Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Istriku Yang Baik


__ADS_3

Puasa hari ini cuaca sangat panas sekali. Veer tidak putus puasa meskipun kepalanya sakit beberapa hari yang lalu.


"Mommy masih lama ya?" Tanya gadis kecil itu tak sabaran.


"Masih Sayang. Dipake tidur aja ya biar nggak haus. Kaya kakak tuh."


"Iya Mom." Van berbaring ikut kakak kakaknya yang sedang tidur di karpet ruang keluarga.


Val kini tengah berada di dapur untuk memasak menu buka puasa. Suaminya juga sedang tidur. Jadi tidak ada yang mengganggu. Val mengeluarkan bahan bahan dari kulkas dan mulai mengolahnya. Seperti yang di minta anak anak dan suaminya. Val akan memasak soto hari ini. Untuk minumnya es buah dan dessert buka puasa Val membuatkan puding susu dan cheese cake.


"By." Mario memeluk istrinya yang tengah sibuk menata makanan.


"Kamu bangun."


"Iya."


"Mandi sana."


"Masih jam berapa? Nanti aja ah."


"Yaudah jangan begini. Aku lagi riweh. Duduk dulu."


"Gamau."


"Duh. Jangan manja deh."


"Biarin. Kamu wangi." Mario menaruh dagunya di pundak sang istri. Val membiarkan apa yang dilakukan suaminya. Ia tak mau memperpanjang lagi.


"Sudah mandi?"


"Sudah Mom." Kata Anak anak menghampiri Mommy nya yang tengah menyiram tanaman di kebun belakang.


"Biar Ved aja Mom."


"Ini. Hati hati. Nanti baju kamu basah. Mommy mandi dulu ya."


"Iya Mom."


"Dad. Tolong jagain anak anak dulu."


"Kamu mau kemana?"


"Mau mandi."


"Mau di mandiin nggak?"


"Nggak inget puasa apa ya?"


"Ah iya lupa."


"Wah Daddy datang. Tolong siramin Dad."


"Lah kok Daddy?"


"Daddy kan belum siram. Tadi Ved sama Veer sudah."


"Gamau. Daddy mau duduk."


"Yah."


"Tadi kakak yang minta buat siram tanamannya ke Mommy."


"Iya. Biar kakak dikata anak rajin sama Mommy."


"Wah kalian caper. Siapa yang ajarin?"


"Daddy kan juga begitu."


"Mana?"

__ADS_1


"Daddy suka tata barang kalo ada Mommy. Kalo nggak ya berantakan lagi."


"Itu bukan caper namanya."


"Apa dong?"


"Anak kecil nggak boleh tau." Jawab Mario langsung duduk di bangku yang agak jauh agar tidak ditanyai lagi oleh anak anaknya.


"Belum selesai ya?" Val menghampiri anak anaknya.


"Sudah Mom." Ved meletakkan selangnya ikut bergabung dengan Mommy yang duduk sambil memangku Van.


"Kita nanti makan soto kan Mom?"


"Iya. Sesuai permintaan kalian."


"Besok bikin gulai sama sate Mom."


"Ok. Mau pakai ayam atau daging kambing?"


"Daging kambing lebih enak By."


"Ga punya daging kambing. Besok belanja. Sekalian buat isi parcel lebaran."


"Parcel buat siapa Mom? kan tahun ini udah nggak ada yang kerja di rumah."


"Supir pribadinya Daddy yang lagi cuti. Rumahnya kan nggak terlalu jauh. Nanti biar diantar. Para tukang kebun juga. Terus buat anak panti asuhan. Buat Oma sama Opa juga."


"Oh."


"Kita Ziarah ke makam Kakek sama Nenek kapan?"


"Coba tanya Daddy."


"Kapan Dad?"


"Besok atau nggak besoknya lagi."


"Papa Daddy kena sakit jantung. Kalo Mama Daddy juga sakit."


"Oh."


"Mom. Van mau itu." Tunjuknya pada pohon jambu air.


"Ayo. Mom ambilkan."


"Biar aku aja By."


"Yaudah. Biar diambilkan Daddy."


"Ikut Dad." Kata Ved dan Veer menyusul Daddy-nya.


Val, suami dan anak anaknya langsung berkumpul di ruang keluarga setelah sholat tarawih.


"Pudingnya masih ada Mom?"


"Masih. Sebentar Mommy ambilkan."


"Iya."


"Ini."


"Suapi Mom."


"Kalian udah gede minta disuapi."


"Daddy juga begitu."


Mario hanya memutar bola matanya malas. Bagaimanapun juga sikap manja anak anaknya menurun dari dia. Val menyuapi ketiga anaknya bergantian.

__ADS_1


"Adek suka?"


"Suka." Jawab gadis kecil itu.


"Jangan cubit pipi Van." Rangeknya memeluk Val.


"Jangan digodain dong adiknya. Nanti nangis."


"perempuan emang suka nangis ya Mom?"


"Ya enggak semuanya. Tapi hati perempuan memang lebih lunak dan sensitif makannya gampang nangis."


"Mom juga begitu?"


"Enggak. Enggak semua perempuan begitu. Mom empati tapi nggak mudah nangis juga."


"Mommy kalian orangnya nggak peka."


"Nggak peka gimana Dad?"


"Dulu Daddy suka sama Mommy, Daddy kasih kode terus ke Mommy. Daddy juga bilang terang terangan kalo Daddy mau ajak Mommy nikah."


"Terus terus?" Tanya mereka penasaran.


"Karena Mommy kalian ini orang yang nggak peka dan gampang lupa sama masalah sepele. Jadi Mommy nggak kasih jawaban. Padahal Daddy tunggu berhari hari. Dady kira Mommy kalian masih pikir pikir. Tapi ternyata malah lupa dan nggak di jawab."


"Emang Iya Mom?"


"Hm.."


"Mommy dulu cinta nggak sama Daddy?"


"Pertanyaan macam apa itu? Siapa yang ajarin kalian cinta cinta?"


"Daddy."


"Kok Daddy?"


"Kita sering denger Daddy bilang cinta sama Mommy."


"Gimana Mom? Mommy cinta nggak sama Daddy dulu?"


"Ya enggak lah."


"By."


"Tapi sekarang cinta. Kan Daddy udah jadi suaminya Mommy. Jadi wajib cinta."


"Mommy Baik dan Cantik kok mau sama Daddy?"


"Heh. Memangnya Daddy jelek?"


"Bukan jelek. Daddy kan galak."


"Karena Daddy kaya ya Mom?"


"Enggak. Mommy lebih kaya dari Daddy malahan."


"Iya ya. Opa sama Oma kan paling kaya."


"Terus kenapa Mom."


Mario juga penasaran dengan jawaban istrinya. Apakah Val akan menjawab dipaksa menikah sesuai kenyataan yang ada atau bagaimana.


"Nggak tau. Yang namanya jodoh." Jawab Val membuat Mario tersenyum. Istrinya tak mengungkapkan kepada anak anak betapa jahatnya Ia dulu.


"Istri ku yang baik." Kata Mario sambil mengecup kening istrinya.


"Kita juga mau." Ketiga anak Val mengikuti apa yang dilakukan Daddy-nya.

__ADS_1


"Ih basah." Keluh Val melihat pipi dan keningnya basah gara gara mereka.


__ADS_2