Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
#70 Calon Besan


__ADS_3

Pekerjaan Rio berjalan dengan lancar. Untuk sementara dia masih mengawasi pembangunan pabrik yang belum rampung 100%. Usaha brownis Sissy pun semakin berkembang. Dia mulai membuka booth di area rumah sakit dan stasiun. Pegawai di rumah sudah bertambah jadi 5 orang. Untuk keperluan produksi, Sissy pun menyewa rumah di sebelahnya yang kebetulan kosong yang dijadikan dapur sekaligus mess karyawan. Brownis dengan merek Twin K itu cukup terkenal di kotanya. Sissy sangat bersyukur dengan rejeki yang begitu melimpah bagi keluarga kecilnya. Tak sedikit yang ingin mengajak untuk kerjasama membuka cabang di kota lain. Tapi Sissy belum ingin melakukannya.


"Bun, Aca ompol." Adu Ical padanya.


"Loh.. Kenapa bisa ngompol sayang?" Sissy menghampiri Aca yang sedang menangis.


"Aca mimpi agi belenang Bun." jawab Aca pelan.


"Iya gak papa sayang. Yuk kita mandi. Ical juga ya." Sissy memandikan Aca dan Ical.


"Hari ini kita mau ke rumah Mbah. Tante Widi kan mau lamaran." kata Sissy sambil memakaikan mereka baju.


"Lamalan itu apa?" tanya Aca.


"Lamaran itu artinya Tante Widi mau menikah." jawab Sissy.


"Menikah itu apa?" kali ini Ical yang bertanya.


"Laki - laki dan perempuan yang sudah besar tinggal serumah kayak Ayah sama Bubun." Sissy menjawab dengan sedikit ragu.


"Ooh.." jawab mereka kompak.


"Syukurlah mereka gak nanya macam - macam. Bisa gak selesai sampai malam ini." batin Sissy.


Sissy pun segera bersiap dan tak lama kemudian Rio datang.


"Aku langsung mandi Dek. Takutnya telat." Rio langsung menuju kamar mandi.


"Lagian kenapa pulangnya molor sih? Kan harusnya jam 2 udah pulang." gerutu Sissy sambil menyiapkan pakaian untuk Rio.


"Tadi ada insiden kecil di lokasi pembangunan pabrik." jawab Rio dari dalam kamar mandi.


"Ooh." jawab Sissy singkat lalu keluar dari kamar.


Mereka sudah tiba di rumah Bunda. Rumah masih terlihat sepi, hanya karpet yang sudah digelar di ruang tamu bersiap untuk menyambut tamu. Sissy langsung masuk membawa si kembar ke dalam rumah.


"Assalamualaikum." Sissy mengucap salam.


"Waalaikumsalam." jawab Dania.


"Loh Ni. Kamu kapan datang?" tanya Sissy sambil mencium pipi kiri dan kanan adik iparnya itu.


"Tadi pagi Mbak. Bikin surprise aja." Dania cengengesan.


"Bawa brownis Mbak?" Dania memgambil alih kantong besar yang dibawa Sissy.


"Bawa dong. Kan buat suguhan nanti malam." Sissy mengeluarkan isi kantongnya.


"Aku mau buat dibawa ke jogja." Dania langsung menyisihkan beberapa kotak brownis.


"Emang kamu pulang kapan?" Sissy mengambil kembali kotak yang disisihkan Dania.


"Lusa lah Mbak. Jahat ih masa aku gak boleh minta brownisnya?" Dania protes.

__ADS_1


"Bukan gak boleh. Nanti aja kalo mau pulang kamu mampir ke rumah. Ambil deh terserah kamu." kata Sissy sambil mulai memotong brownisnya.


"Okeh siap Mbak ku." Dania memeluk Sissy dan langsung menuju ke kamar Widi.


"Dek, cepetan mandi." kata Dania sambil memukul bahu Widi pelan.


"Bentar Mbak. Nunggu maskernya kering." jawab Widi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ba'da Isya rombongan calon suami Widi dagang ke rumah. Rio sebagai wali nya Widi pun menyambut para tamu bersama Bunda. Mereka sengaja menggelar acara ini hanya sebatas keluarga inti saja. Sissy sibuk di dapur membantu menyiapkan makanan dan minuman. Sekilas dilihatnya sosok yang dikenalnya tapi sosok itu membelakanginya.


Sissy hendak menyapa tapi terdengar Ranti memanggilnya.


"Mbak, tamu nya 15 orang." Sissy pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri sosok tersebut.


"Iya Ran. Kita siapin minumannya." Sissy dan Ranti sibuk menyiapkan teh manis untuk para tamu.


"Kamu aja yang bawa ke depan Ran." kata Sissy.


Setelah semua minuman dan makanan ringan disuguhkan, Sissy dan Ranti pun ikut bergabung duduk menemui calon besan.


Sissy menatap satu persatu rombongan calon suami Widi, hingga akhirnya matanya beradu pandang dengan sosok yang sangat dikenalnya, Pak Erick.


"Pak Erick?" gumam Sissy.


Erick hanya mengangguk pada Sissy.


"Mbak kenal sama pria itu?" Ranti penasaran dengan Sissy yang saling bertatapan dengan pria itu.


"Iya. Dulu mitra kerja di Malang." jawab Sissy langsung mengalihkan pandangannya.


Tanpa Sissy sadari Rio sedang memandangnya dan sedikit penasaran dengan sikap Sissy yang seperti salah tingkah menatap salah satu pamannya Ardi, calon suami Widi.


Sissy memilih untuk kembali ke dalam dan menemani si kembar. Dia merasa bingung dan salah tingkah menghadapi Erick dan juga suaminya.


"Dek, kamu disini?" tanya Rio masuk ke kamar.


"Loh, acaranya sudah selesai?" Sissy heran melihat suaminya sudah ada dibelakangnya.


"Lagi makan - makan." jawab Rio sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Kok Mas disini? Gak ikut makan?" tanya Sissy.


"Nanti aja. Mas kangen sama istri dan anak - anak." Rio merebahkan kepalanya di pangkuan Sissy.


"Mas nih. Lagi banyak tamu juga." kata Sissy sambil membelai rambut Rio.


"Dek, Mas lihat kamu salah tingkah tadi. Emang Pak Erick itu siapa?" tanya Rio tanpa basa basi.


"Hhmm.. Mas jangan marah ya kalo aku ceritain." Sissy bertanya dengan ragu.


"Ya cerita aja. Nanti kan ketahuan Mas harus marah atau gak." jawab Rio sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Jadi Erick itu supplier di resto tempat aku kerja dulu, resto gending." Sissy berkata dengan pelan.


"Cuma supplier kan? Kok kamu salah tingkah gitu?" Rio kembali bertanya.


Sissy pun menceritakan semua yang pernah terjadi antara mereka. Bahkan kedekatan mereka sebgai teman curhat saat Rio koma pun diceritakannya. Sissy terus mengusap rambut Rio dan memperhatikannya. Dilhatnya Rio tetap tenang mendengar ceritanya.


"Maafin aku ya Mas. Aku hanya butuh teman curhat. Tapi aku gak pernah membuka hati sama dia." kata Sissy mengakhiri ceritanya.


"Hhmm." Rio hanya berdehem.


"Mas jangan marah ya. Bahkan saat Mas Sadar dari koma, nomernya sudah aku blokir. Aku gak mau mengkhianati rumah tangga kita." Sissy mencium kening suaminya.


Rio langsung menarik tengkuk Sissy dan mencium bibirnya dengan lembut.


"Mas sebenernya sedih tapi Mas gak bisa marah. Mungkin kondisi kamu juga perlu teman bercerita dan dia hadir dalam hidup kamu. Maafin Mas ya sempat ninggalin kamu berbulan - bulan." Rio sudah duduk dan menangkup pipi istrinya.


"Aku yang minta maaf Mas." Sissy memeluk Rio dan mulai menangis.


"Udah jangan nangis. Nanti dilihat si kembar. Kita lupain masalah itu dan kita lanjutkan hidup kita." Rio membelai lembut rambut istrinya.


"Makasih Mas." Sissy membenamkan wajahnya di dada suaminya.


"Ayo sekarang kita makan dulu." Rio menghapus airmata di muka Sissy dan mengajaknya keluar dari kamar.


Sissy pun mengikuti suaminya mengambil makan dan membawanya kembali ke kamar. Dia memilih makan di kamar sambil menungguinya si kembar yang masih tidur.


Rio kembali menemani rombongan calon besan.


"Pak Erick, apa kabar?" sapa Rio duduk di sebelah Erick yang sedang menikmati puding.


"Alhamdulilah baik Pak." Erick hanya tersenyum ramah pada Rio.


"Saya dengar Bapak sudah kenal sama istri saya?" tanya Rio.


"Betul Pak. Saya dulu supplier di resto gending tempat Bu Sissy kerja." jawab Erick.


"Sudah lama kenal dong ya?" tanya Rio lagi.


"Ya sudah lama. Sekitar 5 tahun lah. Saya kaget bisa bertemu lagi disini. Ternyata kita akan jadi besan." kata Erick.


"Ternyata dunia begitu sempit ya." celetuk Rio.


"Dunia begitu sempit. Tak jadi istri malah jadi besan." ucap Erick dalam hati.


Sepertinya sebentar lagi ceritanya harus berakhir nih.


Kira - kira mau dilanjut cerita tentang si kembar disini atau bikin judul baru?


Jangan lupa LikeπŸ‘, Komen dan Vote..


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2