Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Maaf


__ADS_3

Val pulang tiba tiba mengejutkan Papi dan Maminya.


"Sayang. Kesini nggak bilang bilang."


Wanita itu memeluk putrinya dengan hangat.


"Val mulai sekarang akan tinggal di sini Mi."


"Kamu kenapa? ada masalah?" Panik Papi.


"Ada Pi. Val nggak mau cerita dulu. Pokoknya nanti kalo ada yang cari Val bilang aja Val lagi nggak di rumah. Val mau sendiri."


"Baiklah. Kamu istirahat dulu."


"Ya. Val ke kamar dulu." Gadis itu naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Val merebahkan ranjang yang begitu Ia rindukan selama ini. Semenjak di culik dan menikah dengan Mario Ia tak pernah menginap di rumahnya. Pria itu mempunyai seribu alasan untuk membuat Val tidak menginap disini. Val mengamati langit langit kamarnya hingga rasa kantuk mulai datang. Beberapa saat kemudian Ia tertidur pulas karena merasa lelah.


"Tuan. Tuan Mario datang." Kata Seorang penjaga memberi laporan pada Papi Val.


"Biarkan dia masuk."


"Baik Tuan." Katanya langsung melaksanakan perintah tuannya.


Mario menghampiri kedua mertuanya yang tengah duduk bersama.


"Duduk." Kata Papi Val.


"Iya Pi."


"Ada apa sebenarnya?"


Mario menceritakan semua dengan detail tanpa terlewat sedikitpun.


"Bukannya aku membela anakku. Tapi kamu benar benar kelewatan."


"Aku minta maaf Pi. Izinkan aku bertemu istriku."


"Val tidak mau bertemu denganmu. Daripada membuatnya tambah marah. Sekarang kamu pulanglah."


"Pi aku mau ketemu Val."


"Sudah aku katakan sejak awal. Sesuatu yang dimulai dengan tidak baik akan berakhir tidak baik juga."


"Mario mohon Pi. Izinkan Mario bertemu Val."


"Dia sedang tidur Mario. Kamu pulang saja."


"Aku janji tidak akan membangunkannya. Tapi izinkan aku melihatnya."


"Baiklah. Dia sedang tidur di kamarnya."


"Terimakasih."


Mario bergegas ke kamar istrinya.

__ADS_1


Mario mendapati Val tengah tertidur dengan tenang. Ia mengecup bibir istrinya pelan agar tidak terbangun. Pria itu mengelus lembut pipi merah jambu istrinya. Mario menangis dalam diam. Hati istrinya pasti sangat sakit melihatnya diantar wanita lain saat pulang dalam keadaan mabuk pula. Ia melihat dari CCTV di rumah betapa telatennya Val saat mengurusnya. Membersihkan dan mengganti pakaiannya meskipun dalam keadaan marah. Yang membuat hati Mario lebih sakit adalah ketika Val tidur meringkuk di sofa demi bisa mengatasi kekecewaannya.


"Maaf." Kata Mario sebelum pria itu pergi.


Val baru saja bangun tidur langsung menghampiri Maminya yang tengah sibuk di dapur.


"Mami bikin apa?"


"Kebetulan udah bangun. Mami bikin bubur kacang ijo buat kamu."


"Ih Mi. Val kan nggak suka. Kasih papi aja tuh."


"Apa kasih Papi?"


"Mami bikin bubur kacang Ijo. Val nggak suka."


"Yah padahal Mami udah capek capek bikin."


"Iya iya. Val makan." Katanya terpaksa tak ingin melihat Maminya kecewa.


Val mengambil semangkuk kecil dan memasukkan es batu. Ia makan dengan cepat. Selesai dengan buburnya Val beralih mengambil satu cup eskrim dan memakannya.


"Kebiasaan es krim mulu."


"Enak. Mami mau?"


"Enggak."


"Papi nggak ke kantor?"


"Masa sih tanggal merah?"


"Iya."


"Wah pantesan di grup chat cafe senyap. Ternyata libur."


"Sayang."


"Hm."


"Mario tadi kesini."


"Bodo amat."


"Kalian nggak pengen bicara buat selesaikan masalah kalian."


"Enggak. Val pengen cerai aja Mi. Pi bantu Val urus suratnya ya." Kata Val dengan enteng.


"Kamu yakin?"


"Iya."


"Pi. Mi."


"Ya sayang."

__ADS_1


"Val mau ke Bali sendiri. Kasih izin ya. Val mau liburan."


"Mami antar."


"Ih. Val udah gede. Val bisa sendiri."


"Yasudah. Hati hati ya. Kapan kamu berangkat?"


"Nanti sore."


"Kok grasa grusu."


"Iya. Kamu kok ya nggak kasih tau dulu. Apa apa serba mendadak."


"Ih. Papi kaya nggak tau Val aja."


"Kamu kalo dibilangin."


"Sama satu lagi Pi. Val minta Jangan sampai kegiatan atau privasi Val lainnya bocor. Val nggak mau liburan Val terganggu."


"Iya." Kata Papi menuruti keinginan anak satu satunya itu. Ia tau Val tak ingin bertemu Mario. Pria itu mempunyai kemungkinan untuk menyusul Val ke sana jika sampai tau.


Disisi lain Mario tengah duduk dengan tatapan datarnya. Tidak ada lagi manja dengan istri, Tidak ada lagi tingkah manis Val yang mengisi harinya, Tidak ada lagi barang barang yang berantakan. Mario kesepian lagi untuk yang kesekian kalinya. Ia begitu rapuh sekarang. Padahal hanya beberapa jam ditinggal istrinya. Namun ditinggal dalam keadaan Val marah membuat hatinya gusar. Mario tersenyum mengamati ruangan istrinya. Bau Val yang wangi masih tertinggal disana. Apalagi selimut yang masih berada di atas sofa. Mario memeluk selimut itu dan menghirup aromanya dalam dalam untuk mengatasi kerinduannya.


Val sudah siap dengan barang seadanya di tas punggung yang Ia bawa.


"Kamu bawa itu saja?"


"Iyalah Mi. Di rumah Papi yang ada disana kan sudah lengkap. Lagian kalo liburan itu yang penting ada duit semuanya beres."


"Vitamin sudah bawa?"


"Sudah Papiku sayang."


"Yasudah ayo berangkat."


Papi dan Mami Val mengantar Val sampai ke bandara.


Mario belum mendapat kabar apapun dari orang suruhannya baik untuk mencari Laura maupun orang yang ditugaskan untuk mengawasi istrinya.


Ia hanya mendapat laporan jika sekarang sangat sulit untuk mengawasi Val karena penjagaan begitu ketat dan mansion menggunakan sistem keamanan yang canggih.


Tidak heran, karena Papi Val jauh lebih berkuasa daripada Mario. Maka Pria itu bisa melakukan apa saja untuk melindungi privasi anaknya.


"Hati hati ya sayang. Kalo ada apa apa segera kabari."


"Iya Mi. Pi."


"Jangan lupa makan yang sehat sehat. Jangan makan sembarangan kamu. Kita tau semuanya meskipun nggak kita awasi secara langsung."


"Duh. Papi. Aku udah gede. Berhenti mata matain aku deh."


"Papi nggak bisa lepas kamu gitu aja."


"Udah ah. Val berangkat dulu." Val memeluk kedua orangtuanya erat sebelum pergi.

__ADS_1


__ADS_2