
Keesokan pagi nya Sissy dan Rio sudah bersiap untuk pulang ke Surabaya.
"Ma, Ade pulang dulu ya. Mama jaga kesehatan." Sissy memeluk Mamanya.
"Kamu juga jaga kesehatan ya. Jagain cucu Mama yang ada di perut kamu." kata Mama sambil mengusap perut rata Sissy.
"Iya Ma." Sissy mencium punggung tangan Mama.
"Ini kamu bawa makanan buat disana. Nanti tinggal dipanasin aja." Mama menyerahkan kanting berisi lauk pauk.
"Makasih Ma." kata Sissy singkat.
"Insha Allah Rio pasti jagain anak dan cucu Mama." Rio mencium takzim punggung tangan Mama.
Selama perjalanan Sissy tertidur untuk mengurangi mualnya.
"Dek, bangun. Udah sampe." Rio membelai lembut pipi Sissy untuk membangunkannya.
"Iya Mas." Sissy pun bangun dan menenteng kantong makanan dari Mama tadi.
"Mbak Sissy, Saya turut belasungkawa ya." Bu Yuli yang sedang duduk di dekat lapangan bergegas menghampiri Sissy.
"Saya juga turut berduka cita ya Mbak. Semoga almarhum ayahnya mendapat tempat yang baik di sisi Allah." kata Mira sambil memeluk Sissy.
"Makasih ya Mbak, Bu." jawab Sissy.
"Kamu yang sabar ya Si!" kata Bu Yuli.
"Iya bu Insha Allah. Mbak Rani kemana ? kok gak keliatan?" tanya Sissy.
"Rani lagi ke rumah mertuanya. Ada acara keluarga." kata Mira.
"Ooh. Yawda Bu, Mbak, Saya permisi dulu." Sissy pun pamit pada tetangganya itu.
"Iya, silahkan istirahat." kata Bu Yuli.
Rio yang sudah masuk duluan ke rumah pun menatap nya dengan lembut.
"Kamu nih bukannya langsung masuk rumah malah ngerumpi dulu." tegur Rio.
"Bukan ngerumpi Mas. Kan mereka ngucapin belasungkawa. Masa aku tinggal masuk rumah." jawab Sissy sambil menyimpan kotak makanan itu ke kulkas.
"Iya deh. Kamu istirahat gih, pasti capek." Rio mengikuti Sissy yang masuk ke kamar.
"Mas tuh yang capek. Abis nyupir jauh." Sissy mengganti pakaiannya dengan daster yang longgar.
"Iya. Kita istirahat dulu aja ya." Rio bersiap untuk naik ke ranjangnya.
"Gak ke pabrik Mas?" tanya Sissy.
"Nanti sore aja. Sekarang kita istirahat, atau mau..." Kerling Rio genit.
"Apaan sih Mas. Puasa dulu ya Masih kecil nih anakmu." jawab Sissy sambil berbaring di samping Rio.
"Iya Dek. Kan cuma becanda tadi." Rio menarik Sissy ke dalam pelukannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sudah 3 hari ini Sissy berdiam di rumah. Rasa mual dan lemas selalu menyerangnya. Akhirnya Sissy hanya bisa tiduran seharian. Sore itu baru kondisi nya membaik, dia pun sedang mempersiapkan makanan untuk Rio.
*tok.. tok.. *
"Assalamualaikum Mbak." tampak Mira, Rani dan Bu Yuli di depan pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk." Sissy mempersilahkan tetangga nya.
"Mbak Sissy lagi sakit? Kok beberapa hari ini gak keluar dari rumah?" tanya Rani tanpa basa - basi.
"Iya Mbak. Apa masih berduka?" tanya Bu Yuli.
"Enggak Bu, Mbak. Saya sedang lemas aja, sedikit pusing dan mual." jawab Sissy sedikit tersipu.
"Kecapekan Mbak? Tapi biasanya kalo cuma capek sehari istirahat total juga pulih." Analisa Rani. Sissy hanya tersenyum mendengarnya.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi sama kamu Si." kata Bu Yuli ikut penasaran.
"Iya Bu, Mbak. Alhamdulilah saya sedang hamil." Sissy merasa pipinya bersemu merah.
"Wah.. selamat ya Mbak." kata Mira.
"Selamat ya Si." Bu Yuli memeluk Sissy yang duduk di sebelahnya.
"Selamat Mbak. Udah berapa bulan?" tanya Rani.
"Masih 7 minggu." jawab Sissy.
"Itu mah kamunya aja yang manja." ledek Bu Yuli.
"Enggak Bu. Emang bawaannya mual dan pusing." Mira membela diri.
"Ya kan tiap orang beda - beda model hamilnya. Aku juga biasa aja dulu. Paling mual dan pusing pas bulan - bulan awal. Tapi gak sampe bedrest." Rani ikut bercerita.
"Iya Mbak. Moga - moga aja gak rewel." Sissy tersenyum mendengar cerita tetangga nya itu.
"Santai aja Si. Kita pasti temenin kamu biar gak bosen." ujar Bu Yuli.
"Oh iya. Ada rekomendasi dokter kandungan perempuan yang bagus gak?" tanya Sissy.
"Pake dokter Shinta aja. Bagus kok." kata Rani.
"Dimana tuh Mbak?" Sissy bertanya lagi.
"Di jalan besar yang deket masjid itu. Aku lahiran yang kecil disana Mbak. Maklum suami aku cemburuan jadi harus pake dokter kandungan yang cewek." Rani bercerita panjang lebar.
"Ooh oke. Nanti aku coba periksa kesana aja." kata Sissy.
"Eh, inget gak kalo terakhir kita kumpul, kan aku suruh kamu beli testpack. Ternyata benar ya kamu hamil." kata Bu Yuli.
"Iya Bu. Ternyata pengamatan Bu Yuli benar." jawab Sissy sambil tertawa ringan.
"Rencana Allah memang selalu indah ya. Ada bahagia setelah duka." kata Sissy mulai teringat akan Papa lagi.
__ADS_1
"Iya Mbak. Yang kuat ya." Peluk Bu Yuli menguatkan Sissy.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sudah seminggu ini Sissy masih merasakan mual di pagi hari. Terutama saat Sissy mencium bau nasi yang baru matang. Oleh karena itu untuk sementara mereka tidak memasak nasi di rumah tapi Rio membeli nasi di kantin.
"Dek, kamu gak papa?" Rio mengetuk pintu kamar mandi karena Sissy sudah lama di dalam tapi belum keluar juga.
"Bentar Mas. Ini mual banget." jawab Sissy.
"Bukain Dek. Aku bantuin pijit leher kamu." Rio terus memaksa ingin masuk.
"Jangan Mas. Aku belum pake baju. Baru selesai mandi keburu mual." kata Sissy.
"Ya gak papa Dek. Kan aku suami kamu." Rio masih berusaha membuka pintu.
"Gak Mas. Bentar lagi selesai." tak lama Sissy pun keluar dari kamar mandi dengan dasternya.
"Lain kali kalo ke kamar mandi gak usah dikunci Dek." gerutu Rio.
"Nanti kamu masuk seenaknya." ucap Sissy.
"Ya kan aku suami kamu. Masa gak boleh." Rio mulai tersenyum jahil.
"Tuh kan mulai mesum pikirannya." Sissy masuk ke kamar diikuti oleh Rio.
"Ya maklum udah lama gak dapat jatah." Kata Rio memelas.
"Sabar dulu. Ntar kalo babynya udah gak rewel ya." Sissy mencubit pipi Rio gemas.
"Sekarang aja ya Dek." Rio memeluk Sissy dari belakang sambil mengusap perut Sissy yang sedikit buncit.
"Janagn dulu Mas. Sabar ya." Sissy menoleh pada suaminya.
"Hhmm. Iya deh. Tapi cium dulu." Rio sudah memonyongkan bibirnya.
"Iih.. Ayah gak boleh nakal." kata Sissy sambil mencium lembut pipi Rio.
"Hehehe. Nakal sama Ibun kan boleh." Rio langsung menarik tengkuk Sissy dan mel***t bibirnya.
Mereka pun berci****n beberapa saat. Tangan Rio mulai menarik tangan Sissy menuju ke bagian yang menggembung di celananya. Sissy pun menarik tangannya dan mendorong tubuh Rio menjauh dan menarik nafas dalam.
"Udah Mas. Siap - siap kerja gih." kata Sissy.
"Iya. Buatin kopi ya." Rio beranjak menuju kamar mandi.
Sampai kapan nih puasanya ? Kasian Rio ya..
Jangan lupa dukung terus
Likeπ, Komen, dan Vote..
Makasih πππ
Betsambung
__ADS_1