
# Kali ini kita akan menceritakan kisah Ical #
Ical sedang duduk termenung di meja belajarnya. Dia sengaja membuka jendela lebar - lebar agar bisa memandangi bulan dan bintang yang tengah bersinar.
Dia teringat akan pesan dari Ayahnya saat kecil dulu.
*flashback on*
Ical tengah bermain di taman ditemani oleh Ayahnya.
"Cal, kamu sayang sama Ayah kan?" tanya Rio.
"Sayang dong Yah." jawab Ical mantap.
"Kamu sayang juga sama Bunda dan Aca?" tanya Rio lagi.
"Pasti Yah." Ical memeluk Ayahnya.
"Kamu dengerin Ayah. Kamu harus menjaga Bunda dan Aca. Ada Ayah ataupun tak ada. Kamu harus jadi orang pertama yang membela mereka." kata Rio yang disambut anggukan oleh Ical.
"Mereka adalah wanita yang sangat nerharga untuk Ayah. Kamu juga sama berharganya dengan mereka. Jangan pernah lukai atau kecewakan mereka." Rio membelai lembut kepala putranya.
"Selalu muliakan wanita di manapun mereka berada. Jangan pernah mempermainkan wanita." pesan Rio lagi.
"Iya Ayah. Aku gak akan pernah melukai dan mengecewakan hati wanita." Ical menatap Ayahnya dengan tersenyum.
"Pintar anak Ayah. Ayah yakin suatu saat kamu akan jadi lelaki yang hebat." kata Rio sambil memeluk putranya.
*flashback off*
Ical selalu teringat pesan Ayahnya, itulah sebabnya dia bersikap dingin dan menjaga jarak pada wanita. Dia tak ingin memberikan harapan palsu pada wanita yang menyukainya.
Ical pernah menyukai seorang perempuan yang usianya lebih tua bahkan mereka pernah menjalani hubungan meskipun hanya cinta monyet. Ical duduk di kelas 8 sedangkan Alya, perempuan itu duduk di kelas 10. Sekolah mereka yang bersebelahan membuat keduanya saling jatuh cinta. Hingga akhirnya takdir berkata lain, Alya mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari liburan bersama keluarganya. Alya dan Ayahnya meninggal seketika, sedangkan Ibu dan adik perempuannya harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.
Hingga saat ini Ical belum melupakan Alya.
Pagi itu Ical mendapatkan surat cinta lagi dari siswi kelas 1-4.
"Bro, kamu dapat surat cinta lagi?" Bayu langsung mengambil dnan membaca surat nerwarna pink itu.
"Gila kamu. Baru setengah tahun udah dapat 5 surat cinta." kata Dino yang ikut membaca surat di tangan Bayu.
"Udah buang aja suratnya." kata Ical cuek.
"Tapi ini anaknya imut banget lih Cal. Gak nyesel kamu?" kata Bayu.
__ADS_1
"Gak. Aku gak ingin pacaran." Ical menjawab dengan dingin.
"Buat aku aja deh." kata Iqbal ikut menimpali.
"Terserah kamu aja. Oh iya, tolong kasih surat ini ke dia." Ical menyerahkan surat dalam amplop putih.
"Kasian si Irma ditolak mentah - mentah oleh Ical." gumam Dino.
"Kamu bilang apa?" Ical menatap tajam pada Dino.
"Aku heran deh Cal. Kenapa kamu selalu dingin sama cewek." tanya Bayu.
"Aku cuma gak pengen terluka lagi. Aku juga gak mau pacar - pacaran. Sesuai pesan Ayahku, jangan pernah menyakiti perempuan. Makanya aku lebih baik bersikap dingin dan jaga jarak dengan mereka. Aku ingin fokus belajar." jawab Ical panjang lebar.
"Hhmm.. Ternyata itu alasan kamu. Aku kira kamu bengkok, gak suka sama cewek." celetuk Dino yang langsung dipukul oleh Ical.
"Sialan kamu." umpat Ical.
"Terus kamu gak pengen nikah nantinya?" Iqbal mulai kepo.
"Ya mau lah. Tapi gak usah pacaran, taaruf aja." Ical menjelaskan lagi.
"Mantap bener." Bayu mengacungkan jempolnya di depan muka Ical.
Pulang sekolah Ical mampir dulu ke Gra***a untuk membeli buku. Kebetulan Aca sedang ada belajar kelompik di rumah teman sekelasnya. Ical lebih senang menghabiskan waktunya di toko buku atau perpustakaan. Selain menghindari keramaian dia juga sangat gemar membaca seperti Bundanya. Setelah mendapatkan buku yang diinginkannya, Ical mampir ke resto fastfood untuk mengisi perutnya.
Ical sampai di rumah berbarengan dengan Sissy yang baru datang dari Cafe.
"Kok baru pulang sayang?" tanya Sissy saat Ical mencium tangannya.
"Iya Bun. Tadi abis mampir ke Gra****a beli buku. Trus makan dulu di M**." Ical menceritakan kegiatannya tadi.
"Bunda bawa cake kesukaan kamu dan Aca." kata Sissy sambil mengangkat kotak berisi kue.
"Tapi aku udah kenyang Bun." kata Ical.
"Iya biar Bunda simpan di kulkas dulu. Aca juga masih kerja kelompok kan." Sissy membelai rambut Ical.
"Iya." jawab Ical singkat.
"Yawda kamu ganti baju trus istirahat." kata Sissy sambil menuju ke dapur.
Selama ini Ical tak pernah menyembunyikan apapun dari Bundanya itu. Termasuk cerita soal Alya pun hanya Sissy yang tahu. Meski akhirnya Sissy selalu cerita pada Rio. Tapi Rio pun menghargai privasi Ical yang memilih bercerita hanya pada Bundanya.
Ical langsung meletakkan tasnya di meja belajar dan membuka lemari untuk mengambil pakaian ganti. Kemudian Ical pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Tak perlu waktu lama, Ical pun terlelap.
__ADS_1
Ical terbangun karena suara berisik dari kamar bawah. Ical melihat jam di dinding yang ternyata sudah jam 3. Ical bergegas mandi dan menjalankan shalat Ashar di kamarnya. Ical termasuk anak yang disiplin dan teratur. Berbanding terbalik dengan Aca yang lebih cuek dan ceroboh. Selesai shalat ical pun turun ke lantai bawah. Dilihatnya Aca sedang bercanda dengan Sissy.
"Anak ganteng Bunda udah bangun. Sini nak kita makan kuenya." Sissy langsung mengeluarkan kue kesukaan Ical.
"Makasih Bun. Kamu baru pulang?" tanya Ical pada Aca yang masih memakai seragam.
"Iya. Baru datang langsung kelaparan jadi makan kue dulu deh." Aca menunjuk piringnya yang sudah kosong.
"Udah habis kan? Sana ganti baju trus mandi sekalian." omel Ical pada Saudara kembarnya.
"Iya bawel." Aca langsung mengambil tas nya dan naik menuju ke kamarnya.
"Bunda harus lebih tegas sama Aca dong." protes Ical pada Sissy.
"Kan kasian dia udah lapar." kata Sissy sambil duduk di depan Ical.
"Tapi dia jadi kebiasaan. Gak pernah disiplin." kata Ical lagi.
"Iya sayang. Maafin Bunda ya." Sissy mencubit pipi Ical.
"Bener kata Ayah. Sifat Aca pasti nurun dari Bunda ya." Sindir Ical.
"Hehehe. Kamu kok tau sih? Kamu tuh mirip siapa sih? Bisa kayak gini?" Sissy menatap lekat putra gantengnya.
"Ya gak tau. Kalo gak Ayah ya Kakek mungkin." Ical mulai tersenyum pada wanita tersayangnya.
"Perasaan Ayah kamu nyantai juga kok. Oh, kayak Uwa Ochy nih. Disiplin." Sissy tak mengalihkan pandangan dari Ical.
"Iya sepertinya. Udah Bun jangan lihatin aku kayak gitu. Kan malu." Ical menundukkan wajahnya.
"Beruntung deh perempuan yang jadi istri kmu nanti." Sissy mengusap lembut pipi Ical.
"Bunda ngomong apa sih? Mulai ngelantur deh." Ical menikmati setiap belaian lembut sang Bunda.
"Gak kerasa kamu sudah besar dan makin dewasa. Bunda juga makin tua nih." Sissy masih terus bergumam.
"Tapi Bunda tetap jadi wanita tercantikku." Ical langsung memeluk Sissy dengan erat.
Jangan lupa tetap dukung Author..
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya.
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung