
Ochy menghampiri Sissy yang terbaring di ranjangnya.
"De, gimana kondisi kamu?" Ochy membelai lembut rambut Sissy.
"Teteh.. Sakit Teh. Anak aku meninggal sebelum sempat lahir." kata Sissy menumpahkan airmatanya.
"Yang sabar ya De. Anak kamu cantik kayak kamu." kata Ochy.
"Anak kita cewek Mas?" tanya Sissy pada Rio yang berdiri di belakang Ochy.
"Iya Dek. Dia sudah terlihat cantik kayak kamu." Rio menghampiri Sissy di sisi ranjang satunya dan membelai mencium kening Sissy.
"Mama gimana kondisinya Mas?" tanya Sissy tiba - tiba.
"Baik Dek." jawab Rio sambil menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.
"Mas gak bohong kan? Tadi aku ngerasa Mama ada nemenin aku disini." Sissy mulai menangis lagi.
"Gak Dek." Rio masih menunduk menghindari tatapan Sissy.
"Teh, bilang sama aku, Mama gimana?" Sissy ganti menatap Ochy.
"Mama sudah meninggal De. Kamu yang sabar dan kuat ya." Ochy memeluk Sissy.
"Yang bener Teh? Kapan?" tanya Sissy sedikit histeris.
"Sejam yang lalu Dek. Mama cuma nitip pesan. Minta maaf karena suka nyusahin kamu." cerita Ochy.
"Kenapa Mama gak nunggu aku Teh?" Sissy masih menangis dalam pelukan Ochy.
"Mama juga minta maaf karena harus pergi sama anak kamu." Ochy bercerita sambil terisak - isak.
"Aku mau lihat Mama Teh." kata Sissy.
"Iya Dek. Kamu harus pulih dulu. Mama masih diurus dulu. Matt masih nunggu jenazah Mama keluar dari sini." Rio membelai lembut istrinya.
"Aku mau pulang lihat Mama Mas." Sissy ganti merengek pada Rio.
"Iya sayang. Nanti pasti kamu akan ketemu Mama dulu." kata Rio.
"Aku urus jenazah Mama dulu ya De. Kamu yang sabar ya." Ochy pamit keluar dari ruangan.
"Mas, kenapa berbarengan gini sih?" tanya Sissy.
"Yang sabar Dek. Kamu harus ikhlas. Mama dan anak kita sudah bahagia di alam sana." Rio mencium lembut kening Sissy.
"Mas, aku mau anak kita dimakamkan bareng sama Mama. Kita juga harus kasih nama buat dia." kata Sissy sambil menghapus airmatanya.
"Iya Dek. Semuanya sudah disiapkan dibantu oleh Mas Alif dan Topan." Rio menatap Sissy lekat.
"Gimana kalo anak kita dikasih nama Khalisah putri Hanggana." tambah Rio lagi.
"Nama yang bagus Mas." Sissy mencoba tersenyum.
"Aku gak akan pernah ninggalin dan menyakiti kamu Dek. Aku akan jaga keluarga kecil kita seperti amanat Mama." Rio menarik Sissy kedalam pelukannya.
"Makasih ya Mas." Sissy membenamkan wajahnya di dada Rio.
Akhirnya siang itu jenazah Mama dan Khalisah disemayamkan di rumah sebelum dimakamkan ba'da Ashar.
__ADS_1
"Bunda, Eyang kenapa?" tanya Aca menatap Eyangnya yang tertidur di hadapannya.
"Kok dari tadi tidur sih?" Ical juga ikut bertanya.
"Eyang sudah meninggal Nak. Allah lebih sayang dengan Eyang." Sissy mengusap kepala si kembar bergantian.
"Adek juga ya Bun?" Aca menunjuk jenazah kecil di samping Mama.
"Iya sayang." Sissy mencium lembut kepala Aca.
"Bunda sedih ya?" Ical menghapus airmata di pipi Sissy.
"Enggak sayang. Bunda cuma sedang mendoakan Eyang dan Adek Khalisah." Rio menghampiri kedua bocah itu.
"Kalian juga harus mendoakan Eyang dan Adek Ica ya?" Sissy tersenyum pada kedua anaknya.
"Iya Bun, Ayah. Kita pasti doain Eyang dan Adek Ica." Aca menjawab dibarengi dengan anggukan oleh Ical.
"Anak pintar. Sekarang kalian ajak Bunda makan dulu ya." Rio menatap si kembar bergantian.
"Tapi aku gak lapar Mas" Sissy protes.
"Kalian juga harus pastiin Bunda makan yang banyak ya." Rio memberikan tugas pada mereka.
"Siap Yah. Ayo Bun kita makan dulu." Ical menarik tangan Sissy ke ruang makan.
Akhirnya Sissy pun mengikuti si kembar ke meja makan.
Akhirnya Jenazah Mama dan Khalisah dimakamkan di pemakaman terdekat dari rumah mereka. Sissy tak ikut mengantar ke makam karena merasa lemas dan sakit di bagian perutnya.
"Si, kita ikut belasungkawa ya. Semoga almarhumah Mama dan Almarhumah Khalisah diampuni segala dosanya dan diberi tempat yang baik di sisi Allah." Amira memeluk Sissy.
"Kamu yang sabar dan kuat ya." Yoan ikut memeluk Sissy.
"Anak aku juga pergi ikut Mama. Kenapa mereka pergi berbarengan." Sissy menangis di pelukan sahabatnya itu.
"Kamu pasti kuat Si. Mereka sudah bahagia disana." Zizi gantian memeluk Sissy.
"Makasih ya. Kalian sudah mendoakan Mama dan Ica." Sissy tersenyum menatap sahabatnya bergantian.
"Kamu boleh menangis tapi jangan berlebihan. Kasihan Almarhumah nanti tersiksa disana. Ada si kembar dan suamimu juga yang masih butuh kamu." Amira mengingatkan Sissy.
"Allah sengaja menghadirkan Khalisah agar bisa menemani Mama berpulang menghadapNya." Zizi berkata dengan bijak.
"Makasih ya." Sissy memeluk sahabatnya bersamaan.
Proses pemakaman berjalan lancar. Pelayat pun datang tak henti - henti. Pakde Yudi, Kakak Mama, dan keluarganya pun datang untuk takziah.
"Kalian yang sabar ya Si, Chy. Pakde gak nyangka Mama kalian pergi duluan." kata Pakde Yudi menemani Sissy dan Ochy di ruang tengah.
"Mama kalian udah gak sakit lagi sekarang." tambah Bude Yulia.
"Iya Pakde, Bude. Maafin kalo Mama ada salah ya." kata Ochy.
"Kita pasti maafin. Kita juga minta maaf ya kalo ada salah sama Mama kalian." Pakde Yudi mengusap bahu Ochy dan Sissy.
"Anak kamu juga udah bahagia disana menemani Mama kamu." kata Pakde mengusap tangan Sissy.
"Makasih Pakde." Sissy tersenyum pada Pakde Yudi.
__ADS_1
Pakde Yudi dan keluarganya pun pamit pulang ke Probolinggo.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak terasa sudah 7 hari Mama dan Khalisah meninggalkan mereka. Selepas tahlilan malam inipun mereka berkumpul santai di ruang tengah sambil menikmati kue sisa tahlilan tadi.
"De, besok kita bereskan baju, tas dan sepatu Mama ya." ajak Ochy sambil menggendong Rico yang mulai tertidur.
"Iya Teh. Sekalian kita pisahkan barang - barang yang mau dikasihkan." kata Sissy yang sibuk menyuapi Aca dan Ical bergantian.
"Iya De. Tapi kita kumpulin dulu aja ya, jangan dikasihkan dulu." kata Ochy.
"Siap Teh." jawab Sissy.
"Oh iya De. Kamu rencananya mau tinggal disini atau pulang ke Jombang?" tanya Ochy sambil beranjak ke kamar menidurkan Rico.
"Belum tahu Teh. Terserah Mas Rio aja." jawab Sissy sambil melirik ke suaminya.
"Ya untuk sementara Sissy akan disini dulu sampai 40 harinya Mama dan Ica. Selanjutkan kita diskusikan dulu lah." kata Rio sambil menyeruput kopinya.
"Syukurlah. Biar kita beresin dulu semuanya." kata Ochy sambil membawa piring nasinya.
"Kalo Teteh sendiri gimana? Mau di Malang atau pindah ke Bali?" Sissy balik bertanya.
"Ya Teteh tetep disini. Kan Rara sama Reva sekolah disini." jawab Ochy.
"Oh iya. Rara sebentar lagi lulus SMA kan? Mau kuliah dimana Kak?" tanya Sissy sambil menatap Rara yang sibuk menghabiskan kue putu ayu favoritnya.
"Mau coba ambil kedokteran. Aku usahain ambil Unibraw aja." jawab Rara dengan mulut setengah penuh.
"Kakak, habisin dulu makanannya baru ngomong." tegur Ochy.
"Maaf ya Ma." Rara pun segera menelan makanan di mulutnya.
"Coba cari beasiswa Kak. Siapa tahu ada. Kan lumayan tuh biaya nya bisa lebih ringan." kata Ochy sambil tertawa.
"Iya Ma." jawab Rara singkat.
"Kenapa gak kuliah di Bogor atau Bandung?" tanya Sissy lagi.
"Kalo aku kuliah jauh kasihan Adek Te. Ntar kesepian." Rara mengacak rambut Reva.
"So sweet banget sih kalian." Sissy tersentum melihat keakraban mereka.
"Kalo lihat mereka jadi inget kita dulu ya De." Ochy menatap Sissy sambil tersenyum.
"Iya Teh. Persis banget sama kita dulu. Tak terpisahkan." Sissy memeluk kakaknya.
Disudut lain ada sepasang mata yang tersenyum melihat keakraban kakak beradik itu. Rio bahagia menyaksikan keinginan Mama akan terlaksana.
Akhirnya kehangatan keluarga itu perlahan menghilangkan kesedihan di rumah itu. Menyisakan kenangan dan kebahagiaan.
Dukung terus ya...
Jangan lupa Like 👍, Komen, dan Vote ✌.
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung
__ADS_1