
Val terbangun dari tidurnya karena mendengar ponselnya berdering sedaritadi.
"Halo." Jawab Val yang masih terpejam.
Di sebrang sana Mario merasa senang pagi hari sudah mendengar suara dari gadis pujaan. Ia mengamati setiap gerak gerik gadisnya dari layar laptop.
"Val ini Om. Om jemput kamu ya. Kita ke villa. Om sudah izin sama Papi kamu."
"Iya Om. Val mandi dulu." Jawabnya langsung beranjak dari ranjang.
Selesai bersiap Val langsung turun untuk sarapan. Gadis itu tampil cantik dengan short pants, kaos dan kemeja yang tidak dikancingkan dipadukan dengan sneakers. Val memasuki ruang makan. Ternyata Mario sudah berada disana.
"Pagi sayang." pasangan suami istri itu bangkit memeluk anak gadisnya.
"Pagi Mi. Pi. Pagi Om." Sapa Val kepada Mario.
"Pagi Val." Jawab Mario dengan senyum yang mengembang.
"Kita sarapan dulu."
"Iya Mi."
"Mario. Kamu sama Val lihat Villa di puncak kan?"
"Iya kak."
"Oh. Kami titip Val ya."
"Iya. Dia aman sama aku." Kata Mario meyakinkan.
Mario dan Val dalam perjalanan menuju puncak berdua. Senyuman tak pernah luntur dari wajah pria itu.
"Daerah sini agak berkabut ya Om."
"Iya. Ini kita sudah mau sampai."
"Sebentar juga ya. Cuman sejam perjalanan."
"Iya."
"Itu Villa yang mau Om beli udah kelihatan." tunjuk Mario pada Villa bergaya modern yang mewah.
"Papi kamu juga beli di daerah sini. Dia yang rekomendasikan Om untuk beli Villa disini juga."
"Masa sih Om Papi punya Villa disini?"
"Iya."
"Kok nggak pernah cerita."
"Lain kali mungkin. Ayo turun kita sudah sampai."
"Iya Om."
keduanya turun dari mobil.
"Bagus." Kata Val mengamati sekitar.
"Kita lihat kedalam ya."
__ADS_1
"Iya Om." Keduanya memasuki Villa.
Setelah melihat semua detail satu persatu keduanya menuju ke halaman belakang. Val menikmati udara segar yang ada disana. Mario memotret secara diam diam dari belakang. Ia sudah memotret Val sedaritadi namun gadis itu tidak menyadari.
Mario membawa Val masuk untuk menikmati cappucino bersama.
"Bagaimana menurut kamu Val?"
"Kalo menurut Val bagus Om. Tempatnya bersih, nyaman dan tenang."
"Baiklah. Om akan beli Villa ini."
"Eh Om. Itu pendapat Val. Kalo pendapat Om beda ya Val nggak tau."
"Om sependapat sama kamu Val."
"Val. Om boleh tanya sesuatu?"
"Boleh Om."
"Jeje itu siapa?" Tanya Mario pura-pura tidak tahu.
"Oh. Kak Jeje itu anak sahabat Papi dan Mami. Kita tinggal tetanggaan dan karena disana kita ada keturunan Indonesia jadi kita udah akrab kaya saudara."
"Menurut kamu dia orangnya gimana?"
"Baik."
"Ganteng nggak?"
"Biasa aja menurutku."
"Nggak tau. Aku belum pernah suka sama orang Om."
"Cowok ganteng itu kaya apa sih Val menurut kamu?"
"Ganteng itu relatif Om. Val juga nggak tau cowok ganteng itu gimana." Jawab Val jujur.
"Oh. Kalo gitu kita makan siang dulu Val sebelum pulang."
"Iya Om. Aku yang masak. kayanya ada bahan di kulkas."
"Om bantu."
"Yakin?"
"Yakin banget."
Setelah memasak dan makan siang bersama keduanya memutuskan untuk pulang.
Mobil Mario telah sampai di kediaman Thompson.
"Vale." Panggil Jeje langsung berhambur memeluk gadis itu. Mario begitu ingin membunuh laki laki itu namun Ia tahan.
"Nggak mampir dulu?"
"Nggak kak. Masih ada kerjaan soalnya." Kata Mario beralasan padahal dia hanya kepanasan karena kedekatan dua orang itu.
"Baiklah. Hati hati ya. Jangan lupa istirahat. Cari harta jangan terlalu keras."
__ADS_1
"Iya kak. Aku pulang dulu. Val makasih ya. Om pulang dulu."
"Iya Om. Hati hati."
Mereka masuk setelah mobil Mario meninggalkan halaman.
Jeje menyuapi cemilan saat Val sedang tiduran sambil menonton.
"Astaga Val." Kata Mami geram dengan anak gadisnya.
"Apa sih Mi ribut mulu."
"Anak Papi daritadi disuruh mandi nggak berangkat juga. Ini sudah sore."
"Nanti Mi. Filmnya belum habis." Jawabnya tanpa mengalihkan fokus.
"Val sayang mandi dulu."
"Nanti ya Pi."
"Sekarang sayang. Val mandi ya."
"Iya Pi." Val merebut bungkus keripik yang di pegang Jeje lalu pergi.
"Astaga Vale." Jeje mengejar gadis itu.
"Kok dia nurutnya sama Papi."
"Yang soft kalo ngomong sama dia."
"Mami kurang lembut gimana coba."
"Tau ah Mi. Papi bingung." Katanya meninggalkan istrinya untuk duduk di sofa.
Pukul 2 dini hari Mario baru saja pulang dari club dalam keadaan mabuk. Ia hanya frustasi dan melampiaskannya pada minuman haram berharga mahal itu. Ia tidak main wanita karena baginya wanita adalah satu yaitu Valerie seorang. Para penjaga langsung membawa tuannya ke kamar. Mereka tak berani mengganti pakaian Mario yang berbau alkohol menyengat.
Pagi hari sekitar jam 8 Mario baru bangun. Pria itu biasanya bangun pagi sekali untuk berolah raga. Namun karena gadis yang telah membolak balikkan hatinya Ia selalu telat bangun karena malam minum sampai larut. Selesai mandi dan berpakaian Ia menuju ke bawah untuk sarapan. Langkahnya berbelok karena mendengar suara berisik dari luar yang mengganggu.
"Aku ingin bertemu Mario." Kata Seorang wanita bernada tinggi.
"Nona keluar. Tuan tidak ingin bertemu siapapun. Jika Nona tidak keluar juga. akan kami seret." Kata seorang penjaga memberi peringatan.
"Ada apa ini?" Mario keluar dengan wajah dinginnya.
"Nona menerobos masuk Tuan." Katanya takut dengan kelalaian yang mereka buat.
"Mario. Aku khawatir dengan keadaanmu. Semalam kau mabuk di club'." Kata Wanita berpakaian kurang bahan itu.
"Pergi Laura. Sudah berapa kali aku bilang jangan ganggu aku."
"Aku hanya menghawatirkan keadaanmu."
Mario tidak tahan lagi. Ia meraih tangan Laura dan menyeretnya dengan kasar untuk keluar. "Jika kau kembali lagi. Akan kubunuh kau." Ancamnya.
"Sampai kejadian ini terulang lagi. Kalian tau akibatnya."
"Baik Tuan. Kami minta maaf."
Mario masuk ke dalam rumah langsung mencuci tangannya berkali kali. Ia sangat jijik dengan apa yang Ia pegang barusan. Pikirannya teringat lagi pada bibir Val dan kejadian di mobil waktu itu.
__ADS_1
Ia begitu ingin merasakan bibir merah Cherry mungil milik Val yang begitu lembut dan lembab. Mario menggigit bibir bawahnya. "Val ku sayang." Gumamnya membayangkan wajah cantik gadis itu.