
Minggu ini Aca dan Difan disibukkan dengan segala persiapan pernikahan mereka. Sebenarnya mereka hanya mengikuti Sissy dan Yoan yang mengurus segala hal untuk pernikahan mereka.
"Ca, kamu mau pakai baju warna apa ?" tanya Sissy.
"Pengennya warna Peach aja Bun." kata Aca.
"Oke. Kalo gitu sekarang kita cari kain ya. Sekalian buat saudara dan keluarga Geng Pelangi." kata Sissy.
"Oke Bun. Kita berdua aja ?" tanya Aca.
"Gak. Nanti Mama Yoan sama Difan jemput kita. Perginya bareng - bareng." jawab Sissy.
"Oke Bun." kata Aca singkat.
Tak lama mereka berempat sudah di sebuah toko yang menjual beraneka ragam kain. Sissy dan Yoan sibuk memilih kain brokat untuk seragam mereka. Sedangkan Aca dan Difan memilih menunggu Ibu mereka di sofa yang terletak di sudut toko. Sesekali Sissy menanyakan pendapat Aca soal warna kain yang diinginkannya.
"Ca, kamu mau bulan madu gak ?" tanya Difan.
"Terserah Kakak aja." jawab Aca.
"Kok gitu sih. Mumpung masih ada waktu kita rencanakan dari sekarang." kata Difan.
"Kalo boleh aku pengen ke Bali aja. Kita bisa nginep di Villa nya Uwa Ochy." kata Aca.
"Oke deh. Nanti aku pesen tiketnya." kata Difan.
"Jangan dulu Kak." cegah Aca.
"Loh kenapa ? Kan biar ada persiapan. Tinggal beberapa bulan lagi loh." Difan bingung dengan sikap Aca.
"Maksud aku, Nanti kita dadakan aja pesen tiketnya. Jadi waktunya bisa fleksibel." Aca memberikan penjelasan.
"Hhmm.." Difan menatap Aca lekat.
"Kan Kakak juga belum tahu mau kerja dimana ? Mau balik ngajar atau bantuin usaha Papa Topan !" kata Aca.
"Lah itu juga yang harus kita bicarakan. Nanti kita mau tinggal dimana ? Di Bandung atau di Malang ?" tanya Difan.
"Aku sih terserah Kakak aja." jawab Aca.
"Kalau kita tinggal di Bandung gimana Ca ?" tanya Difan lagi.
"Aku sih mau aja tapi kasihan juga Ayah sama Bunda cuma berdua aja." Aca menatao Bundanya dari jauh.
"Mama sama Papa juga cuma berdua Ca. Kalo kita di Malang kita harus tinggal di rumah siapa ? Bunda atau Mama ?" Pernyataan dan pertanyaan dari Difan makin membuat Aca bingung.
"Kalau gitu ya lebih baik kita tinggal jauh aja sekalian. Kita di Bandung aja. Nanti biar Ical suruh pulang ke Malang." kata Aca.
"Emang Ical mau ?" Difan ragu dengan penyataan Aca.
"Mau lah. Kalau aku yang minta pasti dia mau. Lagian dia emang rencana pengen buka usaha sendiri di sini." Aca coba meyakinkan tunangannya itu.
"Oke deh. Nanti biar kita ngobrol juga sama Ical." kata Difan.
__ADS_1
"Kalian lagi ngobrolin apa sih ? Serius banget ?" Yoan sudah berada di belakang mereka.
"Mama ngagetin aja." protes Aca.
"Kepi banget deh Mama." Difan tertawa menatap Yoan dan Sissy.
"Udah selesai Ma, Bun ?" tanya Aca.
"Udah. Yuk, kita pulang. Kamu bawain Fan." Yoan menunjuk 3 kresek besar di dekat kasir.
"Banyak banget ! Gimana bawa nya ?" keluh Difan.
"Aku bantuin Kak." Aca langsung meraih 1 kantong dan berjalan mengikuti ibu mereka yang juga membawa kantong kecil di tangan masing - masing.
Dalam perjalanan pulang, mereka mampir ke tempat souvenir.
"Ca, Difan, Kalian souvenirnya mau apa ?" Yoan sudah membawa 5 contoh souvenir yang paling menarik.
"Yang ini aja gimana ?" Aca menunjuk gantungan kunci.
"Terlalu pasaarn sih Ca. Gimana kalau yang ini ? Lagi tren nih sekarang." Yoan menunjuk peralatan makan.
"Harganya ?" tanya Difan.
"Murah kok. Yang ini aja ya. Lagian kan Mama sama Bunda yang bayarin." kata Yoan.
"Iya deh." jawab Difan singkat.
"Minta warna - warni ya." kata Aca.
contoh souvenirnya (Source : google)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Yoan sudah datang ke rumah Sissy untuk memilih dan memilah kain brokat ayang akan di bagikan pada keluarga dan kerabat. Aca ikut menemani Bunda dan calon mertuanya. Sissy sudah memanggil penjahit langganan keluarganya agar bisa langsung mengukur kebaya dan gaun buat Aca.
"Si, ini cuma 1 aja kainnya buat mereka ? Gak kurang nih ?" tanya Yoan.
"Cukuplah Yo. Kan mereka cuma akad trus resepsi sederhana aja. Yang diundang juga cuma keluarga besar aja." kata Sissy.
"Tuh kan Bun, Ma. Kan acaranya sederhana kenapa harus nyiapin seragam segala sih ?" protes Aca.
"Meski sederhana tapi ini pertama kalinya Bunda dan Ayah mantu. Apalgi kamu anak perempuan satu - satunya." Sissy membelai kepala anaknya yang tertutup hijab.
"Iya Ca. Mama juga terakhir kali nikahin nih." Yoan ikut menambahkan.
"Tapi kan gak usah kayak gini juga. Sayang banget uangnya Bun, Ma." kata Aca.
"Udah dong sayang. Kamu tinggal duduk manis aja. Uangnya udah Ayah sama Papa siapin. Ini juga gak banyak kok habisnya." kata Sissy.
"Masa sih ? Perasaan banyak banget yang disiapkan." kata Aca tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Karena Manda, Mama Amira, Uwa kamu, Tante - tante di Jombang terus Bude nya Difan banyak bantuin juga." Sissy menjelaskan.
"Oh gitu Bun." Aca masih tak percaya.
"Iya Ca. Bahkan untuk katering, dekorasi semua sudah disiapkan oleh mereka. Mama sama Bunda cuma nyiapin seragam dan souvenir aja." kata Yoan.
"Bahkan undangan yang bikin Ical." Sissy menambahkan. "Iya deh Bun Aca nurut aja." Aca mulai mengikuti kemauan ibu dan calon mertuanya.
Keesokan harinya Aca dan Difan pulang ke Bandung.
"Kalian hati - hati ya. Jangan macam - macam sebelum nikah. Mama gak mau kecolongan lagi." kata Yoan sambil melirik ke arah Vanya yang sedang menggendong anaknya yang baru berumur 3 bulan.
"Mama kenapa bawa - bawa aku segala sih ?Padahal dulu dia juga MBA." kata Vanya dalam hati.
"Iya Ma. Aku cuma Semacem aja sama Aca. Hehehe." jawab Difan iseng.
"Kamu nih." Yoan sudah menjewer kuping Difan.
"Iya Ma. Aku bakal jaga jarak sama Kak Difan." kata Aca sambil tertawa kecil.
"Mama sih percaya sama kamu, tapi sama Difan yang gak percaya." kata Yoan.
"Aku cuma 2 hari aja kok Ma di Bandungnya. Lagian aku juga nginep di hotel kok." kata Difan.
"Iya. Bunda percaya kok sama kalian." Sissy menahan Yoan untik berbicara lagi.
"Makasih ya Bun udah percaya sama aku." kata Difan sambil mencium tangan Sissy untuk berpamitan.
"Kita masuk dulu ke dalam ya Bun, Ma, Van." pamit Aca.
"Iya. Hati - hati kalian." kata Sissy.
"Si, Kenapa kamu ngelarang aku ngomong tadi." Aku tuh takut kalo Difan sampai melakukan hal yang belum boleh dilakukan." tanya Yoan sambil berjalan menuju mobilnya.
"Sstt.. Jangan sampai omonganmu melukai Vanya lagi. Lagi pula kamu juga dulu sempat khilaf kayak gitu." bisik Sissy sambil melirik Vanya yang berjalan di belakang mereka.
"Iya juga ya. Aku masih sebel dengan Vanya yang harus mengalami hal yang aku alami dulu." kata Yoan menyesal.
"Makanya kamu jangan lagi mengekang anakmu. Kamu tahu sendiri kan perasaan orang yang sedang jatuh cinta. Semakin di kekang, mereka malah makin penasaran." Sissy menasihati Yoan panjang lebar.
"Persis kayak aku dulu. Ya Allah, Maafin aku yang dulu." kata Yoan dalam hati.
...***...
Ceritanya masih agak gak jelas nih. Sambil mencari ilham untuk menulis.. Ilham oh ilham.. Kamu dimana ?? 🤭🤭🤭
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung