
Para reader ku tersayang.. Tinggal beberapa episode cerita ini berakhir ya.. Semoga jalan ceritanya bisa menghibur kalian semua. Author ingin bikin cerita lagi yang baru berkesinambungan dengan cerita ini ( terinspirasi dari salah satu author favoritku juga.. 😁😁)
**Selamat Membaca**
2 tahun kemudian
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Aca dan Ical kini sudah lulus SMA dan sudah berkuliah di Universitas Negeri di Bandung.
Keduanya kuliah di Universitas yang berbeda tetapi mereka tinggal di rumah yang sama.
Rio dan Sissy sengaja membelikan sebuah rumah untuk tempat tinggal mereka. Tetapi Rio dan Sissy tetap tinggal di Malang dan hanya sesekali ke Bandung untuk menengok si kembar.
Sekarang Aca dan Ical sudah tingkat 2. Selain kuliah Ical juga bekerja paruh waktu di percetakan milik temannya. Ical yang kuliah di jurusan desain graphis memanfaatkan keahliannya untuk menjadi desainer graphis.
Sedangkan Aca yang kuliah di Pendidikan bahasa Inggris pun berkuliah dan aktif di organisasi mahasiswa. Sesekali Aca bekerja menjaga anak dari salah satu dosennya ataupun menemani seorang nenek yang tinggal hanya berdua dengan anaknya. Dari sana Aca bisa menabung untuk membeli novel atau barang - barang yang diinginkannya.
"Assalamualaikum." Aca masuk ke rumah dan langsung duduk di sofa.
"Waalaikumsalam. Tumben baru pulang Ca ?" tanya Ical yang sedang di dapur.
"Iya tadi abis rapat kegiatan jurusan. Kamu gak kerja Cal ?" Aca membuka hijabnya. Semenjak kuliah Aca memang memutuskan untuk berhijab.
"Kasian sayangnya aku. Nih minum jus dulu. Kebetulan aku baru selesai bikin." Ical menyodorkan segelas jus buah.
"Makasih Cal." Aca langsung menikmati jus nya.
"Aku berangkat agak sore ya Ca. Sekalian nemenin Angga. Lagi sendirian dia di rumah. Kerjaan juga lagi banyak." kata Ical sambil dudul di sebelah Aca.
"Oke gak apa - apa." jawab Aca santai.
"Eh.. Minggu depan kita jadi pulang kan ke Malang." tanya Ical.
"Jadi dong. Kan tiket nya udah dibeli." jawab Aca.
"Kamu gak apa - apa nih ?" tanya Ical lagi.
"Emang kenapa ?" Aca balik bertanya.
"Kamu kan tau Vanya akan nikah sama Kian. Terus kemungkinan Kak Difan bakal datang loh." Ical berkata dengan hati - hati.
"Gak lah. Aku udah gak ada perasaan sama Kak Kian." Aca menjawab sambil tersenyum.
"Terus kamu udah siap ketemu sama Kak Difan ?" Ical menatap lekat saudara kembarnya itu.
"Yang itu aku belum tahu Cal. Aku pasrah aja." Aca merasa pipinya panas.
"Cie.. Pipinya langsung merah loh." goda Ical sambil menjawil dagu Aca.
"Ical.. Jangan rese deh." Aca menutup mukanya, merasa malu dilihat seperti itu oleh Ical.
"Hahaha. Semoga semuanya berjalan baik ya." Ical mengacak rambut Aca dan berlalu ke kamarnya.
"Makasih ya sayangku." teriak Aca sebelum Ical menghilang di balik kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ca, Ical, Kalian sudah siap ?" tanya Sissy.
"Bentar Bun. Aku bingung pake hijab yang mana ?" teriak Aca dari dalam kamar.
"Ayo cepetan. Ayah udah nunggu di bawah tuh. Jangan sampai nanti ngomel." Sissy berjalan masuk ke kamar Aca. Dilihatnya Aca masih sibuk dengan hijabnya. Sedangkan Ical hanya tidur - tiduran di ranjang.
"Ical.. Kamu bukannya bantuin Aca malah tiduran disitu." Omel Sissy.
__ADS_1
"Iya Bun. Kan ini aku juga nungguin." Ical langsung bangkit dan memakai baju batiknya.
"Sana kamu temenin Ayah di bawah." perintah Sissy.
"Bun, aku pake model gimana ya hijabnya ?" pertanyaan Aca membuat Sissy tersenyum tipis.
"Bikin simple aja Ca. Kan kamu masih muda juga. Lagian kamu kok jadi ribet gini sih, biasanya juga cuek." kata Sissy.
"Kan ini pertama kalinya aku datang acara besar pake hijab Bun. Wajar lah." kata Aca sambil kembali fokus pada hijabnya.
"Iya iya. Apalagi mau ketemu sang pujaan hati." goda Sissy.
"Aca jadi malu deh Bun. Kira - kira Kak Difan seneng gak ya ketemu aku." tanya Aca.
"Insha Allah Nak. Pasti Difan akan senang lihat penampilan kamu sekarang, semakin cantik dan semakin dewasa." puji Sissy pada anak gadisnya.
"Bunda bisa aja mujinya." Aca merangkul Sissy erat.
"Bunda bicara jujur kok Nak. Anak Bunda emang paling cantik." Sissy mengecup pipi Aca.
"Makasih ya Bun." Aca mencium balik Bundanya.
"Yuk kita turun. Ayah sama Ical udah nungguin." Sissy menggandeng tangan anaknya.
"Wow.. Cantik banget anak Ayah." puji Rio saat melihat anak gadisnya.
"Makasih Yah." Aca memeluk dan mencium pipi Rio.
"Cuma anaknya aja nih yang dipuji." Sissy pura - pura ngambek.
"Bunda sirik aja." ledek Aca.
"Bunda pastinya selalu cantik buat Ayah." Rio mencium pipi Sissy mesra.
"Iya iya. Ayo berangkat." Rio langsung menuju ke mobil. Rio duduk di samping Ical yanga memegang kemudi. Sedangkan Sissy dan Aca duduk di belakang. Ical langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Yoan, tempat akad nikah berlangsung.
Sampai disana ternyata kedua sahabat Sissy yang lain beserta keluarganya sudah sampai lebih dulu. Sissy pun keluar bersama Aca. Pernikahan Kian dan Vanya berlangsung tertutup hanya untuk keluarga saja. Karena sebenarnya mereka terpaksa menikah karena Vanya sudah terlanjur hamil lebih dulu.
"Si, baru datang ?" sapa Amira.
"Iya Ra. Tadi lama nungguin Aca yang bingung pilih hijabnya." jawab Sissy.
"Makin cantik aja anakmu itu." puji Amira demgan tulus.
Acara akad nikah berlangsung dengan khitmad. Topan menikahkan langsung anaknya denga Kian. Tampak Yoan dan Zizi yang duduk bersebelahan tak mampu menahan tangis. Mereka pun berpelukan.
"Gak nyangka kita jadi besanan." bisik Zizi di telinga Yoan.
"Iya Zi. Akhirnya anak kita berjodoh." jawab Yoan.
"Maafin anak aku ya Yo." kata Zizi sambil memandang sahabatnya itu.
"Bukan salah anak kamu saja. Semuanya kan dilakukan berdua." Yoan tersenyum pada sahabatnya itu.
Setelah semua prosesi sungkeman selesai, Yoan langsung menuju ke kamarnya.
Sissy dan Amira pun mengantri mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Tak nampak Yoan dan Zizi di sebelah pengantin.
"Selamat ya Kian, Vanya." Sissy memeluk keduanya bergantian.
"Makasih Bunda." jawab Kian mewakili Vanya.
Sissy pun langsung mencari keberadaan dua sahabatnya itu
__ADS_1
"Yoan dimana ?" tanya Sissy.
"Di kamar lagi ditemenin Zizi. Kita susul kesana yuk!" ajak Amira. Mereka pun menuju ke kamar Yoan. Dilihatnya Yoan sedang menangis di pelukn Zizi.
"Yo, kamu baik - baik aja kan ?" tanya Sissy menghampiri sahabatnya itu.
"Iya Si, Ra. Aku cuma sedih aja." Yoan menghapus airmatanya.
"Kenapa sedih sampai gitu sih. Berat ya mau melepas anak perempuan satu - satunya menikah ?" Amira mengusap lembut punggung Yoan.
"Bukan gitu. Aku gak nyangka kalo Vanya akan mengalami hal yang sama dengan aku dulu. Menikah karena hamil dulu. Padahal dia masih muda banget. Baru aja masuk kuliah." Yoan terisak - isak.
"Yang sabar Yo. Semuanya udah diatur sama Allah. Yang penting mereka sudah sah sekarang." kata Sissy dengan bijak.
"Makasih ya kalian udah mau datang." Zizi memeluk sahabatnya.
"Gak nyangka loh kalian beneran bisa besanan." kata Amira sambil tertawa.
"Iya ya. Dua besanku adalah sahabatku." Yoan merasa aneh dengan hal ini.
"Dan kayaknya abis ini kita juga bakal besanan Yo." Ucapan Sissy bagai petir di siang bolong.
"Maksudnya Si ? Difan dan Aca ?" tanya Yoan masih bingung.
"Iya. Kita tinggal tunggu waktu aja." Sissy tersenyum misterius. Dia teringat tadi sebelum menyusul ke kamar Yoan sempat melihat Aca dan Difan sedang berbicara berdua.
Ditempat lain Aca sedang menunggu Ical yang sedang mengambilkan minuman untuknya.
"Hai Ca. Kamu apa kabar ?" sapa Difan dari belakang Aca yang sedang memperhatikan kedua pengantin.
"Kak Difan ?" Aca langsung berbalik dan mendapati sosok lelaki yang selalu memenuhi kepalanya dua tahun terakhir ini sedang tersenyum padanya.
"Iya ini aku. Jangan bilang kamu lupa sama aku ?" ledek Difan.
"Gak dong Kak. Cuma gak nyangka aja bisa ketemu Kakak disini." Aca masih takjub melihat sosok di hadapannya.
"Kan Vanya adik aku. Pasti aku akan datang." jawab Difan.
"Oh iya ya. Kenapa aku bisa lupa ya." ucap Aca sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tapi kamu gak lupa tuh pake gaun pemberian aku." Difan tersenyum pada Aca.
"Hehehe. Iya juga ya." Aca merasa kalo tertangkap basah mengharap kedatangan Difan. Aca hanya bisa menunduk menyembunyikan perasaannya.
"Ca.." panggil Ical yang membawakan minuman untuk Aca.
"Gimana kalo kita ngobrol besok aja. Sekarang masih rame banyak keluarga." kata Difan.
"Iya Kak." jawab Aca singkat.
"Oke. Besok ketemu di gra****a ya jam 10. Aku tunggu." Difan bergegas pergi meninggalkan Aca dan bergabung dengan Dafa dan keluarganya.
Aca hanya menatap punggung Lelaki yang dicintainya itu.
Jangan lupa tetap dukung Author..
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Bersambung