Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
(Season 2) #21 Menerima Kenyataan


__ADS_3

Sudah seminggu Difan dirawat di rumah sakit. Setelah siuman, Topan langsung memindahkan Difan ke rumah sakit yang dekat dari rumah mereka.


"Ma, kenapa Fitri gak jengukin aku ?" tanya Difan saat Yoan sedang menyuapinya.


"Kondisi Fitri juga belum pulih sayang." kata Yoan sambil menunduk. Berusaha menyembunyikan kenyataan dari Difan adalah hal yang berat bagi mereka semua terutama Yoan. Sebagai Ibu, hati Yoan merasa teriris setiap Difan menanyakan mengenai calon istrinya itu.


"Kalau aku sudah keluar, aku mau langsung menemui Fitri di Blitar Ma." kata Difan.


"Makanya kamu harus cepat sembuh ya Nak." Yoan menyemangati Difan.


"Iya Ma. Ini juga udah gak sakit kok Ma." Difan terlihat bersemangat.


"Apa yang akan terjadi nanti kalau dia tahu kenyataan yang sebenarnya. Rasanya aku gak tega membayangkannya." gumam Yoan dalam hati.


3 hari kemudian Difan sudah diperbolehkan pulang.


Dafa menjemput Difan dan Yoan di rumah sakit.


"Alhamdulilah kamu udah boleh pulang Fan." kata Dafa yang memandang saudara kembarnya dari kaca spion.


"Iya. Aku udah gak sabar mau ke Blitar jenguk Fitri." kata Difan sambil tersenyum.


"Iya. Kalau sudah pulih nanti aku antar ke Blitar." Dafa menawarkan pada Difan.


"Makasih ya Fa." jawab Difan.


Yoan merasa sedih mendengar percakapan kedua anaknya itu. Sebagai saudara kembar mereka saling menguatkan.


"Semoga Difan bisa kuat saat mengetahui kenyataan soal Fitri." gumam Yoan dalam hati.


Saat tiba di rumah, Dafa membantu Difan berjalan menuju kamarnya.


"Kamu istirahat ya Fan. Nanti Mama bawain makan siang." kata Yoan sambil menyelimuti Difan.


"Aku mau makan di ruang makan aja Ma. Biar cepat sembuh juga." kata Difan.


"Iya." Yoan pun meninggalkan Difan di kamarnya.


"Fit, kamu gimana kabarnya ? Aku kangen banget." kata Difan sambil memandangi foto calon istrinya itu.


"Tunggu aku ya Fit, Aku akan segera jenguk kamu." kata Difan sambil menyimpan kembali foto Fitri dan dirinya di atas meja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Akhirnya setelah beristirahat selama seminggu di rumah, Difan pulih seperti sedia kala. Hanya menyisakan sedikit luka yang mulai mengering di tangannya. Hari ini Difan pun berangkat ke Blitar untuk menjenguk calon istrinya. Diantar oleh Dafa, Mama dan Papanya, mereka berangkat pagi. Sepanjang perjalanan Difan merasakan jantungnya berdebar kencang.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Fitri ? Kenapa aku deg - deg an gini." Difan berkata dalam hati.


Setelah 2 jam, mereka sampai di rumah Pakde nya Fitri.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Difan mengetuk pintu dan memberi salam.


"Waalaikumsalam." jawab Tama yang memyambut kedatangan Difan dan


keluarganya.


"Pakde.. Gimana kabarnya ?" tanya Difan sambil mencium punggung tangan Tama.


"Alhamdulilah baik Nak." Tama sambil mempersilahkan mereka semua duduk.


"Fitri dimana Pakde ?" Difan tak sabar beremu dengan pujaan hatinya.


"Fitri sedang bersama Bude mu di pemakaman Orang tuanya." jawab Tama sedikit gugup.


"Ngapain Pakde ? Lama gak ya ?" tanya Difan mulai gelisah.


"Apa kita susul saja mereka kesana ?" usul Topan pada anaknya.


"Iya kita susul aja. Difan udah kangen sama Fitri." jawab Difan antusias. Yoan merasa sedih melihat Difan yang bersemangat untuk bertemu Fitri. Yoan dan Topan saling berpandangan, merasa tak tega membayangkan reaksi Difan mengetahui Fitri sudah tiada.


"Pa, gimana ini ? Mama gak tega." bisik Yoan pada suaminya.


"Ya mau gimana lagi Ma. Cepat atau lambat Difan harus tahu semuanya. Kita harus menguatkan dia." Topan memeluk dan mengusap lembut bahu istrinya.


Tak lama mereka sampai di pemakaman. Difan melihat Bude Ayu sedang bersimpuh di sebuah gundukan tanah di sebelah makam Ibu Fitri.


"Bu, ada Difan dan keluarganya." Ayu langsung menoleh mendengar ucapan suaminya.


"Kenapa Bude ? Fitri mana ?" tanya Difan sambil matanya mencari sosok Fitri.


"Kamu yang sabar ya Nak. Ikhlasin Fitri biar dia tenang disana." kata Ayu lagi.


"Maksudnya apa Bude ?" Difan mulai merasa aneh dengan ucapan Ayu.


"Kamu tenang ya Nak. Semua sudah takdir dari Allah." Yoan mengusap lembut punggung anaknya.


"Fitri mana ? Apa yang terjadi dengan Fitri ?" Difan mulai berteriak histeris.


"Fitri sudah tiada Nak. Dia meninggal saat kecelakaan itu." Topan berkata dengan pelan.


"Innalilahi wa innaillaihi rojiun." Difan langsung melangkah mendekat ke makan Fitri.


"Maafin aku ya sayang. Gak bisa menjaga kamu." Difan mengusap nisan Fitri seolah sedang berbicara padanya.


"Fitri sudah bahagia berkumpul dengan orangtuanya. Kamu harus ikhlas." kata Yoan lagi.


"Kenapa kamu ninggalin aku sayang. Sebenatar lagi kita akan menikah." kata Difan di sela tangisannya.


"Ini semua sudah diatur oleh Allah. Kamu harus tegar dan bangkit lagi Nak." Ayu memeluk Difan.

__ADS_1


"Maafkan saya Bude. Gak bisa jagain Fitri." kata Difan sambil memegang tangan Ayu.


"Bukan salah kamu Nak. Biarkan Fitri tenang disana." kata Ayu sambil tersenyum pada Difan.


"Iya Nak. Kamu harus mengikhlaskan Fitri." Yoan mendekat pada mereka.


"Insha Allah Ma." Difan memeluk mamanya.


"Kita pulang ke rumah dulu ya Nak." ajak Tama.


Difan hanya mengangguk dan Mengikuti langkah mereka.


Difan mampir sebentar di rumah Pakde Tama. Tama menceritakan semuanya tentang kecelakaan yang merenggut nyawa Fitri. Ayu juga ikut menambahkan ucapan terakhir Ayu yang membuatnya cemas.


Difan hanya diam saja mendengar semuanya bercerita. Di dalam hatinya Difan sangat sedih dan terpukul dengan kepergian Fitri. Yoan yang melihat kesedihan Difan pun mengajak Topan untuk pulang.


"Pa, kita pulang aja yuk. Kasian Difan." bisik Yoan.


"Iya Ma. Papa juga kasian lihat anak itu." Topan ikut berbisik.


"Fan, kamu kok diam aja sih ?" Dafa menyenggol Difan yang duduk di sebelahnya.


Difan hanya terdiam sambil melirik sekilas pada Dafa.


"Pak, Bu, sepertinya kami harus pamit sekarang. Difan butuh istirahat." ucap Topan.


"Iya Pak. Kami mengerti. Difan pasti masih shock dan berduka." ujar Tama.


Mereka pamit dan kembali menuju Malang. Sepanjang perjalanan pun Difan hanya diam saja sambil memandang keluar jendela. Yaon yang duduk di bangku belakang di sebelah Difan hanya bisa memeluknya erat.


"Kamu yang sabar ya Nak." kata Yoan lembut sambil mengusap rambut Difan.


"Makasih Ma." Difan menatap dan tersenyum lembut pada Mamanya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Aku gak bisa hidup tanpa kamu Fit." Difan berkata dalam hati.


Apakah Difan akan kembali bangkit sepeninggal Fitri ?


Sebelumnya Author mau minta maaf karena jarang update.


Sepertinya karena banyak kesibukan lain di dunia nyata, cerita ini akan segera tamat.


Jangan lupa tetap dukung Author..


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏


Bersambung


__ADS_2