
Mario mengerjapkan matanya. Ia terbangun di suasana yang masih sama tanpa kehadiran Sang Istri. Hari ini Ia tidur di rumah setelah seminggu menjaga Val di rumah sakit. Kondisi tubuhnya yang lelah membuat pria itu sakit dan mau tak mau harus pulang untuk mengistirahatkan diri. Disana sudah ada kedua mertuanya yang selalu menunggu Val. Mario menghela nafasnya. Wanita yang begitu Ia cintai belum juga membuka mata. Begitu tersiksa. Namun apa daya, Mario tak bisa berbuat apa apa. Mario ingat betul saat Val mendorongnya ke tepi jalan. Wanita itu sudah menyelamatkan hidupnya. Rasa bersalah yang dulu belum hilang kini bertambah lagi. Ia hanya bisa membahayakan keselamatan istrinya bukan malah melindungi. Setiap luka yang Mario torehkan pada wanita itu selalu di terima baik oleh Val. Ia kejam. Begitu kejam menyakiti Istri yang begitu sempurna. Dari awal dia memang sudah salah. Terlalu memaksakan dan membelenggu. Tak memberi kebebasan pada Val sedikitpun. Menyesal pun sudah terlambat. Seandainya waktu bisa diulangi. Ia akan mendapatkan sang istri dengan cara baik baik.
Mario meraih handuknya. Setiap kali apa yang Ia lakukan selalu mengingatkannya pada sang istri. Biasanya Val lah yang menyiapkan segala keperluannya. Mulai dari handuk, baju, Sepatu dan semuanya. Tak mau larut dalam kesedihan. Pria itu langsung menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower untuk mengguyur tubuhnya yang semakin kurus akhir akhir ini. Kumis dan jambangnya juga tumbuh tak beraturan. Belum lagi kantung mata yang menghitam. Tak membutuhkan waktu lama seperti biasanya. Ia meraih baju dan memakainya dengan cepat. Mario harus segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sang istri.
"Daddy mau ke rumah sakit?" Tanya anak anaknya yang sudah rapi menggunakan seragam.
"Iya."
"Dad. kita ikut ya."
"Kalian harus ke sekolah."
"Tapi Dad..."
"Ayo berangkat. Pulang sekolah nanti baru boleh jenguk Mom."
"Kita titip salam buat Mom ya Dad." Kata mereka sambil berkaca kaca.
"Setidaknya Daddy sampaikan saja. Meskipun Mom belum bangun dia akan mendengarnya. Sampaikan sama Mom. Kalau dia harus bangun untuk kita."
"Iya." Kata Mario menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kita berangkat Dad. assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Mario mengantar mereka ke depan.
Mario sampai di rumah sakit. Pria itu berlari ke ruang rawat inap setelah mendapat kabar jika istrinya sudah dipindahkan kesana. Kondisi Val membaik hari ini. Masa kritisnya sudah lewat.
"Mi. Pi." Mario menghampiri mertuanya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ayo masuk. Kita sudah boleh menemani di dalam."
"Iya Mi." Pria itu langsung menerobos masuk ke dalam. Ia duduk di samping ranjang tempat Val berbaring saat ini. Bibir mungil merah Cherry begitu pucat. Matanya juga terpejam sempurna. Hanya bulu mata lentik yang tidak bergetar sedikitpun. Menandakan belum ada sinyal jika Val akan membuka mata. Mario menangis melihat keadaan Sang Istri dengan berbagai alat bantu yang masih melekat di tubuh wanita itu.
"Sayang. Kamu dapat salam dari anak anak. Kata mereka kamu harus cepat bangun." Mario menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan.
"Maafkan aku."Katanya sambil meraih tangan Val dengan hati hati.
"Maafkan aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Maaf karena sudah membuatmu terluka lagi dan lagi. Semuanya karna kesalahanku. Aku minta maaf sayang. Semua penderitaan dan luka yang kamu alami terjadi karena aku."
"Sudah. Semua itu takdir. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kami semua juga sakit melihat anak kami satu satunya seperti ini. Kami sebagai orang tua seperti tidak memiliki harapan hidup lagi. Sekarang kita berdoa agar Val cepat membaik dan bisa berkumpul lagi dengan kita." Kata Papi menenangkan menantunya.
__ADS_1
Siang hari anak anak sudah berkumpul di ruangan untuk menemani Mommynya. Mereka duduk bersama yang lain sedangkan Mario tak beranjak. Pria itu masih setia berada di samping Val sambil menggenggam tangan istrinya.
"Dad. Makan dulu. Daddy tadi pagi juga belum sarapan."
"Iya Makan dulu Dad. Kalo Mom bangun lihat Daddy seperti ini Mom juga akan kecewa."
"Baiklah." Mario memakan makanan yang dibawakan oleh anak anaknya.
"Mom cantik ya Dad?" Tanya Van sambil mengusap air matanya.
"Iya."
"Mom cantik meskipun pucat begitu. Menurut Van Mom adalah wanita paling cantik. Mom itu sempurna, cantik luar dalam. Mom begitu sabar dalam mengatasi semua hal. Jika besar nanti Van ingin menjadi seperti Mom." Kata Gadis itu sambil mengamati wajah pucat Val.
"Pertama kali Daddy berjumpa dengan Mom, Daddy langsung suka. Caranya bicara, tersenyum dan tingkah lakunya begitu natural apa adanya. Daddy berjuang untuk mendapatkan Mom bukanlah hal yang mudah. Dia bagaikan berlian. Banyak sekali orang ingin memilikinya." Sahut Mario sambil mengingat masa masa itu.
Val menggerakkan jemarinya menyentuh tangan kekar yang berada di sisi ranjangnya. Perlahan matanya mengerjap hingga terbuka sempurna. Mario mendongakkan kepala. Ia terkejut sekaligus bahagia. Pria itu bergegas memanggil dokter untuk mengecek kondisi Istrinya.
Semua orang menunggu di depan hingga pintu ruangan terbuka.
"Bagaimana dok?"
"Kami sudah melepas alat bantu pernafasannya. Keadaan Nyonya sudah lebih baik. Silahkan ditemani. Tapi jangan membuatnya sampai tertekan atau tidak nyaman ya."
"Sama sama." Kata Dokter mempersilahkan mereka masuk.
Mario berjalan mendekat. Pria itu meneteskan air mata bahagia melihat istrinya. Meskipun masih sama pucatnya. Setidaknya kini Val sudah membuka mata dan tersenyum manis pada mereka.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?"
"Masih sakit Mi."
"Mana yang sakit Mom?"
"Nggak sakit kok. Kalian tenang saja." Jawab Val tak ingin membuat mereka khawatir.
"Mom istirahat saja. Jangan banyak gerak."
"Iya. Kalian tidak ke sekolah?"
"Sudah pulang Mom."
__ADS_1
"Oh."
"Kalian Istirahat. Pasti capek."
"Mom yang seharusnya istirahat."
"Mom sudah capek istirahat."
"By." Mario menatap istrinya penuh rasa bersalah.
"Mau minum." Kata Val mengerti dengan tatapan itu.
"Iya." Pria itu dengan cepat membantu Val untuk minum.
Semuanya sudah pulang. Hanya tersisa Mario dan Val di ruangan. Pria itu berbaring di samping istrinya karena ukuran ranjang yang besar.
"Kamu kurusan Dad. Kamu nggak makan teratur ya? Kamu juga kurang tidur ya?" Tanya Val melihat kondisi suaminya.
"Gimana aku bisa makan dan tidur dengan baik sementara kamu seperti ini. Ini semua gara gara aku. Aku minta maaf. Kalau saja kamu nggak menyelamatkan aku pasti kejadiannya nggak seperti ini."
"Udah. Aku capek denger maaf kamu dari tadi."
"By. Bagian yang sakit yang mana sayang?"
"Kepala sama dada."
"Sakit banget ya." Mario mengelus lembut pipi Istrinya.
"Tidak sesakit tadi."
"Baiklah. Istirahat saja. Atau kamu mau sesuatu?"
"Enggak. Aku lagi nggak pengen apa apa Dad."
"Dad."
"Ya sayang?"
"Kapan aku boleh pulang?"
"Nanti aku tanyakan dokter ya. Sekarang kamu tidur. Aku temani."
__ADS_1
"Iya."
Mario memeluk istrinya dengan hari hati. Beberapa saat pria itu tertidur pulas. Tidur yang begitu nyaman dan menenangkan bersama istri tercinta.