Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
(Season 2) #30 Quality time with you


__ADS_3

Hari - hari Aca kembali berwarna karena ada Difan yang menemaninya selam beberapa hari ini. Untuk menghindari fitnah, Difan memilih tinggal di kost yang tak jauh dari rumah Aca. Setiap hari dia datang ke rumah Aca untuk membantunya menyusun skripsi. Difan juga dengan setia mengantar Aca saat harus bimbingan ke kampus. Seperti siang ini Difan sedang menunggu Aca di depan ruangan dosen pembimbingnya. Difan sibuk bermain dengan gadgetnya.


"Kak, Udah selesai. Ayo kita pulang." Aca sudah berdiri di depan Difan.


"Gimana bimbingannya ?" tanya Difan.


"Alhamdulilah lancar Kak. Ada revisi dikit aja. Tapi Bab 2 udah lolos." jawab Aca.


"Kita mau kemana sekarang ?" tanya Difan lagi.


"Kita ke mall aja yuk. Makan." Aca berjalan di samping Difan.


"Sekalian nonton yuk. Bosen pacaran di rumah terus." usul Difan.


"Boleh juga Kak. Aku udah lama gak nonton." kata Aca dengan bersemangat.


"Mari kita berangkat tuan puteriku." Difan menggandeng tangan Aca.


Mereka pun memberhentikan angkot yang lewat. Difan mempersilahkan Aca untuk naik lebih dulu.


"Kenapa kita naik angkot Kak ? Kalo naik taksi online kan lebih enak." bisik Aca saat melihat angkot yang penuh.


"Biar lebih mesra. Kalo naik taksi online mana bisa mepet - mepetan kayak gini." Difan balik berbisik sambil tersenyum jahil.


"Dasar cowok." Aca mencubit lengan Difan gemas.


"Auw.. Sakit Ca." Difan mengusap bekas cubitan Aca di lengannya.


Mereka langsung menuju ke bioskop untuk membeli tiket. Film yang ingin mereka tonton baru akan diputar 2 jam lagi. Aca dan Dufan pun memilih untuk berjalan - jalan keliling Mall.


"Ca, Kita beli cincin yuk." ajak Difan saat melewati toko perhiasan.


"Lihat dulu aja ya Kak." jawab Aca.


"Sekalian pilih aja. Terserah kamu aja. Mau emas putih atau perak ?" kata Difan.


"Kakak pake juga kan ?" tanya Aca.


"Iya dong. Kan kita nikahnya berdua." jawab Difan.


"Gak gitu Kak. Ayah aku gak mau pake cincin. Jadi cuma Bunda aja yang pake." Aca menjelaskan.


"Ooh.. Ya aku sih maunya pake sepasang." kata Difan.


"Yang ini bagus Kak." Aca menunjuk sepasang cincin yang terbuat dari emas putih.


"Boleh juga. Mbak, bisa lihat yang ini." kata Difan kata pelayan tokonya.


Pelayan toko pun mengeluarkan sepasang cincin yang dipilih Aca.


Aca masih melihat - lihat juga cincin dengan model yang lain. Tapi pilihan Aca tetap pada cincin yang pertama. Cincin dengan desain sederhana dan berhiaskan batu permata di tengahnya.


"Yang ini aja Kak." kata Aca.


"Oke. Kita beli yang ini aja Mbak." Difan menunjuk sepasang cincin di hadapannya.



"Kita ukur dulu ya jarinya." Pelayan itu mengambil contoh ukuran cincin dan menyuruh Aca mencobanya. Begitu pun dengan Difan. Akhirnya mereka menemukan ukuran yang pas dengan jari mereka.


"Mau diukir nama atau tanggal Pak ?" tanya pelayan toko itu.

__ADS_1


"Hadeuh. Kita belum punya tanggal. Kasih inisial aja. DK." kata Difan sambil menyerahkan sejumlah uang untuk uang muka.


"Baik Pak. Cincinnya akan siap 2 hari lagi." kata pelayan toko sambil menyerahkan nota pemesanan.


"Makasih ya Mbak." pamit Difan dan Aca.


"Kita kemana lagi Ca ?" tanya Difan.


"Masih lama nih Kak. Kita makan dulu ?" tanya Aca.


"Enakan makan abis nonton Ca. Gimana kalo kamu beli baju buat seserahan." kata Difan.


"Emang gak ribet Kak. Bawa dari sini ?" tanya Aca.


"Ya gak apa - apalah. Nanti kita bisa dipaketin ke Malang." kata Difan.


"Oke deh." Aca mengajak Difan masuk ke toko retail yang menjual segala kebutuhan mulai dari pakaian, sepatu hingga tas.


Difan pun hanya mengikuti Aca yang sibuk memilih baju dan sepatu.


"Tas nya sekalian Ca." kata Difan.


"Aku pengen yang ini Kak. Terlalu mahal gak ?" Aca menunjukkan label harga yang terpasang di tas itu.


"Gak masalah kok Ca. Apapun aku belikan buat tuan puteriku ini." Difan mencubit pipi Aca. "Dasar gombal. Ya udah yang ini aja Kak." Aca langsung membawa tas itu ke kasir.


"Kak, Sekalian beli daleman ya." kata Aca malu - malu.


"Wah.. Boleh tuh. Aku juga penasaran ukuran kamu." Difan melirik nakal pada Aca.


"Kakak tunggu aja di depan. Gak akan aku kasih tau ukuranku." Aca langsung meninggalkan Aca masuk ke dalam toko pakaian dalam.


"Beli sekalian sama lingerie ini Ca." bisik Difan.


"Gak tau ah. Aku mau bayar nih. Minta uangnya." kata menyembunyikan b** dan c* di belakang tubuhnya.


"Mana sini biar aku yang bayar." goda Difan.


"Gak usah. Minta uangnya aja." kata Aca yang langsung merebut atm yang disodorkan Difan.


Difan hanya tertawa melihat sikap malu - malu Aca. Setelah selesai membayar, Mereka pun menuju ke bioskop. Selesai nonton mereka pun makan dulu di foodcourt di mall itu. Difansudah menghubungi Ical untuk menyusul mereka di mall.


"Hai Kak. Maaf baru datang." Ical langsung duduk di kursi depan Difan dan Aca.


"Gak apa - apa Cal. Kamu pesen makan dulu deh." kata Difan.


"Iya deh." Difan langsung bangkit memesan makanan jepang favoritnya.


"Kak, tumben ngajakin aku juga." kata Difan di sela - sela makannya.


"Lusa aku mau ngajak Aca pulang ke Malang. Kamu mau ikut gak ?" tanya Difan.


"Lusa aku gak bisa Kak. Lagi ada deadline kerjaan." tolak Ical.


"Ayolah Cal. Kita pulang mumpung dibayarin ongkosnya. Hehehe." ucap Aca.


"Kamu nih. Kalo ongkos sih aku juga punya. Kalian ajalah yang pulang." kata Ical.


"Ya udah deh. Kamu jaga rumah baik - baik ya." kata Ical sambil mengacak rambut Ical.


"Apaan sih Ca. Pake ngacak rambut aku segala. Urusan rumah mah beres lah." Ical merapikan rambutnya yang berantakan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Karena sudah gak ada kuliah, Aca ikut sama Difan pulang ke Malang dulu. Dari bandara mereka langsung menuju ke rumah Aca.


Mereka sengaja gak bilang ke orang rumah.


"Assalamualaikum." Aca memberi salam di depan rumah.


"Waalaikumsalam. Ya Allah Aca !" Sissy terkejut melihat kedatangan anak gadisnya.


"Suprise Bun." Aca memeluk Sissy erat.


"Kamu sama siapa nak ?" Sissy mengintip keluar.


"Bunda apa kabar ?" Difan mencium tangan Sissy.


"Difan ? Kapan kamu pulang." tanya Sissy.


"Beberapa hari lalu Bun. Difan nyusul Aca ke Bandung." jawab Difan.


"Mama kamu belum tahu ya ? Tadi dia baru aja cerita ke Bunda soal kamu." Sissy mengajak Difan masuk.


"Iya Bun. Difan sengaja mau bikin surprise. Bunda sama Ayah gimana kabarnya ?" Difan bertanya lagi.


"Alhamdulilah kami baik. Mama kamu bingung tuh kok belum ada kabar dari kamu." kata Sissy.


"Iya abis ini Difan pulang ke rumah." Difan menyenderkan badannya di sofa.


"Kamu capek ya ? Aca kemana tadi ya ?" Sissy celingukan mencari keberadaan Aca.


"Minum dulu Kak." Aca datang membawakan teh hangat untuk Difan.


"Makasih ya. Kayaknya aku mau langsung pulang aja Bun, Ca." kata Difan setelah meneguk minumannya.


"Kok cepet - cepet ?" tanya Sissy basa - basi.


"Iya Bun. Ini capek banget. mau istirahat dulu di rumah." jawab Difan.


"Iya Kak. Pulang aja dulu. Lagian seminggu ini Kakak gak bisa istirahat bener." Aca menatap Difan lekat. Difan pun balas menatap tajam pada Aca. Untuk sesaat suasana hening.


"Ehem.." Sissy membuyarkan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Difan langsung membereskan tasnya, sedangkan Aca langsung membuang pandangannya.


"Aku pamit dulu deh Bun." Difan langsung bangkit.


"Iya Fan. Udah pesen taksi online nya ?" tanya Sissy.


"Udah Bun. Ini bentar lagi sampai. Assalamualaikum." Difan mencium tangan Sissy.


"Waalaikumsalam." Sissy mengantar Difan sampai di teras.


"Hati - hati ya Kak. Jangan lupa nanti kabarin." kata Aca.


"Siap." Difan pun pergi dengan taksi online.


Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏


Bersambung


__ADS_2