Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
#67 Adik buat si Kembar


__ADS_3

Sissy sedang membuat brownis kukus untuk acara pengajian di rumah Bunda. Hari ini Haul meninggalnya Bapak. Bunda ingin mengadakan pengajian sekalian syukuran kesembuhan Rio.


"Lagi apa Dek?" Rio menghampiri Sissy yang sibuk didapur.


"Lagi bikin brownis Mas. Buat besok pengajian di rumah Bunda." jawab Sissy sambil mengeluarkan brownis yang sudah agak dingin dari loyang.


"Enak Dek brownisnya." kata Rio yang mencomot brownis yang sudah dipotong.


"Makasih ya Mas." Sissy mulai membuat adonan yang baru.


"Dek, kenapa gak jualan brownis aja?" Rio memeluk Sissy dari belakang.


"Laku gak ya Mas kalo aku jualan disini?" tanay Sissy.


"Kayaknya bisa Dek. Kan belum banyak yang jualan di daerah sini. Apalagi dekat sama rumah sakit." usul Rio.


"Boleh juga Mas. Nanti kita tanya pendapat Bunda dan yang lainnya." kata Sissy sambil terus mengaduk adonan brownisnya.


"Iya nanti aku juga mau survey di sekitar sini deh." ucap Rio.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sissy dan Rio tiba di rumah Bunda dijemput oleh Irfan. Dinda, istri Irfan ikut menemani suaminya menjemput Rio dan Sissy.


"Kamu abis belanja Din?" tanya Sissy melihat bagasi penuh dengan kardus dan kantong belanjaan.


"Iya Mbak. Belanja air minum, besek sama Telor buat dimasak." jawab Dinda.


"Kok banyak banget Din?" Sissy mengamati kardus - kardus di belakang.


"Sama jajanan ringan buat anak - anak." tambah Dinda.


"Indah gak ikut?" tanya Rio.


"Gak. Ribet Mas kalo ajak Indah." jawab Irfan sambil tetap menyetir.


Tak lama mereka pun sampai di rumah Bunda. Sissy turun membawa kotak berisi brownis. Rio menggendong si kembar dan membawanya masuk ke rumah. Irfan dan Dinda menurunkan belanjaannya dibantu oleh yang lainnya.


"Assalamualaikum Bun." Sissy menyimpan kotak brownisnya di meja makan.


"Waalaikumsalam." jawba Bunda dari dalam rumah.


"Mana cucu Mbah?" Bunda menghampiri Rio yang menggendong si kembar sekaligus. Bunda pun mengambil Aca dari gendongan Rio.


"Anak cantik udah besar ya?" Bunda membawa Aca masuk duduk di ruang TV.


"Ical gendong sama Tante ya?" Widi memaksa untuk menggendong Ical.


"Awas ya kalo nangis." kata Rio menakuti Widi.


"Biarin ah. Ical kan anak yang baik." kata Widi sambil mencium pipi gembil Ical.

__ADS_1


Di depan TV sudah berkumpul para bayi. Ada Indah, anak Irfan yang berusia hampir 1 tahun dan Zico, anak Dania yang berusia 2 tahun. Mereka sedang bermain ditemani oleh Dania.


"Mbak, Susuin Zico." kata Dania iseng.


"Gak ah. Ini aja udah mulai kurang buat si kembar." kata Sissy.


"Zico biar ngerasain ASI. Dari lahir belum pernah minum ASI." kata Dania.


"Kamu sih gak mau nyusuin." protes Dania.


"Bukan gak mau Mbak. Tapi gak keluar ASI nya." kata Dania pelan.


"Yaudah sini. Bude susuin." Sissy langsung menggendong Zico dan bersiap untuk menyusuinya. Tapi ternyata Zico menolak dan langsung berlari menghampiri Mamanya.


"Tuh, anaknya juga gak mau. Baunya beda kali ya." kata Sissy sambil tertawa.


"Iya Mbak." jawab Dania sambil membelai Zico yang memeluknya erat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Acara pengajian sudah selesai dan berjalan lancar. Semua keluarga dan tamu sangat menyukai brownis kukus buatan Sissy. Dari 6 kotak yang dibawanya hanya menyisakan beberapa iris saja.


"Enak banget Mbak brownis nya." kata Dania sambil mengunyah brownis. Entah sudah berapa banyak brownis yang dihabiskannya.


"Bikinin dong Mbak buat aku bawa ke Bogor." kata Dinda sambil menyuapi Indah brownis.


"Boleh aja. Tapi kamu beli sendiri bahannya ya. Ntar aku tinggal buatin." kata Sissy.


"Sekalian beliin bahan buat aku juga ya Mbak." Dania merayu Dinda.


"Ayolah Mbak. Kan sekalian belinya." Dania tetap merayu kakak iparnya.


"Iya deh. Mbak, ntar wa ke aku bahannya apa aja." kata Dinda.


"Oke." jawab Sissy sambil menuju kamar menghampiri Rio dan si kembar.


"Sayang.." Sissy mencium pipi Rio.


"Kenapa Dek?" Rio heran melihat Sissy yang terlihat senang.


"Semuanya pada suka sama brownis buatan aku Mas. Bahkan Dinda sama Dania minta dibuatin buat dibawa pulang." Sissy bercerita dengan riang.


"Alhamdulilah Dek. Berarti kita harus mulai jualan brownis nih." kata Rio sambil. mencubit pipi Sissy.


"Boleh Mas. Ntar aku juga mau coba variasi rasanya." Sissy menghampiri si kembar yang sedang tertidur lelap.


"Jangan diganggu Dek. Baru aja mereka tidur." Rio menarik tangan Sissy hingga terduduk di pangkuannya.


"Mas, mau ngapain sih." Rio membuka hijab Sissy dan mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher Sissy.


"Pengen Dek." bisik Rio agar tidak membangunkan si kembar.

__ADS_1


"Ada si kembar Mas." Sissy menahan geli saat Rio mulai menciumi lehernya.


"Kita bikin adik buat si kembar." bisik Rio sambil tangan mulai memainkan dada Sissy.


"Lagi banyak orang diluar." Sissy menahan pergerakan tangan Rio.


"Ya jangan berisik. Lagian udah sore jadi bisa langsung mandi." Rio mulai membuka kancing baju Sissy.


"Hhmm.." Sissy mulai menikmati sentuhan nakal suaminya.


Setelah bermain cukup lama di area pa****ra Sissy, Rio membaringkan Sissy dan membuka kaosnya. Tak lupa dia mengunci pintu kamarnya. Rio pun menaikkan gamis yang dipakai Sissy dan melepaskan c* nya. Dia pun langsung memasukkan juniornya di lubang kenikmatan. Mereka pun melakukan penyatuan diri. Kali ini mereka melakukannya dengan lembut karena ada si kembar juga di kamar itu. Setelah menuntaskan hajatnya, Rio dan Sissy pun tidur sambil berpelukan.


Sissy terbangun tepat saat adzan ashar berkumandang. Dilihatnya si kembar masih terlelap, begitupun Suaminya. Sissy bergegas mengambil menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat masuk ke kamar dilihatnya si kembar sudah bangun dan sedang dihibur oleh Rio.


"Sayang - sayangnya Bunda udah bangun semua." Sissy menghampiri mereka bertiga.


"Udah dong Bubun. Sekarang waktunya *****." Rio memberikan Aca dan Ical sekaligus pada Sissy dan segera disusuinya.


"Hhmm, kamu wangi banget Dek." Rio memeluk Sissy dari belakang.


"Ayaah.. Jangan mesum ya." Sissy memperingatkan Rio yang mulai menciumi leher belakang Sissy.


"Kan mesumnya cuma sama Bunda tercinta seorang." kata Rio.


"Mandi dulu Ayah.. Bau acem." kata Sissy sambil mendorong Rio. Rio pun segera menuju kamar mandi tanpa protes sedikitpun.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sissy sedang membuat brownis ditemani oleh Dinda dan Dania.


"Mbak, seriusan ini enak loh. Kenapa gak jualan aja?" tanya Dinda sambil mencomot brownis yang baru matang.


"Emang Mbak mau jualan brownis." kata Sissy sambil melirik Dinda.


"Beneran Mbak?" Dania tak percaya.


"Iya. Tuh Mas mu kan lagi bikin banner sama flyer buat dibagikan." kata Sissy.


"Wah.. Kalo gitu ntar aku mau pesen juga." kata Dania.


"Kenapa gak bikin sendiri sih kan aku kasih resepnya." Sissy menatap Dania yang mulai mengiris brownis untuk dimakan.


"Males ah Mbak. Ribet. Mending beli aja. Tinggal makan. Hehehe." Dania tersenyum memamerkan giginya.


"Ntar aku mau coba bikin di Bogor. Indah sama Papanya suka banget." Dinda menyimpan menyimpan loyang yang sudah kosong ke tempat cuci piring.


"Pinter." puji Sissy.


Mereka pun melanjutkan membuat brownis.


Jangan lupa LikeπŸ‘, Komen dan Vote..

__ADS_1


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung


__ADS_2