
#Alhamdulilah karya ini udah lulus kontrak, khusus hari ini akan upload 3 episode ya.. #
Selamat Membaca πππ
Sissy masih termenung menatap Papa yang belum sadar. Entah kenapa tiba - tiba Sissy merasa pusing dan mual. Sissy bergegas menuju kamar mandi. Rio yang baru datang segera menyusul Sissy yang sedang berlari menuju kamar mandi.
"Kamu kenapa Dek?" tanya Rio sambil memeluk tubuh Sissy yang limbung.
"Pusing Mas. Agak eneg juga." Sissy berjalan menuju sofa dituntun oleh Rio.
"Kecapekan kayaknya Dek. Nih kamu minum dulu." Rio menyodorkan segelas teh manis hangat. Sissy pun meneguknya sedikit dan merasa mualnya sedikit hilang.
"Sabar ya Dek. Kita berdoa buat Papa." Rio memeluk Sissy dan mengusap bahunya lembut.
"Iya Mas." Sissy merebahkan kepalanya di dada Rio dan memejamkan matanya. Dia merasa sangat lelah.
Sissy masih berada di pelukan Rio ketika Mama, Ibu Titi dan Teh Santi datang.
"Ehem." deheman Teh Santi membuat Sissy reflek membuka matanya.
"Jangan mesra - mesraan disini dong. Kan banyak orang." ledek Teh Santi.
"Siapa yang mesra-mesraan sih Teh." Sissy lamgsung mendorong tubuh Rio menjauh.
"Sissy agak pusing tadi. Makanya aku peluk bentar." Rio mencoba membela diri.
"Kalian mau pulang dulu?" tanya Ibu Titi sambil duduk di sebelah Sissy.
"Nanti aja Bu. Biar istirahat disini aja." Kata Sissy.
"Kasian suamimu De. Udah pulang dulu aja. Nanti sore balik lagi." kata Teh Santi.
Sissy memandang suaminya yang mengangguk karena memang lelah dan mengantuk karena menyetir semalaman.
"Iya deh kita istirahat dulu. Nanti segera telpon aku kalo ada perkembangan kondisi Papa." Pamit Sissy mencium tangan mereka satu persatu.
"Iya. Siap." Teh Santi mengacungkan ibu jarinya.
"Kalian tidur di rumah Papa aja. Udah diberesin kok kamarnya." kata Bu Titi.
"Iya Bu." Sissy pun mengajak Rio untuk berjalan kaki ke rumah Teh Santi. Kebetulan jarak dari rumah sakit ke rumah Teh Santi hanya sekitar 500m.
"Assalamualaikum." Sissy memberi salam di depan pintu.
"Waalaikumsalam." Yoga membuka pintu. "Teh Sissy, Mas. Silahkan masuk."
"Mau ikut istirahat. Kita ke kamar ya." Sissy melangkah masuk tanpa menunggu jawaban dari Yoga.
"Iya Teh. Silahkan." Yoga membiarkan Sissy dan Rio menuju kamar di samping rumah.
Papa memang sengaja membuat kamar yang lebih mirip seperti paviliun khusus untuk anaknya bila datang ke Bandung. Meskipun bertahun-tahun kamar itu tak pernah ditempati. Sissy dan Ochy memang sedikit kecewa pada Papa Adhi semenjak Papa memutuskan untuk menikah lagi. Ochy terakhir datang ke Bandung saat pemakaman A Arya, sedangkan Sissy terakhir datang ke Bandung 3 tahun yang lalu setelah Papa nya menikah. Mungkin karena itu sikap Sissy sedikit cuek pada Yoga dan Andri, anak Ibu Titi, istri Papanya.
"Kamu ngapain kok judes gitu sama Yoga?" tanya Rio ketika mereka sudah di kamar.
__ADS_1
"Biasa aja Mas. Cuma gak mau akrab aja." jawab Sissy sambil mengambil handuk dan baju di tas.
"Jangan gitu lah Dek. Kan dia juga udah jagain Papa selama ini." Rio menasehati istrinya.
"Iya Mas. Tapi aku belum mau akrab sama dia." Sissy lanhsung masuk ke kamar mandi.
*tok.. tok.. *
"Iya. Kenapa Ga?" tanya Rio saat membuka pintu.
"Mas, ini ada makanan sama teh anget. Silahkan." Yoga menyodorkan nampan yang terisi piring dan minuman hangat.
"Makasih ya. Maafin sikap Teteh kamu ya. Mungkin dia capek." Rio menerima nampan itu.
"Iya Mas gak papa. Oh iya, saya mau keluar, ada kerjaan. Saya tinggal ya Mas." kata Yoga.
"Oh iya. Nanti kalo pergi kuncinya disimpan dimana?" tanya Rio lagi.
"Dibawa aja Mas. Nanti titipin Ibu. Saya bawa kunci juga. Assalamualaikum." pamit Yoga.
"Waalaikumsalam." jawab Rio sambil menutup pintu.
Ternyata Sissy mendengarkan semua percakapan mereka dari dalam kamar mandi. Dia merasa bersalah karena sudah bersikap jutek sama Yoga.
Sissy pun keluar dari kamar mandi dan melihat Rio sedang duduk di pinggir ranjang menikmati pisang goreng dari Yoga.
"Dek, ini makan pisang goreng dulu." Rio menawarkan saat Sissy keluar dari kamar mandi.
"Nanti aja Mas. Aku ngantuk, mau istirahat dulu." Sissy menyimpan handuk dan bersiap naik ke ranjang.
"Katanya gak mau tapi rakus juga." ledek Rio sambil mengacak - acak rambut Sissy.
"Mas.. Bisa ya ngeledekinnya." Sissy mencubit perut Rio yang mulai buncit.
"Hahaha. Lucunya istriku ini." Rio balas menyentil hidung Sissy.
Mereka pun akhirnya tertidur sambil berpelukan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Entah berapa lama mereka tertidur, hingga suara dering telpon membangunkan Sissy.
*kring.. kring.. *
"Assalamualaikum." Sissy menjawab telponnya sambil tetap terpejam.
"Waalaikumsalam. De, ke rumah sakit sekarang." kata Teh Santi yang terdengar panik.
"Iya Teh. Ada apa dengan Papa?" Sissy membuka matanya dan mulai panik.
"Kamu kesini dulu aja. Cepetan." Teh Santi langsung menutup telponnya.
Sissy melihat jam di dinding ternyata sudah jam 7 malam.
__ADS_1
"Kenapa Dek?" Rio terbangun karena suara panik Sissy.
"Papa Mas. Kita disuruh ke rumah sakit." Sissy bergegas mengambil hijabnya.
"Ayo Dek." Rio pun masuk ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Mereka bergegas ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit dilihatnya Teh Ochy, Rara, Icha, Teh santi, Mama dan Ibu sedang menangis di depan ruang ICU.
"Teh Ochy kapan datang?" Sissy masih sempat bertanya hal itu.
"Tadi siang De. Pesawatmya delay." Ochy memeluk Sissy dengan erat.
"Yang sabar ya De. Kita doain Papa." Ochy berbisik di telinga Sissy.
Mama sedang menangis di pelukan Teh Santi. Sedang Ibu juga sudah didampingi oleh Riska, menantunya.
"Papa kenapa Teh?" Sissy bertanya sambil menangis.
"Papa kritis De. Barusan drop lagi." kata Ochy.
Sissy merasa tubuhnya berputar, hampir aja dia jatuh, untungnya Rio sempat menangkap dan memeluknya. Rio pun mengajak Sissy untuk duduk di sofa.
"Dek, kamu gak papa?" Rio terus memeluk Sissy.
"Papa Mas.. Papa.." Sissy masih terus menangis.
"Dek, kamu harus kuat. Doakan yang terbaik buat Papa." Rio berusaha menenangkan Sissy.
Teh Ochy segera menghampiri dokter yang baru keluar dari raung ICU.
"Gimana kondisi Papa saya Dok?" tanya Ochy.
Sissy pun memaksakan mendekati Dokter dengan dipapah oleh Rio.
"Maafkan kami. Pak Adhi sudah meninggal." kata Dokter dengan lirih.
Seketika itu tangis anak, istri dan menantu pecah.
Sissy pun mulai limbung dan seketika itu pingsan. Rio segera menggendong Sissy ke sofa. Mama masih berpelukan dengan Ibu. Teh Ochy dan Teh Santi juga memeluk anak mereka masing - masing.
"Mas..Papa udah meninggal" Sissy berkata dengan lirih.
"Ini yang terbaik buat Papa Dek. Kamu ikhlasin, doain Papa ya." Rio memeluk dan mencium puncak kepala Sissy.
"Kamu gak boleh nangis kayak gini. Kasian Papa. Ikut tersiksa." kata Rio lagi yang hanya dibalas Sissy dengan anggukan.
Mereka pun menyiapkan pemakaman untuk Papa. Karena sudah malam, Pemakaman akan dilangsungkan besok pagi. Andri dan Yoga sudah mengurus persiapan pemakaman Papa.
Akankah Sissy bisa menerima kenyataan meninggalnya Papa? Terus gimana soal kehamilan Sissy. Apa Sissy benar-benar hamil?
Jangan lupa Likeπ, Komen, Vote..
Kasih Rate bintang 5 ya..
__ADS_1
Makasih πππ
Bersambung