


"Yah. Padahal Mommy pengen hamil lagi."


"Ga perlu Mom. Kita aja udah cukup buat Jagain Mommy."


"Kalian mau jagain Mommy?"


"Iya dong. Sebagai anak laki laki kita akan jagain Mommy."


"Wah. Kalian sweet sekali." Val mencium si kembar bergantian.


"Van minta cium."


"Iya." Val mencium anak gadisnya.


"Daddy-nya juga dong."


"Wah ternyata ada yang cemburu. Sini sini." Mario mendekat untuk mendapat ciuman dari istrinya.


Keadaan Van sudah membaik. Panasnya juga sudah turun. Mereka tengah berkumpul untuk menonton setelah makan malam.


"Mom."


"Ya sayang."


"Mommy jangan punya anak lagi ya."


"Hah?"


"Ved sebagai yang tertua pusing dengan adik adik. Jangan tambah Ved pusing lagi kalo Ved punya adik nanti."


Mario tersenyum mendengar penuturan polos anaknya.


"Kamu pusing apa?"


"Kalo di sekolah Dad. Veer selalu bandel. Ved sebagai kakak harus menasihati."


"Mana ada aku bandel. Kalo aku bandel kak Ved juga bandel." Katanya untuk membela diri.


"Kalau dirumah. Van suka nakal berantakan kamar Aku sama Veer Mom. Aku sebagai kakak tertua harus sabar dan beresin lagi. Apa Mommy nggak kasihan kalo aku punya adik lagi." lanjutnya tak menghiraukan kembarannya.


Mario hanya memperhatikan sambil menggelengkan kepala melihat anak tertuanya tengah mengadu sambil memelas.


"Kasihan, Kasihan. Terus kalau adiknya baik gimana?"


"Kalo adiknya baik. Mom nanti lebih sayang sama adiknya. Daddy sama anak anak yang lain nggak diperhatikan lagi." Kata Mario memeluk manja istrinya.


"Iya Mom. Yang dikatakan Dad benar. Nanti Mom nggak sayang lagi sama kita."


"Duh. Kalian sama saja. Kompak."


"Jadi. Jangan punya Baby lagi ya Mom."


"Iya."


"Makasih Mom." Mereka ikut memeluk Mommynya.


"Mom mau apapun Kita kasih. Asal Mom nggak punya Baby lagi. Mom mau mobil. Kita belikan."


"Uang darimana?"


"Dari Dad Mom. Iyakan Dad?"


"Enggak. Kalau Dad beli ya Dad untuk Mommy. Masa Dad yang beli pakai uang Dad tapi kalian yang dapat sayang." Kata Mario membuat mereka cemberut.


"Jangan cemberut begitu."


"Mau eskrim Mom. Beh ya."


"Boleh."


"Yey." Keduanya berlari untuk mengambil eskrim.


"Van mau?"


"Enggak Mom." Jawabnya sambil fokus menonton kartun.


"Tuh kan. Jangan punya Baby lagi Mom."


"Iya. Sudah jelas kok."


"Pinter." Mario mengecup bibir istrinya cepat sebelum anak anaknya kembali.

__ADS_1


__ADS_2