Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
(Season 2) #2 Cinta segitiga


__ADS_3

Ini adalah kisah cinta segitiga antara Dafa, Difan dan Hana


.2 tahun yang lalu.


Hana baru keluar dari kantornya ketika Difan menghampirinya.


"Ra, aku mau ajakin kamu makan. Bisa kan?" tanya Difan.


"Kok tiba - tiba gini Fan?" Hana balik bertanya.


"Nanti kamu juga tahu. Ada yang mau aku sampaikan." kata Difan.


"Oke kalo gitu. Aku Wa Mama dulu ya minta ijin." Hana langsung mengambil Hp nya dan mengetik pesan pada Mamanya.


"Sudah? Yuk kita jalan." ajak Difan.


"Ayo." jawab Hana singkat.


"Udah lama ya kita gak jalan berdua gini." kata Difan.


"Kamu gak ngajak Dafa?" tanya Hana.


"Gak. Justru itu yang mau aku bahas." Difan terlihat serius.


Hana pun terdiam.


"Kenapa aku jadi berdebar gini ya. Kira - kira apa yang mau disampaikan sama Difan ya?" Hana berpikir dalam hati.


Tak lama mereka pun sampai di sebuah resto dengan konsep saung dan taman.


"Kita pesen makanan dulu ya Han." Difan menyodorkan buku menu.


Hana pun memesan makanan favoritnya yaitu cumi asam manis dan minumnya es teh manis. Difan memilih menu ayam bakar dan Hot cappucino.


"Makan dulu Han baru kita ngobrol." kata Difan.


"Oke." Hana pun makan dengan lahap. Hana berpikir harus mengisi tenaga menyiapkan kemungkinan hal yang akan disampaikan Difan.


Setelah selesai makan, Difan pun mulai menatap Hana dengan muka serius.


"Jadi gini Han. Maafin aku sebelumnya." Difan menjeda ucapannya dengan mengambil nafas panjang.


"Ada apa sih Fan?" Hana mulai tak sabar dengan apa yang akan diucapkan oleh Difan.


"Aku pengen kamu memilih antara aku dan Dafa." Difan menatap tajam pada Hana.


"Maksud kamu apa? Kenapa harus memilih?" Hana tidak paham dengan maksud Difan.


"Gak bisa kayak gini terus Han. Kamu pasti tau kali aku dan Dafa sama - sama suka sama kamu. Dan kamu juga seperti nyaman dengan kami." Difan menjelaskan panjang lebar.


"Akhirnya hari ini muncul juga." Hana menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


"Kamu tinggal jawab aja Han." Difan mulai tak sabar.


"Aku memang nyaman dengan kalian berdua. Tapi bukan berarti aku mempermainkan kalian." Hana menggantung kata - katanya.


"Terus?" Ucap Difan.


"Selama ini status kita kan hanya teman. Kamu, aku dan Dafa sudah berteman sejak kecil. Kalian pun gak pernah ada ungkapan bahwa kalian suka sama aku. Gak mungkin kan aku yang cewek nyatain duluan." Kata Hana.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya kamu suka sama kita?" tanya Difan memotong ucapan Hana.


"Aku gak mau dikatain kegeeran karena menganggap hubungan kita lebih dari teman. Apalagi sama kembaran kamu tuh. Kamu tau kan dari dulu dia selalu usil sama aku." Hana melanjutkan ucapannya.


"Jadi kalau memang kita berdua suka sama kamu, kamu pilih siapa?" Difan langsung to the point.


"Jujur ya Fan. Maafin aku sebelumnya. Sebenernya aku sempat suka sama kamu karena sifat kamu yang cool dan gak bawel kayak Dafa." Hana memandang lekat pada Difan membuatnya salah tingkah.


"Tunggu dulu, sempat? berarti sekarang udah gak?" Difan mulai merasa kecewa dengan ucapan Hana.


"Iya. Seiring berjalannya waktu kamu masih seperti itu. Jadi kesannya pasif dalam mendekati aku. Aku pikir kamu gak ada rasa sama sekali dengan aku." kata Hana lagi.


"Kamu salah Han." gumam Difan dalam hati.


"Sedangkan Dafa semakin menunjukkan keseriusannya suka sama aku. Jadi baru kemarin kita berdua jadian. Kamu terlambat Fan." Hana menunduk menghindari tatapan Difan.


"Jadi keputusan kamu sudah bulat ya Han." suara Difan terdengar lesu.


"Aku gak mau mempermainkan cinta. Apalagi kalian saudara kembar. Maaf ya Fan." Hana berkata pelan.


"Iya gak papa Han. Aku tau diri kok. Semoga kamu bahagia sama Dafa." Difan tersenyum meski hatinya pedih.


"Makasih ya Fan. Aku doain kamu dapat pasangan yang baik juga kayak kamu." Hana tersenyum tulus.


"Yawda. Ayo aku antar pulang." Difan pun berjalan menuju mobilnya.


Seminggu kemudian Hana mendapat kabar dari Dafa kalau Difan pindah kerja keluar kota.


"Maafkan aku yang sudah buat kamu terluka Fan." Batin Hana sambil menghapus airmatanya.


"Aku tahu kamu sedih Difan pergi tanpa pamit ke kamu." kata Dafa sambil memeluk Hana.


"Biarkan dia pergi untuk menyembuhkan hatinya." Dafa tersenyum pada Hana.


"Kamu tahu semuanya?" Hana bertanya hati - hati.


"Iya. Difan sudah cerita sama aku." kata Dafa.


*flashback on*


3 hari yang lalu Difan menyampaikan niatnya untuk bekerja diluar kota pada anggota keluarganya.


"Ma, Pa, Aku dapat tawaran kerja di Makassar." kata Difan memecah kehenungan di meja makan.


"Kok mendadak sayang? " tanya Mama Yoan.


"Iya Ma. Pengen nyari suasana baru aja. Udah jenuh di Malang." jawab Difan.


"Kamu yakin mau pindah? Makassar jauh loh Fan?" Mama Yoan coba meyakinkan Difan.


"Iya Ma. Ada temen juga disana. Nanti sementara Difan tinggal sama dia dulu." Difan tak berani menatap Mamanya. Difan takut ketahuan kalo dia hanya mencari alasan agar bisa melupakan Hana.


"Kapan kamu berangkat?" tanya Papa Topan yang dari tadi hanya diam.


"3 hari lagi Pa. Tiketnya udah Difan beli." kaat Difan.


"Ya sudah. Kamu siapkan semua barang kamu dengan baik. Jaga diri baik - baik disana." pesan Papa Topan.


"Iya Pa." Difan pun meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Fan.." panggil Dafa.


"Iya Fa. Ada apa?" Difan menghentikan langkahnya.


"Kamu harus jujur sama aku. Kenapa kamu memutuskan pindah keluar kota?" Dafa mengajak Difan ngobrol di teras atas.


"Ya gak papa. Pengen cari suasana baru aja." kata Difan mengalihkan pandangannya dari Dafa.


"Kamu bisa bohongin Mama dan Papa. Tapi aku gak. Aku tahu kamu punya alasan yang lain. Iya kan?" Dafa memegang bahu saudara kembarnya itu.


"Sok tau kamu." Difan menepis tangan Dafa.


"Ayolah Fa. Kita ini saudara kembar. Aku tahu ada yang kamu sembunyikan pada kami semua." Dafa masih mencecar Difan.


"Oke aku cerita. Aku tahu aku gak bisa nutupin ini semua dari kamu." Difan duduk di kursi di teras diikuti Dafa yang juga duduk di sebelahnya.


"Aku baru tahu kalo kamu sudah jadian sama Hana." kata Difan sambil menarik nafas panjang untuk menghilangkan gugupnya.


"Kamu tahu dari Hana?" tanya Dafa.


"Iya. Aku juga suka sama Hana Fan. Tapi sepertinya aku sudah terlambat, ternyata kalian sudah jadian." Difan menundukkan kepalanya.


"Kamu juga suka sama Hana? Kenapa kamu diam saja kalo aku ngerjain atau curhat soal dia?" Dafa memandang Difan.


"Aku sudah merelakan dia kok Fa. Hana memang lebih pantas buat kamu." Difan memandang saudara kembarnya itu.


"Kamu yakin Fan?" tanya Dafa lagi.


"Yakin Fa. Ijinkan aku pergi untuk mengobati hatiku. Jangan pernah bilang ini sama Mama Papa ya." Difan memegang bahu Dafa.


"Apa kamu gak bisa disini aja? Aku janji gak akan mesra - mesraan dengan Hana di depan kamu." bujuk Dafa.


"Gak bisa Fa. Aku lebih nyaman untuk pergi dari kalian. Tenang aja, nanti aku akan kembali kalo hatiku sudah sembuh." Difan memeluk Dafa erat.


"Janji ya. Kamu akan pulang kalo sudah sembuh." Dafa berbisik pada Difan.


"Pastinya. Kan kita saudara kembar Fa. Disini juga keluargaku. Cepat atau lambat aku akan kembali." Difan melepaskan pelukan Dafa dan berjalan masuk ke kamarnya. Dafa masih termenung sepeninggal Difan.


Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu dan bersembunyi saat Difan lewat menuju ke kamarnya.


"Kamu harus ikhlasin Difan pergi ya Fa." kata Mama Yoan yang sudah muncul di samping Dafa.


"Mama.. Udah lama Ma? " tanya Dafa kaget.


"Mama dengar semua percakapan kalian. Biarkan Difan pergi untuk menata hatinya. Kamu juga harus menjaga hati kamu untuk Hana." Mama Yoan memeluk Dafa.


"Iya Ma. Makasih ya Ma." Dafa balas memeluk Mamanya.


"Mama senang akhirnya akan berbesan sama salah satu sahabat Mama." Mama Yoan pergi meninggalkan Dafa yang masih duduk di teras.


*flashback off*


Jangan lupa tetap dukung Author..


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..


Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2