Kisah Cinta Sang Perawan Tua

Kisah Cinta Sang Perawan Tua
(Season 2) #15 Aca atau Vanya


__ADS_3

Pagi itu Zizi tengah menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.


"Ki, kamu tuh cocok banget sama Aca." perkataan Zizi sukses membuat Kian salah tingkah.


"Manda ngomong apa sih ?" tanya Kian pura - pura gak ngerti.


"Manda tau kok kalau kamu diam -diam sering perhatiin Aca. Kamu suka sama dia nak ?" Zizi balik bertanya.


"Manda sok tau." Kian meminum kopi susu yang baru diseduhnya.


"Auw panas." Kian langsung meletakkan cangkir kopi nya.


"Tuh kan kamu jadi salah tingkah gitu. Kalau gak ada apa - apa ya biasa aja dong." Zizi hanya tertawa melihat tingkah putra bungsunya.


"Manda sih godain mulu." Kian mulai merajuk.


"Ada apa sih ini kok berisik ?" tanya Faisal yang baru memasuki ruang makan.


"Ini Nda. Kian suka sama Aca katanya. Kapan mau kita lamarin." goda Zizi.


"Bohong Nda. Jangan dengerin Manda. Khayalan Manda aja itu mah." kata Kian sambil menghabiskan susu hangatnya.


"Ya gak papa kalo beneran suka. Nanti Panda lamarin buat kamu. Tapi ya nunggu Aca lulus SMA dulu." Faisal ikut menggoda anak bungsunya itu.


"Ah Panda sama aja kayak Manda." Kian langsung bangkit meninggalkan ruang makan.


"Mau kemana kamu ?" tanya Panda.


"Mau kuliah. Daripada disini dengerin obrolan gak jelas." gerutu Kian.


"Yang sabar ya ngadepin Manda." kata Faisal sambil terkekeh.


"Panda juga sama aja. Dari tadi ngeledekin aku terus." gerutu Kian sebelum menuju ke kamarnya.


"Lucu juga ya Nda kalo Kian nikah sama Aca. Aku kan belum besanan sama sahabatku." kata Zizi sambil tersenyum.


"Kamu tuh sukanya mengkhayal aja." protes Faisal.


"Ya biar kayak Amira dan Yoan juga yang bisa besanan. Atau Kian sama Vanya aja ya ?" Zizi malah sibuk memilih jodoh yang paling cocok buat anaknya.


"Makin kacau nih. Terserah kamu aja Nda." Faisal membawa cangkir kopinya ke teras.


"Panda.. Aku kan belum selesai ngomong." Zizi berusaha mengejar Faisal.


"Udahlah Nda Semuanya kita serahkan sama Kian. Terserah dia sukanya sama siapa. Bahkan kalo bukan dengan anak dari sahabat Manda juga gak apa -apa." kata Faisal mulai membaca majalahnya.


"Tapi Nda, Aku pengen bisa besanan dengan sahabatku." Zizi masih tetap pada keinginannya.


"Cinta kan gak bisa dipaksakan." Faisal fokus pada majalah ditangannya.

__ADS_1


"Aku sangat setuju dengan Panda. Kalo jodoh gak akan kemana Nda." Kian tiba - tiba datang menghampiri mereka.


"Tapi kan tetap harus berusaha." kata Zizi lagi.


"Iya Nda. Sudahlah, Kian pamit mau ke kampus dulu." Kian mencium punggung tangan orang tuanya bergantian.


"Hati - hati di jalan ya Nak. Jangan lupa kamu harus menentukan pilihan." pesan Zizi sebelum Kian menjalankan sepeda motornya.


"Udah gak usah dengerin Manda. Sekarang tugas kamu fokus kuliah." kata Faisal bijak.


"Assalamualaikum." Pamit Kian.


"Waalaikumsalam." jawab Zizi dan Faisal kompak.


"Panda gimana sih bukannya suruh Kian milih jodoh malah dibilang gak usah dengerin Manda." gerutu Zizi pada suaminya.


"Yaiyalah Nda. Kamu kan tau biaya kuliah itu tidak murah. Biar dia fokus dulu kuliah. Setelah lulus dan bekerja baru suruh milih antara Aca atau Vanya." Faisal menjelaskan maksudnya.


"Bener juga ya. Panda pinter banget deh." kata Zizi sambil memeluk suaminya.


"Iya dong. Suami siapa dulu." jawab Faisal sambil tersenyum genit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu...


Di sekolah Aca yang sedang mengikuti pelajaran Geografi mendadak batuk - batuk parah sampai mengganggu guru yang sedang menerangkan materi. Aca pun memilih untuk ijin menuju ke UKS. Aca berjalan dengan memegang dadanya yang terasa sesak.


"Kamu kenapa ?" tanya guru piket UKS.


"Ini Bu. Dari tadi saya batuk terus gak berhenti - berhenti. Dada saya sedikit sesak." jawab Aca sambil duduk di salah satu kasur.


"Loh kok bisa sama dengan siswi yang itu ya ?" kata Bu Endang.


"Masa sih Bu." tanya Aca penasaran.


"Iya itu murid kelas IX juga barusan datang dengan keluhan yang sama." jawab Bu Endang sambil menunjuk ke bilik no 2 yang tertutup tirai.


"Ehm.. Saya boleh minta obat batuk ?" kata Aca lagi.


"Boleh. Nih kamu minum dulu terus istirahat." Aca menerima obat batuk dan air mineral lalu bergegas meminumnya. Tak lama Aca pun merasa ngantuk dan merebahkan tubuhnya.


Tanpa disadari Aca sudah tertidur selama 30 menit dan bel istirahat baru saja berbunyi. Aca bergegas bangun dan bersiap untuk kembali ke kelasnya. Siswi kelas IX yang juga istirahat di kasur di sebelahnya pun terdengar sedang bersiap untuk kembali ke kelas. Tirai pun terbuka, dilihatnya Vanya sudah berdiri hendak keluar.


"Loh Vanya? Ternyata kamu yang disana?" sapa Aca.


"Aca. Iya nih aku tadi batuk - batuk dan sesak nafas." cerita Vanya.


"Kok sama ya? Aku juga batuk sampai sesak nafas." kata Aca sambil sedikit berfikir.

__ADS_1


"Kebetulan aja kali. Aku duluan Ca." kata Vanya langsung pergi meninggalkan Aca.


Aca hanya bisa menatap punggung Vanya yang mulai menjauh dari pandangan.


"Sebenarnya apa yang terjadi ? Kenapa kita bisa sama - sama batuk dan sesak nafas ya ?" batin Aca.


"Ca, kamu udah baikan ?" tanya Ical yang tampak khawatir menunggu Aca di depan kelas.


"Alhamdulilah udah gak papa Cal." jawab Aca sambil tersenyum pada saudara kembarnya itu.


"Syukurlah kalo gitu." Ical mengikuti Aca menuju kelas dan langsung mengambil roti dan minuman yang dibelinya di kantin tadi.


"Tau gak Cal. Tadi di UKS ada Vanya juga." kata Aca sambil menikmati roti kejunya.


"Ngapain dia disana ?" tanya Ical sedikit jutek.


"Dia juga batuk - batuk dan sesak nafas seperti aku tadi." jawab Aca.


"Kok bisa ya ? Sebenarnya kalian kenapa ?" Ical mulai bingung.


"Ya gak tau lah. Kebetulan aja kali." Aca sudah menghabiskan rotinya dan menguk minumannya.


"Iya ya. Mungkin cuma kebetulan aja." sambung Ical.


"Cal, aku masih laper nih. Beliin lagi ya rotinya." pinta Aca sedikit manja.


"Ya ampun Ca. Udah habis roti 2 masih laper aja?" tanya Ical sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Gak tau nih laper banget. Plis beliin ya !" rengek Aca.


"Iya. Atau mau dibeliin nasi sekalian ?" tanya Ical dengan sabar.


"Bungkusin batagor aja deh. Sambelnya dikit aja." kata Aca.


"Oke bos. Tunggu bentar ya." Ical bergegas menuju kantin untuk membelikan makanan untuk saudara kembarnya itu. Beruntungnya Aca memiliki saudara kembar seperti Ical yang sangat sabar dan perhatian padanya.


Hayo siapa yang pengen atau bahkan punya saudara yang seperti Ical ?


Menurut kalian kenapa mereka bisa batuk bersamaan gitu ya ? Apa gara - gara Zizi, Faisal dan Kian yang membicarakan mereka ? Hehehe..


Jangan lupa tetap dukung Author..


Jangan lupa juga baca karya Author lainnya "Geng Pelangi" yang menceritakan kehidupan Sissy, Zizi, Yoan dan Amira sebelumnya


Like 👍 Komen dan Vote ✌✌


ajak juga teman yang lain buat ikut membaca ya..


Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2