
*praang.. * tiba - tiba gelas yang sedang dicuci Ayu lepas dari genggamannya.
"Bu, kenapa ?" tanya Tama.
"Gak tau nih Pak. Gelas tiba - tiba jatuh." kata Ayu.
"Tangan kamu licin aja itu sih." Tama berusaha berpikiran positif.
"Kok perasaan Ibu gak enak ya Pak ?" kata Ayu.
"Udah. Gak akan terjadi apa - apa." Tama berusaha untuk tenang meski sebenarnya hati nya pun merasa ragu.
Di tempat lain di waktu yang sama.
"Pa, Mama kok merasa gak enak hati ya ?" kata Yoan menghampiri Topan yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Kenapa Ma ? Kamu sakit ?" Topan mengalihkan pandangannya dari laptop pada istrinya.
"Gak Pa. Cuma kok Mama tiba - tiba kepikiran Difan." kata Yoan sambil duduk di sofa.
"Mereka kan lagi ke Blitar Ma. Insha Allah gak ada apa - apa." Topan membawakan segelas air untuk Yoan.
"Coba kamu telpon mereka Pa ?" kata Yoan.
"Iya Papa coba telpon Difan." Topan langsung mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Difan.
"Gimana Pa ?" tanya Yoan tak sabar.
"Terhubung tapi gak diangkat Ma telponnya." kata Topan.
"Coba terus Pa." kata Yoan mulai khawatir.
"Iya ini Papa telpon lagi." Topan mencoba menghubungi anak sulungnya itu.
"Coba terus dong Pa sampai diangkat sama Difan." Yoan semakin merasakan firasat buruk.
"Mungkin dia masih sibuk nyetir Ma. Gak bisa angkat telpon." kata Topan.
"Ada apa dengan Difan. Gak biasanya dia gak ngangkat telpon dari Papanya." gumam Yoan dalam hati.
Yoan pun menunggu Difan datang.
Sampai saat ini belum ada yang tahu mengenai kecelakaan yang menimpa Difan dan Fitri. Yoan terus menunggu Difan hingga tengah malam.
"Pa, Difan kok belum pulang juga ya ?" tanya Yoan cemas.
"Mungkin dia menginap di Blitar Ma." Topan mencoba bersikap tenang.
"Tapi Difan gak angkat hp nya Pa." kata Yoan.
"Kamu coba hubungi hp Fitri." usul Topan.
"Sudah Pa. Gak aktif. Kalian dimana sih Nak." Yoan benar - benar khawatir.
"Mungkin lagi gak ada sinyal." ucap Topan.
"Tapi aku khawatir terjadi sesuatu sama mereka Pa." Yoan terus mondar mandir di dalam kamar.
"Kamu tenang dulu Ma. Doakan yang terbaik buat mereka. Doa seorang Ibu adalah doa yang paling mujarab." kata Topan.
"Tapi perasaanku gak enak Pa." Yoan duduk di tepi ranjang.
"Kamu sekarang tidur dulu. Besok kita coba susul ke Blitar ya Ma." Topan mengusap lembut punggung Yoan.
"Iya Pa." Yoan pun mengikuti suaminya merebahkan tubuhnya di ranjang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Topan dan Yoan berangkat menuju rumah Pak Tama di Blitar.
"Assalamualaikum." Topan memberi salam.
"Waalaikumsalam. Pak Topan, Bu Topan. Silahkan masuk. Tumben kemari." sambut Ayu.
"Pak Tama ada Bu ?" tanya Topan dengan sopan.
"Ada kok. Silahkan masuk." Ayu mempersilahkan mereka duduk.
"Wah.. Calon besan mampir kesini. Ada apa nih Pak, Bu ?" tanya Tama tanpa basa - basi.
"Apa Difan dan Fitri sedang keluar Pak ? Tapi saya lihat mobil Difan gak ada di depan ?" tanya Yoan.
"Loh.. Fitri dan Difan sudah pulang kemarin sore." jawab Ayu.
"Tapi mereka belum sampai di Malang." kata Yoan lirih.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan mereka." kata Tama.
"Kita harus cari mereka Pak." kata Topan.
"Iya pak. Saya akan bantu juga cari mereka." Tama bersiap mengambil kunci mobilnya.
*kring.. kring.. * hp Topan berbunyi.
"Siapa Pa ?" tanya Yoan.
__ADS_1
"Difan Ma." Topan memandang istrinya.
"Angkat Pa." kata Yoan yang sudah berdiri mendekat pada Topan.
"Assalamualaikum Nak. Kamu kemana aja. Kenapa baru telpon balik ?" Topan langsung mencecar putranya dengan pertanyaan.
"Waalaikumsalam. Maaf Pak saya baru menemukan hp ini." jawab suara asing di seberang.
"Ini dengan siapa ? Kenapa hp anak saya bisa di kamu." tanya Topan.
"Saya menemukan hp ini di mobil yang kecelakaan kemarin sore." jawabnya.
"Kecelakaan ? Anak saya kecelakaan ?" Topan mulai panik.
"Silahkan Bapak datang ke rumah sakit di Kepanjen. Mereka dibawa kesana." sahut orang itu sebelum menutup teleponnya.
"Baik. Kami segera kesana." Topan pun menutup teleponnya.
"Difan kecelakaan Pa ?" Yoan langsung lemas dan terduduk di kursi teras.
"Yang sabar ya Ma. Kita kesana sekarang lihat kondisi mereka. Ayo Pak Tama." Topan membantu istrinya untuk berdiri.
"Saya mau menghubungi sopir saya dulu, biar bawa mobil sendiri saja Pak. Biar nanti gampang pulangnya." kata Tama.
"Baik Pak. Kita ketemu di rumah sakit Kepanjen ya." Topan segera menuju mobilnya.
"Iya Pak. Hati - hati nyetirnya Pak." kata Tama.
Sepanjang perjalanan Yoan terlihat gelisah dan panik. Topan pun mencoba mengemudi secepat mungkin dengan tetap berhati - hati.
Yoan mengabari sahabatnya di WA grup. Rio, Sissy dan Alif pun berinisiatif untuk menuju rumah sakit tempat Difan dirawat. Membantu Topan dan Yoan mengurus kecelakaan Difan.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit Kepanjen.
Topan dan Yoan disambut oleh Rio, Sissy dan Alif yang sudah tiba lebih dulu.
"Gimana kondisi Difan Si ?" tanya Yian ketika melihat sahabatnya.
"Kamu yang sabar ya Yo." Sissy merangkul Yoan menuju tempat perawatan Difan.
"Aku tadi juga sudah lihat bangkai mobil mereka Pan. Abis ini biar aku urus." kata Alif.
"Makasih ya Bro." kata Topan lirih.
"Difan masih belum siuman. Tapi Fitri.." Sissy sengaja menggantung ucapannya.
"Kenapa dengan Fitri ?" tanya Yoan dan Topan serempak. Sissy hanya menggelengkan kepala dan memeluk Yoan lebih erat.
"Fitri tak tertolong. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit." kata Rio pelan.
"Maaf Bu. Fitri sudah meninggal." Rio menghampiri Tama dan Ayu.
"Fitri.. Malang sekali nasibmu Nak." Ayu meratapi nasib keponakannya dalam pelukan suaminya.
"Maafkan Difan ya Bu. Ini semua salah anak saya." Yoan memeluk Ayu.
"Enggak Bu. Ini semua sudah takdir. Bukan salah siapa - siapa." kata Ayu sambil terbata - bata.
"Yang sabar ya Pak, Bu. Kami turut Berduka cita. Semoga Almarhumah diampuni segala dosanya dan diterima iman islamnya. Aamiin." kata Alif sambil memeluk Tama sekilas.
"Aamiin. Terima kasih doanya. Bagaimana kondisi Difan ?" Tama mengusap airmatanya.
"Difan masih belum sadar." kata Topan.
"Kami mau langsung melihat jenazah Fitri. Biar langsung kami bawa dan kami makamkan." kata Tama.
"Silahkan Pak. Biar saya temani." kata Topan hendak mengikuti Tama.
"Tidak usah Pak. Lebih baik Pak Topan temani Ibu dan Difan." kata Tama.
"Terima kasih Pak." jawab Topan memeluk sekali mantan calon besannya itu.
"Biar saya aja yang temani." Rio menyusul Tama dan Ayu ke ruang jenazah.
Yoan menunggui Difan yang masih belum sadar. Sissy dengan setia menemani sahabatnya itu. Tak lama Dafa datang bersama Vanya membawakan baju ganti untuk Yoan dan Topan.
"Ma, gimana kondisi Difan ?" Dafa meletakkan tas baju di sudut kamar.
"Masih belum sadar Fa." Yoan memeluk anaknya itu.
"Fan, kamu harus bangun. Mama sangat mengkhawatirkan kamu." kata Dafa sambil menggenggam tangan saudara kembarnya itu.
"Ma, Beneran Mbak Fitri meninggal ?" tanya Vanya yang masih memeluk Mamanya.
"Iya De. Mbak Fitri sudah meninggal. Dia terjepit di antara mobil dan pohon." kata Yoan sambil membelai kepala anak bungsunya itu.
"Kasihan Kak Difan. Padahal sebentar lagi mereka akan menikah." gumam Vanya.
Di bawah alam sadarnya Difan seperti mendengar semua yang dikatakan Vanya. Difan pun berusaha untuk bangkit dari tidurnya tapi tak bisa. Tapi dia berhasil menggerkkan jarinya.
"Fan, kamu dengar aku ?" tanya Dafa ketika melihat jari Difan bergerak.
"Kenapa Fa ?" Yoan langsung mendekat pada mereka berdua.
"Tangan Difan tadi gerak Ma. Sepertinya dia bisa dengar kita." kata Dafa.
__ADS_1
"Difan, kalo kamu dengar Mama. Kamu harus cepat bangun ya Nak. Fitri butuh kamu." bisik Yoan di telinga Difan. Tapi tak ada respon lagi dari Difan.
"Sudahlah Ma. Mungkin Difan butuh waktu untuk pulih." kata Dafa. Dafa pun mengajak Yoan untuk kembali duduk di sofa. Saat mereka kembali ke sofa itulah, airmata Difan mengalir di sudut matanya. Difan seakan paham dengan kondisi yang terjadi saat ini.
Rio dan Sissy mewakili keluarga Difan menghadiri pemakaman Fitri. Fitri dimakamkan di sebelah makam Ayahnya sesuai dengan ucapannya kemarin. Mungkin itu semua wasiat yang ingin disampaikan Fitri sebelum meninggal.
"Maafkan segala kesalahan Fitri ya Pak, Bu. Tolong sampaikan juga pada Pak Topan dan keluarga." kata Tama setelah pemakaman.
"Iya Pak. Kamu juga minta maaf kalo sudah banyak menyulitkan Fitri." kata Rio.
"Sekarang Fitri sudah bahagia bersama Ayah dan Ibunya." kata Tama dengan suara tertahan.
"Kita akan tetap jadi keluarga kan Pak. Meskipun anak - anak kita tidak jadi menikah." kata Rio lagi.
"Iya Pak. Kalian tetap keluarga kami." Tama menepuk bahu Rio.
"Kami pamit dulu Pak. Semoga semua keluarga ikhlas melepas kepergian Fitri." kata Rio.
"Sampaikan salam kami pada Bapak dan Ibu Topan. Juga pada Difan kalau dia siuman. Rumah kami selalu terbuka untuknya." kata Tama tersenyum ramah.
"Insha Allah. Assalamualaikum." Rio pergi menuju mobilnya.
"Waalaikumsalam." Tama dan Ayu memandang kepergian mereka berdua.
"Pak, Kasihan Fitri Pak. Firasat Ibu tempo hari ternyata benar ya Pak." Ayu meratapi nasib keponakannya itu.
"Sudahlah Bu. Kita harus ikhlas. Fitri udah tenang dan bahagia disana bisa berkumpul lagi dengan orangtuanya." Tama memeluk tubuh mungil istrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah koma selama 3 hari akhirnya Difan sadar.
"Ma.. Pa.." panggil Difan lirih.
"Ma, Kak Difan bangun Ma." kata Vanya membangunkan Yoan yang tertidur di sofa.
"Ya Allah.. Difan.. Kamu sudah sadar Nak ?" Yoan langsung menghampiri Difan. Vanya bergegas keluar memanggil Topan dan Dafa.
"Haus Ma." kata Difan lirih.
"Ini Nak, Kamu minum dulu." Yoan menyodorkan air putih di gelas. Difan pun menyedotnya dengan rakus.
"Difan, kamu sudah bangun ?" tanya Topan.
Mama, Papa, Dafa dan Vanya terlihat khawatir.
"Alhamdulilah kamu akhirnta bangun Bro." Dafa tersenyum pada saudara kembarnya.
"Aku kenapa ?" tanta Difan sambil menahan sakit di dadanya.
"Kamu kecelakaan Nak. Sudah 3 hari kamu tak sadarkan diri." kata Topan.
"Fitri dimana Pa ?" tanya Difan.
"Fitri pulang ke Blitar Nak. Kemarin dibawa sama keluarganya." Topan tak bermaksud menutupi keadaan Fitri tetapi juga belum bisa menceritakan kebenarannya.
"Syukurlah dia gak apa - apa." kata Difan sambil menatap mamanya. Dilihatnya mata Yoan berkaca - kaca dan terlihat sedih.
"Mama kenapa sedih ? Difan kan sudah siuman Ma." Difan mengusap pelan tangan Yoan.
"Iya. Mama hanya terharu lihat kamu sudah sadar." Topan mewakili Yoan yang mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.
"Permisi Pak, Bu, Biar kami periksa dulu." kata dokter.
"Silahkan menunggu diluar Pak, Bu." kata suster dengan sopan.
Mereka berempat pun keluar dari ruangan.
Tak lama Dokter dan Suster pun keluar dari ruangan.
"Gimana kondisi anak saya dok ?" tanya Yoan.
"Kondisi pasien stabil. Tapi dia harus banyak istirahat. Kalau bisa yang jaga maksimal 2 orang saja ya. Dan Jangan membebani pikiran pasien dengan hal yang menguras emosinya." kata Dokter.
"Baik dok. Terima kasih." kata Topan.
...****...
Apa yang akan terjadi ya kalau Difan tahu Fitri, calon istrinya sudah meninggal ?
Sebelumnya Author mau minta maaf karena jarang update.
Sepertinya karena banyak kesibukan lain di dunia nyata, cerita ini akan segera tamat.
Jangan lupa tetap dukung Author..
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung
__ADS_1