
Malam itu Mama Yani, Rara, Amira dan Mas Alif sedang dalam perjalanan menuju Jombang. Mereka masih belum mendapat kabar soal kondisi Sissy dan Rio serta bayi kembar mereka.
Amura tak lupa berbagi kabar dengan sahabatnya yang lain.
*Chat Group Pelangi*
Amira
Girls, aku lagi otw Jombang ya.
Yoan
Hati2 di jalan ya Ra. Jagain Mama.
Zizi
Kabari kita segera ya kondisi Sissy.
Amira
Siap. Oh iya, minta tolong hubungi sekolah Rara. Ijinin buat dia ya. Senin baru masuk lagi.
Yoan
Oke siap. Nanti aku yang telpon ke sekolahnya.
Amira
Jangan lupa doain buat Sissy, Rio dan bayinya.
Zizi
Insha Allah kita pasti doain. Sabtu aku juga mau kesana.
Yoan
Kamu juga jaga kesehatan ya.
Amira
Siap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Sissy dan Rio dirawat. Amira bergegas menuju ruang ICU tempat Sissy dan Rio dirawat. Meninggalkan Mama Yani dan Rara yang masih berjalan perlahan.
"Assalamualaikum. Gimana kondisi Sissy dan Rio?" tanya Amira.
"Mbak Amira ya? Mbak Sissy dan Mas Rio masih koma Mbak." Jawab perempuan yang ternyata Ranti, adik dari Rio.
"Gak bisa ditengok ya?" tanya Mama yang sudha berada di belakang Amira.
"Bisa Ma. Tapi waktu tertentu aja." Ranti mencium tangan Mama.
__ADS_1
"Bunda kamu dimana?" tanya Mama lagi.
"Bunda masih di ruangan 106. Tapi gak ada yang parah, cuma terbentur sedikit aja badannya." jawab Ranti.
"Bayi nya Sissy gimana?" tanya Amira teringat akan anak Sissy.
"Alhamdulilah mereka selamat. Tapi sekarang masih di inkubator karena lahir prematur." Ranti mengajak Mama Yani untuk ke ruangan bayi.
"Itu mah Bayinya." Ranti menunjuk sepasang bayi di inkubator.
"Masya Allah. Lucunya kalian. Sayang Mama kamu belum bisa melihat kalian." Mama berusaha menahan tangisnya.
"Iya Ma. Alhamdulilah mereka sehat, berat badannya juga bagus kok." kata Ranti lagi.
"Kita tengok Bunda kamu yuk." Mama Yani menjauh dari depan ruang inkubator.
"Assalamualaikum Bu. Gimana kondisi Ibu?" tanya Mama sambil duduk di samping ranjang Bunda.
"Alhamdulilah saya sudah gak papa Bu. Tinggal pulang aja ini." Bunda bangun dari tidurnya dan memeluk Mama Yani.
"Yang sabar ya Bu. Kita doain anak kita segera sadar." kata Bunda sambil menangis.
"Iya Bu. Saya gak nyangka mereka harus seperti ini. Si kembar sudah di adzani Bu?" tanya Mama.
"Sudah Bu. Tadi Haris yang mengadzani." Bunda menyebut nama anaknya.
"Kasihan mereka. Baru lahir tapi ibu dan ayahnya malah koma." Kata Mama.
"Maafin anak saya Bu." kata Bunda lirih. Bunda pun menceritakan kejadian kecelakaan yang memgakibatkan Rio dan Sissy koma itu pada Mama.
Mereka pun menuju ke penginapan yang berada di sebelah rumah sakit untuk beristirahat. Amira memesan 2 kamar untuk mereka. Keesokan harinya setelah mandi dan sarapan Amira mengajak Mama Yani ke rumah sakit lagi.
"Te, ayo saya temanin ke ruang ICU biar bisa ketemu Sissy." Amira menggandeng tangan Mama Yani.
Mama Pun menuju ruang ICU. Setelah memakai perlengkapan steril, Mama pun masuk ke dalam ditemani oleh Amira.
"De, kamu cepet bangun. Si kembar nungguin kamu." kata Mama sambil mengusap wajah Sissy yang terdiam.
"Si, kamu harus kuat. Ingat pesan Papa, kamu harus jagain si kembar. Ayo bangun Si." Amira ikut mengusap dengan lembut tanganya Sissy yang terpasang infus.
"Kamu juga harus bangun Yo. Kasian anak dan istri kamu. Si kembar juga nyariin kamu." Amira berkata pada Rio yang juga tertidur diam di samping Sissy.
Kondisi Rio sepertinya lebih parah karena alat yang terpasang pun lebih banyak.
"Yo, kamu janji sama Mama mau jagain Sissy dan anak-anak kalian. Ayo bangun." Mama Menangis mengusap wajah Rio.
"Te, saya keluar dulu. Biar gantian sama Rara." Amira pamit untuk keluar.
"Iya Ra." Mama Yani tersenyum getir.
Amira pun keluar dari ruang ICU. Amira merasa tak kuat melihat kondisi Sissy dan Rio yang seperti itu. Rara menggantikan Amira untuk masuk ke dalam ruang ICU menemani Eyangnya. Saat masuk dilihatnya Eyang sedang mengaji di dekat mereka. Rara pun berdiri di sebelah Sissy dan mengusap lembut tangan tante nya itu.
"Ate, ayo bangun Te. Kita jalan - jalan lagi." Rara Mengusap lengan Sissy lembut, berharap bisa membangunkannya.
__ADS_1
Mama Yani sudah selesau mengaji dan hendak pamit keluar ketika dirasakannya tangan Sissy bergerak menggenggam tangannya.
"De, kamu bangun?" Mama mengusap tangan Sissy. Rara pun segera memencet tombol untuk memanggil dokter dan perawat.
"De, ayo bangun. Kasian anak kamu." Mama terus berbisik di telinga Sissy. Sissy oun membuka matanya perlahan.
"Ma.." suara Sissy tercekat.
"Tenang ya sayang. Dokter sebentar lagi datang." Tak lama dokter pun datang.
Mereka menyuruh Mama Yani dan Rara untuk keluar karena mereka akan memeriksa Sissy.
Alhamdulilah Sissy sudah sadar dan akan segera dipindah ke ruang rawat. Keluarga pun meminta agar Sissy dipindah ke ruang yang sama dengan Bunda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sudah 2 hari Sissy dipindahkan ke ruangan. Ini berarti udah 3 hari Rio terbaring koma di ruang ICU. Bunda pun sudah pulang dari rumah sakit dan beristirahat di rumah. Keluarga Rio bergantian menjaga Sissy dan Rio. Mama Yani pun masih di Jombang dan sekarang sedang pulang dulu ke rumah Bunda Susi. Amira sudah pulang kembali ke Malang kemarin sore bersama Rara.
"Ibu, waktunya bertemu si kembar." Suster datang dengan kursi roda.
"Iya Sus. Makasih." Sissy pun duduk di kursi roda yang didorong oleh suster. Sehari 2 kali Sissy bisa bertemu dengan bayi kembarnya yang masih di inkubator.
"Halo sayang. Ayo cepet sehat biar bisa bobok sama Bunda." kata Sissy mengajak ngobrol bayi kembarnya.
"Nanti kalian juga harus bangunin Ayah. Biar kita bisa kumpul lagi." Sissy mulai menangis mengingat kondisi Rio yang masih terbaring koma. Sissy melihat kedua bayinya itu terlihat sehat dan tersenyum setiap kali ia mengajak ngobrol.
"Kalo kondisinya seperti ini terus, lusa mereka sudah bisa keluar dari inkubator Bu." kata suster yang mendampingi Sissy.
"Alhamdulilah Sus. Semoga mereka tetap stabil." Sissy mengusap airmata yang mengalir di pipinya.
"Sus, boleh antar saya ke ruang ICU? Saya mau ketemu suami saya." kata Sissy.
"Iya Bu." Suster pun mendorong kursi roda menuju ruang ICU.
"Mas, kamu harus bangun. Kamu harus lihat anak kita. Mereka sangat sehat." Sissy mengusap lembut tangan suaminya.
"Aku ijin kasih nama mereka ya Mas. Aku kasih nama Khalid dan Khansa." Sissy terus berbicara meski Rio hanya terdiam saja.
Sissy pun terus bercerita pada suaminya mengenai anak mereka. Hingga tak terasa sudah satu jam dia disana. Suster pun mengajak Sissy untuk kembali ke kamarnya.
"Mas, aku ke kamar duku ya. Pokoknya kalo aku kesini lagi kamu harus bangun ya. Aku kangen sama kamu Mas." Sissy memeluk dan mencium suaminya.
"Bu, ayo kita kembali ke kamar. Ibu harus istirahat." Suster menghampiri Sissy.
"Iya Sus." Sissy pun duduk kembali di kursi rodanya.
Apa Rio akan segera bangun? Terus bagaimana kondisi si kembar?
Jangan lupa dukung author terus.
Like 👍, komen dan Vote...
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Bersambung