
Akhirnya setelah berjalan selama 30 menit mereka sampai di pantai. Kinan langsung menggelar tikar dan mengistirahatkan tubuhnya disana. Aca dan Ical pun ikut duduk disana bersama pasangan suami istri itu.
"Kalian gak ikut main air ?" tanya Ridwan.
"Iya itu Kian asik main air sama Vanya. Mesra banget ya?" kata Kinan. Ical hanya bisa melirik pada Aca yang langsung menunduk.
"Mereka pacaran ya Yang ?" tanya Ridwan.
"Gak tau. Tapi emang Vanya selalu aja deketin Kian." jawab Kinan.
"Difan sama Fitri juga mesra banget ya." kata Ridwan.
"Kan emang mereka mau nikah akhir tahun ini." Kata Kinan.
"Berarti nanti kita kesini lagi ya Yang." kata Ridwan sambil memandangi sepasang kekasih yang sedang berjalan di tepi pantai itu.
"Iya dong. Wajib itu." jawab Kinan.
"Cuti lagi dong kita." gerutu Ridwan.
"Ya kan masih beberapa bulan lagi Yang. Kita datang pas hari H nya aja. Gak usah lama - lama." kata Kinan.
Kedua saudara kembar itu hanya menndengarkan obrolan Kinan dan Ridwan. Sesekali Aca menundukkan kepalanya. Ical pun hanya bisa mengusap lembut tangan Aca untuk menguatkannya.
"Kalian kesan gih. Main air. Masa diem aja disini." kata Kinan.
"Nanti aja. Istirahat dulu lah. Sekalian nunggu sunset." jawab Ical sambil meneguk air minumnya.
"Aku disini aja Cal. Kamu kesana sendiri aja ya." kata Aca tak bersemangat.
"Ya udah aku temenin kamu disini." kata Ical.
"Kalian nih kayak orang pacaran aja sih, mesra banget." Kinan tersenyum melihat saudara kembar itu.
"Kalo orang gak kenal pasti nyangkanya kalian sepasang kekasih deh." Ridwan ikut menambahkan.
"Kita kan emang sepasang kekasih sejak dari kandungan Bunda. Hehehe." kata Ical sambil mencubit pipi Aca.
"Auw.. sakit Cal. Awas aja kalo gak ada cowok yang deketin aku gara - gara kamu. Bisa nikah tua nih." Aca mengusap pipi nya yang memerah karena dicubit Ical.
"Ya itu udah takdir kamu. Kan Bunda juga nikah nya udah tua." jawab Ical santai.
"Ya jangan dong. Masa harus nikah tua juga." kata Aca sambil melempar pandangan ke arah pantai.
"Iya. Kan Bunda pengen cepat - cepat punya cucu. Kalian harus nikah muda." kata Kinan.
__ADS_1
"Iya ya. Cuma Bunda aja yang belum punya cucu." kata Aca.
"Ya udah kamu cepetan cari cowok trus nikah deh." Ical menepuk pelan bahu Aca.
"Nikah.. nikah. Sekolah dulu lah. Kalo udah lulus baru cari calon suami." gerutu Aca.
"Udah ada calonnya belum Ca ?" tanya Kinan.
"Belum." jawab Aca singkat.
"Masa sih ?" tanya Kinan tak percaya.
"Iya Mbak. Kemarin ada calonnya tapi udah keburu diambil yang lain. Hahaha." Ical menertawakan Aca.
"Ah yang benar ? Siapa orangnya ? Aku kenal gak ?" Kinan mulai penasaran.
"Kak Kinan kalo kayak gini mirip sama Manda ya. Hehehe." kata Ical.
"Setuju banget Cal. Kepo mirip sama Manda." Ridwan menatap istrinya.
"Biarin. Kan emang anaknya." kata Kinan. "Jadi siapa nih orangnya ?"
"Rahasia." Aca langsung berlari menuju pantai meninggalkan mereka.
"Mbak, Mas, aku temenin Aca dulu ya." Ical ikut berlari mengejar Aca.
Mereka berdua pun kejar - kejaran di tepi pantai. Persis seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Sesekali Aca menyiprati Ical dengan air pantai. Icalpun membalas saudara kembarnya itu.
"Capek ah Cal. Kita duduk disana yuk." Aca memunjuk ke arah batu yang tersusun tapi di sisi pantai.
"Gak gabung sama mereka aja." tanya Ical.
"Gak ah. Males." jawab Aca mendahului Ical.
"Aku beli minuman dulu ya." kata Ical.
Tak lama Ical pun datang dengan dua batok kelapa muda.
"Nih minum dulu." Ical menyodorkan kelapa muda pada Aca.
"Ca, kamu gak udah dengerin omongan Kak Kinan tadi. Sembuhin hati kamu ya. Jodoh gak akan kemana." kata Ical setelah Aca lebih tenang.
"Kamu emang paling tahu aku Cal." Aca memeluk Ical dan menangis di bahu saudara kembarnya.
"Karena kita emang saudara kembar. Kita udah bersama sejak dari kandungan Bunda. Tanpa ngomong pun aku tahu yang kamu rasain." Ical mengusap lembut rambut Aca.
__ADS_1
Hari sudah mulai gelap, mereka pun kembali ke Villa. Aca menikmati makan malamnya dalam diam. Dia hanya memperhatikan saja obrolan para Ibu dan sesekali menjawab saat ditanya. Dilihatnya Difan dan Fitri tampak mesra. Vanya dan Kian pun makan sambil bersenda gurau bersama Ical.
"Ca, kamu tumben gak gabung sama mereka ?" tanya Sissy.
"Lagi males Bun. Aca gak enak badan." jawab Aca.
"Kamu sakit nak ?" Sissy menyentuh kening Aca.
"Cuma kecapekan aja Bun. Mungkin masuk angin juga." Aca coba tersenyum pada Bundanya.
"Ya udah abis makan minum obat ya." Sissy memberikan obat pada Aca.
"Iya Bun." jawab Aca.
Setelah makan malam Aca langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Aca memikirkan kejadian tadi siang. Di kepalanya terrus berputar gambar tentang kemesraan Difan dan Fitri juga Kian dan Vanya.
"Ya Allah.. Kenapa cintaku sellau bertepuk sebelah tangan." gumam Aca sambil meremas rambutnya.
Tak lama terdengar suara Vanya dan Fitri memasuki kamar. Aca memejamkan matanya berpura - pura tidur.
"Kamu udah tidur Ca ?" tanya Fitri pelan.
"Kata Bunda tadi Aca gak enak badan." sahut Vanya yang sedang berganti pakaian.
"Kecapekan kayaknya." kata Fitri lagi.
"Ya udah kita biarin dia istirahat dulu. Aku mau ke bawah lagi,mandi di kamar Mama." kata Vanya.
"Aku juga mau mandi dulu. Udah gerah banget." Fitri langsung masuk ke kamar mandi.
Aca membuka matanya dan memandang ke sekeliling ruangan. Aca membalikkan badannya dan tidur menghadap jendela.
"Mending aku tidur aja deh. Semoga bisa mimpi indah." kata Aca dalam hati.
Sebelumnya Author mau minta maaf karena jarang update.
Sepertinya karena banyak kesibukan lain di dunia nyata, cerita ini akan segera tamat.
Jangan lupa tetap dukung Author..
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung