
7 bulan kemudian
Pagi itu Aca terlihat mondar mandir di kamarnya.
"Kamu kenapa sayang ?" tanya Difan.
"Perutku sakit Kak. Kayaknya kontraksi deh." jawab Aca.
"Kamu udah mau melahirkan ?" Difan mulai panik.
"Belum Kak. Tapi udah mulai sakit." Aca berusaha tenang. Dia membawa bahwa kontraksi akan hilang setelah beberapa saat dan akan berlangsung secara berkala.
"Apa aku gak usah ke kampus ya Ca ?" Difan ingin menemani Aca saat melahirkan.
"Gak Kak. Ini baru tahap awal. Kakak ngajar dulu aja. Lagian kan ada Ayah sama Bunda di rumah." kata Aca.
Aca pun menemani Difan sarapan.
"Kamu sudah mulai kontraksi Ca ?" tanya Sissy yang melihat Aca meringis menahan sakit.
"Iya Bun. Tapi masih sejam sekali." Aca mengusap punggungnya untuk mengurangi rasa sakit.
"Sepertinya kamu akan melahirkan hari ini." kata Sissy.
"Aku di rumah aja deh sayang, nemenin kamu." Difan menghentikan makannya.
"Jadwal kamu padat hari ini ?" tanya Sissy.
"Hari ada ngajar 3 kelas. Mungkin sampe jam 12." jawab Difan.
"Sebaiknya kamu ngajar aja. Ini juga masih pembukaan awal. Masih lama kok. Nanti biar Bunda sama Ayah yang bawa ke rumah bersalin." kata Sissy.
"Iya Bun. Nitip Aca ya." pamit Difan sebelum berangkat ke kampus.
"Iya Nak. Kamu fokus ngajar aja ya." Rio menepuk bahu Difan.
"Sayang, aku tinggal dulu ya. Nanti aku temenin kamu saar melahirkan." ucap Difan sambil mencium kening Aca. Tak lupa perut besar Aca pun diciumnya.
"Papa berangkat dulu ya sayang. Kalian vaik - baik disana ya." pesan Difan pada anak - anaknya yang masih di dalam perut Aca.
"Iya Papa. Hati- hati." Aca bersuara kecil seolah si kembar yang menjawab.
Beberapa jam kemudian..
__ADS_1
"Bun... Ini air apa ya ?" tanya Aca yang panik melihat air berwarna sedikit keruh mengalir dari se******** nya.
"Sayang, ini air ketuban. Kamu sudah mau melahirkan. Apa terasa mulas ?" Sissy balik bertanya.
"Sedikit Bun." jawab Aca.
"Kamu tenang ya. Kita ke rumah sakit sekarang." kata Sissy.
Sissy pun memanggil Rio dan memintanya membawakan barang milik Aca.
Sambil menyetir, Rio menghubungi Difan agar segera mnyusul ke rumah bersalin.
Aca sudah berada di dalam ruang persalinan saat Difan sampai. Suster pun mempersilahkan Difan untuk masuk mendampingi istrinya melahirkan. Tak butuh waktu lama akhirnya terdengar suara tangisan bayi.
"Alhamdulilah Yah. Kita sudah punya cucu." Sissy memeluk Rio sambil menangis bahagia.
"Iya. Alhamdulilah Bun." Rio mengusap lembut kepala Sissy.
Hanya berselang 2 menit, terdengar lagi tangisan bayi yang kedua. Sissy mengeratkan pelukan pada suaminya.
"Selamat ya sayang. Kamu sudah jadi Mama sekarang." Sissy mencium kening putrinya yang masih lemas pasca melahirkan.
"Makasih Bun. Akhirnya di kembar lahir juga." Aca menjawab lirih. Saat itu Difan sedang mengadzani si kembar ditemani oleh Rio.
Setelah selesai, Difan masuk ke ruang perawatan Aca bersama dengan suster yang membawa bayi mereka.
Sudah setahun ini Ical pindah ke Malang dan mulai membuka usaha sendiri disana.
Ical sedang mengantar Sissy untuk berbelanja. Karena hari ini Aca, Difan dan anaknya yang masih bayi akan datang liburan ke Malang.
"Sayang, tolong kamu ambilkan deterjen cair At*** yang besar. Sama Ra**** yg refill juga." kata Sissy.
"Mau dimasak juga Bun ?" tanya Ical iseng.
"Iissh.. Nih anak. Ya gak lah. Sekalian beli mumpung kesini." Sissy menjawab sedikit kesal.
"Ya becanda Bun." Ical langsung pergi mengambil pesanan Bundanya.
Setelah mengambil barang yang disuruh Sissy, Ical pun kembali menuju Sissy yang sedang memilih buah - buahan. Tampak olehnya sang Bunda sedang berbincang dengan seorang wanita berhijab. Saat sekilas tampak wajah wanita itu, Ical segera mempercepat langkahnya. Dia sangat yakin wanita itu adalah sosok yang dicarinya selama ini.
"Loh Bun. Wanita yang tadi bicara sama Bunda kemana ?" Ical tak menemukan wanita itu saat sudah ada di samping Sissy.
"Oh dia pergi kesana." Sissy menunjuk ke arah kasir. Difan langsung menyimpan barang yang dibawanyake dalam troli dan bergegas menyusul wanita itu.
__ADS_1
"Cal, Kamu mau kemana ? Kok Bunda ditinggalin ?" teriak Sissy.
"Bentar Bun. Urusan penting." jawab Ical sambil mempercepat langkah kakinya.
Ical mencari ke setiap kasir tapi wanita itu tak nampak juga. Akhirnya Ical kembali ke Bundanya dengan langkah gontai.
"Kamu kenapa lesu gitu sih Nak ?" tanya Sissy sambil menatap sang anak.
"Gak apa - apa Bun." jawab Ical sambil menunduk.
"Kamu yakin ?" Sissy sangat yakin ada sesuatu yang terjadi dengan anaknya.
"Iya. Ayo Bun kita cepetan pulang. Nanti Aca keburu datang." Ical coba mengalihkan pembicaraan. Sissy sangat yakin hal yang mengganggu putranya berkaitan dengan wanita tadi.
"Apa Ical kenal dengan wanita tadi ya ? anaknya sih ramah." gumam Sissy dalam hati. Sepanjang perjalanan pulang Sissy terus memikirkan hal itu hingga tanpa disadarinya merka sudah sampai di rumah.
"Bun, kita udah sampai loh. Kenapa Bunda diam aja." tanya Ical yang melihat Sissy melamun.
"Bun.. Bunda..." Ical menggerakkan tangannya di depan muka Sissy karena gak ada tanggapan.
"Eh iya. Udah sampai ya. Maaf Bunda melamun." jawab Sissy.
"Bunda mikirin apa sih ?" tanya Ical.
"Mikirin wanita tadi yang ngobrol sama Bunda. Orangnya cantik, lembut, sopan." Sissy sengaja ingin memancing reaksi Ical.
"Bunda kenal ?" tanya Ical.
"Namanya Avi. Bunda kenal sama dia di tokonya temen Bunda. Dia dulu kerja disana tapi sekarang sudah berhenti. Kamu kenal ?" Sissy balik bertanya.
"Ooh. Gak Bun gak kenal." Kata Ical singkat.
"Ternyata wanita tadi benar Avi." Gumam Ical dalam hati.
Sebenarnya Ical penasaran juga dengan cerita Bundanya tapi dia pura - pura tidak tertarik biar Bundanya gak curiga. Biarlah dia mencari tahu sendiri keberadaan Avi. Kalau memang Avi jodohnya pasti akan dipertemukan bagaimanapun caranya.
Apa wanita itu Avi ? Segera ya kita bikin kisah cinta antara Ical dan Avi.. Di judul yang baru tentunya.
"Mengejar Cinta Shavira"
Makasih udah setia membaca cerita ini. Maafkan kalo lama sekali update nya.
Insha Allah pertengahan Juni cerita tentang Ical dan Avi release ya..
__ADS_1
Makasih.. Luv U all.. 😘😘🤗🤗
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.