
Hari ini Sissy dan Rio sedang mengajak si kembar jalan - jalan di sekitar komplek rumah mereka. Si kembar sudah bisa duduk dan mulai banyak bicaranya.
Sudah 2 hari ini si kembar mulai MPASI. Sissy mulai menyuapi Aca dan Ical dengan makanan yang diraciknya sendiri.
"Aaa... sayang." Sissy menyuapi Ical dan Aca bergantian.
"Wah pinternya anak Ayah. Makannya lahap ya." Rio menciumi Ical dan Aca bergantian.
"Iya dong Ayah kan makanan buatan Bunda enak." Sissy menjawab dengan suara anak kecil.
"Masa sih? Kalo masakin Ayah kok gak bisa." Rio melirik Sissy yang langsung mencubitnya.
"Mas iih. Nakal. Kan aku udah masakin sebisanya."
"Sakit Dek. Iya - iya apapun yang dimasak istriku pasti aku makan." Rio mencubit gemas pipi Sissy.
Setelah menyuapi Aca dan Ical, mereka pu berjalan pulang ke rumah.
"Dek, liat tuh. Ada rumah dijual." Rio menujuk ke arah sebuah rumah.
"Iya Mas. Kita lihat yuk." Sissy mengajak Rio ke rumah itu.
"Assalamualaikum." Rio memberi salam.
"Waalaikumsalam." jawab suara dari dalam rumah.
"Ada yang bisa saya bantu Pak, Bu."
"Rumahnya dijual kan Pak? Boleh kita lihat - lihat ?"
"Ooh Boleh. Silahkan masuk."
Sissy dan Rio pun masuk sambil masing - masing menggendong si kembar.
"Berapa kamar Pak?"
"Tiga Kamar tidur. Satu kamar ada kamar mandi dalam."
"Wah.. Bagus Mas bahannya."
"Iya Dek."
"Di belakang juga ada taman."
"Kenapa dijual Pak?"
"Ini punya adik saya. Rencananya dia mau pindah ke luar negeri ikut suaminya."
"Ooh.. Berapa harganya Pak?"
"xxx juta. Bisa nego Pak."
"Kita tertarik nih Pak. Tapi kita harus diskusi dulu dan menyesuaikan dengan budget."
"Silahkan Pak. Bapak dan Ibu tinggal di daerah sini juga?"
"Iya. Saya ngontrak di blok C."
"Saya minta kontak Bapak ya. Biar enak komunikasinya."
"Boleh Pak. Ini nomer saya 081*********."
__ADS_1
"Oke Pak. Nanti saya hubungi lagi."
"Kamu pamit Pak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Bagus Mas rumahnya. Harganya juga cocok sama budget kita." kata Sissy dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Emang kamu punya dari mana segitu banyak?" tanya Rio.
"Oh iya Mas belum tau ya. Kan sawah dan tanah peninggalan almarhum Papa udah laku. Uangnya juga udah dibagikan." Sissy menceritakan hal yang terlewatkan oleh Rio.
"Dapetnya banyak?" tanya Rio iseng.
"Lumayan lah Mas. Bisa buat beli rumah tadi. Kemarin sebagian aku pake buat bayar rumah sakit kamu." kata Sissy.
"Aku lama banget ya koma nya. Ngabisin tabungan kamu." Rio merasa bersalah pada Sissy.
"Apaan sih Mas. Uangku juga uang kamu. Lagian kamu juga dapat pesangon yang besar dari kantor. Uangnya aku pakai buat modal buka toko." kata Sissy.
"Terus kamu pake uang tabungan kamu buat bayar rumah sakit?" tanya Rio lagi.
"Iya. Sebagian dibayar sama kantor juga." Sissy menjelaskan semuanya.
"Syukurlah kalo gitu. Makasih ya sayang." Rio mencium sekilas pipi Sissy.
"Mas, ini di jalan. Dilihatin orang - orang tuh." Sissy tersipu malu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah nego harga yang cukup alot, akhirnya rumah itu berhasil mereka beli. Rio sengaja mengatasnamakan rumah itu dengan nama Sissy.
*flashback on*
"Kok nama aku Mas? Kenapa gak nama kamu aja." kata Sissy.
"Ya kan pake uang warisan kamu. Jadi kamu lebih berhak atas rumah itu."
"Tapi Mas.." Sissy hendak protes tapi mulutnya langsung dibungkam dengan ciuman oleh Rio.
"Gak Dek. Itu hak kamu." Rio berkata dengan lembut.
"Iya deh Mas. Tapi abis itu kita beli mobil ya Mas. Atas nama kamu Mas." Sissy menatap lembut pada Rio.
"Kenapa harus beli mobil juga sih. Uangnya ntar habis loh." Rio tak suka Sissy mulai boros.
"Kan buat operasional kita nanti. Bisa dipake buat antar pesanan brownis." Sissy memberi alasan yang menbuat Rio diam.
"Oke deh. Terserah kamu aja Dek." Rio meraih Sissy ke dalam pelukannya.
"Makasih ya Mas. Udah mau ngerti." Sissy pun membenamkan dirinya dalam pelukan Rio.
*flashback off*
Sissy sedang membuat brownis untuk dibagikan sebagai tester di rumah sakit dan daerah sekitar komplek sini.
"Udah matang belum Dek?" Teriak Rio dari dalam kamar.
"Belum Mas. Bentar lagi." kata Sissy.
"Dek, ini Flyernya masih pake alamat sini. Gimana ya?" tanya Rio sambil membawa setumpuk flyer yang sudah jadi.
"Sementara pake itu aja dulu Mas. Kan kita juga pindahnya baru bulan depan." kata Sissy sambil memberikan toping pada brownis yang sudah jadi.
"Iya deh. Ntar aku bikin lagi flyer yang baru, tinggal ganti alamatnya." Rio memasukkan flyer ke dalam kantong.
__ADS_1
Pesanan mulai berdatangan. Sissy mulai sibuk mengurus orderan brownisnya. Sementara ini dia masih bisa mengerjakannya sendirian.
"Mas, ini brownis pesanan buat Bu Lina udah siap. Mas pesanin kurir ya." Sissy menyerahkan sekantong besar berisi 4 kotak brownis.
"Siap Bu Bos." Rio mengambil hp nya dan memesan ojek online.
"Masih ada lagi yang dibuat ?" Rio menghampiri Sissy yang sedang membuat adonan baru.
"Iya. Ini pesanan dari Pak RT." jawab Sissy.
"Ooh.. Iya deh. Aku ke depan dulu ya mau nungguin ojek online nya." kata Rio mengambil kantong berisi brownis.
Sissy meneruskan membuat adonan brownis.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya hari ini Sissy dan Rio pindah ke rumah barunya. Mereka tidak meneruskan toko sembako nya dan hanya fokus berjualan brownis yang lumayan laris.
Hari ini mereka mengundang anak - anak dari panti asuhan di sebelah rumah sakit untuk syukuran rumah baru mereka. Acara berlangsung dengan sederhana. Bunda dan Widi mewakili keluarga hadir di rumah mereka.
"Alhamdulilah. Selesai juga syukurannya." Sissy menghempaskan tubuhnya di sofa di samping Rio.
"Iya Dek. Tadi anak - anak panti terlihat senang sekali." kata Rio.
Mereka sengaja mengundang anak panti asuhan di daerah itu untuk mendoakan rumah baru mereka.
"Bunda bangga sama kamu Si. Mau berjuang demi keluarga." Bunda memeluk Sissy.
"Makasih ya Bun. Sissy senang aja bisa bikin kue yang enak." jawab Sissy.
"Kamu gak boleh membuat mantu Bunda ini sedih ya Nak." Bunda menatap Rio.
"Iya Bunda. Insha Allah aku akan terus dampingi istri dan anak - anak aku." kata Rio sambil memeluk 2 wanita kesayangannya itu.
"Aku gak ikut dipeluk?" Widi muncul di belakang mereka.
"Gak mau ah meluk kamu Dek. Ntar ada yang marah." ledek Rio.
"Mas apaan sih?" Widi memukul lengan kakaknya.
"Kan emang udah mau lamaran." Rio masih menggoda Widi.
"Biarin." jawab Widi sambil memeluk Bundanya.
"Jiah.. Udah tinggal berapa bulan nikah masih aja manja." Rio mencubit pipi Widi.
"Mas.." Widi berlari mengejar kakaknya.
"Kalian nih selalu aja berantem. Berisik, malu sama si kembar." Bunda berkata pelan.
Si sulung dan si bungsu tetap aja berkejaran hingga ke halaman belakang.
"Kamu yang sabar ya ngadepin mereka." Bunda mengelus pundak Sissy.
"Iya Bun." Sissy tersenyum pada Bunda.
"Ampun.. ampun Wid." Rio bersembunyi di belakang Sissy. Widi langsung menghadiahi kakaknya dengan gelitikan. Sissy ikut kewalahan karena Rio memeluk pinggang Sissy dengan erat.
Bunda yang melihatnya hanya bisa tertawa. Bahagia rasanya melihat anak - anak dan menantunya akur seperti itu.
Jangan lupa Likeπ, Komen dan Vote..
Makasih πππ
Bersambung
__ADS_1