
Bulan madu sudah selesai. Difan dan Aca langsung terbang dari bali menuju bandung. Ical sudah menjemput mereka berdua di Bandara Husein sastranegara. Ical kembali ke Bandung bersama kedua orangtuanya. Mereka sengaja membawa mobil agar bisa lebih leluasa saat di Bandung.
"Bunda sama Ayah gak ikut jemput Cal ?" tanya Aca.
"Gak. Ayah sama Bunda tadi diajak Teh Icha ke rumah Uwa Santi." Ical membantu membawakan koper Aca.
"Ooh. Kita langsung pulang aja ya." kata Aca.
"Eleuh.. Penganten baru kecapean nih abis honeymoon." ledek Ical.
"Ya iyalah. Makanya kamu cepetan nikah Cal." jawab Difan sambil mengerling pada istrinya.
"Apa hubungannya coba ?" tanya Ical mulai sebal melihat pasangan itu mesra - mesraan di depannya.
"Ya biar bisa ngerasain capek karena kebanyakan ngamar. Hehehe." Difan langsung dihujani cubitan oleh Aca.
"Kakak. Ngapain sih hal kayak gitu diomongin ke orang." protes Aca sambil menahan malu.
"Auw.. Sakit. Ical kan sodara kamu sendiri sayang. Ngapain malu." Difan mencubit mesra hidung Aca.
"Udah deh. Jangan mesra - mesraan di depan aku." Ical memperingatkan mereka.
"Siap bos." kata Difan sambil masuk ke dalam mobil.
Digan dan Aca langsung membuka pintu belakang mobil. Mereka bersiap untuk masuk dan duduk di kursi belakang.
"Eits.. Kalian pikir aku abamg g***. Satu duduk di depan dong." gerutu Ical sambil duduk di belakang kemudi.
"Maaf. Kebiasaan pesen g***." Difan tertawa kecil.
"Kita jemput Ayah dan Bunda dulu ya." kata Ical.
"Aku capek Cal. Lemes banget, pengen istirahat." protes Aca.
"Kamu apain dia Kak. Sampe kecapekan kayak gitu." ledek Ical.
"You know lah. Mau kejar target bikin cucu buat Bunda." Difan setengah berbisik pada Ical.
"Kakak..." teriak Aca.
"Hehehe. Kan dia yang nanya Yang." Difan cengengesan tanpa dosa.
"Mampir bentar aja Ca ke rumah Uwa. Abis itu kamu bisa istirahat sepuasnya." kata Ical.
"Mana bisa aku istirahat kalo ada dia." Aca menunjuk Difan.
"No comment ah. Ntar dimarahin lagi." kata Difan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Hari wisuda pun tiba. Aca sudah siap berdandan dari pagi. Tidak perlu ke salon, cukup berdandan minimalis aja. Dan dibantu juga oleh Sissy.
"Wow.. Cantik banget istriku." puji Difan ketika Aca turun bersama Sissy.
"Iya dong. Kan anak Ayah." kata Rio bangga.
"Bunda juga gak kalah cantik." Ical ikut memuji Sissy.
"Iya dong. Itu juga istri Ayah." Rio tak henti membanggakan dua wanita kesayangannya.
"Ayah narsis abis." ledek Ical.
"Harus. Makanya kamu juga cepetan cari wanita untuk jadi istri kamu.
"Gak nyambung deh. Selalu aja ujungnya surih nikah." protes Ical.
"Biar gak kayak Bunda sama Ayah. Nikahnya udah umur banyak." kata Sissy sambil mengusap bahu Ical.
"Iya Bun. Nanti Ical cari wanita yang cocok buat jadi istri." kata Ical asal biar Bundanya tidak semakin memaksanya.
"Bener ya ?" tanya Sissy.
"Tapi Ical mau lulus kuliah dulu terus kerja yang bener terus biayain Ayah sama Bunda naik haji." jawab Ical sambil tersenyum.
Dalam hatinya Ical merasa menang, Apalagi melihat Sissy hanya terdiam saja.
"Insha Allah Bun. Doain aja." kata Ical berusaha mengakhiri percakapan tentang menikah yang tak ada habisnya itu.
"Pasti dong. Bunda selalu berdoa untuk anak gantengnya Bunda. Anak cantik Bunda juga." Sissy membelai kepala kedua anaknya bergantian.
"Ayah juga selalu mendoakan kalian." Rio ikut menambahkan.
Acara wisuda berjalan dengan lancar. Aca didampingi oleh Sissy dan Rio. Sedangkan Ical memilih menunggu di luar sambil menikmati kopi dingin yang dibelinya dari coffe shop depan kampus. Bukannya Ical gak mau ikut masuk, tapi memang jatah undangan hanya untuk 2 orang. Tapi karena Difan dosen di kampus itu, jadi Difan bisa ikut masuk ke dalam gedung wisuda.
Sissy merasa terharu saat nama Aca dipanggil sebagai salah satu lulusan cumlaude dengan nilai ipk 3,78.
"Khansa putri Hanggana, putri tercinta dari Baoak Mario Hanggana dan Ibu Rissya Kamalia, jurusan pendidikan bahasa inggris." pembawa acara nama Aca untuk maju ke panggung beserta kedua orang tuanya.
Rio dan Sissy berjalan berdampingan menuju panggung. Wajah mereka terlihat sangat bangga akan prestasi yang diraih putrinya.
Sekitar 12 orang yang ditetapkan sebagai lulusan terbaik dari jurusan Aca.
"Selamat ya Sayang Ayah sama Bunda bangga sama kamu." bisik Rio sambil memeluk sekilas putrinya. Aca mengalihkan pandangan pada Difan yang mengacungkan kedua ibu jarinya tanda bangganya pada sang istri. Sebagai dosen muda jurusan bahasa inggris, Difan bisa duudk dan berbaur dengan dosen lainnya untuk menyaksikan wisuda istrinya. Setelah acara penyerahan ijazah dan piagam selesai, tanpa ragu Difan menyerahkan buket bunga untuk istrinya. Meski hubungan mereka tidak banyak diketahui oleh dosen lain. Hal itu kontan mengundang sorakan dari dosen lainnya.
"Wah.. Ternyata dosen baru kita menikah dengan mahasiswa juga." komentar salah satu dosen.
"Ternyata Pak Difan sudah sold out gaes." komentar dosen perempuan yang lain.
"Kirain masih bujang." celetuk salah seorang dosen perempuan.
__ADS_1
Difan hanya tersenyum mendengarnya.
"Gak nyangka ternyata pak Difan suaminya Khansa ?" kata seorang dosen saat Difan kembali ke barisan para dosen.
"Justru saya melamar kerja disini setelah melamar dia." jawab Difan.
"Wah.. Kita patah hati nih Pak." goda salah satu dosen perempuan yang masih muda.
"Sabar Bu. Masih ada saya." kata seorang dosen yamg sebenarnya sudah terlihat berumur.
"Emang mau dijadikan yang kedua pak ?" ledek dosen yang lain. Candaan mereka langsung menimbulkan tawa diantara dosen - dosen itu.
"Selamat ya Ca." Ical menyodorkan buket bunga Lily putih kesukaan Aca.
"Makasih Ical." Aca langsung memeluk dan mencium pipi saudraa kembarnya itu.
"Ehem.. Yang dicium kok bukan suaminya dulu sih ?" protes Difan yang sudah berdiri di belakang Aca.
"Aku duluan yang kenal dan sayang sama Aca." kata Ical sambil melepaskan pelukan Aca.
"Iya.. Iya.. Kalo sama saudara kembar mah gak bisa menang." gerutu Difan.
"Gak kok sayang. Sekarang aku kan cintanya sama kamu." Aca langsung memeluk dan mencium pipi suaminya.
"Jangan peluk - peluk dia lagi ya." kata Difan sambil mencubit pipi Aca.
"Gak janji. Nanti kalau dia udah punya istri baru aku berenti cium dia. Hehehe." kata Aca melirik Ical jahil.
"Alah. Obrolan apapun pasti ujungnya kesitu." Ical memilih menjauh sebelum obrolan semakin kacau.
"Cal, jangan kabur.." teriak Aca sambil tertawa puas karena berhasil mengerjai saudraa kembarnya itu.
"Kalian ini udah besar masih aja suka ledek - ledekan." Sissy coba menengahi sambil mengejar Ical yang berjalan menuju mobil.
"Ayo kita makan - makan dulu." ajak Rio.
Kita cariin Ical jodoh yuk biar gak diledekin terus. Hehehe 😁😁
Bagi vote atau Bunga atau secangkir kopi 😁😁
Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya
Like 👍 Komen dan Vote ✌✌
ajak juga teman lain buat ikut membaca ya..
Makasih 🙏🙏🙏
Bersambung
__ADS_1