
Difan menggandeng tangan Aca erat saat memasuki area pantai Jimbaran. Mereka begitu menikmati suasana pantai yang romantis di malam hari.
^^^
source : google^^^
"Woy.. Asik bener penganten baru." ledek Nico.
"Iya dunia berasa milik berdua." Rico ikut meledek mereka.
"Biarin aja. Namanya juga pengantin baru. Gak usah sirik." Ochy membela keponakannya.
"Mama gak asik ah malah belain mereka." protes Rico.
"Gak usah didengerin omongan dua lelaki bule ini. Kalian nikmatin dulu aja suasananya sambil nunggu makanannya datang." kata Ochy malah menyuruh mereka menjauh.
"Iya Wa. Kami jalan - jalan sebentar ya." Difan langsung menggandeng tangan istrinya menjauh dari meja tempat Uwa dan keluarganya berkumpul.
"Kenapa malah disuruh jalan - jalan sih Ma ?" protes Rico.
"Biar ajalah. Mama cuma mau mendukung permintaan Ate aja biar mereka segera punya momongan." jawab Ochy santai.
"Emang Ate minta kayak gitu Ma ?" tanya Nico tak percaya. Biasanya memang Mama tirinya itu yang suka iseng dan usil.
"Iya. Kamu kan tau kalo Ate tuh nikah nya telat, punya anak juga telat. Makanya dia suka sirik sama temen - temennya yang udah pada punya cucu. Mama aja cucunya udah 5. Tinggal nunggu si bungsu aja nih ngasih cucu.
"Mama sama Ate sama aja." Nico dan Rico menertawakan kelakuan Ochy.
"Wajarlah adik kakak sepemikiran dan saling membantu. Ya kan Honey?" Ochy meminta dukungan pada Matt yang dari tadi hanya mendengarkan perdebatan istri dan anak - anaknya.
"Yes honey." Jawab Matt sambil membelai pipi Ochy.
"Daddy selalu dukung Mama." gerutu Rico.
"Kamu akan tahu saat kamu sudah menikah." kata Matt bijak. Bijak sama takut istri beda tipis gaes 🤭🤭
__ADS_1
Sementara itu ditempat lain, Difan dan Aca bergandengan mesra berjalan di tepi pantai.
"Sayang, Aku seneng banget bisa menghabiskan waktu berdua dengan kamu." bisik Difan mesra di telinga Aca.
"Aku juga senang Kak. Rasanya pengen jalan - jalan terus sama Kakak." kata Aca dengan muka bersemu merah.
"Ya jangan lah Yang. Bisa bangkrut kita kalo jalan - jalan terus." Difan mengacak - acak kepala Aca yang tertutup hijab.
"Iya juga sih. Tapi aku pengen jalan - jalan ke lembang berdua sama kamu Kak." pinta Aca.
"Boleh banget. Nanti kita nginep disana. Kita honeymoon lagi." Difan berkata sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jalan - jalan aja. Gak pake nginep." kata Aca.
"Yakin nih gak usah nginep ?" goda Difan.
"Iya. Kayak orang pacaran lah. Jalan - jalan terus pulang." jawab Aca sedikit menggoda suaminya.
"Gak seru Yang. Enak tuh abis pacaran trus kita ngamar, bikin cucu buat Bunda." ucapan Difan langsung membuat muka Aca memerah seketika.
"Kakak ih. Mesum banget deh." Aca memukul lengan Difan.
"Aku kan masih kecil." kata Aca.
"Kecil darimana sih ? Udah gede kok." mata Difan tertuju pada dua bukit milik Aca.
"Iih.. Dasar suami mesum." Aca kembali memukul lengan Difan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tapi.. Emang kurang gede sih." Difan memasang gaya seperti sedang berpikir sambil terus menatap aset berharga milik Aca.
"Tuh kan aku bilang juga apa." Aca mulai memeluk lengan Difan kembali.
"Nanti biar aku aja yang bikin gede. Cukup rutin dilakukan sehari minimal 5 kali lah." Difan mengangkat kedua tangannya di depan muka sambil bergaya seperti sedang meremas.
"Tuh kan. Mesum lagi. Sebel ah sama Kakak. Ngomongnya gitu mulu." Aca berbalik arah dan berjalan menuju ke tempat Uwa dan sepupunya duduk.
"Ca.. Tungguin dong." Difan mengejar Aca yang mulai menjauh.
__ADS_1
Tak lama kemudian Difan dan Aca kembali ke meja mereka, bertepatan dengan makanan datang.
"Ayo langsung makan." kata Ochy mempersilahkan semuanya.
"Eh.. Itu kenapa muka pengantin baru ditekuk kayak gitu ?" Nico memperhatikan muka sepupunya.
"Gak sabar pengen ngamar kali Bro." ledek Rico.
Aca hanya memelototkan matanya ke arah Rico. SedangkanDifan hanya tersenyum menanggapi komentar sepupu istrinya itu.
"Hei.. Anak kecil ngomongnya kok udah ngawur ya." Ochy memperingatkan Rico yang berumur 18 tahun
"Aku udah gede Ma." protes Rico.
"Selama masih kuliah bagi Mama kamu masih kecil." Ochy mengacak rambut Rico.
"Yaelah Ma. Udah punya ktp berarti udah besar. Apa perlu aku nikah muda juga." protes Rico.
"Gak usah sayang. Jangan buru - buru nikah ya. Biar Mama selalu punya mainan buat diurus." Ochy menjawil pipi Alice yang duduk dipangku Nadine, Mommy nya.
"Cucu kok disamain kayak mainan sih Ma." protes Nico.
"Hehehe. Karena Mama selalu bahagia saat bersama dengan cucu - cucu Mama. Nico, Nadine, Rico menatap Ochy dengan penuh kasih sayang. Mereka merasa beruntung memiliki Mama, Mama tiri dan mertua seperti Ochy. Ochy tidak pernah membeda - bedakan kasih sayang dan perhatian pada anak - anaknya baik itu Rara, Reva dan Rico yang anak kadungnya ataupun Nico yang anak tirinya. Begitupun kepada keponakannya. Aca pun menatap Ochy dengan penuh kasih sayang. Dia selalu menganggap Ochy seperti Bundanya sendiri. Begitupun dengan Uwa Santi, istri dari kakak Bunda yang belum pernah ditemuinya.
Maaf agak pendek ya ceritanya. Biar gak terlalu lama Up nya.
Siap - siap tinggal beberapa episode menuju tamat. Nanti juga akan diselipin cerita cinta Ical.
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Bersambung