Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Begadang


__ADS_3

Val baru saja menyelesaikan masakannya.


"Sayang."


"Mami. Kesini kok nggak kasih kabar." Val terkejut melihat Maminya tiba tiba sudah berada di belakangnya.


"Kamu ditelpon nggak diangkat."


"Ah iya. Hp Val di kamar."


"Kamu lagi masak?"


"Iya. Tapi sudah selesai. Mami makan ya.."


"Nggak. Mami udah kenyang. Ayo pergi."


"Kemana?"


"Kita nyalon."


"Kan nggak lagi weekend Mi."


"Nggak papa. Mami bosen dirumah. Memangnya Mami nggak ke klinik?"


"Enggak. Mami pengen perawatan sama kamu."


"Yaudah tunggu sebentar. Val mau bersih bersih dulu."


"Iya."


"Bibi. Nanti kalo suami sama anak anak pulang tolong siapin makannya ya."


"Baik Nyonya." Jawab mereka sambil membereskan dapur.


Val menghampiri Maminya yang sedang menunggu di ruang tengah setelah selesai bersiap.


"Kita berangkat sekarang Mi?"


"Iya. Ayo." Mami menarik tangan putrinya. Setelah sampai di halaman keduanya langsung masuk ke mobil.


"Kamu sudah kasih tau suami sama anak anak?"


"Sudah aku chat tapi nggak ada yang bales. Lagi sibuk mungkin."


"Iya mungkin."


"Mami tumben ngajakin aku ke salon. Padahal hari ini kan bukan hari libur."


"Mami ngerasa jarang keluar berdua aja sama kamu. Makannya Mami ajak kamu keluar hari ini."


"Memangnya kita mau ngapain Mi?"


"Seperti biasa. Kita perawatan. Merawat tubuh itu penting."


"Salon Mami nggak lagi rame?"


"Rame seperti biasa. Nanti kita perawatannya dilantai dua aja. Udah Mami suruh karyawan Mami buat kosongkan lantai dua kemarin."


"Hm. Iya."


Lima belas menit perjalanan mereka sampai di salon milik Mami. Wanita itu langsung menggandeng tangan Val untuk masuk.


"Selamat datang Ibu. Nona." Sambut para karyawan dengan ramah.


"Iya. Lantai dua sudah dikosongkan?"


"Sudah. Sesuai permintaan Ibu."


"Baik. Saya kesana. Terimakasih ya Mbak."


"Baik Ibu. Sama sama. Silahkan Nona."


"Iya. Mbak."


Sampai di lantai dua. Keduanya langsung memulai perawatan. Val duduk sembari di manicur, pedicure oleh pegawai.


"Kuku Nona cantik dan sehat."

__ADS_1


"Iyakah?"


"Iya Nona."


"Padahal saya sering masak lo."


"Benarkah?"


"Iya. Setiap hari saya masak. Mbaknya kerja disini sudah lama?"


"Baru satu bulan Nona."


"Oh. Pantesan baru lihat."


"Betah?"


"Betah. Ibu baik sama semua karyawan nya." Jawab wanita itu jujur.


Selesai dengan kuku. Val beralih menata rambutnya. Ia memotong rambutnya sebahu agar terlihat lebih fresh.


Val mengangkat panggilan yang sedaritadi masuk. Ternyata dari suami dan anak anaknya.


"Assalamualaikum Dad." Jawabnya sambil melepas gamis Karna Ia akan spa. Pegawai disana takjub melihat kulit Val yang begitu putih bersih bagaikan giok.


"Waalaikumsalam. Kamu dimana?"


"Di salon sama Mami. Aku lagi spa. Makan siang sama baju kamu udah aku siapin. Udah dulu ya." Jelasnya sambil membaringkan diri dengan tengkurap.


"Sebentar." Cegah Mario.


"Ada apa?"


"Kamu nggak bisa pulang apa? Masa aku kamu tinggali di rumah sendiri."


"Anak anak kan ada."


"Aku maunya kamu."


"Coba kamu yang ngomong sama Mami. Aku kasih ke Mami ya."


"Eh... Jangan. Nggak usah. Kamu terusin aja."


"Yaudah. Aku tutup dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kenapa Sayang?" Tanya Mami setelah Val mengakhiri panggilannya.


"Nggak Papa. Cuman tanya aku lagi dimana?"


"Dia nggak minta kamu pulang kan?"


"Nggak."


"Kalo sampai berani. Awas aja."


Selesai dari salon kini Val dan Maminya sedang mampir untuk makan di restoran seafood.


"Makan yang banyak. Jangan sampai badan kamu kurus lagi." Kata Mami menambahkan udang di piring Val.


"Iya Mi."


"Bapaknya Randi sekarang kerja sama Mami."


"Iyakah? kerja jadi apa?"


"Jadi tukang kebun."


"Oh. Bagus itu. Kalo kerja sama Mami kan punya penghasilan tetap."


"Iya. Mami kasihan sama dia." Jawabnya sambil meneruskan makan.


Mario tengah menunggu istrinya. Wanita itu belum juga pulang padahal hari sudah sore.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Sayang Kamu kok lama?" Katanya langsung memeluk sang Istri.

__ADS_1


"Eh. Mami." Pria itu langsung mencium tangan mertuanya.


"Anak anak mana?"


"Lagi keluar Mi. Main di taman kayanya."


"Yaudah. Mami pulang dulu ya. Mami titip ini buat mereka."


"Iya Mi. Hati hati."


"Iya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Val baru saja mandi dan ganti baju. Ia duduk di sofa balkon sambil menikmati angin sore yang sejuk. Sepasang tangan kekar mengangkat tubuhnya dan mendudukkan kembali di paha.


Mario memandangi istrinya yang begitu cantik. Pria itu tak berhenti menciumi pipi Val.


"Dad. Geli."


"Kamu potong rambut?"


"Iya. Aku risih karena kepanjangan."


Mario mengelus lembut rambut indah Val.


"Kamu keluar lama banget. Aku kangen."


"Maaf. Aku nggak bisa nolak ajakan Mami."


"Iya. Aku ngerti." Katanya sambil membuka kancing gamis Val satu per satu.


"Mau ngapain?"


"Aku pengen."


"Ih. Aku baru selesai mandi."


"Nanti mandi lagi. Aku mandiin." Kata Pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya ke dalam. Mario dengan cepat menutup pintu balkon dan gorden. Ia berjalan dengan semangat menghampiri istrinya yang sudah terlentang di atas ranjang. Dengan gerakan cepat pria itu membuat keduanya benar benar telanjang. Tangan Mario bergerak mengelus lembut paha sang istri. Bibirnya juga tak berhenti menciumi setiap inchi tubuh Val. Setelah istrinya siap Mario langsung menancapkan miliknya di inti tubuh Sang istri. Wanita itu hanya bisa pasrah dan menikmati betapa ganas suaminya jika sedang di ranjang. Mario begitu bersemangat. Pria itu menggerakkan pinggulnya dan mengubah posisi kadang Val di bawah juga kadang di atas. Tak pernah lelah dan selalu mau lagi.


"Dad. Kamu nggak capek?"


"Ah...Masih belum." Jawabnya sambil memejamkan mata. Ia melanjutkan lagi kegiatan panasnya bersama sang istri.


"Aku mencintaimu. Selalu dan selamanya." Kata Mario mendekap tubuh Val yang sudah basah karena ulahnya.


Selesai makan malam Val berkumpul dengan anak anak dan suaminya. Mereka selalu menempel pada Val tak memberi Mario ruang.


"Kalian kenapa sih. Geser."


"Nggak mau. Daddy ngalah dong."


"Haish...Kalian selalu aja. Ganggu orang." Kesal Mario pada ketiganya.


"Biarin."


"Mom nanti tidur sama kita ya?"


"Iya."


"Nggak."


"Iya." Kata Val tersenyum pada suaminya.


"By."


"Biarin. Udah lama nggak tidur sama mereka."


"Yes.. Kita tidurnya di kamar Van aja ya."


"Iya." Kata Val menuruti keinginan mereka.


Val tidur ditengah diapit anak anaknya. Mereka sudah tertidur dengan pulas. Berbeda dengan Mario. Pria itu masih terjaga meskipun jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Ah..Nggak bisa dibiarin." Katanya langsung beranjak dari tempat tidur. Mario melangkahkan kaki menuju kamar Van. Pria itu membuka pintu perlahan. Disana istrinya sudah tidur dengan pulas.


"Kenapa di tengah sih. Kan jadi susah ambilnya." gerutu Mario pelan. Mario mendekat hendak menggendong Val. Namun tiba tiba Veer memeluk Mommynya lebih erat lagi.

__ADS_1


"Alamat nggak tidur semalaman. Begadang hari ini bukan karna bahagia tapi karna tersiksa." Kata Mario kecewa dan kembali ke kamarnya.


__ADS_2