
Usia kandungan Sissy sekarang sudah 4 bulan. Baby bule juga sudah usia 2 bulan. Sissy masih tinggal di Malang menemani Mama yang kondisinya semakin drop. Bahkan dalam bulan ini sudah 2 kali masuk rumah sakit. Karena Mama gak mau dirawat di rumah sakit akhirnya Sissy dan Ochy memutuskan untuk merawat Mama di rumah.
Pagi itu kondisi Mama tiba - tiba ngedrop. Dari semalam sebenarnya sudah mulai terasa sakit di lambungnya tapi masih bisa diobati. Menjelang subuh Mama tiba - tiba demam dengan tubuh yang menggigil. Akhirnya Sissy dan Rio membawanya ke rumah sakit. Kebetulan Rio sedang libur dan berada di Malang. Kondisi Mama masih kritis dan harus dibawa ke ICU.
Ochy datang tergopoh - gopoh ke rumah sakit dengan diantar Nico karena Matt sedang berada di Bali mengurus bisnisnya.
"Mama gimana De?" tanya Ochy.
"Masih dicek sama dokter Teh. Kondisinya masih ngedrop." Sissy terlihat sedih.
Ochy duduk disebelah Sissy dan memeluk adiknya untuk saling menguatkan.
"Kita berdoa ya De. Semoga Mama bisa melewati semuanya." Ochy berkata lirih.
"Iya Teh." jawab Sissy terisak - isak.
Tak lama dokter keluar dari ruang ICU dan menghampiri Sissy dan Ochy.
"Gimana kondisi Ibu saya?" tanya Ochy.
"Kondisi Bu Yani masih lemah. Jadi akan dirawat intensif disini dulu." jawab dokter.
"Kalian yang sabar dan banyak berdoa ya." Dokter menepuk pelan bahu Rio dan berlalu meninggalkan mereka.
"Kita boleh masuk?" tanya Sissy.
"Boleh. Tapi sebentar aja ya." jawab suster.
"Iya Sus." Sissy dan Ochy masuk ke dalam ruang ICU dan menemui Mama.
"Ma, jangan sakit dong." Sissy memegang lembut tangan Mama.
"Maafin Mama ya De. Udah sering ngerepotin kamu." Mama menjawab dengan suara pelan karena tertutup oleh masker oksigen.
"Enggak Ma. Mama gak pernah ngerepotin kita. Itu memang sudah kewajiban kita untum menjaga Mama." Sissy menciumi tangan Mama.
"Maafin Mama juga ya Teh. Kalian harus akur ya." Mama menatap Ochy dengan lekat.
"Mama gak salah kok, malah kita yang banyak salah." Ochy menggenggam lembut tangan Mama.
"Mama udah capek Teh, De." kata Mama lirih hampir tak terdengar.
"Mama pasti kuat. Mama pasti sembuh lagi." Ochy menahan airmatanya agar tak keluar.
"Mama kan janji mau lihat anak aku nanti." kata Sissy sambil mencoba tersenyum pada Mama.
__ADS_1
"Mama gak bisa De." Mama meneteskan airmatanya.
"Mama pasti bisa. Kita selalu doain Mama." Ochy menghapus airmata Mama.
"Maaf Bu. Silahkan menunggu di kuar, biar Bu Yani bisa istirahat." suster menghampiri mereka.
"Iya sus. Ma, kita tunggu di luar ya." Ochy pamit pada Mamanya. Sissy ikut pamit seelah mencium kening Mama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sudah 3 hari Mama dirawat di ICU. Kondisinya pun masih belum membaik. Sissy, Ochy, Rara, dan Reva bergantian menjaga di pagi hingga sore hari. Sedangkan Matt dan Rio bertugas jaga di malam hari.
Siang itu Ochy yang sedang menjaga Mama ditemani oleh Matt. Sissy baru saja pulang karena sudah kelelahan beberapa hari jaga di depan ruang ICU. Sejak pagi perutnya memang terasa kram dan kaku.
"Kamu kenapa Dek?" tanya Rio melihat Sissy masuk kamar dengan memegang perutnya.
"Perutku sakit Mas. Dari tadi ilang datang kram nya." jawab Sissy sambil duduk di tepi ranjang.
"Kita ke dokter ya Dek." Rio terlihat panik melihat Sissy yang kesakitan.
"Nanti Mas. Aku mau tiduran dulu aja. Biar ilang sakitnya." jawab Sissy sambil merebahkan badannya di ranjang.
"Yawda. Aku mau lihat anak - anak dulu." Rio mencium kening Sissy dan keluar dari kamar.
Tak lama Rio mendengar suara teriakan Sissy dari kamar mandi. Rio pun segera berlari ke kamar dan melihat Sissy sudah terbaring di lantai kamar mandi dengan darah yang mengalir di kakinya.
"Mas, sakit.." kata Sissy sebelum pingsan.
Rio langsung mengangkat dan menggendong Sissy menuju ke rumah sakit. Untungnya jalanan sangat lancar. Sissy langsung ditangani di ruang IGD.
"Gimana kondisi istri dan anak saya dok?" tanya Rio ketika melihat dokter keluar dari ruang IGD.
"Maaf Pak. Istri anda memgalami keguguran. Sekarang masih dibersihkan." kata dokter sambil menepuk pelan bahu Rio.
"Innalilahi. Tapi kondisi istri saya gimana dok?" tanya Rio lagi.
"Bu Rissya sudah sadar. Sekarang masih dibersihkan, perlu di operasi untuk mengeluarkan janin dan pembersihan rahimnya." kata dokter sambil menyuruh Rio mengurus administrasinya.
Operasi berjalan sekitar satu jam. Sambil menunggu, Rio menghubungi Ochy untuk mengabarkan berita duka ini.
"Yang sabar ya Dek. Allah lebih sayang sama anak ini." kata Rio sambil mengusap airmata di pipi istrinya.
Sissy tak menjawabnya hanya berusaha menangis menyesali kecerobohannya yang tak bisa menjaga anak di kandungannya.
"Kamu istirahat dulu ya. Aku mau lihat Mama dulu di ICU." Rio meninggalkan Sissy yang sudah tertidur karena efek obat habis operasi.
__ADS_1
"Gimana kondisi Mama Teh?" tanya Rio.
"Mama kritis Yo. Masih ditangani sama dokter. Gimana kondisi Sissy?" tanya Ochy.
"Masih pemulihan Teh. Ya pasti terpukul lah." kata Rio.
"Ya Allah. Yang sabar ya kalian." Ochy memeluk Rio menenangkannya.
"Keluarga Bu Yani?" dokter keluar dari ruang ICU.
"Iya dok." Matt maju mendekati dokter.
"Bu Yani ingin ketemu dengan anaknya." kata dokter itu.
"Ochy, Matt dan Rio masuk ke dalam ruang ICU.
"Ochy, Matt kalian yang akur ya. Maafin Mama gak bisa bersama kalian lagi." kata Mama lirih.
"Mama ngomong apa sih? Mama gak bakal kemana - mana." Ochy memegang tangan Mama erat.
"Rio, Maafin Mama. Tolong jagain Sissy, sayangi dia dan anak - anak kalian. Maafin Mama harus ajak anak kamu buat nemanin Mama." Mama memegang tangan Rio.
"Mama harus ngomong sendiri sama Sissy." Rio menatap Mama.
"Mama udah gak kuat. Waktu Mama juga sudah habis. Kamu sama adik mu harus akur ya Teh." Mama membelai lembut rambut Ochy.
"Iya Ma. Maafin kami semua belum bisa bahagiain Mama." Ochy tak dapat lagi menahan tangisnya.
"Mama sangat bahagia memiliki anak dan mantu seperti kalian. Mama sudah bahagia." Mama tersenyum menatap mereka bergantian.
Rio pun menuntun mertuanya untuk mengucap 'La illaha illallah'. Hingga akhirnya Mama benar - benar terdiam tak bergerak.
"Innalilahi wa inna lilahi rojiun." dokter mengecek Mama yang sudah tak bernyawa.
"Mama..." Ochy berteriak memanggil mamanya.
"Kalian harus ikhlas biar almarhumah tenang." kata dokter meninggalkan mereka.
"Yang sabar Teh. Kita tak boleh menangisi Mama berlebihan. Kasihan Mama." Rio menenangkan Ochy yang menangis dalam pelukan Matt, suaminya.
"Biar saya hubungi orang rumah sama biar menyiapkan di rumah." Rio beranjak keluar dari ruang ICU.
Jangan lupa dukung terus ya..
Jangan lupa Likeπ, Komen dan Vote..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung