
Aca menutup pintu kamarnya.
Lalu diambilnya kotak biru itu dari dalam lemari. Dia membawanya ke ranjang dan bersiap membukanya. Dengan menahan gemuruh kencang di dadanya, Aca membuka kotak itu dengan perlahan. Dilihatnya ada sebuah gaun berwarna biru muda dan sebuah surat dalam amplop berwarna putih. Dibukanya surat itu.
Aca menarik nafas panjang sebelum membaca suratnya.
dear Aca,
Saat kamu baca surat ini pasti aku sudah tak berada di dekatmu lagi..
Maafkan Kakakmu ini yang baru mengetahui ada perasaan lain di hatimu untukku..
Bahkan sebelum aku bertemu dengan Fitri..
Tak usah kau pertanyakan darimana aku tahu semuanya..
Maafkan kalau selama ini aku mengganggapmu sebagai adik kecil yang manis..
Maafkan kalo selama ini aku menyakitimu karena memilih gadis lain..
Aku tahu saat ini kamu sudah dewasa dan sudah pantas dicintai..
Tapi apakah rasa itu beneran cinta atau hanya kagum ?
Mari kita beri waktu untuk hati kita mempertimbangkannya..
Aku tak bisa menjanjikan keseriusan dan hatiku untukmu..
Tapi aku ingin memberi waktu pada hatiku untuk melihatmu sebagai wanita dewasa saat kita bertemu lagi nanti..
Semua keputusan ada padamu, apa kau mau menungguku atau bahagia bersama yang lain..
Biarkan waktu yang menjawab semuanya..
Rasa yang muncul saat kembali bertemu 2 tahun lagi akan membuktikan..
Apakah itu Cinta sepasang manusia atau Kasih sayang Kakak pada adiknya..
Bersabarlah, kalo jodoh tak akan kemana..
Kakakmu,
Difan
ps : pakailah gaun ini saat kita bertemu lagi nanti..
__ADS_1
Airmata Aca mengalir deras setelah membaca surat itu.
"Darimana Kak Difan tahu soal perasaanku ya ?" tanya Aca dalam hati.
Aca mengambil gaun itu dan menatapnya. Gaun sederhana yang indah.
Aca sangat menyukai desain gaun itu yang simple tapi terlihat elegan. Entah karena sesuai dengan seleranya atau karena dari orang yang disukainya.
Aca sibuk memikirkan tentang hal itu hingga akhirnya Aca tertidur sambil memeluk surat dan gaun itu.
Keesokan paginya Aca bangun kesiangan. Untungnya hari ini hari minggu. Sissy selalu membiarkan anak - anaknya bangun lebih siang di hari minggu.
"Pagi Bun." sapa Aca pada Sissy yang sedang menikmati sarapan pagi sendirian.
"Pagi sayang. Udah mandi ?" tanya Sissy.
"Udah Bun. Kok Bunda sarapan sendirian ? Ayah sama Ical kemana ?" Aca mengambil nasi dan telor ceplok favoritnya.
"Ayah sama Ical lagi sepedaan sama Papa Tofan dan yang lainnya.
"Siapa aja yang ikutan ? Kok Bunda gak ikut ?" tanya Aca.
"Acara para lelaki katanya. Tadi Papa Tofan, Panda sama Kian nyusul kesini." jawab Sissy.
"Ya tau lah. Kan tadi masuk ke kamar Ical dulu." Sissy menjawab dengan tenang.
"Yah.. Kenapa Bunda gak bangunin aku ?" protes Aca.
"Emangnya kenapa ? Kamu masih suka sama Kian ?" pertanyaan Sissy langsung menohok Aca.
"Ya gak juga. Malu aja kalo ketahuan belum bangun." Aca mencari alasan.
"Sama Bunda aja pake bohong kamu nih. Bunda tau kamu masih suka sama Kian kan ?" Sissy tersenyum meledek anak gadisnya.
Aca hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Bundanya. Sissy hanya menatap putrinya yang sudah tertunduk malu. Sissy sangat paham betul bagaimana perasaan anaknya. Tapi di sisi lain dia juga tau kalo sekarang Kian sedang dekat dengan Vanya.
"Bunda gak pernah melarang kamu dekat sama siapapun. Mau itu Kian atau Difan, Bunda akan merestui." Sissy mengusap lembut kepala anaknya.
"Bunda apaan sih ?" Aca tertunduk malu.
"Kalau jodoh tak akan kemana Sayang. Berdoa saja mita jodoh yang terbaik buat kamu. Allah pasti akan mengabulkan di waktu yang tepat." nasehat Sissy panjang lebar.
Sore harinya Aca sengaja mengajak Ical makan di restoran cepat saji yang baru buka di dekat rumah mereka. Ical mengantri di kasir untuk memesan makanan sedangkan Aca langsung mencari tempat duduk. Setelah 5 menit menunggu akhirnya Ical datang dengan membawa makanan pesanannya.
"Cal, aku sekalian cerita ya." kata Aca di sela - sela makannya.
__ADS_1
"Boleh Ca. Aku juga udah penasaran." kata Ical.
Aca pun menceritakan isi kotak itu dan isi surat dari Difan. Difan menikmati makanannya sambil mendengarkan cerita Aca.
"Menurut kamu gimana ?" tanya Aca.
"Ya sudah kamu sabar aja. Semoga nanti Kak Difan bisa membuka hatinya buat kamu." nasehat Ical.
"Trus kalo ternyata Kak Difan gak bisa suka sama aku gimana ?" tanya Aca lagi.
"Berpikir positif aja dulu Ca. Kamu jangan putus berdoa." Ical coba membesarkan hati Aca.
"Trus Kak Kian gimana Cal ?" Aca bertanya dengan suara pelan.
"Ngapain kamu menunggu cowok kayak gitu. Dia tuh tipe cowok yang plin - plan. Aku gak mau kamu bersatu dengan Kian. Mending kamu menikah sama yang lain aja kalo memang kamu gak berjodoh dengan Kak Difan." protes Ical panjang lebar.
"Kamu kenapa jadi dendam gitu sama Kak Kian ?" Aca bingung dengan sikap Ical yang emosional.
"Gimana gak kesal. Dia mendekati kamu tapi giliran didekati sama Vanya juga mau aja. Kurang ajar banget kan ?" keluh Ical.
"Iya juga sih. Sebenarnya dia suka aku gak sih ? Dulu berasa banhet PDKT nya." Aca terkekeh melihat muka Ical yang memerah menahan amarah.
"Gak taulah. Gak mau berjuang dia. Gak mau ambil resiko jadi lebih milih Vanya yang lebih agresif deketin dia." kata Ical.
"Ya udahlah. Biarkan aja mereka. Kamu yang sabar ya." Aca menepuk tangan Ical.
"Kok jadi aku yang harus sabar. Kamu tuh ada aja." Ical mengacak rambut Aca.
"Habisnya kamu lebih emosi daripada aku." Aca tersenyum lebar pada saudara kembarnya.
"Karena kamu itu sejiwa sama aku. Kita sudah barengan semenjak di perut Bunda. Gak ada yang boleh nyakitin kamu." Ical mengelus rambut Aca.
"Makasih ya Cal. Kamu emang yang terbaik." Aca memeluk erat Ical.
Jangan lupa tetap dukung Author..
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung
__ADS_1