
Hari ini Val akan mengunjungi teman teman Ved dan Veer yang waktu itu mereka ceritakan.Val sudah mendapat izin dari suaminya. Ia akan pergi dengan si kembar saja karena Van masih sekolah dan Mario juga masih ada meeting yang tidak bisa ditinggalkan.
"Mom yakin?" Tanya keduanya sebelum berangkat.
"Iya. Mom yakin. Ayo berangkat. Keburu siang nanti. Mom juga harus antar makan siang ke kantor Dad."
"Iya Mom."
Val melajukan mobilnya setelah anak anak masuk.
Val memarkirkan mobilnya cukup jauh karena tidak bisa memasuki kawasan tersebut. Ia harus berjalan kaki melewati pemukiman kumuh. Ved dan Veer tak berhenti menggenggam tangan Mommynya. Mereka khawatir Val akan mual dan pusing ketika melintasi daerah yang bisa dibilang menjijikkan.
Berjalan cukup lama sambil membawa barang barang yang cukup banyak. Ketiganya sampai di sebuah rumah kayu sederhana yang cukup besar di pinggiran rel kereta.
"Ini sekolahnya?" Tanya Val berhenti sejenak.
"Iya Mom. Mommy nggak papa?"
"Enggak. Ayo."
"Iya."
"Sebentar Mom. Aku panggilin bang Lingga dulu." Veer langsung masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian kembali dengan seorang pemuda yang kita kira berumur 20 tahunan.
"Selamat pagi kak. Saya Lingga pendiri rumah belajar disini. Astaga Nyonya Valerie. Kalian...." Kata Lingga terkejut.
"Iya Kita anaknya Mom."
"Santai aja Kak. Mom umurnya nggak jauh beda dari kakak kok. Jangan panggil Nyonya."
"Ini saya bawa sedikit oleh oleh untuk semuanya."
"Makasih ya Kak. Jadi ngerepotin. Em boleh saya panggil kak saja?"
"Boleh." Jawab Val tersenyum manis.
"Boleh saya lihat ke dalam?"
"Boleh. Mari." Lingga membawa Val masuk untuk melihat kegiatan belajar mereka.
"Selamat Pagi adik adik. Kita hati ini kedatangan Mommynya kak Ved sama Kak Veer."
"Selamat pagi Tante."
"Selamat pagi sayang. Gimana kabarnya?"
"Baik Tante." Jawab mereka dengan semangat. Hati Val terenyuh seketika melihat keadaan di dalam begitu minim. Pakaian mereka juga seadanya demi menuntut ilmu.
"Lingga."
"iya."
"Disini hanya kamu yang mengajar?"
"Iya Kak. Kadang juga dibantu Ved dan Veer. Sebenarnya ada satu teman saya. Tapi dia menikah dan harus ikut suaminya ke Jawa."
"Oh." Val mengangguk paham.
Val dan Lingga sedang bicara serius setelah melihat keadaan di dalam.
"Maaf ya tempatnya tidak nyaman."
"Tidak masalah. Jangan merasa tidak enak begitu. Begini Lingga. Apa kamu nggak pernah dapat info ada sekolah gratis?"
"Pernah. Saya juga pernah datang ke sekolah gratis milik kakak. Tapi katanya kuota sedang ditutup untuk tahun ini."
"Tidak Lingga. Saya dan suami selalu memberi dana. Tidak mungkin ada penutupan kuota. Begini saja. Kamu bisa mengajar di sana sebagai guru yang digaji full. Sayang kan ijazah guru kamu sia sia. Anak anak juga bisa belajar disana gratis. Seragam dan semua keperluan gratis. Nanti akan ada bis untuk Anatar jemput mereka."
"Tapi kak. Dulu saya pernah datang kesana di tolak karena sudah penuh."
__ADS_1
"Nanti saya sama suami akan koordinasi sama pengurusnya. Kalian datang saja bawa surat ini." Val menyerahkan amplop pada Lingga.
"Baik Kak. Terimakasih banyak atas bantuan dan kepeduliannya."
"Sama sama."
Val mengantar anak anaknya pulang setelah menjemput Van.
"Kamu kok di rumah Dad?" Kaget Val melihat suaminya sudah berada di rumah ketika Ia membuka pintu.
"Iya. Aku udah selesai." Jawab Mario kesal. Pria itu langsung pergi dari hadapan istri dan anak anaknya.
"Dad ngambek tuh."
"Dah biarin. Kalian bersih bersih, sholat terus makan ya. Mom siapin."
"Iya Mom." Jawab ketiganya patuh.
Val sedang menyiapkan makan namun suaminya belum juga datang. Ia sudah hafal Mario pasti sedang merajuk karena Ia mengobrol dengan Lingga tadi. Pria itu tak membiarkan Val lepas begitu saja dari pengawasannya. Mario pasti memata matai Val.
"Mom nggak makan disini?" Tanya Veer melihat Mommynya menyiapkan makan di piring.
"Nggak sayang. Mom mau bujuk Daddy kalian ngambek. Nggak papa ya?"
"Nggak papa Mom." Kata Mereka.
"Dad." Panggil Val dengan lembut namun tak mendapat jawaban.
"Daddy nggak makan?"
"Nggak."
"Daddy kenapa? Ngambek?"
"Nggak."
Val meletakkan piringnya di atas meja kemudian merebut ponsel Mario.
"Aku nggak ngambek."
"Bohong dosa. Daddy jangan kaya gini dong." Val memeluk suaminya membuat Mario tersenyum. Dengan begini saja Ia sudah luluh. Perhatian perhatian kecil yang diberikan istrinya mampu membuat pria itu terlena.
"Jangan marah lagi." Katanya sambil mendongak menatap suami.
"Kamu ngapain ngobrol sama laki laki lain."
"Astaga Dad. Aku nggak macem macem. Disana juga ada anak anak."
"Aku nggak suka."
"Iya Maaf. Makan dulu ya."
"Suapi."
"Iya." Val mulai menyuapi suaminya.
"Kamu sudah makan?"
"Belum. Aku masih nunggu dimsum lagi diangetin sama Bibi."
"Bukannya makan nasi."
"Nggak ah. Lagi nggak pengen makan nasi."
"Dad."
"Ya."
"Aku suruh mereka sekolah di sekolah gratis kita sekalian Lingga nanti biar ngajar disana. Kasian dia cuman jadi guru sukarelawan disana nggak dibayar. Ijazahnya jadi sia sia deh."
__ADS_1
"Kamu suka sama dia. Kok kayanya empati banget."
"Astaga. Kamu ngomong apaan sih. Aku niat bantu nggak aneh aneh. Kamu curigaan mulu sama istri. Bawaannya suudzon aja. Dosa Dad."
"Abisnya kamu perhatian gitu sama dia."
"Biasa aja Dad. Sama yang lain aku juga begini. Emang kamunya aja yang berlebihan."
"Maaf. Aku terlalu cemburu." Kata Mario memeluk istrinya. Hanya Val tempatnya bersandar. Ia tak ingin istrinya berpaling melihat laki laki lain.
"Dad udah ngambeknya?" Tanya mereka melihat kedatangan Val dan Mario.
"Diam."
"Mom makan dimsum terus. Kapan makan nasinya?"
"Makan ini Mom udah kenyang. Kalian mau?"
"Mom aja."
"Van mau Mom."
"Sini." Val mengajak anaknya duduk di bawah untuk makan bersama.
"Duduk dia atas kenapa sih By. Kotor itu."
"Enggak, tiap hari kan di Vacum."
"Kamu kalo dibilangin."
"Ved. Veer."
"Iya Dad."
"Suruh Lingga teman kamu itu temui Daddy di rumah."
"Buat apa Dad?"
"Daddy mau tanya tanya."
"Dad."
"Kamu nggak usah protes By."
"Iya." Pasrah Val menuruti keinginan suaminya.
"Mom Van mau potong rambut ya."
"Van sudah tidak nyaman?"
"Iya Mom. Sudah kepanjangan."
"Memangnya Van mau potong seberapa?"
"Sebahu Mom. Nanti Mom antar ya."
"Iya."
"Aku aja yang antar. Van nanti masuk sendiri. Mom sama Dad tunggu di mobil."
"Dad kok gitu."
"Dad." Val menggenggam tangan suaminya berharap pria itu bisa mengalah.
"Cium dulu." Kata Mario tak mau rugi.
"Ih Van yang berurusan kok aku yang jadi korban." Kata Val langsung mencium pipi dan kening Mario.
"Boleh temani Van kan?"
__ADS_1
"Boleh Sayang." Kata Mario tersenyum menang.