Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
(Season 2) #22 Pergi Untuk Melupakan


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu sejak perjalanan ke Blitar. Sejak hari itu Difan selalu murung dan sering menyendiri di kamarnya. Difan hanya keluar saat makan dan keluar rumah.


"Selamat pagi Pak Difan." sapa Pak Agus, satpam di SMA Pratama.


"Pagi Pak." Difan langsung menuju ke ruang kepala sekolah.


"Assalamualaikum Pak." Difan mengetuk pintu ruang kepala sekolah.


"Waalaikumsalam. Silahkan masuk." jawab suara di dalam ruangan.


"Permisi Pak saya ada keperluan." kata Difan.


"Pak Difan. Silahkan Pak. Bagaimana kondisi Bapak ?" tanya Pak Burhan, kepala sekolah.


"Alhamdulilah sudah pulih Pak." jawab Difan sambil duduk di hadapan Pak Burhan.


"Saya turut berduka cita ya Pak atas meninggalnya Bu Fitri." tak semua orang di sekolah mengetahui hubungan Difan dan Fitri.


"Terima kasih Pak." jawab Difan.


"Semoga Pak Difan bisa ikhlas dan sabar." kaat Pak Burhan lagi.


"Insha Allah Pak. Saya ada keperluan sama Bapak." kata Difan.


"Silahkan Pak. Kalau bisa pasti akan saya bantu." ucap Pak Burhan.


"Saya ingin mengundurkan diri Pak." kata Difan singkat.


"Apa Bapak yakin ? Sayang lih, banyak murid yang suka belajar sama Bapak disini." Pak Burhan coba membujuk Difan.


"Saya sudah mendaftar Guru Bantuan di daerah Pak." Difan menjelaskan.


"Ya kalau memang Bapak sudah yakin seperti itu saya hanya bisa mendukung." kata Pak Burhan.


"Saya mau minta surat rekomendasi mengajar dari Bapak." kata Difan lagi.


"Akan segera saya siapkan. Besok bisa Bapak ambil kesini." kata Pak Burhan.


"Terima kasih Pak. Satu lagi, tolong rahasiakan ini semua ya Pak. Jangan sampai keluarga saya tahu." pesan Difan sebelum keluar dari ruangan.


"Baik Pak. Sekali lagi saya turut berduka cita Pak." Pak Burhan mengantar Difan sampai pintu.


"Terima kasih Pak. Assalamualaikum." Difan pun menuju ke tempat parkir.


"Kak Difan ? Sudah masuk lagi Kak ?" tak sengaja Difan berpapasan dengan Aca.


"Aca. Belum. Saya cuma lagi ada keperluan aja." Difan merasa tak siap untuk bertemu siapapun disekolah.


"Kak, Aku turut sedih ya atas meninggalnya Kak Fitri." kata Aca yang mengikuti Difan sampai ke parkiran.


"Makasih ya Ca. Eh, kamu ngapain ikut sampai sini ?" Difan menatap tajam pada Aca.


"Hehehe. Gak sengaja Kak jadi ngikutin sampai sini." jawab Aca.


"Ya sudah kembali ke kelas sana. Kan belum jam istirahat." kata Difan.


"Siap Pak guru. Lagi kelas kosong juga kok. Tadinya mau ke perpus ngembalikan buku." Aca menunjukkan buku yang dibawanya.


"Oh ya sudah. Kakak pulang dulu ya." Difan langsung pamit.


Aca memperhatikan Difan hingga menghilang dari sekolah.


"Apa aku salah ya kalo merasa bahagia melihat Kka Difan." gumam Aca dalam hati. "Semoga masih ada kesempatan buatku bisa dekat dengan Kak Difan." ucapnya lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Keesokan harinya Difan kembali lagi ke SMA Pratama untuk mengambil surat rekomendasi mengajar. Untungnya kali ini Difan tak bertemu lagi dengan Aca sehingga bisa langsung kembali lagi ke rumah. Sebelum pulang ke rumah, Difan mampir dulu ke sekretariat Guru Bantuan Daerah.


"Pak, saya ingin menyerahkan persyaratan menjadi guru bantuan daerah." Difan memberikan semua persyaratan dalam map.


"Saya cek dulu Pak. Silahkan duduk." kata petugas itu.


"Terima kasih." Difan pun duduk di hadapan petugas.


"Persyaratan sudah lengkap. Kapan Bapak siap berangkat ?" tanya petugas.


"Kapan pun saya siap Pak." jawab Difan.


"Kebetulan 2 minggu lagi ada pemberangkatan menuju timur. Apa Bapak bersedia ?" tanya petugas itu lagi.


"Insha Allah saya siap Pak." Difan menggangguk.


"Baiklah. Saya akan daftarkan nama Bapak dulu. Nanti akan saya kabari lagi kepastian berangkatnya." kata petugas itu.


"Baik Pak. Saya tunggu kabarnya." Difan pun pamit pulang.


Sampai di rumah Difan hendak menuju kamarnya.


"Kamu sudah pulang Nak ?" tanya Yoan.


"Iya Ma. Mama gak ke Cake shop ?" tanya Difan basa - basi.


"Gak. Mama abis batalin catering sama dekor." jawab Yoan.


"Maaf ya Ma. Aku jadi ngerepotin Mama. Harusnya aku aja yang batalin semuanya." Difan mendekat pada Mamanya.


"Gak papa Sayang. Kamu kapan mau mengajar lagi ?" tanya Yoan membuat Difan kaget dengan pertanyaan Yoan.


"Apa Mama tahu ya kalo aku mau pergi?" batin Difan sambil menatap Mamanya.


"Belum tahu Ma. Difan mau istirahat dulu." jawab Difan gugup.


"Nanti aja Ma. Difan mau ke kamar dulu." Difan mencium pipi Mamanya dan berlalu ke kamarnya. Yoan hanya bisa menatap punggung Difan yang terlihat rapuh itu.


"Sungguh kasihan kamu Nak. Semoga kamu kuat dan Ikhlas dengan semua ini." gumam Yoan dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah 2 hari akhirnya Difan mendapat kabar bahwa pendaftarannya disetujui. Dia pun akan berangkat 10 hari lagi. Difan sudah tak sabar untuk mengabarkan hal ini pada keluarganya.


Kebetulan nanti malam Dafa dan Hana akan makan malam di rumah ini. Saat yang tepat bagi Difan mengumumkan kepergiannya.


Malam harinya mereka semua berkumpul dan makan malam bersama.


"Ayo Kak, makan yang banyak. Kakak udah mulai kurus loh !" kata Vanya pada Difan.


"Iya Dek. Makasih ya." jawab Difan.


"Coba yang ini Fan. Enak loh. Aku yang bikin sendiri." Hana menyodorkan sepiring semur daging pada Difan.


"Makasih ya Han." Difan mengambil daging sepotong.


"Sayurnya jangan lupa Fan." kata Dafa sambil mendekatkan piring capcay pada Difan.


"Makasih Fa." Difan mengambil sesendok capcay dan menaruh ke piringnya.


"Nih, Mie goreng kesukaan kamu." Yoan menyendokkan mie ke piring Difan.


"Fan.." Topan gak mau kalah dengan istri dan anak - anaknya.


"Apa lagi Pa ? Piring Difan udah penuh nih !" Difan memotong ucapan Topan.

__ADS_1


"Apaan sih ? Papa cuma mau bilang.. Makannya pelan - pelan. Hehehe." kata Topan.


"Kirain Papa mau nambahin lauk lagi ke piring Difan." jawab Difan sambil menunduk malu.


Semuanya pun tertawa melihat tingkah anak dan bapak itu. Difan sangat menikmati suasana akrab seperti malam ini. Dan hal ini akan menjadi hal yang sangat dirindukan olehnya setelah pergi ke daerah.


"Ma, Pa, Ada yang ingin Difan sampaikan." kata Difan saat menikmati puding buatan Hana.


"Ada apa Nak ?" tanya Yoan.


"Difan mau minta maaf sebelumnya. Maaf kalo Difan mengambil keputusan ini sendiri tanpa diskusi dengan kalian." kata Difan.


"Ada apa ?" Topan berubah serius mendengar perkataan Difan.


"Difan akan pergi menjadi guru bantuan daerah. "Kata Difan sambil menundukkan wajahnya. Bersiap untuk mendengar penolakan dari orangtuanya.


"Akhirnya apa yang kita takutkan terjadi juga Ma." Topan menatap Yoan yang sudah berkaca - kaca.


"Kenapa harus pergi lagi sayang ?" tanya Yoan menahan tangisnya.


"Yakin Ma. Difan butuh suasana baru untuk melepaskan bayangan Fitri." jawab Difan.


"Apa kamu yakin ? Berat loh jadi guru bantuan di daerah." tanya Topan.


"Insha Allah Pa. Difan sangat yakin." Difan menatap Topan dan Yoan bergantian.


"Kapan sayang ? Dimana ?" tanya Yoan lagi.


"10 hari lagi Difan berangkat. Tempatnya di NTT." jawab Difan.


"Kok cepet banget sih Nak ?" Mata Yoan yang mulai berkaca - kaca.


"Lebih cepat lebih baik." kata Difan dalam hati.


"Berapa lama Fan ?" Dafa ikut bertanya.


"Kalau rencana sih sekitar 2-3 tahun. Bisa juga diperpanjang." Difan menjelaskan.


"Baiklah. Papa dan Mama mengijinkan kamu berangkat." kata Topan.


"Makasih Pa, Ma." Difan mencium tangan Topan dan Yoan bergantian.


"Tapi kamu harus janji, kamu harus mengabdikan diri sepenuh hati. Jangan hanya sebagai pelarian." pesan Topan.


"Siap Pa. Insha Allah Difan akan mengabdikan diri sepenuh hati." Difan memeluk Yoan yang menangis karena harus melepas lagi putranya.


"Semoga setelah ini hanya bahagia yang menghampirimu Nak." kata Yoan sambil membelai Difan.


"Aamiin. Makasih Ma." Difan mencium pipi Mamanya.


"Aamiin." Yang lain pun ikut mengaminkan ucapan Yoan.


Sebelumnya Author mau minta maaf karena jarang update.


Sepertinya karena banyak kesibukan lain di dunia nyata, cerita ini akan segera tamat.


Jangan lupa tetap dukung Author..


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..


Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2